Thursday, April 7, 2016

Svara of India

Asrie Tresnady (Sitar) dan Log Sanskrit : Rahul Sharma (Tabla) dan Yussan Ahmad Fauzi (Tanpura) membawa musik klasik India ke publik Surabaya 31 Maret 2016 lalu. Pertemuan Musik Surabaya menggandeng Institut Francais Indonesia Surabaya menyajikan Sruti : Svara of India ini dengan apik. 

Berlokasi di auditorium IFI Surabaya, Asrie dan Log Sanskrit ditemani Chandra Nur Utama dan R.M. Irvan Dwi Cahyono sebagai musisi tambahan, sepakat membawa kata Sruti, sebuah kata yang mampu dimaknai secara luas pada pertunjukkannya. Sruti diambil dari kitab India, di mana di masanya, digunakan oleh masyarakat India untuk mencari posisi nada dari suatu bunyi. Asrie mengungkapkan bahwa Sruti adalah partikel suara. Ia yang telah lama tinggal di India mengatakan bahwa kata Sruti di negara asalnya pun masih begitu asing dan jarang disinggung dalam keseharian. 

Yang menarik dari seorang Asrie, meski ia telah menyajikan musik klasik India di berbagai daerah di Indonesia dan India, ia berjalan tanpa latar belakang pendidikan formal musik. Alih-alih, ia adalah mahasiswa S3 bidang studi sejarah di India. Mengaku mendapatkan ilmu bermain Sitar dari pemilik tempat tinggal ketika di India, Asrie berangkat dengan mengembangkan kemampuannya bermain gitar, dan menerapkan pendekatannya pada Sitar. Sama seperti alat musik lainnya, mendalami Sitar membutuhkan waktu yang panjang.  

Ditanya tentang musik yang akan dimainkannya, Asrie dan Log Sanskrit mengatakan bahwa musik yang mereka sajikan begitu bertumpu pada improvisasi. Meski begitu, secara konsep ada landasan fundamental yang serupa dengan musik klasik barat. Secara garis besar terdapat ekspresi, namun tetap ada batasnya. Pakem batasan tersebut terletak pada ritmik. Kapan memulai, dan kapan berhenti, seluruhnya bertumpu pada ketukan. Jenis ketukannya pun beragam. Hal itu memegang peranan penting pada tampilan yang ingin ditunjukkan, karena menjadi perjanjian antar pemain instrumen. Karenanya mewujudkan pertunjukan musik jenis ini tak begitu susah untuk diwujudkan. Pemain instrumen hanya perlu menemukan pemain lain dan mengatakan ingin bermain pada ketukan jenis tertentu. Selebihnya, pemain Sitar tinggal mengisi improvisasi di tengah iringan Tabla dan Tanpura. Bentuk improvisasi tersebut lah yang menjadi karakter dan membedekan pemusik satu dengan lainnya. Sitar yang awal perkembangannya dimulai sekitar abad 13 hingga 16 Masehi, di negara asalnya, sayangnya begitu jarang diperdengarkan saat ini. Hanya sesekali digunakan untuk ritual berdoa maupun relaksasi. Sedangkan Tabla, yang sekilas bentuknya menyerupai Kendang ini, meminta perlakuan tersediri terkait dengan permukaan kulitnya. Tabla dimainkan secara fonetik dan diterjemahkan ke membran. Untuk melakukan tunning, Rahul, pria berkebangsaan India yang memainkan Tabla mesti membiarkan Tablanya menyesuaikan suhu ruang selama satu jam. Sedangkan Tanpura yang mirip dengan Sitar berfungsi memberikan pola dasar atau iringan untuk melodi yang dimainkan Sitar. Pemain Tanpura memegang peranan penting dalam menentukan rhtym.


Foto oleh Adrea Kristatiani

Asrie dan Log Sanskrit berharap audiens mendapat pengalaman baru dan menangkap kebaikan dalam mendengarkan musik. Berbekal Tabla, Sitar dan Tanpura, musik klasik India yang dihadirkan Asrie dan Log Sanskrit mewujud dengan begitu meneduhkan. Di awal penampilan, Yussan Ahmad Fauzi (Tanpura) tampil seorang diri dengan menggemakan pola ritmis yang berulang. Beberapa saat kemudian Asrie masuk ke panggung, dan langsung memainkan Sitarnya. Dalam memainkan emosi penonton, Asrie memilih memainkan dinamika dengan melodi yang jarang dan rapat. Rahul mendapat giliran melengkapi tampilan dengan memainkan Tabla. Dinamika semakin naik dengan tabuhan, kadang Rahul menyelipkan sedikit vokal di antaranya. 

Tak melulu mendengar satu arah, di tengah babak, audiens diberikan kesempatan untuk berdialog interaktif dengan Asrie Tresnady dan Log Sanskrit. Asrie menuturkan bahwa komposisi yang mereka bawakan berjudul Raga Yaman. Di antara tembang klasik India, mereka memilih komposisi tersebut karena Raga Yaman biasa dimainkan di malam hari. Musik yang mereka mainkan sengaja hanya mengeksplorasi sedikit jenis instrumen. Bagi mereka, hal menarik dari musik Hindustani adalah kompleksitasnya yang sesungguhnya dapat diterjemahkan secara sederhana. Mengandalkan begitu banyak improvisasi, pemain Sitar dituntut untuk menyamakan rasa dan mood  dari musik yang mereka mainkan. 

Sitar banyak mengimitasi vocal form dalam produksi suara. Mengimbangi vocal form yang terus berkembang seiring berjalan waktu, Sitar juga turut berevolusi. Sitar menjadi tumpuan penting dari pertunjukan, mengingat ia memegang improvisasi dari keseluruhan bunyi. ruang improvisasi itu berada di antara ketukan pertama hingga ketukan akhir sebelum kembali berulang. Sedangkan Tabla yang tediri dari Dayan (Tabla berukuran kecil) dan Bayan (Tabla berukuran besar) memiliki bentuk artikulasinya sendiri. Eksplorasi tempo dalam Tabla kerap dilakukan. Biasanya ketukan diawali dengan sederhana, kemudian semakin meningkat dalam dinamikanya. Tanpura yang berwujud nyaris serupa dengan Sitar, mampu menghasilkan suara humming yang merupakan hasil produksi suara dari benang.

Membawa rasa keingintahuan audiens tentang musik klasik India, Asrie mengatakan bahwa musik klasik India semuanya diangkat berdasarkan karya sastra. Sifatnya yang tidak pedagogik, namun begitu menuntut mental dan disiplin yang keras, terutama dalam menampilkan 'rasa' dari karya yang mereka sajikan. Meski bebas, Asrie terlihat menjaga improvisasinya, terkait dengan pemilihan melodi yang salah akan berakibat berubahnya mood dari musik yang dimainkan. Penekanan pada artikulasi yang jelas dan hitungan yang tepat menjadi begitu penting. Di India, audiens begitu kritis dalam mendengarkan. Pemilihan improvisasi yang salah atau campuran Raga akan dianggap sesuatu yang keliru. Secara keseluruhan, Sruti tampil sebagai perpaduan dua teknik, produksi melodi dan rhytm. Harapan musisi penampil Sruti : Svara of India agar musik ini dapat menjadi wahana baru untuk menaikkan level sensitifitas pendengar dalam menikmati musik, kiranya terwujud. Kebebasan mengekspresikan Svara yang dilakukan Asrie dan Log Sanskrit tersampaikan secara santai, dalam, menenangkan, namun interaktif.