Thursday, February 18, 2016

Tak Pernah Ada Babi di Rumah Ini

"Ada babi di rumah ini."

***

Sejak itu, mereka semua mencari. Di balik lemari, lipatan celana, hingga di dalam teko lawas. Di mana saja. Ini bukan sekadar perintah. Sejak dulu, Eyang paling takut dengan babi. Di masa tuanya, semua anak-cucu-cicit berlomba memberikan segalanya. Entah sungguh-sungguh atau hanya pura-pura. Jadwal kunjungan seluruh anak-cucu-cicit yang seminggu sekali berganti dari santap malam bersama, berbincang dan nonton TV, menjadi mencari babi. Rumah tua Eyang dengan halaman luas memang menjadi PR besar. Mereka gembira. Orang tua dan anak-anak kerjasama menyepakati pembagian area tugas dan dengan tekun mencari. Laki-laki kebanyakan mendapat area luar rumah, karena dinilai lebih awas menghadapi terjangan nyamuk atau lebah. Perempuan hanya sesekali mencari di ruang kerja atau kamar sembari menyiapkan makan malam di dapur. Ini terasa menyenangkan karena pembahasan tentang harta warisan terlupakan sejenak dan punggung yang saling bermusuhan menjadi saling bersentuhan. Eyang? Duduk tenang dalam diam dengan deritan kursi goyang tuanya. 

***  

Satu-dua kali, agenda mencari babi masih semenyenangkan permainan paintball. Barisan kepala apatis memilih menertawai pernyataan Eyang dan berhenti mencari di beberapa jam pertama. Katanya, buat apa memercayai ingatan dan imajinasi tua yang belum tentu benarnya. Personel pasukan pencari babi mulai diancam keruntuhan. Tapi beruntunglah masih ada kepala-kepala naif yang terus bekerja. Kata mereka, durhaka adalah salah satu hal paling menakutkan di dunia. Meski seandainya Eyang berbohong, tidak boleh terlontar kata berhenti. Mereka terus membohongi diri, melawan pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi menimbulkan keraguan, meski sesungguhnya dalam hati terbisik demikian. Tersisa deretan realistis. Setelah mencari beberapa kali dan merasa tak menemukan tanda apa-apa, mereka melakukan negosiasi dengan Eyang. Mencoba bertanya, di mana ia melihat babi itu sebelumnya. Karena Eyang hanya tersenyum tanpa memberi jawaban, pemimpin tertua di antara tim realistis memberi kebijakan batas waktu. Beberapa sudut dan tipe pencarian, jika tak berhasil, rundingan dilakukan ulang dan berhenti. Dengan aturan, misi bisa dilanjutkan kembali sewaktu-waktu jika ada titik terang baru. Eyang hanya sesekali beranjak dari kursi rodanya dan melihat bagaimana keturunannya bertingkah.

***
Eyang semakin banyak mengeluh belakangan. Ia bilang tak ada gunanya memiliki banyak anak-cucu. Membantunya menemukan seekor babi saja mereka tak sanggup. Makan malam bersama yang sejatinya menjadi ruang hangat untuk berbagi kisah, kini tak berbekas apa-apa. Berganti menjadi rapat pencarian babi. Masing-masing kepala berebut mengeluarkan pendapat. Mulai anak-anak hingga paruh baya. Sudah lama ini menjadi tradisi. Kebebasan berpendapat dikedepankan. Namun harus siap ditertawakan, dihujat, didebat, bahkan beberapa dewasa nyaris saling pukul karena beda pendapat. Merasa paling benar, dan menganggap yang lain nista. Namun diam-diam ada jiwa-jiwa yang goyah. Kepala realistis pun mulai ragu dengan dirinya, beberapa berpindah menjadi apatis. Beberapa dari tim naif, mulai bertanya-tanya dan memilih menjadi realistis. Apatis tertarik menjajal posisi naif demi mencari muka. Semua berlindung pada satu alasan yang sama : ingin menemukan babi dan membahagiakan Eyang.  

***

Eyang terus menerus minta babi diketemukan. Jika tak ada yang sanggup, ia bahkan mengancam akan meminta bantuan polisi saja. Konyol, tapi Eyang tak pernah bercanda. Tim pencari babi semakin kalut. Beragam usul mulai bermunculan. Mulai memindahkan Eyang dari rumah, hingga memanggil bantuan orang lain. Makin banyak pertemuan, makin lebar jurang perpecahan. Pencarian pada akhirnya hanya sebatas perdebatan di ruang tengah yang tak pernah menghasilkan titik tengah apa-apa. 

***

Tanah itu belum kering benar setelah disiram hujan. Seorang laki-laki tua dibantu pria muda, anaknya sendiri, tampak berpeluh menyelesaikan pekerjaan. Mereka menggali dan menimbun tanah. 

"Carikan batu, Nak," sang ayah berucap dengan napas satu-dua, lelah yang belum hilang.
Sang anak kembali beberapa jam kemudian dengan sebuah batu besar di tangannya, "Uang kita cuma cukup untuk yang ini, Pak." 

"Ya sudah, mari dipasang."

Mereka lanjut bekerja, mengabaikan hari yang semakin disongsong gelap. Beberapa menit kemudian, mereka duduk menghadap hasil kerja sepanjang sore ini dari beranda. 

Pemakaman Eyang di halaman rumah tak dihadiri seorang pun dari keturunannya. 

"Cuma ini bakti terakhir Bapak untuk juragan," sang Ayah menghela napas kesedihan. 

***

Tak pernah ada babi di rumah ini. Itu pesan terakhir Eyang pada pesuruh rumah. Baginya, betapa konyol perempuan tua ini. Di akhir hidupnya, ia membuat dirinya sendiri dalam kesepian dan kesia-siaan. 

***   





Kisah fiksi, ditulis untuk #NulisBarengAlumni @Kampusfiksi



Monday, February 8, 2016

Tape-Music oleh Piet Hein

Sonologis asal Belanda, Piet Hein kembali membagikan pengetahuan musik yang berbeda untuk publik Surabaya. Ketertarikan Piet Hein pada eksplorasi bunyi selama bertahun-tahun meluas hingga pada sejarah instrumen/tool baru. Pertemuan Musik Surabaya di tanggal 3 Februari 2016 kembali mengundang beliau untuk hadir dan memperluas cakrawala musik audiens. Berlokasi di Wisma Jerman Surabaya, Piet Hein tampak idealis namun humoris. Berbagai persiapan untuk sound juga ia lakukan sendiri dengan memperhatikan detail bunyi yang terdengar. Karena beberapa kendala detail teknis sound, Piet Hein bahkan sempat meminta maaf karena bunyi yang ia putarkan tidak terdengar maksimal, karena ia tidak hanya akan memberikan pengetahuan mengenai tape-music, melainkan juga menampilkan sejumlah komposisi sesuai dengan perkembangan eranya.

Musik turut berkembang dengan zaman. Teknologi begitu terpengaruh dalam prosesnya. Era baru dihias dengan berbagai kemungkinan perluasan variasi bunyi. Proses tersebut telah berlangsung sejak pertengahan 1900an di mana Theremin dan Onde Martenot muncul sebagai instrumen musik baru yang didukung tenaga listrik. Begitu pula dengan penemuan elektromagnetik yang memungkinkan penempatan bunyi pada sebuah layer. Layer ini kemudian menjadi sambungan metal pada bentuk pertama instrumen. Dicontohkan penerapannya pada kaset dan alat putarnya.

Penyimpanan bunyi dengan alat tersebut telah berlangsung dalam beberapa dekade, yang kemudian berkembang menjadi bentuk-bentuk digital. Tape recorder mulai muncul di masa perang dunia ke II. Meski awalnya digunakan untuk kepentingan perang, kreatifitas manusia membawanya sebagai alat untuk merekam musik. Tak hanya berhenti di situ, tape juga dimanfaatkan untuk memanipulasi bunyi dengan melakukan proses editing dan mixing.

Tape menjadi media penting dalam musik, hingga mampu melahirkan Concrete Music (Musik Konkret), Electronic Music (Musik Elektronik), SoundScape serta Electro Accoustic Music di kisaran tahun 1945 hingga 1980. Setelah tahun 80an, merekam dengan cara digital memungkinkan dilakukannya berbagai bentuk dan variasi manipulasi bunyi dengan software. 

Piet Hein berkali-kali menegaskan bahwa tape music bukan tentang era atau genre musik, namun tentang tool atau instrumen. Terdapat perbedaan yang jelas antara tape-music dengan instrumen klasik barat. Dalam penemuannya, instrumen klasik tersebut hanya memberikan warna bunyi yang berbeda. Sedangkan tape-music menghasilkan style baru dalam penciptaan komposisi

Ialah Pierre Schaeffer yang pertama kali menggagas tape-music, dengan merekam bunyi dari lingkungan sekitar, kemudian di-edit dan dikombinasikan dengan bunyi lain. Hasil rekam bunyi tersebut diolah menjadi komposisi Etude Aux Chemins de Fer di tahun 1948, di mana Schaeffer mengambil bunyi-bunyi dari kereta, seperti peluit, bunyi roda kereta yang berbenturan dengan rel, hingga deru kereta yang menjauh. Schaeffer meng-edit dan menggabungkannya hingga menjadi  satu komposisi baru yang menarik. Komposisi tersebut kemudian dikenal sebagai karya pertama untuk musik konkret (concrete music)

Lain lagi dengan Variation Pour Une Porte Un Soupir (Variasi untuk Pintu dan Napas). Pada komposisi ini Henry memadukan bunyi pintu dengan napas manusia. Hanya dengan merekam unsur bunyi pintu dan napas, Henry pun mengolah bunyi, melalui proses editing, menjadi satu komposisi yang baru dengan durasi sekitar 47 menit. Kualitas produksi terlihat jauh lebih baik ketimbang milik Scaheffer meski hanya berjarak 15 tahun kemudian.  

Piet Hein kembali mengajak audiens mengenal komposisi Henry yang diciptakan empat tahun setelah komposisi terakhir yaitu Messe pour Le Temp Present (Mass for the Present Time). Komposisi ini sangat berbeda dengan tipikal musik Pintu dan Napas, jika dibahasakan dengan bahasa terkini, musik Henry ini terkesan seperti musik Pop, dengan menggabungkan juga dengan jenis Jazz dan kontemporer di dalamnya. Bunyi yang diolah dan diperdengarkan terkesan jauh lebih ramai dan lebih beragam, namun terasa modern dengan pernik instrumen dan accompaniment. Sesekali terdengar bunyi yang menggabungkan musik Jazz, populer dan kontemporer. Dalam perkembangannya, bunyi juga dihasilkan dengan tools yang berbeda, seperti sign-wave generators, alat pembangkit sinyal sinusoidal.  

Diperdengarkan pula komposisi ke-tujuh dari Stockhausen, Etude-Study in Concrete Music yang diciptakan tahun 1952. Selama lebih dari tiga menit, terdengar benda-benda yang digeser, digaruk, dipukul, diotak-atik, bahkan digesek untuk menghasilkan kesinambungan bunyi. Di masa ini lah masa di mana komponis tidak lagi mempedulikan batas antara concrete dan synthetic sounds.

Gesang der Junglinge (Song of the Youths) milik Stockhausen terdengar cemerlang di awal, kemudian diikuti suara wanita dan anak kecil yang bersahutan menyuarakan beberapa nada berlainan. Juga terdengar nada minor dari string, dan tambahan efek elektronik dikemas dengan permainan volume yang dinamis. Membesar dan mengecil secara tiba-tiba, fade out, untuk kemudian muncul kembali. Komposisi ini benar-benar mengulik beragam bunyi dengan dinamika ekstrem.  

Death tones dan pure tones merupakan bentuk pembagian tone dari seorang komposer asal Belgia, Karel Goeyvaerts. Death tones didefinisikan sebagai bunyi yang didominasi oleh sign waves sedangakan pure tones jauh lebih kaya dengan overtones. Untuk menjelaskannya lebih jauh, Piet Hein meminta audiens untuk mendengar perbandingan dua komposisi Goeyvaerts yaitu Study 4 dan Study 5. Audiens dapat mendengar death tones dengan kecenderungan monoton. Hal itu diekspresikan oleh komposer dengan wujud seperti nada bel yang dimainkan bersahutan. Pola yang sama mengalami repetisi sehingga terkesan sama. Sedangkan pure tones lebih liar dalam pola. Nada-nadanya pun dinamis, tak terikat dengan durasi tertentu. Pure tones terdengar dinamis dan variatif. Namun jika pure tones dan death tones dikombinasikan, mampu tercipta komposisi bunyi yang menarik. 

Dalam electronic music, komposer Hungaria-Austria, Gyorgy Ligeti lah yang menciptakan Articulation, sebuah komposisi yang menggabungkan berbagai tones. Bahkan Ligeti menciptakan score yang bisa menampilkan secara real time, yaitu score dan bunyi yang berkesesuaian. Bentuk-bentuk yang ada di dalam score berupa grafik notasi menggambarkan karakter dari bunyi yang dihasilkan. 

Perkembangan kembali dilakukan oleh Iannis Xenakis, komposer Yunani-Prancis yang menciptakan komposisi berjudul Concrete PH. Dulu disebut sebagai concrete music, untuk kemudian lebih banyak dikenal sebagai "electronic music" saat ini. Luciano Berio, komposer asal Italia menyambut tongkat estafet dengan meleburkan batasan synthetic sounds dan concrete sounds pada karyanya. Komposisi yang diciptakannya terdengar seakan seseorang sedang menggeram memainkan berbagai suara dari mulut diiringi berbagai bunyi-bunyi lain dalam Visage for Electronic Sounds and Cathy Barbarians Voice on Tape. Piet Hein mengingat, di tahun 1983, ia sempat bertemu dengan Slamet Abdul Sjukur dan mereferensikan komposisi ini pada SAS. Setelah itu, di tahun 2014 lalu digelar konser Sluman Slumun Slamet dalam rangka memperingati 79 tahun SAS, di salah satu karyanya, Piet Hein menduga kuat komposisi Berio tersebut menginspirasi karya SAS yang berjudul Gelandangan. 

Waktu berkarya dari tahun 1929 hingga 2005 hidup seorang Luc Ferrari, ia menciptakan komposisi Soundscape Fullscale pertama kalinya. Komposisi ini terdengar bagai bunyi gerimis yang samar, kemudian di bagian tengah digabungkan dengan bunyi-bunyi benda yang dijatuhkan, namun terkesan penuh perhitungan. Piet Hein memberikan batasan beda yang jelas antara soundscape dan concrete music. Concrete music tidak diciptakan pada perspektif sound awareness (kepekaan terhadap bunyi) dan acoustic ecology. Di sisi lain, soundscape ditampilkan di luar gedung pertunjukan, dan mengambil bunyi dari lingkungan dengan pertimbangan sound awareness dan accoustic ecology.
   
Concrete music, electronic music dan soundscapes bukan tentang style ataupun era dari musik, namun merupakan tool/instrumen baru bagi komposer. Ia mampu mewujud dalam berbagai style. Istilah tape music sudah tak lagi digunakan, alih-alih "tracks" untuk mendefinisikan berbagai bentuk bunyi yang telah direkam sebelumnya. Sedikit menyinggung tentang electro-accoustic yaitu perbedaannya dengan tiga jenis musik di atas, Piet Hein menjelaskan bahwa jenis ini adalah bentuk penggabungan antara musik elektronik dan akustik, di mana sebagian besar dilakukan secara live atau kombinasi live-tracks keduanya.  

Mengakhiri sesi berbagi, Piet Hein memperdengarkan The Tubes dari Michael Fahres. Komposisi tersebut terdengar seperti penggabungan suara ombak dan diberikan berbagai efek musik. Bunyi ombak diulang terus menerus dengan pola yang sama, namun bunyi yang menjadi "tambahan"nya divariasikan sedemikian rupa. 

Piet Hein membawa audiens ke sebuah pemahaman baru tentang sejarah perkembangan variasi musik dari sudut pandang yang berbeda, yaitu musik elektronik, musik konkret dan soundscape, juga hal lainnya yang berkembang bersama era tersebut. Mengenal musik dengan perspektif yang lebih luas mampu membawa pencinta musik meningkatkan sound awareness, kepekaan terhadap bunyi.   


Saturday, February 6, 2016

Kaus Bergaris dan Jeans Belel

Keluar.

Itu kata terakhir dari Ayah yang selamanya tertancap di ingatan. Selama ini aku terus mencoba lari. Lari dari susupan rasa-rasa bersalah, penyesalan, dan takdir waktu yang tak bisa diulang. 

***

Jam-jam kepulangan Ayah dari luar kota selalu membuat suasana rumah gempita. Seakan semua orang bersiap menerima kejutannya masing-masing. Ibu dan kakak-kakakku kelamaan merasa ini hanya sebuah permainan, karena Ayah paling sering membawakan kejutan untukku. Jam tangan dengan pengaturan alarm, agar aku selalu tepat waktu melakukan shalat, sampai mukenah ukuran anak yang kumiliki seperti koleksi, berganti-ganti setiap kali. Itu belum termasuk sampul kitab berbagai warna. Bagi Ayah, semua harapan perempuan sholehah ada di diriku. Bagiku, kejutan dan hadiah selalu menyenangkan. Tak peduli apa pun bentuknya.

***

Beranjak dewasa, aku meminta pindah dari sekolah swasta religius ke sekolah negeri dengan kemajemukan. Begitu banyak pertanyaanku tentang bagaimana dunia di luar sana. Tentang siapa Tuhan di kepala orang lain, tentang bagaimana rasanya memiliki teman sebangku dengan kepercayaan yang berbeda. Namun itu sama halnya dengan menentang awan gelap untuk menurunkan hujan. Ayah menolak habis-habisan. Katanya, aku sudah mencederai hati Ayah, parah. Mengecewakan, menghancurkan impian. tak tahu berterimakasih, dan berbagai macam ungkapan lainnya. Aku tak ingat lagi. 

***   

Kaus bergaris dan jeans belel dengan lubang di bagian lutut yang terpajang di etalase toko itu diam-diam tak bisa kuhilangkan dari kepala. Mulai ada bayangan tentang diriku sendiri jika memakainya. Tubuhku pun segera merespon dengan mulai menghitung isi tabungan. Kemudian ada amarah yang membuatku bergetar. Keinginan ini tentu akan mengecewakan Ayah lagi. Juga ada pertanyaan, manusia macam apa diriku. Semakin lama semakin menjauh dari gadis kecil yang Ayah harapkan. Bahkan, aku mulai meragukan siapa diriku sendiri.   

***   

Diriku tampak benar-benar berbeda dengan kaus bergaris dan jeans belel. Ini malam ketika Ayah sedang tak ada di rumah. Ia lembur hingga menjelang tengah malam, katanya. Kakak dan ibu sedang menginap di luar kota, mengunjungi saudara yang sedang terserang stroke akut. Tanpa Ayah di rumah, aku tiba-tiba ingin mencoba. Tak apa. Sekali ini saja. Lagipula aku tak berbohong apa-apa. Dan Ayah tak perlu tahu, sampai membebani dirinya sendiri. Sisanya, aku akan menjadi gadis impian Ayah lagi. Apa artinya beberapa jam saja. Sekadar mencoba. Malam itu, dengan kaus bergaris dan jeans belel, aku berjalan ke luar rumah dan melupakan sesaat tentang gadis impian Ayah. Mencari jawaban dan menemukan diriku yang benar-benar berbeda. 

***

Tidak ada satu pun yang tahu tentang kaus bergaris dan jeans belel. Ia terlalu menggoda untuk hanya digunakan sekali. Hanya dengan keduanya, aku menemukan dunia yang selama ini cuma tersimpan penuh tanya di dalam kepala. Apa rasanya, dan bagaimana menyikapinya. Sesekali aku kenakan kembali kaus bergaris dan jeans belel itu tanpa pengetahuan siapa-siapa. Entah untuk keluar berjalan-jalan, atau sekadar berkaca di cermin jika tak memungkinkan. Namun selalu kuwajibkan diriku sendiri untuk kembali menjadi gadis impian Ayah. Cita-cita Ayah, keinginan Ayah.

*** 

Tidak ada tupai yang tak pernah terjatuh. Dengan kaus bergaris dan jeans belel yang sama, aku berbincang dengan beberapa teman di sebuah cafe. Tentu teman-temanku ini sama sekali tak masuk dalam perhitungan Ayah. Di luar dugaan, aku alpa bahwa itu jalur pulang kantor dan tempat Ayah biasa meeting dengan klien. Aku serasa dipukul langsung di bagian wajah. Aku begitu ingin menukar saat itu dengan apa saja. Apa saja, asal momen itu tak pernah terjadi.

***  

Bertahun-tahun setelah Ayah memintaku keluar dari rumah, Ibu dan kakak mencariku mati-matian ke mana saja. Sementara aku sudah memilih tempat yang jauh, di luar pulau tempat kami tinggal. Hidup seorang diri dengan mulai dari belas kasihan teman. Tak ada pelukan paling hangat namun begitu terasa asing ketika aku bertemu Ibu dan Kakak untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ketakutan kami bertahun-tahun tentang perpisahan yang selamanya, dipupuskan melalui air mata, haru yang meluap tak terkira. Aku bahkan tak berani bertanya di mana Ayah ketika itu. Namun kepekaan Ibu tak pernah berkurang. Ia menggenggam tanganku dengan tangis yang sebisa-bisanya ia tahan. "Ayahmu ikhlas tentangmu.."

***    


Ayah memang tak perlu tahu tentang kaus bergaris dan jeans belel yang tak pernah kusentuh lagi.

Ia memang tak perlu tahu. Aku hidup sesuai dengan cara yang dipilihkannya untukku setelah keluar dari rumah. 

Ia memang juga tak perlu tahu. Seberapa besar penyesalan dan kata maaf yang begitu ingin kuhamburkan padanya. 

Aku hanya datang dan tertegun tentang ketakberadaannya.  
Ayah alpa mengajarkanku memaafkan diri sendiri.
Ayah lupa mengajarkanku merelakan keterlambatan. 

Bertahun-tahun kemudian, bahkan entah sampai kapan, aku masih bertanya-tanya, apa arti merelakan sesungguhnya?




*Kisah fiksi ditulis untuk #NulisBarengAlumni @KampusFiksi 

Kampus Fiksi 15

"Sudah tahu, ya?"

Itu pertanyaan seorang teman suatu kali ketika kami berdiskusi tentang menulis beberapa kali. Ia curiga saya sudah mengerti apa yang ia katakan karena ia tahu, dulu saya sering keluar-masuk workshop/seminar. Merasa semakin pintar? Tidak. Merasa sebaliknya, hampir selalu pasti. Materi mungkin serupa. Namun sudut pandang memang wujud yang tak pernah kering, tak pernah habis dipelajari. Untuk apa saja, termasuk kemampuan menulis kreatif.

Saya juga sering bertanya-tanya pada diri sendiri. Kapan saya akan berhenti keluar-masuk workshop/seminar menulis? Jenuh, karena tak cukup membuat saya konsisten menghidupi motivasi diri, namun juga terlalu merasa sayang melewatkannya lalu begitu saja. Jadi, saya juga sering bertanya, mengangguk-angguk, merenungkan dan mencatat apa saja yang diterima, namun begitu saja mengabaikan dengan berbagai alasan, beberapa waktu kemudian. Bebal.

Tidak terbersit apa-apa ketika saya iseng saja mengirimkan cerita pendek untuk seleksi Kampus Fiksi. Sama seperti sayembara-sayembara lainnya, saya tidak berharap apa-apa. Ternyata semesta menjawab ke-setengahhati-an yang saja ajukan. Mungkin Tuhan menganggap api saya sudah terlalu kecil untuk memasak. Perlu ditambahkan minyak lagi agar baranya menyala, setidaknya cukup untuk penerangan beberapa langkah ke depan.

Pada akhirnya saya senang. Kampus Fiksi cukup kuat memberi alasan pada diri saya untuk kembali ke Jogjakarta setelah sekian lama. Ada teguran untuk janji-janji berkunjung yang belum ditepati, dan tentu saja utang kepada diri sendiri untuk kembali menemui kota ini.

Penyakit terlalu 'normatif' saya memang agak akut. Norma saya seperti janji yang sudah lama untuk diri sendiri. Menjejak Jogjakarta di menit-menit awal, saya bertekad mesti melepas rindu pada gang kecil Sosrowijayan terlebih dulu. Saya berutang banyak pada tempat itu sebagai setting cerpen dan iming-iming teman-teman yang memancing saya untuk kembali.

"Cari penginapan?" supir becak bertanya kesekian kalinya.
Saya menggeleng. "Mau ke toko buku, Pak."

Dengan beban barang bawaan yang lumayan, roda-roda kecil tas saya menyusuri jalan kecil gang Sosrowijayan. Sepertinya bookshop di sana sudah bertambah beberapa dibanding kunjungan saya terakhir kali. Boomerang memang selalu saya wajibkan. Tapi tidak ada salahnya menjajal toko-toko lainnya. Tuhan tidak membiarkan saya melakukan dosa terlalu lama, rupanya. Dosa karena sebegitu mudahnya mengurangi jumlah pundi-pundi, dan selisih paham dengan tim Diva Press perkara penjemputan. Tapi ini murni saya yang nakal. Memindah tempat penjemputan seenak hati demi nazar yang menuntut dipenuhi. Hanya beberapa menit saja sempat menyisipkan Ben Okri, Ishiguro dan Eric Siblin ke dalam tas, saya kemudian menggeret roda-roda tas kembali ke ujung gang yang berlawanan untuk tempat penjemputan baru yang sudah diatur ulang. Dosa lainnya, saya salah ambil posisi, dan membuat repot lebih lagi dengan mesti berjalan menuju mobil jemputan yang berhenti di ujung jalan. Bawaan saya yang berat dibantu bawakan oleh laki-laki muda yang belakangan saya tahu seorang penghobi jalan kaki. Belum lagi membiarkan pengemudi yang untungnya, sabar dan riang menunggu. Benar-benar tak enak hati.

Bahkan tak sempat lama saya memperhatikan wajah gadis yang menyambut saya di bangku penumpang. Sedikit-sedikit pandangan ia tundukkan dengan wajah memerah. Ia tak banyak bicara dan hanya menjawab sekenanya jika ditanya. Saya kira, ia tak suka dengan orang baru. Maka kami tak banyak bicara, hanya saya saja yang lebih banyak bertanya pada laki-laki pejalan kaki dan pengemudi riang hati di bangku depan. Melihat bagaimana mereka sebegitu mudahnya membagikan rasa percaya dan keramahtamahan yang tak dibuat-buat, saya tahu ini sudah bukan hal baru bagi mereka. Kami kemudian menunggu di depan Lempuyangan untuk menunggu yang lainnya. Seorang demi seorang datang. Perempuan dengan riasan lengkap serta laki-laki humoris yang mengalah dengan duduk di bangku paling belakang. Perjalanan tidak berlalu kaku, selalu tersedia banyak bahan obrolan untuk sebuah perkenalan.

Kami dituntut cepat untuk menyesuaikan diri dengan tempat baru. Sebuah gedung di Bantul mengumpulkan banyak orang di satu atap. Jelas, saya satu kamar dengan gadis pemalu dan perempuan riasan lengkap. Dalam beberapa menit, itu hanya menjadi prasangka awal saja. Gadis itu tak pemalu, fisiknya hanya terlalu sensitif bereaksi ketika terpapar matahari berlebihan, membuatnya tak enak badan. Perempuan dengan riasan lengkap itu pemecah kebekuan. Apa adanya dirinya membuat hangat. Kami kemudian cepat akrab dan berinisiatif berjalan sore menuju swalayan yang kami kira hanya di ujung jalan. Nyatanya lebih dari satu kilometer bolak-balik berjalan kaki. Meski cukup menyesal berjalan jauh, tapi kami melihat hal-hal lokal yang kami sadari sudah bukan hal biasa untuk kami. Anak-anak kecil bermain bola ketimbang gadget, atau beberapa pria-pria tua yang menatapi papan catur dengan serius di beranda rumah tak bersekat, seakan mengundang siapa saja untuk bergabung. Kami, nyatanya, terlalu merasa modern untuk menganggap hal-hal itu kebiasaan. Padahal, sesungguhnya, kami hanya dikecoh arus serba materi.

Kembali ke gedung, kami menemukan lebih banyak lagi orang. Saya terus-terusan gagal mengingat nama beberapa detik setelah bersalaman, menyalahkan kepayahan ingatan. Kami berjubel di salah satu kamar. Seorang perempuan dengan tatapan tajam, perempuan dengan rambut tergerai dan gadis berkacamata pendiam yang tampak berhati-hati membaca keadaan. Juga seorang perempuan manis dengan ayu khas wanita Jawa, calon ibu muda yang matang. Saya kemudian tak ingat apa yang kami semua bicarakan. Mungkin tentang kamar mandi, makan malam, atau pengaturan posisi tidur. Entah. Tapi riuhnya luar biasa. Meski sama-sama mengenal Surabaya, saya sesungguhnya agak segan berbincang dengan perempuan tatapan tajam. Bahkan saya menebak, hingga akhir program, saya tak akan cukup banyak berinteraksi dengannya. Nyatanya, saya tahu dia perempuan dengan keteguhan luar biasa, jujur dan percaya dengan nilai dirinya sendiri. Impresif.

Perkenalan yang dituntut singkat dan cepat, belum sempat membuat kami menjadi dekat. Namun pembukaan mesti segera dimulai. Sebisanya, saya mengais-ngais mata untuk mencocokkan nama di papan nama masing-masing dengan wajah-wajah baru. Kepayahan saya semakin menjadi-jadi. Pasrah saja, akan menghapal seiring dengan jalannya waktu, hibur diri sendiri. Posisi yang cukup dekat dengan pemateri membuat saya gembira. Maklum, mata buram dan seringkali lemot jika tak mendapat greget suasana. Saya belum sempat berbincang sedikit pun dengan perempuan easy-going di sebelah kiri. Rambutnya yang selalu terkuncir rendah dengan pembawaan santai dan apa adanya itu menarik. Juga pandai memposisikan diri, saya kira ia jagoan, dan membuat karakternya dengan mudah menonjol di antara yang lain. Sesekali ketika melirik pada mejanya, catatannya tak penuh poin, justru sarat ornamen hiasan. Ia penggambar ulung. Arsitek. Dan bukan perempuan dandan. Ia menarik karena apa adanya dirinya. Bebas berteriak, bahkan mengucapkan ungkapan persahabatan yang kasar. Itu caranya sendiri, dan kami tak pernah tersinggung untuk itu. Saya tak banyak berbicara hingga akhir dengan gadis mungil di sebelah kanan. Bahkan saya agak segan memancing pembicaraan, karena sepertinya ia sungguh-sungguh mengikuti panel. Nanti saya akan berbicara kembali dengannya, itu selalu dalam tekad saya. Tapi nyatanya kami tak banyak bersinggungan, selain duduk bersebelahan. Tak apa. Masih ada lain kali.

Setelah setahun berlalu, saya melihat beliau, sang empunya acara, pria yang menjadikan pertemuan-pertemuan dan memfasilitasi apa saja yang semua orang butuhkan selama acara berlangsung. Saya jadi ingat, saya menanyakan tentang internalisasi tokoh padanya terakhir kali di Surabaya. Masih dengan senyum yang membumi, namun dalam secara filosofi. Kemampuan berbicaranya tetap menarik untuk diikuti. Tak ingin membuat ekspektasi kami terbang terlalu tinggi, beliau menceritakan tentang pahitnya dunia kepenulisan yang akan kami tempuhi. Bukan untuk menjatuhkan, namun sekadar memaparkan kenyataan. Belum habis, kami diminta untuk membuat rancangan cerita pendek kemudian. Katanya, untuk bekal menulis selama tiga jam keesokan hari.    

Jam-jam pertama selalu jadi ruang penyesuaian. Malam itu, masalah dimulai. kamar yang terlalu kecil untuk sekian perempuan, cukup membuat repot. Barang bawaan yang bergeletakan, juga salah satu dari masalah setelah berebut giliran menggunakan kamar mandi. Perempuan dengan rambut tergerai yang santai di atas tempat tidur sejak tadi cukup membuat saya penasaran. Ada nada santai dalam setiap caranya berbicara. Namun saat-saat diamnya justru menimbulkan pertanyaan. Apa itu tentang hidup, pekerjaan, atau menilai perbincangan? Tak banyak yang bisa saya katakan tentang dirinya. Belakangan, kami tahu ia berkarir di sebuah penerbitan dan susah mendapat jadwal libur.

Kami tidur dengan pembagian yang seadanya. Beberapa mengalah memilih tidur di aula ketimbang mesti berdesakan di dalam kamar. Sisanya, termasuk saya, teguh mempertahankan slot. Maklum, saya sulit untuk tidur dengan ruang cenderung terbuka. Memilih untuk berhimpitan dengan perempuan tatapan tajam, perempuan rambut tergerai, juga perempuan riasan lengkap. Claustrophobia mesti diredam, karena butuh beberapa saat untuk bisa menerima tidur dengan lampu yang dimatikan. Sedikit terasa sesak di awal, tapi kemudian cukup terbiasa. Yang berhasil membuat saya lelap hanya lelah sisa menempuh perjalanan sepanjang pagi dan siang.

Mengingatkan tujuan sesungguhnya kami datang, program disusun beruntun dan padat di hari ke dua. Beliau, sang empunya acara hadir kembali dengan materi yang berbeda. Teknik kepenulisan secara umum, juga dengan pernik kisah pengalaman yang menarik untuk diikuti. Bukan sebentar kami mesti menyimak, namun jalan menyenangkan dalam penyampaian selalu berhasil menarik perhatian kembali. Seperti dua hal yang tak bisa dipisahkan, calon-calon penulis ini dibekali dengan materi self edit yang begitu sering kami abaikan setelah proses menulis usai. Perempuan editor mungil dengan gaya bertutur tegas, cepat, membuat kami mesti pasang fokus lebih. Tak meremehkan proses koreksi ulang patut dimasukkan daftar penting untuk menjadi seorang penulis. Bentuk penghargaan pada pembaca, meski hanya seorang pembaca pertama. Seperti menawarkan diri, kami akan dinilai berdasar karya yang kami tuliskan. Self edit menempati posisi penting dari rangkaian proses lahirnya sebuah karya.

Jam-jam istirahat bukannya berlalu tanpa pelajaran apa-apa. Sembari mengudap makan siang, kami mengobrol, mencari tahu, mendengar, berkisah tentang latar belakang hidup satu sama lain. Mencari kesamaan, belajar dari perbedaan. Seakan kami dihantui waktu bahwa hari hanya tersisa esok, dan belum saling mengenal adalah momok menakutkan. Saya mulai berbincang langsung dengan perempuan-perempuan muda di kamar yang berbeda. Mereka adalah karakter-karakter yang nyaris bertolak belakang dengan populasi kamar sebelumnya. Ada ketenangan yang lebih mengambang, dibarengi kedekatan yang seakan terbangun tanpa perlu berkata. Ekspresi datar dari wajah manis awal dua puluhan itu yang membuat saya selalu merasa kesusahan menilai apa yang ia bicarakan yang sebenarnya atau hanya sebuah canda. Ia seakan memiliki dunia sendiri dan ketakacuhan terhadap apa yang tak ia yakini. Pun, tak sebegitu mudahnya mengekspresikan kepanikan atau kemarahan. Kemudian perempuan jangkung manis dengan satu-dua kata yang tak mudah ditebak apa yang dipikirkannya. Aksen Sunda membuatnya mudah diingat. Lain lagi, perempuan super mungil yang dewasa dan tenang menyikapi pembicaraan. Jiwa baru yang sedang berkembang dalam rahimnya tak membuat ia kesusahan dan membatasi diri. Bahkan ia belum mengidam apa-apa, hanya mampu makan sedikit-sedikit setiap kali. Mengesankan. Gadis kecil lain menonjol karena berbeda dari wujud fisik kami kebanyakan. Masih di usia belia, meski terlihat imut, namun ia cukup dewasa memposisikan diri. Tanpa perlu berusaha keras, bahkan kami sudah mampu menyayanginya sebagai adik terkecil kami.

Saya sudah curiga dengan perempuan rapi yang cenderung pendiam di antara obrolan candaan kami. Saya kira ia agak angkuh di awal. Ternyata ia hanya telah melewati masanya. Ibu muda dua anak yang tenang dan dewasa. Karakter berbeda saya dapatkan dari seorang perempuan berkacamata. Ekspresinya jelas, seakan mudah dibaca. Amarahnya hanya sebentuk humor untuk membuat cair suasana. Manis. Perempuan menyenangkan berikutnya salah satu favorit saya. Apa adanya, khas wanita Jawa, namun saya percaya beberapa tahun ke depan kedewasaannya akan mengesankan. Sangat perhatian dan kerap membagikannya melalui hal-hal kecil. Ia tak ingin selalu menjadi jagoan, namun punya kebesaran hati untuk menjadikan orang lain sebagai jagoan. Impresif.

Terbiasa menulis secara bebas, tanpa batasan waktu, membuat saya cukup kewalahan dengan tiga jam target selesai sebuah cerita pendek. Diam-diam saya bersyukur setidaknya telah membuat coretan awal rancang adegan sembari menyesap teh pagi. Tapi saya tetap merasa goyah. Ada pernik yang mesti didapatkan dengan riset kecil-kecilan. Sesuai dugaan, menulis penuh selama tiga jam memang tak mudah. Seperti maraton, saya sering kehabisan napas. Namun melihat bara semangat teman-teman yang lain, ada harapan yang terus dipacu. Perempuan arsitek di sebelah saya selalu berhasil menjadi teman menghilangkan kejenuhan. Ide-ide humornya gila dan out of the box. Sedikit-banyak saya jadi bertanya-tanya, apa inti karakternya. Yang paling ceria biasanya justru yang paling menyembunyikan kedalaman yang tak terlihat. Ia dengan tulus meminjamkan modem untuk saya sekadar menelusur informasi tentang pesawat tempur atau warna garis test-pack. Kami berhasil menyelesaikan tugas persis ketika tutor kami, seorang wanita penyuka jalan-jalan dan pelaku pola makan sehat menyodorkan flashdisk, meminta hasil. Perempuan ini juga menarik. Ia bagai sebuah jendela kecil dengan tirai motif bunga sederhana. Santai, tak membangun benteng apa-apa dalam bersosialisasi. Menyambut hangat siapa saja yang ingin menyapa, tanpa menumbuhkan keseganan.   

Sejalan dengan waktu-waktu santai yang diberikan, karakter-karakter peserta berikutnya semakin membuat penasaran. Lebih jangkung di antara yang lain, perempuan itu tampak malu-malu. Tak cukup banyak menyahut ketika obrolan-obrolan dilakukan. Kami hanya berpapasan sesekali ketika mengambil air minum atau di lorong kamar mandi. Tak banyak yang bisa kisahkan tentangnya, namun ia selalu mengundang tanya. Dua karakter terakhir laki-laki. Nyentrik secara penampilan, khas seniman Jogja. Merasa kecakapannya lebih banyak dalam meliukkan kata-kata, bukan dalam prosa. Sedang yang terakhir ala anak laki-laki polos yang tak berprasangka apa-apa. Ia sedang dalam fase awal perjalanan membaca dunia, dan memahami kehidupan. Seringkali keluguan yang ia tampilkan jadi bahan bercandaan. 

Tak ada yang bisa menolak senang-senang. Berhimpitan dalam beberapa mobil, kami semua menuju tengah kota untuk bergabung dengan keramaian gemerlap malam minggu. Sayang, tak banyak yang mampu kami lakukan dan lihat dengan keramaian yang keterlaluan. Tapi mungkin memang bukan itu yang kami cari. Kami hanya perlu waktu santai bersama. Menikmati saat sebelum kembali ke kehidupan masing-masing. Sesekali menepis kenyataan bahwa momen yang sama tak akan bisa diulang. 

Hari terakhir pun masih dipenuhi jadwal belajar. Membangun pengetahuan tentang keredaksian dan marketing yang memang semestinya diketahui seorang penulis. Bagian menegangkan berikutnya adalah mesti menerima komentar terhadap cerpen yang telah dituliskan sebelumnya. Ada beberapa kekhawatiran melesetnya ekspektasi yang berujung pada mempertanyakan kemampuan diri. Namun ternyata bisa kami lalui tanpa terlalu mengecewakan. 

Saya mengutuk diri sendiri ketika tahu bahwa  saya alpa mengecek rundown acara sebelum berangkat menuju Jogja. Barulah perempuan dengan riasan lengkap yang mengatakan bahwa bintang tamu untuk sesi panel cerpen koran adalah salah satu sastrawan favorit saya. Namun ini sekaligus menjadi jalan menyenangkan bagi saya. Sempat menjadi sesama kontributor di sebuah media online yang sama, saya bahkan tak cukup berani untuk menyapa beliau secara personal. Tertinggal acara peluncuran bukunya di Surabaya, saya juga cukup menyesal. Namun itu terbayar melalui Kampus Fiksi. Mampu mendengar berbagai pengalaman dan perjuangan beliau menyelami dunia sastra Indonesia, sangat menarik. Belum lagi keterbukaan dan kejujuran yang disampaikan. Sangat impresif. 

Satu per satu langkah-langkah kami diantar kembali ke asal. Mulai malam hingga sore hari keesokan harinya, semua peserta kembali menyusur berkilo-kilo jalan dengan menyimpan kenangan dalam kepala. Pada akhirnya, untuk saya, Kampus Fiksi bukan hanya ruang belajar, namun juga wadah pertemuan. Bukankah terlalu naif dengan menganggap semua adalah teman baik dalam waktu sekejap? Kami toh bukannya telah melalui kesusahan saling membahu menyeberangi sungai berarus deras atau mendaki gunung dengan kelaparan berhari-hari. Kami berkumpul dengan serba tercukupi. Apakah bisa disebut sebagai teman baik hanya karena ditakdirkan berinteraksi dalam satu atap selama tiga hari penuh? Tapi Kampus Fiksi menciptakan harapannya, benihnya. Semua berbalik pada keinginan untuk memupuk, memelihara dan memperjuangkannya. Selalu ada rasa-rasa yang tak terdefinisi yang membuat kami sejauh ini saling merindukan pertemuan kembali. Jika suatu saat itu berubah, kami mungkin tak pernah menyesali. Bukankah kehidupan selalu terdiri dari banyak kenangan dan pemberhentian? 

Untuk segalanya, ada ungkapan syukur dan terima kasih yang tak cukup diwujudkan lewat kata-kata.  

Friendship is the hardest thing in the world to explain. It's not something you learn in school. But if you haven't learned the meaning of friendship, you really haven't learned anything. - Muhammad Ali