Tuesday, September 25, 2012

Kisah Stasiun Kereta


Meski langit begitu lesu, aku sedang tak ingin begitu. Seluruhnya tampak bahagia hari ini. Wajah-wajah yang tersenyum menyapa, bahkan hingga tak sanggup kutanya mengapa. Mungkin ini hari gajian atau hari libur? aku tak mau tahu. Orientasi waktu pun tak masuk dalam daftar perhitunganku dua puluh empat jam ini. Kulirik jam besar segaris lurus di atas kepala. Lima lima puluh seperti biasa. Sesaat lagi dalam hitungan menit, akan kusaksikan ia berlari-lari membelah kerumunan menuju tempatku. Kotanya tak pernah menjadi terlalu jauh setiap kami bertemu. Hanya satu hal yang dibawanya pulang. Janji tiba yang tak pernah ingkar. Jam mendentang lurus di angka dua belas dan enam. Kereta biru ini telah berhenti sejak sepuluh menit lalu. Tak mampu pula kutemukan raganya. Mungkin sebentar lagi. Tak apa kau terlambat sekali saja. Asal kau datang seperti biasa. Jam berdentang kesekian kali di angka sembilan dan dua belas. Sudah hampir larut, hingga ayah menjemput. Ia tak sendiri. Ia bersama seseorang berpakaian putih bersih. Ia menggeleng-geleng heran padaku sembari menyuntikkan cairan pada nadiku. Katanya, ini sudah kesekian kalinya. Dasar gila! mana mungkin aku gila. Kekasihku akan datang layaknya biasa, janji hatinya selalu terjaga.  
Lalu, jika begitu, sedang apa dan dimana ia jika tak kembali menemuiku? Aku belum mengerti, meski ayah berulang kali dengan lembutnya berkata "Ia tak akan datang. Ia seperti halnya dirimu. Dirawat di rumah sakit jiwa di kotanya." Seandainya saat itu ayah setuju akan pernikahanku... seandainya.

No comments:

Post a Comment