Tuesday, November 26, 2013

Oleh-oleh dari Kuliah Umum Agustinus Wibowo


Saya kebetulan hadir dalam kuliah umum Agustinus Wibowo di UK Petra 23 November 2013 yang lalu. Karena temanya tentang bagaimana menulis cerita perjalanan, kali ini materinya cukup berbeda dengan talkshow/seminar beliau sebelumnya. Lebih spesifik tentang how to dan tips-tips menarik. Jadi, mari disimak. Karena disampaikan dengan cukup cepat dan kemampuan saya sebagai notulis gadungan patut dipertanyakan, jadi akan saya sampaikan dalam bentuk poin-poin saja, di samping memudahkan anda membacanya pula. Silakan, dan semoga bermanfaat.



*Cerita perjalanan bukan merupakan panduan perjalanan, meskipun bisa jadi merupakan panduan perjalanan. Jika suatu buku mengulas tentang bagaimana menuju ke suatu tempat tujuan, itu bukan cerita perjalanan. 

*Dalam dunia travel writing, sesungguhnya tidak perlu ada genre baru berupa fiksi perjalanan. Karena semua cerita perjalanan adalah bentuk tulisan non fiksi.

*Buku panduan perjalanan merupakan travel guide, bukan travel writing.

*Roh nomor satu dari tulisan perjalanan adalah tempat. Meski begitu, tempat bukan hanya menjadi sekadar setting. Roh nomor dua adalah harus adanya unsur pengalaman dari penulis. Harus ada informasi siapa yang melakukan perjalanan. Roh nomor tiga adalah harus adanya unsur rasa maupun opini, juga sudut pandang personal. Rasa yang dimaksudkan adalah adanya opini pribadi yang bisa dipertanggungjawabkan. Dicontohkan, pada zaman dahulu tulisan perjalanan memang jamak tidak ada pelaku di dalamnya. Misalnya saja, Marcopolo. Namun kondisi itu sudah kurang mampu diterima lagi pada zaman ini. Saat ini harus ada pelaku pada tulisan perjalanan tersebut. Semua cerita perjalanan adalah cerita tentang kemanusiaan.

*Cerita adalah cara kita berkomunikasi untuk menyampaikan pesan. Esensinya adalah pesan. Bukan bisa dikatakan cerita ketika tak ada pesan di dalamnya. Dan esensi dari cerita atau tulisan adalah narasi. Sedangkan cerita perjalanan bertujuan mengomunikasikan pesan yang ingin disampaikan melalui perjalanan.
*Lalu, apa esensi dari perjalanan? Perjalanan adalah kodrat hidup manusia. Orang-orang melakukan perjalanan untuk kemudian kembali dan menceritakan tentang perjalanannya pada orang lain (fantasi universal). Perjalanan bukan tentang tempat yang jauh, maupun tempat eksotis yang belum pernah terjamah. Melainkan tentang bagaimana kita mengenali diri kita sendiri. Kita bisa melakukan perjalanan di mana saja. Bahkan di rumah sendiri sekalipun.

*Di luar negeri, travel writing digunakan untuk menengok sejarah. Tulisan perjalanan penting untuk belajar sejarah. Banyak tokoh-tokoh yang melakukan perjalanan dan menuliskannya, antara lain : Marco Polo, Ibnu Batutah, Biksu Tong, dll. Perjalanan merupakan mimpi semua orang. Tulisan perjalanan adalah perkara bagaimana mengemas fakta dalam bentuk berita, agar mampu diterima semua orang. Hal itu menjadikan tulisan perjalanan berkesan pada pembaca di waktu apapun. Tulisan perjalanan membantu kita mengenal dunia dan diri sendiri. “Tempat yang paling jauh bukan di ujung dunia, tapi ke dalam diri kita sendiri.”

“The misconception is that the travel book is about a country. It’s really about the person who’s travelling.” – Paul Theroux

*Dari tulisan perjalanan, pembaca harus bisa meraba karakter penulisnya. Hal itu bertolak dari tujuannya agar pembaca harus merasa ikut melakukan perjalanan. Jika tidak, maka akan ada jarak. Tulisan perjalanan yang baik hanya dapat dihasilkan oleh pejalan yang baik. Jika tidak, teknik sebaik apapun akan percuma.

*Dalam menulis perjalanan, sudut pandang yang segar/baru sangat berperan penting. Namun, kita seringkali dijebak oleh rutinitas. Hal-hal yang terus berulang itu menjadi hal yang biasa. Mata kita tidak akan melihat hal yang baru, juga sensitifitas yang sudah tereduksi. Oleh karena itu, ada baiknya kita berpikir dari berbagai sudut pandang. Perlu ditekankan bahwa tidak pernah ada sudut pandang yang salah. Maka, seorang pejalan mesti bersifat terbuka.

*Perjalanan adalah travelling with purpose. Tetapkan apa yang ingin disampaikan (pesan), komunikasi (interview orang lain), observasi (rasa ingin tahu yang besar), juga riset.

*Bagi seorang Agustinus, melakukan komunikasi dengan warga lokal sangat penting. Ia benar-benar merasa sudah benar-benar berada di sebuah tempat ketika ia bisa tertawa dan menangis dengan mereka.

*Observasi mesti dilakukan secara detail.

*Jurnalis wajib melakukan riset. Baik sebelum melakukan perjalanan, saat di perjalanan, sesudah perjalanan, maupun saat menuliskannya. Singkatnya, riset harus tetap ada di setiap tahapan.

*Banyak orang yang melakukan perjalanan untuk membuktikan informasi-informasi yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Namun, sesungguhnya perjalanan bukan untuk membuktikan hasil riset. Karena selain informasi yang didapat belum tentu merupakan kebenaran, juga menimbulkan prasangka yang membuat kita menutup mata pada hal lain. Oleh karena itu, saat melakukan perjalanan, tinggalkanlah semua prasangka.

*Satu hal krusial lain dari tulisan perjalanan adalah kejujuran. Yang dimaksud kejujuran dalam hal ini adalah tidak boleh ada unsur fiksi sedikitpun. Hal itu mempertaruhkan hal besar pada penulis : kredibilitas. Agustinus mencontohkan kasus yang terjadi pada “Three Cups of Tea”, buku perjalanan mega bestseller yang bercerita tentang seorang Amerika yang pergi ke Pakistan. Beberapa waktu setelah terbit, buku itu terbukti bahwa terdapat banyak kebohongan di dalamnya melalui investigasi seorang jurnalis. Hal itu memberikan pelajaran, bahwa jika ingin memasukkan unsur fiksi, katakanlah itu sebagai fiksi. Namun jika tidak, harus 100% berupa tulisan non fiksi.

*Tulisan perjalanan yang baik juga harus melibatkan emosi. Hal itu menjadi penting karena sebuah tulisan harus melibatkan pembaca. Emosi menjadi benang merahnya. “Eat, Pray, Love” merupakan salah satu contoh tulisan yang berhasil menampilkan emosi yang universal pada banyak orang. Buah dari hal itu adalah jumlah penjualan buku yang bagus. Di sisi lain, kita harus berhati-hati dengan emosi. Karena hakikat dari tulisan perjalanan adalah menyeimbangkan emosi dan fakta. Keduanya harus diusahakan agar seimbang, dengan perpindahan yang halus.
“Menulis perjalanan adalah juga sebuah perjalanan.” – Agustinus Wibowo

*Agustinus berkisah bahwa awalnya ia berpikir bahwa perjalanannya akan cukup diceritakan melalui media foto, karena adanya kedekatan antara fotografer dan objek. Kelamaan ternyata ia merasa bahwa penyampaian lewat foto tidak sepenuhnya cukup. Maka ia memilih menyampaikan juga melalui kata-kata, dan menjadi penulis.

Langkah Menulis :
1) Tentukan Tema. Tema adalah ide besar yang mendasari cerita. Tidak berupa kalimat yang panjang. Maksimal satu buah kalimat, bahkan satu kata. Tema besar tidak boleh bertele-tele, tentukan tokoh (bukan selalu manusia, bisa berupa alam, kejadian, ketakutan, dsb).
2) Daftar Ide Pertanyaan
3) Strategi Penulisan. Contoh : Alur, plot, dsb. Meskipun menulis cerita perjalanan yang bersifat non fiksi, namun seorang jurnalis disarankan agar banyak membaca novel untuk mempelajari bagaimana menulis kreatif. Demikian pula dengan penulis yang harus belajar jurnalistik agar mampu menyampaikan fakta secara logis. Tersebut juga genre ‘Jurnalisme Sastrawi’ yang merupakan cara bagaimana memberikan jurnalisme melalui cerita.
4) Menyusun kerangka. Salah satu penyebab orang yang menulis di awal sangat semangat, kemudian di tengah proses merasa bosan, kebanyakan karena mereka menulis tanpa kerangka.
5) Prinsip 5W+1H
*Tulisan perjalanan mengandalkan detail, namun jangan sampai berlebih, hingga mengaburkan cerita anda. Juga harus ada informasi dan konflik. Konflik adalah perbedaan pandangan yang menyebabkan perselisihan tokoh. Selama ini sering terjadi kesalahan persepsi. Konflik bukan pertengkaran, namun apa yang menjadi penyebab pertengkaran tersebut.

*Resolusi dapat berupa penutup, kesimpulan, pertanyaan, dsb.

*Struktur tulisan : Pembukaan, Isi, Penutup. Pada pembukaan, jangan pernah bertele-tele. Paragraf pertama harus menarik dan sudah langsung bisa dideteksi oleh pembaca apa yang ingin diceritakan. Jangan pernah memulai tulisan dengan penggambaran cuaca, suasana, bahkan informasi yang tidak penting.
Contoh tulisan dengan paragraf pembuka yang bagus : “The New Mecca” – George Saunders.

*Cara paling baik untuk membuka tulisan adalah dengan anekdot untuk memancing masalah yang lebih besar selanjutnya. Jika anda membicarakan hal yang berat pada tulisan, jangan letakkan itu di depan. Karena akan menyurutkan niat pembaca untuk membaca lebih jauh.

*Dalam tulisan perjalanan, detail adalah nyawa. Pada deskripsi, lakukan sistem “Show, Don’t Tell.” Ceritakan, untuk membuat deskripsi lebih hidup.

*Dalam jurnalistik, haram menyebutkan kata sifat. Contoh sebagai pembanding :
1. Kereta api ini sangat sesak.
2. Kereta api ini sangat sesak sampai tidak ada tempat untuk lewat.
3. Kereta api ini sangat sesak sampai saya terpaksa harus berdiri dengan satu kaki.
Contoh di atas menunjukkan bagaimana mendeskripsikan kata ‘sesak’. Dalam deskripsi, gunakan panca inderamu, bawa pembaca ke dalam suasana yang tergambar. Jangan memberi tahu pembaca, tapi deskripsikan.

*Dalam tulisan perjalanan menggunakan kata sifat tidak haram, namun harus hati-hati. Karena tidak semua hal harus dideskripsikan dengan detail. Jika cukup dijelaskan dengan kata sifat, tidak apa-apa. Namun, pilihlah kata yang spesifik/detail, bukan generik. Misal : Jangan hanya sebutkan “tinggi” namun jelaskan tinggi yang seperti apa. Hal itu juga berlaku pada kata, seperti : cantik. Cantiknya seperti apa? Apa dia elegan, artistik atau anggun. Juga berhati-hatilah pada kata ‘unik’ karena unik berarti sama sekali tidak ada duanya. Apa kita yakin bahwa hal yang kita beri label unik tersebut memang benar-benar tidak ada duanya? “Paling indah” “Paling ramah” “Paling seru”, berhati-hatilah juga dengan kata “paling” harus ada dasar yang kuat untuk itu. Apa kita sudah menyelidiki semua data, sehingga berani memberi kata “paling”? Berhati-hatilah dengan generalisasi, stereotype, dsb. Untuk memperkaya diri dengan itu, banyak gunakan kamus dan tesaurus untuk mencari diksi yang cocok.

*Hal lain yang harus dihindari adalah klise. Adanya hal yang klise membuat kualitas tulisan anda menurun. Misalkan : “Matahari bersinar cerah” atau “Surga di bumi”, juga contoh lain berupa deskripsi tempat dengan permata, zamrud dan harta karun.

*Creative writing bukan berarti menulis tanpa aturan. Bukan pula ajang pamer diksi. Creative writing yang bagus berarti tulisan yang mampu menyampaikan pesan.

*Kita tidak bisa menggunakan pengalaman pribadi kita untuk menilai sebuah tempat.

*Narasi harus dibuat hidup. Jangan hanya memberi data dan fakta. Caranya adalah dengan membuat dialog. Perlu dicatat, dialog tidak sama dengan percakapan. Percakapan merupakan ucapan sehari-hari yang dituliskan. Misal, masih ada kata-kata seperti “Dar!” “Klik” “Wek” “Ngiik” dalam percakapan. Jangan gunakan kata-kata itu pada dialog kecuali perlu sekali. Juga, jangan beri dialog yang tidak ada artinya. Saring dialog anda, sampai menyisakan hanya yang benar-benar informatif. Contoh ada pada Paul Theroux yang memiliki tulisan dengan dialog yang baik. Ia bisa memberi gambaran, namun membiarkan pembaca yang menilai/berinterpretasi.

*Tulisan yang baik adalah tulisan yang ketika dibaca berulang mampu menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda setiap kali.

*Cara menghidupkan tulisan adalah dengan menghidupkan adegan. Misalnya menceritakan kejadian perampokan tanpa menyebutkan “perampokan”, namun menggunakan deskripsi keadaan perampokan tersebut.

*Setelah menulis, biasakan membaca ulang hasil tulisan. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang enak dibaca ulang, bukan tulisan yang monoton (jumlah kata sama, repetitif, bentuk kalimat sama). Oleh karena itu, gunakan semua bentuk kalimat.

*Prinsip jurnalistik : “Less is More”. Semakin ekonomis, semakin kuat tulisan anda. Mengutip pernyataan “Keep it simple, stupid (and short)”

*Berhati-hatilah dengan tulisan yang panjang. Tantangannya adalah harus dinamis. Cerita harus bergerak dan ada perpindahan.

*Sebuah tulisan mestinya harus ‘disedot lemak’ (membuang bagian-bagian yang kurang efektif dan tidak penting) hingga hanya menyisakan sebuah tulisan yang sederhana dan indah.

*Jangan menjabarkan perasaan. Biarkan pembaca yang merasakannya sendiri. Juga jangan berikan semua hal pada pembaca. Karena mereka membutuhkan ruang untuk berimajinasi, berpikir dan memberikan interpretasi. Karya sastra yang bagus adalah yang seperti itu. Yang memberi ruang pada pembaca.

*Penulis perjalanan yang tidak mendalami perjalanannya, akan hanya menulis tentang data. Namun yang mendalami perjalanannya akan memberikan opini dan deksripsi yang menunjukkan bahwa sang pejalan benar-benar berada di tempat yang diceritakan. Seorang penulis perjalanan tidak bisa tidak melakukan perjalanan.

*Bagian penutup yang paling biasa dipakai pada tulisan perjalanan adalah akhir dari perjalanan (secara kronologis). Namun akan lebih menarik apabila dibuat sebuah penutup yang terbuka. Tidak ada kesimpulan di sana, namun justru diberikan pada pembaca. Juga dapat dilakukan teknik ‘penutup melingkar’ dengan memberi kata kunci yang sama pada pembuka dan penutup, juga ada benang merah di antara keduanya.

Tips untuk memulai menulis perjalanan :
*“Nothing is New” berlaku di dalam dunia penulisan. Yang membuat tulisan berbeda adalah cara anda menyampaikan, juga sudut pandang yang berbeda.
*Seorang pejalan mesti memanusiakan manusia. Perlakukan mereka sebagaimana anda ingin diperlakukan.
*Jangan pernah remehkan pembaca. Sembilan puluh persen pembaca lebih pintar dari penulisnya. Cobalah untuk intropeksi diri.
*Berbohong adalah sebuah dosa besar. Hal itu tentu juga berlaku pada tulisan perjalanan yang memijak teguh non fiksi. Kredibilitas anda dipertaruhkan.
*Jangan berhenti sebelum memulai.
*Tidak ada penulis yang langsung menulis bagus. Semua ada proses tulis ulang. “The first draft of anything is shit.” – Hemingway.
*Banyaklah lakukan perjalanan, banyak membaca, banyak menulis.
*Kedalaman adalah sesuatu yang penting. Agustinus mencontohkan, pada Lonely Planet. Ia sudah tak mampu bertahan karena tidak adanya kedalaman/opini. Misalkan sebuah buku terbit di tahun ini, tahun depan sudah akan basi, karena semua orang mampu mencarinya di internet.
*Travel writing adalah tentang sudut pandang. Ada opini, namun berikan opini yang berdasar. Jika tidak dapat menjadi stigma. Setiap pandangan kita harus ada dasarnya.

*Pembaca yang baik, bukan yang kejar setoran. Tapi yang mempelajari apa yang dibacanya.

*Karena tulisan perjalanan adalah tentang detail, seringkali banyak alat yang mampu membantu untuk menyimpan detail. Misalkan kamera atau recorder. Namun, alat bantu yang paling penting jutsru adalah kertas dan pulpen. Agustinus mencontohkan bahwa ia selalu mencatat kejadian dalam buku harian. Ia memberi permisalan bahwa ia bisa menulis dengan detail bagaimana aroma pada penggorengan di India. Sebegitu pentingnya buku harian, maka ia lebih memilih kehilangan dompet daripada kehilangan buku harian.

*Memulai tulisan perjalanannya dengan menulis di blog memberi kesan yang berbeda dengan saat Agustinus menulis buku. Buku harus punya tema besar yang kuat, berbeda dengan blog yang bersifat ‘lepas’.

*Perbedaan antara tulisan perjalanan dan feature travel adalah pada tulisan perjalanan, terdapat cerita dengan unsur personal penulis yang kuat. Sedangkan feature travel belum tentu merupakan cerita perjalanan. Namun feature travel waktu ini sudah bergeser. Tidak melulu membahas destinasi, namun juga memberi ikatan pada pembaca melalui narasi. Karena unsur tulisan perjalan yang bagus adalah yang mengandung unsur komunikasi.

*Bagaimana cara menyikapi menempatkan sejarah pada tulisan, jika sejarah itu masih ‘buram’? Orang bercerita adalah fakta. Kita melihat sudut pandang orang yang bercerita. Sudut pandang orang-orang yang berbeda.

*Tulisan perjalanan memiliki cakupan yang luas. Antropologi, budaya, science, memoar, linguistik, dsb. Oleh karena itu penulis perjalanan harus kuat di observasi dan dialog. Karena dialog sesungguhnya menunjukkan opini.
   


Saturday, November 16, 2013

5BukuDalamHidupku | Jujur Tak Perlu Menunggu



(Katanya) ini penutupan. Hari terakhir #5BukuDalamHidupku membuat saya bimbang buku apa yang mesti saya sampaikan. Entah karena terlalu banyak, atau justru tak ada. Saya menarik napas, dan mulai berpikir perlahan. Kemudian satu judul buku muncul di kepala saya. Rasanya tak adil membiarkan buku ini tak mendapat ruang, setelah mengubah sedikit banyak sudut pandang saya. Maka, tanpa berharap menjadi terasa berlebihan, saya ingin berkisah tentang ini.

Sebuah langkah awal kadang kala tak selalu ditentukan oleh hal yang besar. Dan kaki-kaki saya tak mampu memilih jalan dan kapan saat itu datang. Ketika merasa siap dengan ekspektasi tinggi, tak ada yang datang. Namun ketika diri kosong dan tak mengharap apapun, momen itu dengan mengejutkan datang, dan mengisi dengan hal baru. Saya tak menyadarinya, hingga datang hari itu. Dua tahun lalu, di tengah jadwal kuliah yang menghimpit, saya iseng saja membeli buku bersampul putih dan bergambar apel itu. “9 Summers 10 Autumns” karangan Iwan Setyawan. Saya membeli dengan ekspektasi kosong. Alasannya sederhana. Saya orang yang tak mudah termotivasi.   

Buku itu merebut empati saya karena satu hal yang sangat sederhana : kejujuran. Penulis nampak menumpahkan semua yang memang ingin ia katakan. Terbaca, penulis murni ingin membagi. Seakan tak peduli dengan apa kata orang lain nantinya. Lalu, saya mendapati informasi tentang bedah bukunya. Saya hadir dengan alasan sekadar ingin lembar awal buku ditandatangan. Tapi ternyata semuanya bisa terjadi tanpa diduga. Saya belajar banyak dari sang penulis. Sejak itu saya mulai mengambil jarak dengan diri sendiri, dan  kembali mengenal diri secara berbeda, dan coba menelaah apa yang sebenarnya yang saya miliki. Saya seperti seorang yang selama ini selalu menghindari cermin. Takut akan bayangan sendiri. Khawatir akan melihat hal yang tak ingin saya lihat dalam refleksi itu. Saya pun takut melihat bayangan itu di mata orang lain. Saya tak pernah benar-benar mengambil jarak dekat, dan dengan gagah berani melihat bayangan diri saya di mata orang lain. Yang saya tahu, hanya kaki sendiri dan mengatur langkah dengan hati-hati. Awalnya berat. Saya mengintip perlahan. Membuka tirai yang menutupi cermin pelan-pelan, seperti mengucap permisi pada sebuah rumah yang baru didatangi. Untung refleksi itu tak bilang terlambat. Ia menjabat tangan saya perlahan dan menyambut dengan ramah, seakan sudah menunggu lama. Ia menunjukkan apa yang bisa dikenali dari diri saya. Apa yang harus saya terima, hadapi, dan sikapi. Kemudian perlahan saya membuat mimpi-mimpi kecil. Jangankan mencatatnya, membayangkan hasilnya pun saya enggan. Namun dari situlah saya menjadi (mulai) berani menghadapi diri saya sendiri. 

Di titik itu, saya kembali menanyakan pada diri saya sendiri, apa mimpi saya selama ini? Apa mimpi saya sudah sebesar si Iwan kecil dari sudut kota Batu itu? Atau jangan-jangan untuk bermimpi saja saya takut? Kemudian saya juga bertanya, apa saya juga sudah memeluk diri saya seerat pelukan sang pria dan si bocah kecil berbaju putih merah? Lain lagi jika saya bertanya, sudahkah rasa sayang saya cukup besar untuk mama, seperti penulis yang menyayangi ibunya? Atau sudahkah saya setangguh penulis dalam menghadapi kehidupan? Dan sudahkah saya melihat dunia seluas si penulis? Banyak pertanyaan lain yang saya kira bisa jawab, nyatanya selama itu pula saya hanya berusaha menghindarinya, atau memilih menjawabnya nanti-nanti saja.

Friday, November 15, 2013

#5BukuDalamHidupku | Menyusuri Ensiklopedia

Tak punya terlalu banyak waktu dengan orang tua yang mesti bekerja, saat kecil, saya dan seorang kakak perempuan seringkali hanya berdua di rumah sepulang sekolah. Selain adu mulut dan bertengkar karena masalah sepele khas anak-anak, kami biasa bermain apa saja. Jika keduanya sudah terasa membosankan, kami membaca. Sayang, dibandingkan dengan koleksi milik sepupu, buku dan majalah kami yang hanya beberapa buah terlihat sangat minus. Hanya sekadar buku warisan yang halamannya menguning (anak-anak tak suka itu), beberapa majalah, juga beberapa komik hasil merengek di toko buku beberapa kali. Jika sudah bosan berkali-kali mengkhatamkan buku yang sama, kami akan mengajukan protes pada mama, mengapa kami tak memiliki buku sebanyak koleksi sepupu. Mama menjawabnya dengan sederhana. Uang mama dan papa tak sebanyak uang om dan tantemu. Setiap kali, mama akan mengingatkan hal yang sama. Sederhana. Tapi mengena. Jadi, saya dan kakak hanya terus berusaha merengek dan terus mengulang bacaan-bacaan yang sama. Sampai hapal hingga ke detail plot dan gambarnya. 

Setiap akhir pekan, sebelum jadwal berkunjung ke rumah kakek, kami selalu meminta untuk mampir ke rumah sepupu. Apalagi yang mampu membuat gembira selain melihat rak-rak dengan komik seri lengkap, buku cerita berwarna, juga majalah-majalah tanpa terlewat satu edisi pun? Dan yang paling membuat gembira, kami diperbolehkan untuk meminjamnya, dengan janji mengembalikan sesuai dengan kondisi semula, begitu sudah selesai dibaca. Secara kontinyu, kami meminjam komik-komik anak. Sampai suatu kali, kami melihat buku-buku besar yang direkomendasikan oleh sepupu. Setiap halamannya tebal dan yang penting penuh ilustrasi dan berwarna. Seri yang dimilikinya lengkap. Tiap seri menceritakan hal-hal yang berbeda. Ensiklopedia itu berjudul : "Widya Wiyata Pertama Anak-Anak" Karena merasa ensiklopedia akan penting bagi kami, mama meminjam ensiklopedia-ensiklopedia itu. Setiap kali satu seri. Hitungan hari setelahnya, sudah ada ensiklopedia yang sama bagi kami. Hanya saja lebih buram. Hitam-putih. Ternyata mama membawanya ke fotokopi dan menjilidnya rapi. Jadi, masalah selesai, dan kami punya ensiklopedia yang sama. Meski dengan protes kecil sana-sini, mau tak mau ensiklopedia itu membahagiakan juga.

Saya melihat ensiklopedia yang sama di sebuah perpustakaan ketika mengajar anak-anak beberapa minggu yang lalu. Di antara buku-buku yang lebih menarik dan berwarna, ensiklopedia-ensiklopedia itu dijajarkan pada ujung bawah rak yang susah terlihat. Ketika dibebaskan memilih buku, anak-anak pun tak berniat memilihnya. Mungkin penanda bahwa ensiklopedia itu telah kehilangan pembacanya? Entahlah. Yang jelas kemudian ensiklopedia itu menjadi mesin waktu yang membawa saya kembali ke salah satu serinya.

Yang paling saya ingat adalah seri Kehidupan Sehari-hari. Ia menjawab banyak hal yang terkadang tak pernah terpikirkan di kepala seorang gadis kecil. Misalnya, mengapa tidak boleh menonton sambil makan, mengapa seorang kakak harus mengalah pada adik, mengapa kita tidak boleh bermain di jalan, dan sebagainya. Jawaban-jawaban ensiklopedia itu sangat mudah dipahami anak-anak. Jadi saya selalu bergaya, jika saya berbuat nakal dan membuat kakak marah, misalnya. Akan saya gunakan bab tentang mengalah kepada adik sebagai senjata. Di luar itu, ensiklopedia  itu mengajari saya banyak hal. Meski sekadar logika-logika kecil yang tak mungkin tak berarti apapun untuk orang dewasa, namun berarti besar bagi anak-anak. Juga, melatih saya untuk membaca tentang pengetahuan dengan cara yang menyenangkan. Rasanya bacaan di usia-usia awal di luar fiksi yang masih begitu teringat di kepala saya adalah ensiklopedia. Tentunya itu mempengaruhi cara membaca yang terbiasa dengan banyak gambar pada komik, untuk mulai beranjak pada tulisan dan belajar melogika banyak hal. Dan yang paling penting, untuk belajar tidak sirik dengan koleksi buku orang lain! :)

Thursday, November 14, 2013

#5BukuDalamHidupku | Electone School for Children, Step 1



Gadis kecil itu tak pernah sekalipun terpikir bahwa kelak ia akan mempunya teman sesetia itu. Bahkan ketika ia memandang dan melewati benda besar itu setiap kali. Berkali-kali mesti menerima marah karena bermain di kolongnya, atau memanjat-manjat pada kursinya, ia tak pernah tahu benda apa itu. Mungkin sejenis meja, atau patung besar yang sekadar ditutup kain. Belum lagi letaknya yang berada di ujung ruang, di dekat lorong di mana lemari-lemari buku milik opa tinggal. Hingga suatu hari beberapa tahun kemudian, ia melihat sang tante yang membuka kain dan tutup benda besar itu. Ia terpana dan bertanya. Apa itu? Organ katanya. Ternyata ada banyak tombol garis panjang hitam-putih yang diatur berjajar. Dan hebatnya, itu dua tingkat juga mengeluarkan bunyi. Diam-diam ia menyimpan bunyi itu di dalam kepalanya.

Beberapa tahun kemudian bunyi itu masih ada. Di usianya yang kesepuluh, setelah lelah meniup pianika tua warisan turun temurun, sang ayah mendaftarkannya kursus musik. Dengan gembira, ia menyambut organ tua pindahan dari rumah opa. Ia pun bertemu dengan seorang perempuan berkacamata. Kata tante yang mengantar, kelak beliau akan menjadi guru si gadis kecil. Malu-malu gadis itu menjabat tangan sang perempuan. Lalu sang perempuan meminta si gadis untuk memainkan lagu apa saja pada organnya. Organ yang jauh lebih canggih dan modern daripada sekadar organ warisan opa. Banyak tombol bercahaya yang tak ia mengerti. Bingung ingin memainkan lagu apa, ia menatap takut-takut pada sang tante, seakan minta diselamatkan. Namun sang perempuan berkata agar si gadis memainkan lagu apa saja yang ia bisa. Satu-satunya lagu yang selama ini mampu ia mainkan dengan pianika adalah lagu “Lihat Kebunku” ciptaan Ibu Sud dan “Bintang” yang dinyanyikan oleh salah satu band di tahun 90an. Semua not angkanya dituliskan di selembar kertas HVS oleh sang papa, yang senang bermusik, namun tak pernah mengenyam pendidikan formal musik sedikitpun. Merasa “Lihat Kebunku” terlalu kekanakan, ia memilih memainkan sepenggal lagu “Bintang”. Mi Sol Re Mi Fa.. dan seterusnya berputar di kepalanya, kemudian ia terjemahkan dengan jari-jari kecil, mencoba memainkan sebaik sebelumnya, meski akhirnya lupa di banyak bagian. Mulai saat itu, saya, si gadis kecil penakut itu, diterima sebagai murid beliau, sang perempuan. Dan dibawakan sebuah buku yang merupakan buku pelajaran musik pertama, “Electone School for Children, Step 1” untuk dibawa pulang.

***

Selama sepuluh tahun itu, saya sama sekali tak mengerti tentang teori musik apapun. Di dalam buku pertama itu, saya langsung tertarik dengan gambar ilustrasi organ juga gambar-gambar lucu khas anak-anak. Gajah lucu yang ditarik sang pawang, sekelompok kelinci dan rakun yang berbaris, juga santa dan rusanya. Tapi saya sama sekali belum mampu membaca apa arti kecambah-kecambah terbalik di atas garis-garis. Guru saya menjelaskan semuanya. Bahwa itu adalah not balok, bahwa garis-garis itu membagi dirinya menjadi beberapa bar, dan lain sebagainya. Lagu pertama saat itu, “Lightly Row” lagu rakyat Jerman dengan ketukan 4/4 dan not ketukan satu yang sederhana. Mengikutinya, “Tug of War”, “Quiet, Quiet”, “Mary Had A Little Lamb” dan lagu-lagu lainnya. 

Saya merasa memiliki teman baru sejak itu. Teman yang selalu mendengarkan apa yang saya katakan, tanpa menyela atau bertanya. Teman yang selalu membagi melodi indahnya kepada saya ketika sedih atau senang. Teman yang selalu berhasil membuat saya merasa tak sendiri.

Meski organ warisan opa sudah tak berbekas sejak lama. Meski kini organ itu telah digantikan dengan keyboard, kemudian piano. Namun buku itu tak pernah pergi. Ia selalu mengingatkan saya pada sebuah langkah pertama. Pertemuan pertama dengan hal yang selamanya mengubah hidup saya. Yang memberikan musik sebagai salah satu hal terbesar yang saya miliki, juga seorang guru yang tak pernah seharipun tak saya sukai sejak tiga belas tahun waktu mengajarnya. Meski tak lagi menggunakan organ yang sama, opa yang telah lama pergi menuju Tuhan, juga guru yang telah terpisah jauh di benua berbeda, buku pertama itu masih berada di samping piano saya. Terselip di antara buku dan partitur yang lain. Terkadang, saya membuka halaman dan memainkan beberapa lagunya. Demi mengingat kenangan, juga awal pertemuan yang terlalu berkesan untuk diabaikan.   



- Nabila Budayana -

Wednesday, November 13, 2013

#5BukuDalamHidupku | Mengantongi 50 Ribu



Selain pecahan uang berwarna biru, kami sebelumnya tak memiliki definisi lain akan angka lima puluh ribu. Ah, tunggu. Mungkin ada satu : kami sama-sama menganggap lima puluh ribu adalah delapan gelas minuman cincau yang menemani (lebih dari) lima jam pertemuan kami setiap kali. Bertemu pertama kalinya di salah satu acara workshop, juga merasa memiliki kesamaan minat pada hal yang sama, kami mengumpulkan tekad, kemudian menyatukannya. Setelah di akhir tahun sebelumnya berhasil merampungkan sembilan puisi, sepuluh cerita pendek, juga sebelas fiksi pendek di dalam satu sampul yang sama, kami melangkah kembali. Mungkin hanya langkah kecil dan perlahan, namun pasti. 

Saat itu pun begitu. Kami bertemu, di antara obrolan ringan, tercetus kalimat “Kita harus bikin proyek bareng lagi” Enam kepala, lima perempuan dan satu laki-laki, sama-sama tak melahirkan ide baru. Buntu, suram, tak menemukan. Lalu ada satu celetukan dari hasil candaan : “Lima Puluh Ribu!” berlanjut ada yang menyahut untuk menjadikan Lima Puluh Ribu sebagai benang merah. Ide-ide itu datang.  Berbeda, namun kami gabungkan. Dipilah dan disatukan. Didiskusikan dan diperdebatkan. Setuju, tidak setuju. Dipilih dan diganti sana-sini. Hingga akhirnya kami menemukan satu konsep baru yang disetujui semua kepala. 

Kami mencoba melangkah setapak lebih berani. Mencoba konsep baru yang lebih bebas. Mendatangi tempat di mana kami bisa bermain, dan bersenang-senang. Kisah bukan lagi dimiliki seseorang secara utuh. Namun dibagi. Kami berbagi ruang. Kami berbagi plot dan tokoh. Kisah ditulis estafet. Bahkan sang pencipta kisah di awal tak akan tahu bagaimana kisah akan menjadi. Seorang marah-marah karena tokohnya yang ‘dihancurlebur’kan, seorang terkejut karena mendapati ekspektasi yang berbeda, sementara sisanya sibuk komat kamit berdoa demi undian setiap minggu untuk menentukan urutan. Bukan berarti semua berjalan lancar-lancar saja. Proyek ini susah bagi kami. Tenggat waktu yang rapat, genre dan gaya tulisan yang berbeda-beda, pembagian tugas hingga ke penerbitan, ketidaksamaan persepsi, perdebatan kecil, semuanya terkadang membuat frustasi, dan ingin berhenti. Namun ada satu yang membuat kami terus mencoba : keinginan agar proyek ini rampung dan mampu dibaca banyak orang nantinya.  

Setelah proses menulis selesai, kami pontang panting mengurus semua keperluannya, hingga mengatur mini launching sendiri. Melobi kanan-kiri, demi menepatkan kelahirannya persis di tanggal 10-11-12. Sepuluh November 2012. Lanjutan dari buku kami sebelumnya di 9-10-11. Sembilan Oktober 2011. Beruntung, banyak pihak lain yang dengan murah hati membantu keperluan-keperluan kami. Mengembus napas lega, sore itu melaju lancar untuk kami. Cukup banyak teman-teman yang berkenan hadir. Bukan acara besar, memang. Namun terasa cukup bagi kami. 

Hingga hari ini, jika ditanya proyek apa yang paling mengasyikkan? Kemungkinan besar saya akan menjawab “50 Ribu”. Karena saya (dan kami) belajar banyak hal. Bagaimana melepaskan beban ketakutan, mengenyampingkan keinginan masing-masing, menghargai satu sama lain, menyatukan karakter yang jelas berbeda. Mereka adalah partner, juga teman. Bahwa mungkin kelak sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, berapapun itu, saat kami mungkin sudah alpa atau lupa, akan ada kenangan bahwa kami pernah melahirkan “50 Ribu” bersama. 

Kadang kala ada kerinduan dari saya untuk menemui mereka kembali di proyek-proyek baru. Namun saya memang suka lupa. Terkadang ada beberapa hal yang mesti kami maklumi bersama. Kesibukan yang mengikat, jarak yang semakin lebar, juga waktu yang terus terasa minus. Saya mengatur langkah, dan membawa lembar(an) “50 Ribu” di kantong saya.

- Nabila Budayana -