Saturday, August 16, 2014

Empat Harpa Menembus Generasi : Review Konser Kaleidoskop 3 Generations of Indonesian Harpists



"Ooh..Ternyata Tuhan masih sayang padaku!"

Itu celetuk seorang teman sembari tergopoh-gopoh menuju kursi di mana saya duduk. Keakraban kami setahun terakhir membuat saya memanggilnya 'tante'. Ia begitu gembira dan bersyukur melihat saya menyediakan satu kursi kosong di samping untuknya. Melihat antusiasme hadirin, sama seperti kami, rasanya seluruh penonton bersemangat menyaksikan pertunjukan kali ini. Saya langsung mengira konser ini akan meriah. Rasa-rasanya itu pun tak berlebihan. Begitu open gate, bangku-bangku terdepan untuk kelas reguler dengan cepat terisi. Saya termasuk yang beruntung karena tiba tepat ketika pintu dibuka, hingga bisa mendapat dua kursi di baris terdepan untuk kelas reguler. Oke, meski tak bisa dipungkiri, bangku-bangku VIP yang masih saja kosong bahkan hingga acara usai membuat kami berdua : saya dan tante, gerah ingin menempatinya.

Saya mestinya bersyukur dengan adanya Amadeus : Mbak Patrisna May Widuri dan tim, Event Organizer acara ini yang juga kerap menyusun konser maupun recital apik, tak pernah melupakan Surabaya untuk mendapat bagian dari pertunjukan-pertunjukan musik klasik memikat yang lebih kerap diadakan di Jakarta. Berbeda dengan konser "An Enchanting Harp Sound" sebagai debut Jessica Sudarta tahun lalu, kali ini audiens tak disambut dengan jajaran instrumen orchestra, namun justru empat buah harpa yang berjajar di atas panggung berdekor putih elegan. Empat instrumen yang sama tanpa pengiring tentu menjadi tantangan tersendiri bagi penampil. Bagaimana empat harpa itu menyatu dalam satu komposisi menjadi daya tarik besar bagi audiens. Tentu tak bisa dilupakan empat harpist-nya : Maya Hasan, Rama Widi, Lisa Gracia, Jessica Sudarta.

Maya Hasan. Siapa yang tak tahu ia. Pun akrab dengan petikan dawai harpanya. Bagaimana dengan Rama Widi? Harpist pria yang akrab dipanggil Dhika ini menjadi pemain harpa terbaik di Indonesia yang saat ini juga berkarya di Thailand dan Indonesia meski sebelumnya sangat dikenal di Vienna, tempat ia mengemban pendidikan musik. Lisa Gracia telah bermain dengan banyak orchestra setelah menyelesaikan pendidikan musiknya di Belanda, dan banyak berkarya di Indonesia. Lalu Jessica Sudarta? Gadis belia yang masih menempuh pendidikan di sekolah menengah atas ini siap bersinar bersama senior-seniornya. Pasca konser debutnya tahun lalu, serta berguru pada Rama Widi dan Lisa Gracia, kematangannya melesat.

Dengan kalimat sambutan dari Mas Iman Dwi dari Suara Surabaya sebagai Master of Ceremony, dan beberapa kalimat pembuka dari Ibunda Jessica Sudarta, acara dibuka. Jesslyn Sudarta dan Jessica Sudarta berduet harpa dengan komposisi How Great Thou Art. Jesslyn nampak mengambil melodi dengan Lever Harp, sedangkan Jessica mendampinginya dengan chords pada Pedal Harp. Penampilan selanjutnya menjadi ajang unjuk kebolehan dari masing-masing harpist. Jessica Sudarta yang nampak jauh lebih matang dengan harpanya memainkan La Source milik Alphonse Hasselmans. Lisa Gracia dengan cantik berhasil memikat dengan dinamika dan melodi-melodi dari Fantasy from Tchaikovsky's Eugene Onegin. Jessica Sudarta kembali bermain dengan komposisi yang lebih panjang, Fire Dance dari David Watkins. Rama Widi tampil ekspresif dengan Legende milik Henriette Renie. Dan Maya Hasan membawa nuansa Amerika Latin yang rancak dengan Baroque Flamenco milik Deborah Henson Conant. Yang berbeda dengan Harp Concert Jessica Sudarta dan Rama Widi yang saya saksikan sebelumnya, kali ini jauh lebih banyak teknik-teknik permainan Harpa yang diperlihatkan. Memukul senar maupun tapping pada soundboard untuk menghasilkan percussive sounds banyak dilakukan demi melengkapi komposisi dan berhasil menghidupkan suasana.

Setelah jeda, komposisi-komposisi yang ditampilkan lebih populer. Jessica Sudarta bersama seorang cellist muda, Albert Nathanael berkolaborasi memainkan The Swan. Bach dimunculkan di panggung dengan Air on G String dari Rama Widi, Lisa Gracia, Maya Hasan dan Jessica Sudarta. Mendengarnya dalam versi harpa tentu akan ada kekhawatiran apakah akan mendengarnya seindah legato pada instrumen string. Namun keempat harpist itu mampu bekerjasama dengan cukup baik. Sesuai dengan judul pada konser tiga generasi ini, ditampilkan pula komposisi-komposisi populer yang mewakili zaman dari keempat harpist. Heal The World dari Michael Jackson dengan aransemen dari Muhammad Dhany Iskandar mewakili lagu populer di zaman Maya Hasan. Saya membayangkan seandainya komposisi ini ditemani oleh beberapa instrumen string, tentunya akan terasa lebih grande. Beralih ke zaman Lisa Gracia dan Rama Widi sekaligus memberi nuansa Disney, A Whole New World dibuka dengan intro When You Wish Upon A Star dan diakhiri dengan ending dari Beauty and The Beast. Sempat menyaksikan duet Rama Widi dan Jessica Sudarta membawakan A Whole New World sebelumnya, kali ini memang terasa berbeda dengan empat harpa dan aransemen berbeda dari Lisa Gracia. Antusiasme audiens sangat terasa dengan meriahnya tepuk tangan, bahkan saya tak mampu melepaskan senyum sepanjang komposisi ini dimainkan. Locked Out of Heaven milik Bruno Mars menjadi puncak dari acara, sekaligus mewakili zaman Jessica Sudarta. Selain familiar di telinga audiens muda, staccato dan banyaknya porsi ketukan pada soundboard berhasil menggiring dinamika pada klimaks di akhir komposisi. Ekspektasi audiens tentang lagu populer pada harpa dipertaruhkan, dan berhasil menciptakan tepuk tangan panjang, decak dan sahutan kagum pada Ballroom Sheraton malam 13 Agustus 2014 itu. Akhirnya, sisi melankolis dari Cinta Sejati OST Habibie - Ainun yang mengantarkan berakhirnya pertunjukan. Harp Ensemble tentunya memiliki tantangan tersendiri dalam pengeksekusian. Namun, dengan kemampuan masing-masing, nampaknya keempat harpist tersebut cukup mampu mengatasi kendala dalam penyesuaiannya.

Senyum puas para performer di balik strings harpa sembari damping pada setiap akhir komposisi selalu menjadi aba-aba tepuk tangan meriah dari penonton. Kolaborasi keempat harpist ini seakan menceritakan keindahan dan keseruan bermain harpa. Seraya bertanya, siapa harpist Indonesia generasi berikutnya?


16 Agustus 2014,

Nabila Budayana