Wednesday, June 6, 2012

My upcoming book : Sneak Peek


  Cover Designed by Aga Satria Nurrachman



Itu Bukan Biru is my upcoming book. Containts about 30 Flash Fictions. Full of means!

Sering kali kita melewatkan banyak hal karena cepatnya ritme hidup. Saya mencoba memungut sebagian kecil dari hal-hal yang terlewat tersebut dan mewujudkannya dalam beberapa kata hingga tercipta sebuah cerita. Sekadar mengingatkan diri sendiri akan 'hal-hal kecil yang terlupakan' agar setidaknya dapat kembali mengenggam impian, prinsip, keinginan, kehakikian dan keindahan.   




“Aku mengingat semuanya. Hari ini kakiku membawa kembali ia kedalam memori.” – Memori di Langkah Kaki

“Percayakah kau, jika sebuah hati yang sekeras batu pun dapat menemukan hati lain sebening dan sejernih air yang dapat tulus menerimanya?” – Tentang Ia

“Pertunjukkan usai. Pesulap tak dapat tepuk tangan dan pujian. Ini masa depan.” – Simsalabim!

“Aku mengalah pada adidayanya. Aku hanya nampak seperti bayangan yang tak pernah mampu menggapai sang tuan.” – Cahayaku Hanya Bayangan

“Kuambil kertas, kutulis surat dan kulipat. Kuharap angin mau membawanya. Entah pada Tuhan atau pada awan.” – Titip Salam untuk Awan

“Bagiku, hujan tak pernah berwarna. Kami resmi tak sependapat.“ – Itu Bukan Biru


  
"Bersiaplah  tersesat dalam labirin cerita dari Nabila, sebelum akhirnya bermuara pada kesejatian. Selain seorang pencerita yang lincah berkata-kata, Nabila juga seorang pengamat yang kerap memungut remah-remah hidup yang luput dari pandangan banyak orang. Lalu mentransformasikannya menjadi kisah yang unik"

Feby Indirani – Penulis Clara’s Medal dan Perkara Mengirim Senja





Soon at nulisbuku.com! :)

Segitiga - Flash Fiction



Ini kisah tentang kecemburuan. Rasa yang terlahir dari sebongkah iri, tak dapat memiliki, hingga ingin menginjak-injak siapapun yang mempunyai. Setitik kecemburuan itu dipayungi rasa. Rasa yang mewujudkan segalanya dalam mula. Subjektif dalam definisi, sering kali menjadi alasan mendampingi perbuatan. Rasa itu cinta. Kau pasti pernah merasakannya. Jika kita percaya cinta berdimensi dua, mungkin milikmu dan mereka berbentuk waru terotasi pada umumnya. Sayangnya, milikku mewujud segitiga.

***


Kekaguman itu telah bertengger lama. Di tempat ini, setiap aku datang, ia selalu ada. Ini pandangan pertama. Tak banyak bicara, nampaknya aku mengerti jika benar ia kaku. Meski begitu, aku suka ia yang setia menunggu kehadiranku, bahkan saat matari menyengat tak bersahabat. Mengetahui kesetiaan luar biasa layaknya itu, siapa yang tak menjura? Aku bahagia.

Ternyata alam hanya meminjamkan bahagia itu sebentar. Happy ending mungkin hanya angan-angan. Meski tak kena matari, kebahagiaanku menguap lepas ke udara begitu saja. Melayang, tak memperbolehkanku menggapainya kembali.

Beberapa hari lalu saat aku datang, kulihat ia yang kaku berubah bahagia. Tak pernah sebelumnya kusaksikan parasnya begitu bersinar sebelumnya, bahkan saat waktu kedatanganku tiba. Oh, tidak. Kukira laki-laki itu penyebabnya. Duduk mesra berdua dengannya, meski mereka tahu aku di depan mata. Tak terima, kuminta penjelasannya. Kekasihku si kaku menjawab apa adanya.

"Aku lebih suka dengannya. Jika tak terima, jangan kau datang lagi!"

Kepingan kecewa luruh bersamaan dengan runtuhan hati. Bagaimana mungkin aku tak datang lagi. Sampai kapanpun aku akan selalu datang, meski diriku sendiri tak mengingini. Ia hanya memanfaatkanku demi perhatian laki-laki itu. Jika aku datang, lelaki penyuka hujan itu akan duduk bersamanya, di pangkuannya.

Aku mencintaimu, meski kau mencintai lelaki itu. Dan kau tetap mencintainya meski kau tahu ia mencintaiku.
Ini jelas segitiga yang masing-masing sudutnya berdiam aku sang tetes hujan, ia si jendela kaku dan seorang lelaki pencinta hujan. Apa ini juga disebut cinta?



*Ditulis untuk project "Ini Juga Disebut Cinta"

Review : Perkara Mengirim Senja




Perkara Mengirim Senja. Saya tertarik membaca karena rasanya akan sangat Indonesia, didedikasikan untuk seorang sastrawan besar dan diungkapkan oleh penulis-penulis muda. 

Book trailer Perkara Mengirim Senja : 




Saya pun sempat bertanya-tanya bagaimana begitu banyak penulis dengan gaya penulisan yang berbeda bergabung di satu buku dan harus ada benang merah dengan cerpen Seno Gumira. Tentunya tidak akan mudah bagi penulis dan juga bagi pembaca. Penulis harus tetap mempertahankan style mereka meski merujuk pada cerpen orang lain. Sedangkan pembaca harus siap menerima keragaman itu dan cepat menyesuaikan diri saat melompat-lompat dalam menyelami kisah-kisah dengan cara bertutur penulis yang berbeda-beda. 


Begitu membuka lembarnya, pembaca sudah disuguhi ilustrasi memikat pada layout dan dilanjutkan dengan kata pengantar yang cukup panjang. Cerpen "Gadis Kembang" milik Vabyo ditunjuk sebagai pembuka. Khas Vabyo sekali. Ia layaknya membuat puzzle utuh, mengacak urutannya dan mengajak pembaca menemukan dan menyempurnakan kembali urutannya dengan 'rahasia' yang terkuak di paragraf akhir. Ya. Masih sama. Ada rima di baris-baris akhir. Vabyo selalu menyenangkan dengan mengajak 'bermain' pembacanya. Dan saat kita sudah lama bermain dan penasaran, Vabyo belum juga mau mengungkap. Saat kesal telah memuncak, Vabyo akan muncul dan mengatakan "Ini loh rahasianya, kamu pasti tertipu, bukan??". Membaca karya Vabyo adalah siap 'ditipu', saudara! :D



Cerita kedua adalah "Perkara Mengirim Senja" milik Jia Effendie. Bagi saya pribadi, cerpen ini juaranya. Mungkin saya rasa karena paling dekat dengan 'gaya yang saya inginkan'. Kental dengan personifikasi dan diksi yang manis dan imajinatif. Penulis memainkan senja sebagai suatu objek hidup yang tak pernah habis diungkap. Saya suka!:)



Kisah ketiga milik Aan Mansyur berjudul "Selepas Membaca Sebuah Pertanyaan untuk Cinta, Alina Menulis Dua Cerita Pendek Sambil Membayangkan Lelaki Bajingan yang Baru Meninggalkannya". Saya yang ngefans berat dengan cerpen penulis dalam antologi Dari Datuk ke Sakura Emas, merasa cerpen ini berbeda. Kisahnya ditulis dengan banyak sindiran dan ironi tentang kesetiaan, keterbukaan dan rasa saling menghargai yang tak diindahkan. Awalnya saya pikir cerpen akan diakhiri dengan ending yang 'biasa'. Ternyata oh ternyata, saya sampai tertawa miris karena menertawakan diri sendiri yang 'sebegitu bodohnya' dikejutkan ending. :D



"Kuman" milik sang ilustrator, Lala Bohang menjadi kisah keempat. Kisah ini bertema hati yang memiliki dua cinta sekaligus, namun diungkapkan dengan cara yang berbeda.



Kelima adalah "Ulang" karya Putra Perdana. Menggunakan tokoh Sukab dan Alina milik Seno Gumira, dan diberikannya kemasan berbeda. Tampaknya pembaca harus membaca kisah original Sukab dan Alina terlebih dahulu agar dapat menikmati secara utuh cerita ini.



Lambang Garuda beserta judul "Akulah Pendukungmu" milik Sundea menjadi cerita keenam. Diantara tema cinta sebelumnya, cerita ini terasa nasionalis. Yang unik, pembaca diajak bernyanyi "Garuda Pancasila" terlebih dahulu sebelum mulai membaca kisah. Dan saya pun melakukannya :). Secara penuturan, bergaya lebih sederhana, meski tak mengurangi arti pesan di dalamnya.



Pembaca diajak beranjak pada "Empat Manusia" milik Faizal Reza. Empat bagiannya mengungkap satu persatu kisah empat manusia yang saling berhubungan itu. Menarik minat pembaca melalui cara berceritanya dan ide kisah cinta yang rumit.



Dilanjutkan dengan "Saputangan Merah" milik Utami Diah K, bagi saya kisah ini memiliki kekuatan pada karakter tokoh perempuan yang unik karena jarang diangkat. 



Kisah kesembilan ditulis oleh Mudin Em bernama "Senja dalam Pertemuan Hujan". Cerpen ini terasa modern dibanding kisah-kisah sebelumnya, karena mengambil setting kehidupan metropolis. Ditandai dengan adanya capture pesan singkat serta sepenggal lirik lagu. Namun tetap mengambil benang merah senja dalam pembahasannya.



Mari beralih pada "Kirana Ketinggalan Kereta" oleh Maradilla Syachridar. Saya juga suka dengan cerpen yang satu ini. Bagus, indah, sederhana dan namun cukup mudah dimengerti, yang membuat saya enjoy menikmatinya. Dan dengan mudah mengingatnya kembali.



Theoresia Rumthe menyuguhkan judul "Gadis Tidak Bernama". Membaca kisah ini saya serasa disuguhkan isi hati dan curhatan si perempuan secara kontinyu. Seandainya ending dibuat dengan lebih mengejutkan, saya mungkin akan lebih jatuh cinta dengan kisah ini. 



"Guru Omong Kosong"- Arnellis menjadi cerita kedua belas yang tajam. Banyak sindiran untuk negara yang tersirat, dengan mengambil sudut pandang dari seseorang yang mungkin mewakili sebagian besar penduduk negeri ini.



"Surat ke-93" milik Feby Indirani termasuk jajaran favorit saya. Meski hanya bercerita tentang seorang wanita desa yang merindu lelakinya merantau di kota, namun hampir setiap paragraf tulisan ini mengandung kedalaman makna. Kekuatan itu dibarengi dengan diksi yang indah dan berbeda yang membuat pembaca terkesima. (Congrats mbak Feby!:)) 



Rita Achdris menyuguhkan "Bahasa Sunyi" disini. Banyak ironi ditemukan dalam kisah ini beserta pesan besar yang ingin dikatakan.



"Satu Sepatu, Dua Kecoak" milik Sundea menjadi kisah penutup. Terasa pas sebagai ending yang ringan dan mudah ditangkap, namun tak pernah mengurangi maknanya. Penulis mengemas dengan cara yang berbeda, namun menarik. 



Kumcer ini dikemas dan disajikan baik. Empat bintang rasanya pantas diberikan!:)