Saturday, December 19, 2015

Menyambung Benang Merah Slamet Abdul Sjukur : Recital Piano oleh Cicilia Yudha

Recital pianis Cicilia Yudha menjadi penutup rangkaian acara Kaleidoskop Pertemuan Musik Surabaya. Tahun 2015 adalah tahun yang cukup emosional bagi PMS. Di awal tahun, PMS kehilangan seorang guru dan inspirator besar, Slamet Abdul Sjukur yang membangun PMS sejak berpuluh tahun lalu. Recital yang menjadi penutup program selama setahun ini pun tanpa sengaja mengambil lokasi di mana PMS pertama kali diselenggarakan di tahun 1957.


Seperti tanpa lelah, rangkaian acara dalam dua hari berturut-turut, 10 dan 11 Desember 2015 lalu tidak membuat Cicilia Yudha kehilangan energi. Sejak siang, ia terlihat tekun berlatih untuk recital malam hari. Membawa semangat "Menyambung Benang Merah Slamet Abdul Sjukur", komposisi-komposisi yang dibawakan di bagian kedua setelah intermission adalah ciptaan dari Dutilleux, yang merupakan guru Slamet Abdul Sjukur, serta komposisi dari SAS sendiri sebagai guru dari Cicilia Yudha. Sedangkan komposisi-komposisi untuk pembukaan dipilih yang memiliki keterikatan kuat secara personal di diri Cicilia. Schubert dan Mozart dipilih untuk dimainkan terlebih dahulu.

Recital dibuka dengan tampilan dari Gema Swaratyagita (piano) dan Samsul Pilot (Gong) yang membawakan "Tuwakatsa", sebuah komposisi karya Gema Swaratyagita berdasarkan permintaan dari Slamet Abdul Sjukur. Karya tersebut pertama kali dibawakan Bulan Juli 2015 saat perayaan ulang tahun ke-80 SAS. Seakan ingin menampilkan nuansa etnik, gong dan piano dimainkan dengan cara yang berbeda. Tak hanya menekan tuts, Gema juga bermain dengan senar-senar di bagian dalam piano. Bahkan ia juga membaca beberapa bait puisi Goethe di sela permainan. Sementara Samsul Pilot mengeksplorasi gong dengan berbagai cara. Memukul, mengetuk, hingga menghasilkan bunyi berbeda dengan kawat yang digesekkan pada gong.

Cicilia Yudha tampil menyejukkan di pembukaan pertama dengan Impromptu Op. 90 No.3 in G-flat Major. Komposisi ini terdengar teduh, menenangkan dan tidak emosional di tangannya. Memiliki keterikatan kuat dengan komposisi ini, Cicilia berkata bahwa ini adalah komposisi pertama yang ia bawakan di Amerika. Sonata in B-Flat Major K.333 milik Mozart dibawakan berikutnya. Keunggulan Cicilia terhadap kerapian menggarap melodi terlihat jelas di sini. Not-not yang dimainkan terdengar bersih dan jelas.

Jeda beberapa saat, recital berganti menggaungkan bunyi-bunyi disonan dari dua karya Dutilleux. Au gre des Ondes dan Blackbird. Sepanjang berbagai variasi yang ditampilkan dalam komposisi ini mengeksplorasi sentuhan-sentuhan lembut ala jazz dari Dutilleux. Penggarapan yang rapi dan sabar oleh Cicilia membuat ragam suasana dari masing-masing movement terasa pada audiens. Sementara Blackbird diciptakan karena terinspirasi oleh Messien yang kental dengan komposisi-komposisi yang mengimitasi suara burung. Komposisi pendek ini menuntut kekayaan warna dari produksi bunyi yang dihasilkan. Dinamika dan kejutan yang ditampilkan merupakan poin menarik bagi audiens.


Dibuka dengan komposisi piano dan gong, acara ditutup pula dengan kedua instrumen tersebut. Untuk pertama kalinya, Cicilia Yudha membawakan karya kontemporer Game-Land No.5 milik Slamet Abdul Sjukur. Seakan ingin mendobrak zona nyamannya sebagai pianis klasik, Cicilia tampil baik. Sungguh-sungguh mengeksplorasi suara, telapak tangan, instrumen kemanak (alat pukul dari logam), piano dan gong, ia mampu menghadirkan keunikan dari seorang SAS. 

Menjadi penutup di rangkaian acara Kaledoskop Akhir Tahun PMS, recital ini menjadi perwujudan langgengnya semangat seorang Slamet Abdul Sjukur yang selalu ingin masyarakat mencintai musik. Semangat yang kiranya terus menular pada benak siapa saja yang ingin meneruskan semangat perjuangannya.



Untuk Rangkaian Acara Kaleidoskop Akhir Tahun PMS,

Nabila Budayana


Thursday, December 17, 2015

Piano Masterclass dan Diskusi Pedagogi oleh Cicilia Yudha

Membawa musik menjadi bahasan pendidikan menjadikan agenda akhir tahun Pertemuan Musik Surabaya menarik untuk diikuti oleh berbagai pelaku di dunia musik. Masterclass hingga ruang diskusi pedagogi musik dihadirkan ke publik Surabaya di Sekolah Musik Melodia dan Balai Pemuda Surabaya, 10 hingga 11 Desember 2015 lalu

Belajar langsung dengan ahli memang tak ingin begitu saja dilewatkan oleh pianis-pianis muda Surabaya. Selalu berhasil meninggalkan impresi positif, partisipan piano masterclass Cicilia Yudha kali ini diisi oleh seluruhnya perempuan. Berusia antara 11 hingga 25 tahun, mereka unjuk kebolehan dan siap menerima masukan dari sang ahli. Beberapa peserta pasif pun tekun mengikuti jalannya kelas.

Masterclass ini menunjukkan bagaimana Cicilia Yudha piawai, hangat dan interaktif dalam menjalin kedekatan dengan murid-muridnya. Sehabis peserta memainkan komposisi yang mereka ajukan, Cicilia tak luput untuk selalu memberi pujian untuk kelebihan-kelebihan yang mereka miliki.

Peserta pertama, Lim Lisa menghadirkan Trois Nocturne op. 9 No 1 milik Chopin. Cicilia menyarankan padanya untuk merapikan detail-detail not yang dimainkan berurutan agar lebih rata. Di samping itu, Cicilia juga menyarankan cara bermain yang lebih bernyanyi pada komposisi tersebut. Masih senada dengan peserta pertama, Calligenia Tenggara yang masih berusia 15 tahun memilih untuk memainkan Chopin Variation Brillantes Op.12. Kali ini Cicilia memberi masukan pada pengaturan pedal, phrasing, hingga ekspresi, agar lebih berani menampilkan komposisi. Peserta ketiga, Ivana Halingkar lebih baik secara teknik. Cicilia meminta peserta untuk menggali lebih dalam tentang komposisi yang ia mainkan. Kesempurnaan teknik mesti disertai dengan produksi suara piano yang berbeda. Lizst dikenal bermain dengan komposisi yang bernuansa "dingin" ingin dibawa ke permukaan oleh Cicilia melalui tangan peserta. Begitu pun dengan himbauan ekspresi yang lebih sungguh-sungguh dalam berbagai kalimat di komposisi. 

Foto oleh Gema Swaratyagita

Pengalaman Cicilia sebagai pengajar terlihat begitu mendukung jalannya masterclass. Ia kerap menggunakan berbagai perumpamaan gerakan benda atau alam untuk menggambarkan apa yang ingin ia sampaikan. Kevina Tenggara memberi impresi melalui nuansa yang berbeda dari Romanian Folk Dances milik Bartok. Komposisi ini tercipta berdasar inspirasi dari kegiatan sehari-hari orang pedesaan di Hungaria. Komposisi ini menjadi berbeda dan memberi warna baru dalam musik di eranya. Permainan peserta disarankan untuk lebih playful, sesuai dengan karakter komposisi. Gerak tubuh yang alami dan menjiwai akan lebih mendukung untuk produksi bunyi yang diinginkan. Manajemen tempo, memperjelas aksen, hingga menerangkan jeda di antara frase menjadi masukan berikutnya. Masterclass ditutup oleh Liv Clementine De Kweldju dengan komposisi Prokofiev, Prelude Op. 12 No.7. Gadis sebelas tahun ini memiliki kemampuan yang mumpuni. Cicilia memberi masukan secara lebih dalam tentang fisiologis tubuh dan tangan ketika bermain demi kebaikan jangka panjang pianis muda ini. 

Saling berkaitan, diskusi pedagogi musik juga diikuti oleh audiens yang ingin memperdalam tentang bagaimana teknik mengajar musik dengan efektif. Cicilia membagikan pengalaman beserta tips dan solusi untuk mengatasi kendala dalam pengajaran. Ia menegaskan bahwa fondasi dari setiap anak yang mulai belajar bermain musik berada di tangan pengajar. Mengajar di conservatory, membuat Cicilia mengalami banyak pengalaman dalam proses mengajar berbagai karakter anak dengan rentang kemampuan bermusik yang berbeda. Untuk memperluas cakrawala pengajarannya, Cicilia bahkan tidak segan untuk memilih mengajar di sekolah umum dengan kemampuan anak yang cenderung beragam, ketimbang mengajar anak dengan kemampuan bermusik yang telah berada di atas rata-rata bahkan ketika masih di usia muda. Hal mendasar yang mengingatkan kita adalah di Indonesia, kebanyakan orang menilai bahwa musik adalah hiburan, bukan bentuk kebudayaan. Padahal, musik sama saja dengan disiplin ilmu yang lain. Akar permasalahannya berasal dari pertanyaan apakah masyarakat menganggap musik sebagai hiburan, atau sebuah kebutuhan.

Di Amerika Serikat, musik adalah mata pelajaran wajib di tingkat sekolah dasar hingga menengah. Sementara itu, banyak negara lain yang telah menyadari betapa pentingnya memberikan mata pelajaran musik bagi anak-anak. seperti Hungaria yang memahami bahwa dengan mempelajari musik, siswa akan menjadi lebih cerdas dan sehat. 

"Semua orang tidak menjadi pianis di panggung, namun setidaknya masing-masing mereka mampu menghargai musik."

Sama halnya seperti Matematika, musik adalah salah satu cabang ilmu. Cara kita mengajar adalah refleksi cara kita belajar. Maka dari itu, proses belajar tak bisa begitu saja diremehkan. Bagi Cicilia, bermain musik memang seharusnya berbobot, bukan hanya sekadar main-main saja. Namun, musik tetap merupakan sesuatu yang mesti dinikmati. Tak jarang Cicilia menemukan bakat-bakat di usia muda yang bersinar sangat terang, kemudian menghilang. Dari hal tersebut, perlu disadari bahwa di atas kemampuan bermusik yang sempurna, mestinya ada motivasi bagaimana menumbuhkan ketertarikan yang berkelanjutan. 

"Practice doesn't make perfect, it makes habit."

Cicilia memberikan pemahaman dasar bahwa dalam mengajar, seorang guru mestinya bukan hanya mengajar untuk memainkan piano, namun untuk membiasakan murid displin berlatih meski tanpa pengawasan guru. Perencanaan dalam setiap proses pengajaran juga sangat berperan penting. Mengatasi kejenuhan dari pembelajaran di satu bagian, dapat diakali dengan mengalihkan objek pembelajaran ke lagu lain, namun dengan topik yang sama. Misalnya, murid mengalami kesusahan di bagian triplet di komposisi A dan mengalami jenuh, coba arahkan pada triplet di komposisi B. 

Kejelian untuk mengajar pun diperlukan. Di tiap repertoar ada patokan yang tidak boleh dimainkan sembarangan. Sebelum mengajar, coba bandingkan detail repertoar dengan mengecek edisi yang berbeda. Teknologi adalah salah satu sarana yang memudahkan murid dalam belajar musik. Literatur-literatur musik banyak tersedia di internet. Salah satu trik untuk membangun kepercayaan diri murid adalah dengan mengajaknya tampil bersama guru, atau pemain musik lain agar murid terbiasa untuk bersosialisasi dan menghilangkan kesan bahwa bermain piano adalah kegiatan individual. Guru bukan makhluk sempurna. Lakukan koreksi diri dengan menonton rekaman ketika mengajar untuk perbaikan di masa depan. Rendah hati, terbuka dengan berbagai sudut pandang, juga kreatif adalah syarat yang tak bisa begitu saja ditinggalkan untuk menjadi seorang pengajar musik. 

Menjadi seorang guru dan murid adalah keseharian sebagai manusia. Cicilia membawa semangat yang Slamet Abdul Sjukur tunjukkan. Hingga akhir hidupnya, beliau selalu mencintai hal-hal baru yang membuat semangat belajar dan bertumbuhnya tak pernah padam. 



Untuk rangkaian acara Kaleidoskop Akhir Tahun PMS, 

Nabila Budayana

Sunday, December 13, 2015

Menjelajah Musik dari Zaman ke Zaman bersama Cicilia Yudha

2015 diakhiri dengan agenda akhir tahun yang istimewa oleh Pertemuan Musik Surabaya. Berbeda dari biasanya, PMS kali ini menghadirkan rangkaian acara selama dua hari bersama Pianist dan Music Educator yang bermukim di Amerika, Cicilia Yudha. Secara khusus ia menyempatkan diri untuk hadir di Surabaya dan berbagi pengetahuannya tentang musik dan pendidikan musik. Selain menjadi seorang piano performer dan pendidik di Dana School of Music Youngstown State University, ia juga meraih begitu banyak penghargaan dan aktif untuk bermain dalam orkestra, chamber maupun solo. 

Rangkaian acara PMS dimulai dengan Seminar Interpretasi Musik dari Zaman ke Zaman. Mengambil tempat di salah satu ruang di sekolah musik Melodia Surabaya, forum kecil itu terasa hangat dengan sekitar 20 orang partisipan. Ditemani sebuah piano upright dan sebuah LCD, Cicilia menjabarkan tentang bagaimana musik berkembang dari masa ke masa. Tampilan dan kesederhanaan Cicilia terlihat dari bagaimana ia membawa diri. Senyum dan interaksi hangat dengan audiens nyaris selalu ia lontarkan. Sesekali bahkan ia tak segan untuk meminta bantuan dari audiens jika tak menemukan padanan kata dalam Bahasa Indonesia yang ia maksudkan. Maklum, sejak usia 15 tahun, Cicilia telah mendapat beasiswa ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan musiknya. Namun yang patut diapresiasi adalah ia sebisa mungkin berbicara dalam Bahasa Indonesia tanpa campuran Bahasa Inggris. Sehingga audiens merasa nyaman mendengarnya dalam memberi penjelasan panjang lebar. 

Darah musik sudah ada pada diri Cicilia bahkan semenjak ia dalam kandungan Sang Ibu. Profesi guru piano yang ditekuni oleh ibunya menjadikan Cicilia terbiasa untuk mendengar dan mengenal musik sejak usia awal hidupnya. Di usia 13 tahun, ia diterima untuk belajar di Yayasan Pendidikan Musik bersama pioneer pianist perempuan Indonesia, Ibu Iravati M Sudiarso. Terinspirasi Iravati, Cicilia pun mengejar impiannya dan berhasil mendapat beasiswa ke luar negeri di usia 15 tahun. 

Nama Slamet Abdul Sjukur lah yang membawa Cicilia sejauh ini untuk datang ke Indonesia. Mengenal Pak SAS sejak usia 10 tahun, Cicilia belum mengerti benar kebesaran nama seorang SAS. Bertahun-tahun kemudian ketika bertemu dengan beliau di Jakarta, Cicilia diminta secara khusus oleh SAS untuk memainkan sebuah komposisi musik kontemporer ciptaannya. Hal itu yang membawanya kembali kemari. Untuk berbagi ilmu dan pengalaman bermusik melalui Pertemuan Musik Surabaya, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan oleh SAS sejak 1957. Di awal seminar, Cicilia bahkan menyampaikan rasa hormatnya pada SAS dan bahwa jiwa semangat memasyarakatkan musik milik SAS masih terasa hadir, mewujud di berbagai acara PMS. 

Masuk ke dalam materi musik dari zaman ke zaman, Cicilia mengawali dengan pertanyaan apa itu musik klasik. Selama ini, label "musik klasik" adalah sebuah terminologi yang keliru. Klasik sesungguhnya merujuk pada salah satu fase zaman perkembangan musik di pertengahan abad 18. Diduga, penyebutan musik klasik karena kata "klasik" diartikan sebagai sesuatu yang mampu bertahan melawan arus waktu karena keistimewaannya. Misalnya saja komposisi-komposisi milik Bach dan Beethoven yang masih terus dimainkan hingga saat ini. Lantas, bagaimana cara mengapresiasi musik klasik? Cicilia mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang mesti diperhatikan. Misalnya saja pendengar mesti mempelajari sejarah musik, juga melatih daya pendengaran agar tak hanya menjadi kegiatan pasif namun juga aktif. Kedua hal tersebut berkesinambungan satu sama lain. Dalam catatan, meski interpretasi musik bersifat sangat subjektif, namun hal tersebut perlu dilatih untuk dapat berkembang. 

Era musik klasik dimulai dari abad 17 (sekitar tahun 1600-an) Masehi di negara-negara Eropa seperti Jerman, Prancis, Inggris dan Austria yang juga disebut sebagai musik middle ages. Bach, seorang komposer Jerman yang membuat sejarah awal di dunia musik, sehingga karya-karyanya menjadi dasar untuk pengajaran musik hingga saat ini. Di masa Barok, musik kebanyakan dimainkan di dalam gereja. Musik di zaman tersebut begitu identik dengan karakter seni di masanya. Misalnya saja dalam seni arsitektur bangunan, bentuk katedral yang ada bersifat megah dan simetris sempurna. Musik dimainkan di setiap katedral yang ada di tiap kota. Setiap minggu, Bach mesti menulis Cantata untuk pelayanan di gereja. Kaum bangsawan lah yang bertanggungjawab untuk menghadirkan segala seni pada saat itu. Tarian dan pertunjukan di zaman Barok pun sangat khas. Terkesan kaku, teratur dan tertata. Dalam komposisi musik, biasanya komposisi yang berjudul Menuet ataupun Bouree terinspirasi dari tarian Barok. 

Di masa akhir hidup Bach, musik era klasik dipelopori oleh beberapa komposer tersohor seperti Haydn dan Beethoven. Vienna menjadi pusat musik dunia. Yang membedakan era Barok dan Klasik adalah ornamen yang jauh berkurang di era klasik, ciri khas Barok yang polyphonic digantikan oleh karakter komposisi yang lebih halus seiring dengan berkembangnya instrumen piano, juga kesempurnaan budaya. Penikmat musik pun mulai bergeser. Berbeda dengan zaman Barok, di mana musik hanya dinikmati di gereja dan di antara para bangsawan, di masa klasik musik sudah mulai berkembang. Rakyat biasa bahkan sudah memiliki akses ke partitur komposisi. Opera diadakan sebagai bentuk seni baru. Musik dan sastra pun berhubungan erat sebagai bentuk seni ekspresi. Komposer Schubert juga menjadi raja melodi di puncak zaman Klasik. 

Dalam transisi zaman Klasik menjadi Romantik, Beethoven yang visioner telah menciptakan not-not yang lebih rendah dari yang ada di saat itu. Di zamannya, harpsichord di zaman Barok yang memiliki 49 kunci telah berkembang menjadi 73 kunci. Hingga menjadi 88 kunci sesuai dengan yang kita gunakan saat ini. Muncul kemudian seorang Chopin, seorang komposer asal Polandia yang terpaksa mengungsi ke Prancis ketika negaranya mengalami peperangan dengan Rusia. Ciri khas komposisi Chopin tidak jauh dari melankoli dan nasionalisme. Tchaikovsky pun meneruskan semangat Schubert. Ragam seni lain juga berkembang. Ballet, misalnya. Begitu berbeda dengan tarian Barok dari segi kostum yang begitu tetutup hingga mata kaki dengan gerakan yang cenderung kaku, Ballet hadir dengan kondisi berlawanan. Gerakan mendayu, variatif dan kostum yang bahkan memperlihatkan jenjang kaki penari. Anggapan bahwa musik klasik selalu serius, rasanya kurang tepat. Buktinya, di era ini, opera komedi banyak bermunculan. 

Di akhir romantik menyambut era modern, sekitar penghujung abad 19, musik Jerman berada di puncak ketenaran. Tekstur komposisi pun berkembang menjadi lebih tebal karena jumlah personel orkestra juga semakin besar. Dimisalkan dengan komposisi Die Walkure Prelude milik Richard Wagner yang tebal dan berat. Di masa itu, Debussy dan beberapa komposer lainnya merasa muak dengan dengan berbagai aturan dari komposisi musik Jerman. Banyak pula seniman yang sependapat dengan Debussy dan ingin kembali membawa nuansa zaman klasik Yunani yang kental dengan simbolisme ke dalam karya-karya mereka. Tahun 1899 adalah masa bersejarah bagi Debussy. Untuk pertama kalinya di sebuah world exhibition, ia mendengar Gamelan Jawa yang dimainkan oleh beberapa orang Indonesia yang bekerja di perkebunan teh kekuasaan Belanda. Bunyi pentatonik dengan interval beda yang berulang dari gamelan membawa Debussy pada sebuah inspirasi warna musik baru. Saat itu menjadi keterikatan awal Debussy dengan Gamelan. Debussy menciptakan lompatan besar dalam dunia musik, karena setelah eranya, komposisi-komposisi musik menjadi bebas, tidak bisa lagi ditebak akan berbentuk seperti apa. 

Ialah Arnold Schoenberg yang mengisi dunia musik di akhir 1800-an hingga pertengahan 1900. Ia dikenal eksentrik karena menyusun komposisi tanpa tangga nada sehingga bunyi begitu disonan, meski terasa bersih dan transparan. Musik kamar mengalami perkembangan dengan adanya viola dan cello, bahkan alat musik tiup. Komposer Rusia, Igor Stravinsky juga berada di zaman ini. Ia begitu dikenal dan kontroversial dengan karyanya yang mendobrak norma budaya di masanya, Le Sacre du Printemps. Bermunculan juga nama-nama tersohor seperti Tchaikovsky.

Musik modern mendapat sumbangan besar dari seorang Olivier Messien (1908-1992) yang banyak menciptakan komposisi musiknya dari berbagai jenis cuitan burung-burung. Di saat ini pula, piano sudah mampu menjadi alat musik yang mampu mengimitasi bunyi alat musik lainnya. Berbeda dengan Robert Casadesus yang menyusun komposisi dengan mencampurkan mayor dan minor. Ia juga memasukkan nuansa Andalusia karena masih memiliki darah keturunan di dirinya. Kemudian, musik menjadi begitu bebas dan luas. Di Venezuela, Leonard Bernstein, seorang komposer, konduktor dan pianis menciptakan komposisi Mambo yang begitu rancak.

Akhir abad 20, konsep mendengar musik ditantang untuk eksplorasi yang lebih luas. John Cage hadir dengan Prepared Piano-nya yang begitu unik. Ia menggabungkan banyak peralatan sehari-hari untuk membuat musik, bahkan memasang berbagai objek di antara senar pianonya demi menghasilkan bunyi yang berbeda. Baginya, bunyi tidak perlu diinterpretasi. Ada pula Lou Harrison yang bekerja sama dengan John Cage untuk menciptakan pementasan Double Music. Harrison bahkan berguru pada seorang seniman Indonesia asal Yogyakarta, Pak Cokro (Tjokrowarsito). Musik kembali mengalami perkembangan oleh Steve Reich. Ia mengusung musik minimalism dengan hadir di tengah panggung hanya berbekal tape (pemutar kaset) dan soundboard. Gyorgi Ligeti asal Hungaria juga memimpin dalam inovasi musik kontemporer, ia menciptakan musik dengan hitungan Matematika dan memperkenalkan teknik micropolyphony.

Ialah Slamet Abdul Sjukur yang menjadi komposer musik kontemporer Indonesia legendaris. Belajar dari Messien dan Deutileux, SAS membawa impresionisme Jawa ke Prancis. Meski lama belajar di Prancis, namun SAS memiliki ekspresinya sendiri dalam bermusik. Ia membuka kembali koneksi musik Indonesia dengan Prancis dan membawa kembali ke penikmat dan pelaku seni musik Indonesia. Karyanya yang tersohor, Game-Land 5 dimainkan pertama kali oleh seorang pianist Prancis, Nicholas Stavy dan sempat dipentaskan di Indonesia. Cicilia Yudha pun membawakannya untuk pertama kali di Balai Pemuda Surabaya.

Menikmati musik dapat membawa kita melintasi zaman, Cicilia menegaskan itu sebagai keistimewaan tersendiri. Dalam bermusik dan menikmati musik, kita mesti memiliki cakrawala luas dan keterbukaan untuk selalu mampu menerima hal baru, seiring dengan inovasi manusia terhadap musik dan bunyi.



Untuk rangkaian acara Kaleidoskop akhir tahun PMS,

Nabila Budayana