Tuesday, September 25, 2012

Balik Jeruji


Kedua kaki ini kupacu dengan terburu di lantai putih. Kulewati lorong-lorong yang seperti tak berakhir ini. Aku harus cepat jika tak ingin terlambat. Kusesali dalam-dalam segala perlakuanku. Lagi-lagi ini salahku. Tak sanggup lagi kubayangkan berapa orang yang akan menghujatku habis-habisan.
Ia lagi-lagi mencoba memotong urat nadinya sendiri. Kali ini dengan pisau dapur, kudengar. Lampu merah Ruang Tindakan menyala seakan memberi tanda. Memilihkan sang penghuni untuk kembali atau pergi.
Kelegaan luar biasa tak sanggup kutahan, saat ia dipindahkan ke kamar perawatan. Ia mendapat kesempatan hidup kesekian kali. Mengapa ia lakukan ini aku tak tahu pasti. Namun aku mendengar mereka berbicara. Katanya, ini karena aku menyiksanya. Mustahil. Aku pasti melakukannya lagi tanpa sadar. Ayah macam apa aku ini. Kukatakan padanya. "Maukah kau sekali lagi hidup bersamaku? Aku akan mengobati lukamu. Aku berjanji menjadi ayah yang sempurna bagimu." Ia tak ingin menatapku lagi. Sekadar jawaban penolakan pun tak kudengar. Baik. Jika kau tak ingin kuobati, terpaksa aku akan mengobati lukaku sendiri. Sayang, sebelum segalanya terwujud, pria-pria kekar berseragam hitam menggandengku pergi. Katanya, ke balik jeruji.
 

No comments:

Post a Comment