Monday, September 17, 2012

Dinding Abu

Benci seperti memiliki jadwal kunjungan tetap saat itu. Teriakanku entah telah menggema kemana saja. Segala pukulan tanganku pun seperti tak berarti. Ketidakberdayaanku menghalaunya, seperti sia-sia. Ingin kujauhkan ia saja dariku jika bisa. Mereka menertawaiku. Gelaknya terus menerus menyusuri tiap sudut kepala, enggan berpindah. Aku gerah dan lelah.  Merasa kuasa, ia terus mengejekku penuh kemenangan. Tak adil. Mereka memihaknya. Sedang aku hanya seorang tanpa daya. Mereka semestinya merasa beruntung. Jika saja teralis besi ini tak menghalangiku, mungkin mereka telah hancur ditanganku. Berkeping, hingga akhir. Tertawalah, tertawalah! Sakit jiwa dan manusia gila hanya keputusan sepihak mereka padaku. Ia, si dinding abu masih saja menghalangi jalan keluarku.  Memang saat ini semua upayaku seperti percuma. Tapi bisa saja berganti nanti. Ini mungkin akhir baginya. Namun tidak bagiku. Suatu saat aku akan menerobos pergi darimu, dinding abu! Meski seisi rumah sakit ini menertawaiku.


No comments:

Post a Comment