Wednesday, January 18, 2012

Ada Dia di Matamu


Hitam

Katamu hitam itu misteri, bukan duka. Siapa yang tak tergugah penasaran dengan elegannya hitam. Meski ia selalu diadili paksa dengan kata kejam karena "mematikan" warna lain. Kamu berkata begitu saat aku mengucap hitam ada pada dia.

Tak bercahaya.
"Siapa bilang?" begitu ucapmu saat aku mengatakan dia tak bercahaya. Kau pun lantas mengatakan bahwa dia memiliki cahaya yang sungguh terang, hingga dapat menyinari hatimu.

Pekat.
"Dia adalah pekat hanya bagi mereka yang tak mengerti betapa bening lapisannya dengan menengok lebih dalam" aku sejenak terdiam dengan ucapanmu itu.

Gulita.
Meski kubilang begitu, nyatanya kamu dapat melakukan apapun lebih dari pada di tempat terang penuh cahaya.

Dia adalah kegelapan.

Dan kami melihat ada dia di matamu. Namun, sesungguhnya kami lah yang hidup dalam gelap, bukan kamu. Karena kamu berdamai dengan kegelapan, diantara kami yang terbiasa dimanjakan cahaya. Yang terkadang bahkan membuat kami lupa memberi cahaya di hati sendiri, hilang peka.

Perbincangan kami usai dan aku membantumu berjalan dengan menggandeng lengan kirimu, sedang tangan kananmu menggenggam tongkat bantu, erat.

Monday, January 16, 2012

Jadilah Milikku, Mau?


Tanpa perlu berpayah mengingat, aku dapat dengan mudah membayangkan bagaimana tempat itu. Bau, jauh dari keteraturan dan berkawan lekat dengan kumuh. Aku dan emak berjalan di atas bukit "buatan" ini bukan hanya sesekali, namun tiap hari. Menenggelamkan kaki pada gunungan berbagai rupa sampah dan menanam harapan pada setiap pungutan untuk membantu kami mendapat rupiah. Tentu saja ingatan tersebut susah dilupa. Karena hari ini pun jiwa dan ragaku masih mengalaminya.

Kami tak pernah mengerti apa makna bahagia bagi mereka di luar sana.

Namun bagi kami bahagia adalah saat masih dapat membawa pulang karung penuh kaleng dan botol bekas.

Bahagia adalah saat emak berkata girang bahwa ia tak sengaja menemukan boneka kumal untuk adik di gunung sampah.

Bahagia adalah menghitung beberapa lembar rupiah dari hasil menjual bawaan yang sedari pagi kami kumpulkan.

Meski bahagia kami tak berarti sampah, aku sering berangan apa arti bahagia bagi wajah-wajah di dalam mobil mewah, di gedung-gedung tinggi bahkan di layar tivi.


Aku ingin tahu dan mencicipi.
Bahagia itu, jadilah milikku, mau?

Sunday, January 15, 2012

Aku Maunya Kamu, Titik!


“Aku Maunya Kamu, Titik!” – aku sering mengucapkan itu dulu
Aku gunakan kalimat itu saat merengek pada ayah untuk barang yang kuinginkan, saat meyakinkan pasangan akan betapa inginnya aku bersamanya, juga saat meminta sahabat menemaniku belanja
Namun tampaknya tak kuasa lagi kuucapkan setelah kejadian-kejadian ini menimpa hidupku


Tiga tahun lalu, ayah pergi untuk selama-lamanya menghadap Sang Pemilik Kehidupan
Kulihat ia berjajar bersama ratusan lainnya muncul di pantulan layar elektrokardiogram ruang ICU tempat ayah dirawat sembari tertawa kuasa untuk apa yang akan ia dapat
Hidup ayah pun berhenti saat itu


Sebulan lalu, pasanganku meninggalkanku
Kuyakin ini lagi-lagi perbuatannya
Ia hadir kembali dalam pesan singkat yang kuterima
“Kurasa hubungan ini sudah tak dapat kita pertahankan lagi, cukup disini”
Malam itu praktis meruntuhkan hati ini bak kaca yang berkeping
Kami, usai


Kemarin meninggalkan jejak sedih yang masih membekas jelas di hari ini
Sahabat setia dan terbaikku, pergi
Hanya sesaat setelah dirinya menenggak obat laknat yang memberi efek kepuasan semu itu
Dan ia lagi-lagi dalang dibalik ini semua
Kutahu itu saat kulihat ia ada di beberapa bagian tangan sahabatku


Ya, kau menang atasku
Aku tak suka dan kecewa
Titik-titik yang membentuk garis di elektrokardiogram, titik yang mengakhiri ungkapan mengecewakan di akhir pesan, serta titik-titik bekas hujaman jarum di kulit

Titik berkata padaku ia adalah akhir

Titik berkata padaku ia tak dapat ditawar

Titik berkata padaku ia adalah kesedihan

Dan aku benci titik
Itulah mengapa kau tak menemukan titik di sini



Lantas, apa yang dikatakan sebuah titik kepadamu?





Saturday, January 14, 2012

Kamu Manis, Kataku


Palsu. Samar. Abu
Kulihat perempuan berpakaian rapi itu menunggu sembari sesekali melirik arloji di tangan kanannya. Sesekali menoleh kanan kiri, mungkin mencari-cari. Raut wajah cantiknya tak bertahan  lama rupanya. Saat ini sudah berubah cemberut ditambah gerutu. Aku pun terbang mencari sang lelaki. Di sebuah cafĂ©, rupanya. Makan siang mesra berdua dengan perempuan yang berbeda sembari menjawab panggilan telepon sang perempuan rapi. Kudengarkan ia bicara. Rupanya sang perempuan rapi akhirnya marah besar setelah sang lelaki membatalkan janji hari ini. Rapat dengan atasan, katanya beralasan. Sang perempuan menyimpan curiga di hatinya. Dan aku berteman baik dengan lelaki itu sekarang.   
  
Manis.
Sang lelaki kembali menemui sang perempuan rapi kembali esok hari. Sang perempuan bertanya
“Sesungguhnya, masihkah kau ingin bersamaku?”
“Tentu. Aku sepenuh hati yakin menemanimu di pelaminan bulan depan dan berharap hidup bersamamu seumur hidupku, sayang”
Kecurigaan luntur sudah. Sang perempuan tersenyum bahagia. Yakin benar dengan ucapan pasangannya.
Kuintip hati sang romeo dan tinggal di dalamnya. Ah, ya. Ia telah mengucapkan hal yang sama kepada lusinan perempuan sebelumnya.   

Pahit
Hari besar bagi mereka pun akhirnya tiba. Sang perempuan mengenakan gaun dan buket bunga di tangan berhias senyum kebahagiaan yang terpancar. Berharap sepenuh hati akan masa depan bahagia dengan sang lelaki. Jam berganti. Sang lelaki tak juga menampakkan diri. Perempuan dan seluruh tamu menunggu. Waktu kembali tak bisa ditoleransi. Sang lelaki tak menginjak kaki di pelaminan. Hari itu diakhiri dengan air mata, hancurnya sejuta angan dan sakit hati sang perempuan.

“Kamu manis, kataku” – Begitu manusia sering berkata padaku dan menghendaki hatinya terhinggapi olehku. Tak semua. Hanya manusia yang selalu menutupi kenyataan pahit dan menjanjikan rasa manis di awal. Namun pun kepahitan tak membuat mereka belajar untuk menghargai kejujuran, meski rasa manisku palsu.

Aku adalah kebohongan.   


Friday, January 13, 2012

Dag Dig Dug - Flash Fiction #15HariNgeblogFF


Sepanjang hidupku, aku tak pernah dapat berbicara. Tidak sepertimu yang dapat sepuas hati bertutur dan berbahasa. Menikmati keindahan kata dan aksara. Mendengar indahnya kalimat-kalimat dinyanyikan, meski kadang terselip kebohongan. Menuliskannya untuk dinikmati sesama meski kadang menyakitkan. Kata-kata itu membunuh!

***

DAG DIG DUG

Aku bekerja keras pagi ini. Ia mengajakku berlarian. Ah, ya. Jogging namanya. Aku tak ingin kalah. Aku juga bergerak lebih lincah dan lebih cepat.

DAG DIG DUG 

Terima kasih Tuhan. Kali ini ia memberiku waktu tenang seharian, sehingga tak perlu berlomba. Kunikmati tiap detik, dengan bergerak dan menari. Detik sungguh indah, ya! Tak pernah dusta untuk datang dan datang lagi, tak pernah terlambat memulai dan mengakhiri. Aku, berjalan mengikuti detik.  

DAG DIG DUG

Ia menyanyi merdu hari ini. Lagu klasik. Begitu damai menikmatinya. Pun sempat aku ingin terlelap karena terbuai oleh alunan melodinya. Tidak. Aku harus selalu bergerak.

DAG DIG DUG

Tuhan, bolehkah aku memiliki kemampuan berkata-kata dan berbicara? Menyampaikan apa yang ingin kuungkapkan selayak ia melakukannya?

Tuhan tak menjawab. Aku pun marah. Kuputuskan mogok kerja. Aku ingin lebih dari sekedar hanya dapat mengucap “dag dig dug” yang hanya dapat didengar gadis ini saja. Cemburu berkuasa. Aku memutuskan berhenti berdetak, dan gadis ini pun mengakhiri hidupnya.

Sudah kubilang, aku hanya ingin lebih dari sekedar “dag dig dug”…









Thursday, January 12, 2012

"Halo, siapa namamu?" - Flash Fiction


“Halo, siapa namamu?”

Di sebuah TK, pagi menjelang siang.
Kelasku ramai dan gaduh sekali hari ini. Inilah murid-murid di “kelas kecil”. Ada yang berlarian berkeliling kelas, sibuk melipat kertas warna-warni untuk prakarya hari ini, merengek pada ibu guru ingin pulang atau bahkan yang tak melakukan apapun saking bingung mengamati kericuhan ini. Aku, salah satunya. Saking asyiknya melamun, aku tak sadar ibu guru datang dan menegurku untuk segera mulai membuat prakarya. Aku hanya memandang tak antusias, sambil menggerutu “Kenapa sih, ada hari ibu segala!”. Hari ini 22 Desember.

Di kantin salah satu SMA Negeri. 22 Desember. 12 tahun kemudian.
Aku yakin teman-teman pun banyak yang cuek dengan perayaan hari ini. Remaja memang saat-saat dimana kami sudah menganggap diri kami dewasa, tak perlu lagi terlalu sering menghabiskan waktu dengan orang tua dan lebih memilih teman, meski masih bergantung hidup dengan mereka. Tapi, aku tetap iri saat beberapa sahabat mengajakku belanja sepulang sekolah. Untuk kado ibu mereka, katanya. Pun diam-diam mereka sesungguhnya perhatian dengan hari ini. Aku terpaksa menatap mereka memilih barang belanjaan dengan wajah cemberut.

Di Lab praktikum di suatu kampus. Lagi-lagi 22 Desember. Namun, empat tahun kemudian.
Jadwal kuliah kami bisa dibilang sama sekali tak longgar. Pergantian antar kelas hanya diberikan sedikit waktu. Seharian penuh, belum lagi ditambah tugas dan laporan praktikum membukit yang harus dikerjakan segera di luar jam kuliah. Kukira hari ini tak akan ada yang ingat dengan hari ibu. Aman. Ternyata pun kelegaanku tak bertahan lama. Saat kelas berlangsung, mahasiswa-mahasiswa baru dengan tampang polos itu menginterupsi pelajaran dan menyerbu masuk sambil membawa mawar plastik. “Selamat hari ibu, bu!” riuh rendah suara mereka mengucapkan itu kepada dosen kami yang kemudian menerimanya dengan wajah berseri.
Entahlah, aku selalu berusaha tak ingin mengingat atau turut merayakan hari ibu selayaknya orang lain kebanyakan. Aku tak terlalu suka tanggal 22 Desember. Bukan karena aku sudah tak punya ibu. Sama sekali tidak. Ibuku masih ada bersamaku. Kami hanya tidak dapat terlalu sering bertemu. Mungkin itu yang membuatku dan ibu tak terlalu dekat. Sebulan sekali aku berkunjung ke rumah sakit ini. Kujenguk ibu. Dan kuputuskan untuk membawakan mawar plastik untukknya bulan depan. Aku sadar, dia tetaplah ibuku, meski setiap bertemu denganku ia hanya selalu dapat mengucap kalimat yang sama
“Halo, siapa namamu?”     sembari sesekali tertawa kecil atau menangis, bahkan berteriak histeris. Jika sudah begitu, dokter akan kembali memberikan obat penenang dan menyuruhku pulang.