Monday, October 1, 2018

Kekayaan Bunyi Negeri : Temu Musik Skena Nusantara 6.1

"Satu pesan saya, PMS (Pertemuan Musik Surabaya) jangan mati."

Gema Swaratyagita mengenang pesan dan jiwa besar Slamet Abdul Sjukur, salah satu pendiri Pertemuan Musik 61 tahun lalu. Sebuah perjalanan yang patut disyukuri karena tetap dapat melalui waktu, dan berkembang melampaui jarak.

***

Sebuah perjalanan panjang dimaknai dengan mendalam oleh PM (Pertemuan Musik). Komunitas musik yang telah terbangun sejak 61 tahun lalu ini melahirkan kembali nilai-nilai kebersamaan, pemaknaan, serta dedikasi terhadap musik. Memilih mengambil tema nusantara, PM ingin  mengingat kembali kekayaan bunyi dari negeri ini, sesuai dengan akar PM yang mengusung semangat nasionalis di awal berdirinya. Di samping, musik nusantara masih belum begitu mendapat ruang dan tepukan apresiasi di negeri sendiri.



PM mewujudkannya bukan hanya melalui pagelaran, namun juga lokakarya serta seleksi komposisi. Diselenggarakan di waktu yang berdekatan, tiga kota menjadi tuan rumah bagi perayaan PM. Publik Jakarta, Surabaya, dan Pekanbaru mendapat kesempatan mengikuti rangkaian acara. Lembar ke-23 dan 24 dari bulan September 2018 menjadi giliran Surabaya untuk melakukan lokakarya vokal dengan Ubiet Raseuki serta pementasan. Di sisi lain, seleksi karya disambut antusias oleh 49 karya dari berbagai komponis muda seluruh tanah air yang berujung 6 karya terpilih ditampilkan di Pekanbaru, 3 karya di Jakarta, dan 3 karya di Surabaya. Penampil panggung Surabaya berasal dari Solo, Pontianak serta Jombang. Karya-karya tersebut telah melewati tahapan seleksi dari Diecky K. Indrapradja, Ubiet Raseuki, Marisa Sharon Hartanto, Aristofani Fahmi, dan Lawe Samagaha. Dewan kurator menyorot berbagai aspek teknis kompositoris antara lain konsistensi dalam mengembangkan ide karya dengan konstruksi yang mumpuni.

Panggung Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya di hari pertunjukan dibuka oleh tampilan "Dua' Pasang" dari kelompok musik Lawang asal Pontianak. Terdiri dari enam personel Arsiko Gunawan, Ardy Prastiawan, Rama Anggara, Angga Khasbullah, Zacky Ricky Vitaqqie serta Octaviandri, mereka tampil kompak mengenakan pakaian koko. Musik Lawang begitu kental dengan nuansa musik religi hadrah, pun sarat muatan keagamaan Islam dan pesan moral dalam hidup. Menggunakan alat musik Tar khas Pontianak ditemani cello, violin, contrabass, selodang, gong ageng, selang, rebana, enam kompang, dan suara manusia. Dibuka dengan desisan bersama dari suara pemain, nuansa hadrah langsung terasa ketika senar dipetik dan seketika menggaungkan nuansa timur tengah beserta tabuhan dari kompang. Sebagai penegasan, Lawang juga menyanyikan lirik yang berisi pesan keagamaan dan kemanusiaan. Bukan hanya memainkan dengan gaya yang "biasa", Lawang tampak ingin mengeksplorasi bunyi instrumen seluas mungkin baik dengan tepukan tangan hingga bunyi gesekan permukaan rebana. Meski memadukan banyak elemen bunyi, Lawang tak lupa bermain dengan dinamika. 

Lawang
Credit : Dokumentasi Pertemuan Musik


String Quartet asal Universitas Negeri Surabaya : Harpang Subuh, Tommy Agung, Rendra dan Wildany membawakan karya komponis Jombang, Candra Bangun Setiawan berjudul "Gaman". Keempat pemain menampilkan gesekan-gesekan yang berbeda dari biasanya. Mereka menghadirkan gesekan yang fals, melengking, membuat kuduk berdiri dan gatal di telinga audiens. Namun komponis tampaknya tak membiarkan pertunjukan monoton. Pemain mengeksplorasi penuh instrumen mereka dengan memukul, menggesek, memetik. Komponis seakan tak membiarkan audiens memenuhi ekspektasinya akan penampilan string quartet yang biasa. 


String Quartet
Credit : Dokumentasi Pertemuan Musik

Panggung kemudian diisi dengan penampilan dari peserta hasil lokakarya bersama Ubiet Raseuki. Sebelas vokalis menampilkan suara khas dari berbagai daerah di Indonesia. Karya yang mereka tampilkan, Tamasya Suara Nusantara merupakan hasil dari enam jam lokakarya di hari sebelumnya. Dalam lokakarya, peserta terlebih dulu diperdengarkan nyanyian dari berbagai daerah di Nusantara. Dari proses itu, peserta mencoba menyanyikan dan merangkainya. Beberapa hal yang ditekankan Ubiet sebagai mentor antara lain adalah warna suara, dan ornamen nada. Hasilnya, malam itu Ubiet bersama peserta tampil menarik bukan hanya dalam harmoni kelompok, namun juga berhasil menyampaikan interpretasi nyanyian Nusantara sesuai dengan ciri dasar vokal mereka masing-masing. Audiens diberikan berbagai tawaran produksi suara yang kental dengan nuansa lokal, seperti Bali dan suara dari timur negeri. 

Ubiet Raseuki dan Sebelas Peserta Lokakarya
Credit : Dokumentasi Pertemuan Musik
Aruhara ciptaan Wahyu Thoyyib, komponis asal Solo tampil sebagai penutup. Dibawakan oleh Nawang Bayuaji, Wahyu Thoyyib, Rohmadin, Didin Tjakra Wibawa, Harun Ismail, serta Hudyan Marshali. Komposisi ini menggambarkan secara musikal kerusuhan dunia. Komponis melakukan eksplorasi laras slendro dan pelog, serta mengembangkan teknik dan pola Genderan dan gaya Sumiati. Terasa kaya dengan warna bunyi, komponis juga menghadirkan lengkingan frekuensi tinggi dari instrumen slompret Ponorogo. Di pembukaan, audiens dikejutkan dengan bunyi tersebut bersama gong yang menciptakan bunyi berat menyusul kemudian. Selama dimainkan, komponis tampak menjadikan hening sebagai bagian penting dari komposisinya. Aruhara terasa tidak menggebu, namun bermakna. Meski instrumen yang digunakan tradisional, Wahyu Thoyyib juga mengeksplorasi rhytm modern. Dinamika terasa dimainkan dengan baik hingga terwujud kematangan yang terlihat dari bagaimana komposisi ini direncanakan dan dibangun sedemikian rupa. 


Wahyu Thoyyib dkk
Credit : Dokumentasi Pertemuan Musik


Layaknya ciri khas Pertemuan Musik biasanya, selalu ada sesi diskusi pasca tampilan. Dipandu Diecky K Indrapradja, muncul kisah-kisah menarik dari penciptaan karya. Seperti Wahyu Thoyyib yang memaparkan bahwa Aruhara menggambarkan substansi dari Serat Kolotido, sebuah karya sastra yang disusun Ronggowarsito. Kedalaman makna hidup yang ada dalam karya sastra ini mengilhami Aruhara, seperti nilai huru-hara, kesedihan, angkara, juga tawaran solusi hidup seperti mawas diri, berserah, dan waspada. Nuansa musik yang begitu kental dengan ciri khas Jawa didasari oleh kehidupan Wahyu yang memang begitu lekat dengan adat suku ini. Detail dan kerapian komposisi juga didasari dengan berbagai riset dan pertimbangan pemilihan instrumen hingga pola pukulan, hingga gendhing yang dilakukan selama satu tahun. Sementara tentang Dua' Pasang, Rama Anggara berkisah jika nama itu diambil dari format jumlah pemain, dan Lawang terbentuk dari satu komunitas seni tari dan musik yang ada di daerahnya. Lain lagi tentang Gaman, Candra terinspirasi dari nama benda sejenis pisau yang digunakan untuk memotong bambu. Ide karya ini timbul dari sifat benda tajam. Candra mendapat pencerahan ketika berada di pandai besi. Ia menangkap banyak bunyi-bunyi yang tak enak didengar, namun hal itu justru membuatnya merasa tertarik untuk menerapkan pada musik yang ia garap. Beberapa tanggapan pun datang dari audiens.


Berjalan 61 tahun, Pertemuan Musik terbukti masih memegang semangat kolaborasi, penyediaan ruang belajar dan tampil pada musisi muda, sekaligus mengedukasi masyarakat agar lebih dalam mengenal dan memaknai musik. Barangkali pendiri PM pun tentu tak menyangka, dedikasi dan semangat mereka masih hidup dan terus bergema di jiwa-jiwa muda, melampaui enam dasawarsa. 

"Kudjadikan Rakjatku Tjinta Musik." 

Saturday, September 8, 2018

Kreatif Berjejaring : Kombet Kreatif Surabaya 2018 [Bagian Akhir]



"If everyone is moving forward together, then success takes care of itself." 
- Henry Ford


Di lembar ketiga workshop Kombet Kreatif : Story Telling persembahan Bekraf dan Tempo Institute, pelaku ekonomi kreatif bukan hanya membahas hal-hal teknis demi kemajuan pribadi dan organisasi, namun diberikan pemaparan tentang pentingnya bergerak bersama dengan menciptakan kolaborasi di antara sesama pelaku kreatif. 

Credit : Surabaya Creative Network

***

Kolaborasi antar pelaku ekonomi kreatif dibutuhkan dalam penciptaan ekosistem yang sehat di industri kreatif. Berjejaring pun bukan hanya sekadar untuk menjalin kerjasama, namun lebih besar lagi, untuk maju bersama. Jika ingin eksosistem kreatif unggul, semua pelaku di dalamnya harus sinergis dan meningkatkan kualitas bersama. Hal itu tak dapat dicapai secara individual, namun dengan kebersamaan. Itulah harapan Hafshoh Mubarak, ketua Surabaya Creative Network untuk para pelaku ekonomi kreatif Surabaya. Surabaya Creative Network merupakan bagian dari ICCN (Indonesia Creative Cities Network), sebuah wadah yang memayungi pelaku ekonomi kreatif di banyak kota di Indonesia. Hafshoh berdialog dengan mendengar problem pelaku UKM, membuka ruang diskusi, bahkan memberi solusi dengan menjembatani beberapa hal. 


Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network



Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network

Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network

Kombet Kreatif juga memfasilitasi dialog antara pelaku ekonomi kreatif dengan pihak Bekraf. Menghadirkan langsung Direktur Hubungan Antar Lembaga Dalam Negeri Bekraf Hassan Abud yang banyak berkisah tentang kiprah Bekraf dalam membuka peluang dan ruang luas bagi para pelaku ekonomi kreatif untuk berkarya. Bekraf pun peduli dan mengajak interaksi para pelaku ekonomi kreatif dengan mengakses website Bekraf sebagai pusat informasi program-program yang mampu difasilitasi. Hassan memberi gambaran salah satu program yang digagas Bekraf, yaitu Bekraf Satu Pintu untuk pengajuan proposal program dari pelaku kreatif. Hassan menambahkan, pengajuan itu tidak sulit. Namun diperlukan kekuatan gagasan yang menjadi pertimbangan utama Bekraf untuk memfasilitasi program yang diajukan. Hassan juga berpesan agar pengaju mesti detail mengungkap profil, program, dan segala hal lain yang perlu diketahui oleh Bekraf.


Credit : Dokumentasi Tempo Institute

***

Burhan Solihin selaku direktur tempo.co kembali hadir membimbing peserta untuk sesi copy writing. Di kesempatan itu Burhan tak banyak memberikan materi, namun kerap memberi masukan pada hasil tulisan peserta. Beberapa hal yang bisa dicatat adalah bahwa marketing bukan hanya memerlukan kecanggihan menceritakan produk, namun juga menampilkan keunikan produk yang dapat dijadikan senjata agar sebuah produk memiliki konsep yang kuat. Penguatan konsep itu kembali merujuk pada USP (Unique Selling Proposition). Burhan menyarankan penjual untuk mengurai terlebih dahulu USP dari produk, melakukan penguatan konsep, dan berujung melakukan marketing dengan baik, salah satunya dengan copy writing dengan story telling. Ia juga mengingatkan tentang teknik menarik perhatian customer dengan melakukan sharing informasi terlebih dahulu, baru bisa diikuti dengan melakukan hard selling. Asal konten promo bersifat informatif, pembaca akan bertahan tanpa terkesan spamming. Agar post bersifat efektif, Burhan memberikan detail urutan informasi yang bisa disampaikan. Dimulai dengan faktor why, what, how to, hingga call to action. Endri Kurniawati redaktur tempo.co juga memberikan masukan terkait teknis penulisan. Baginya, melakukan promosi di media sosial tak perlu dengan kuantitas kata yang banyak, mengingat pengguna sosial media adalah pembaca yang terburu-buru. Mereka cenderung menyukai tulisan yang singkat, cair, namun mengena. Tip praktis lain yang diungkapnya antara lain tentang kebuntuan menulis. Menyikapi agar penjual tak kehabisan ide untuk bercerita tentang produk, penjual tak perlu mengungkapkan semua hal tentang produknya dalam satu post, alih-alih mencicilnya sedikit demi sedikit dari hari ke hari.

Credit : Dokumentasi Tempo Institute
 

***

Tak melulu teori, peserta juga diajak untuk melakukan praktik langsung untuk fotografi produk. Bersama Fadwa, fotografer Tempo Institute, peserta diberi arahan bahwa untuk menghasilkan foto produk yang bagus dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dimiliki. Fadwa memberi penekanan pada pencahayaan, penambahan properti, dan komposisi. Detail produk harus jelas terlihat mengingat calon konsumen akan menilai produk dari gambar yang dihasilkan. Trik sederhana ini diharapkan dapat membantu pelaku UKM untuk lebih representatif dalam menampilkan produknya.

Credit : Surabaya Creative Network

***

Pemberian pendampingan pada pelaku ekonomi kreatif tentu berdampak positif demi menciptakan kemajuan dalam industri. Mengejar ketertinggalan, Indonesia perlu menyambut optimis dan gempita semangat kreasi para pelaku kreatif. Hilir dari kreativitas mestinya bukan hanya mewujud eksistensi dan benefit pribadi, namun kebermanfaatan bagi sesama. Pelaku kreatif akan selalu bergerak dinamis dan mencari ruang untuk mengupayakan berbagai rupa gagasan dan ide dalam menyikapi kebutuhan dunia.

"Three ways of thinking about a problem : inside the box, outside the box, where there is no box."-Thomas L Friedman




*Baca juga Kombet Kreatif bagian pertama dan kedua

Thursday, September 6, 2018

Pendekatan Manusiawi Pelaku Kreatif : Kombet Kreatif Surabaya 2018 [Bagian Kedua]



"We have to teach something unique, so that machine can never catch up with us. Values, believing, independent thinking, teamwork, care for others. These are the soft parts. Knowledge will not teach you that. We have to teach our children art, to make sure humans are different from machines."

Sang petinggi Alibaba, Jack Ma mengucapkannya di World Economic Forum 2018 lalu. Era ini dan masa depan menjadi tantangan kesiapan bagi umat manusia untuk menyongsong gelombang perubahan yang bukan hanya besar, namun juga dinilai terlalu cepat. Bagaimana pelaku ekonomi kreatif mesti menyikapinya?

***


Setelah penekanan pada gambaran tentang UKM dan pemantapan branding di hari pertama, peserta Kombet Kreatif diajak untuk membuka perspektif baru terhadap perubahan besar-besaran pada pola hidup dunia belakangan. Bersama Wimala Djafar, Direktur Associate Planning Lotus H, 40 pelaku ekonomi kreatif Surabaya diajak membuka mata tentang automation yang datang lebih cepat pada dunia dan telah merangsek ke segala bidang. Hal itu memang belum begitu kita rasakan mengingat Indonesia masih begitu tertinggal dari negara lain dari segi automation. Sebagai pembanding, Amerika telah memulainya sejak 1950. Lebih jauh lagi, negeri adidaya itu bukan hanya telah menguasai machine learning, namun juga telah beranjak ke deep learning dewasa ini. Deep learning dalam hal ini berarti kondisi di mana mesin sudah mampu menduplikasi emosi manusia. Wimala memberi gambaran dengan memutarkan sebuah video iklan yang meraih berbagai penghargaan. Sekilas, tak ada yang berbeda dengan video yang menampilkan sisi-sisi manusiawi itu. Nyatanya, video itu dibuat dengan mengandalkan tenaga mesin. Mesin mengumpulkan data tentang variabel apa saja yang dimiliki oleh video-video yang telah meraih banyak penghargaan. Data itu kemudian disatukan dan diterapkan pada sebuah video baru yang berhasil menarik perhatian khalayak.  


Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network

Lantas, di mana sesungguhnya posisi manusia saat ini? Wimala menegaskan bahwa manusia tetap menjadi kunci dalam penciptaan karya, "A human inspired work, not a digital inspired work." Manusia tetap menjadi sumber kreativitas orisinal yang tidak akan pernah tergantikan oleh mesin. Bahwa value sebagai manusia mestinya bukan pada melakukan hal-hal yang rutin dan berulang, namun untuk melakukan sesuatu yang unpredictable. Oleh karenanya, pendekatan-pendekatan manusiawi pun penting diterapkan pelaku ekonomi kreatif. Penjual harus mengubah perspektif dengan tidak melihat konsumen sebagai konsumen, justru sebagai manusia. Konsumen erat dengan ekonomi sentris, sedangkan seorang manusia akan dekat dengan hal-hal yang humanis. Darinya, kita sebagai penjual tak semestinya berhenti pada orientasi menjual barang, namun juga menjadi seorang manusia yang mempertimbangkan ambisi, impian, kebiasaan, keinginan, ketakutan, bahkan perilaku digital agar menyentuh level humanis dari konsumen. Lebih mendalam, iklan yang baik bagi Wimala adalah sebuah iklan yang bukan hanya memberi solusi, namun juga mampu mengubah behavior manusia menjadi lebih baik. 




Rumus menaikkan tingkat kreativitas kita adalah hasil penjumlahan dari human insight dengan utilize machines. Human insight-lah yang berperan paling penting sebagai sumber konsep dan mengendalikan semua faktor. Human insight yang menarik didapatkan dengan banyak mengamati dan mengasah kepekaan terhadap berbagai perilaku manusia. Wimala tak membiarkan presentasinya kering. Ia kerap menyajikan contoh-contoh iklan menarik. Misalnya saja video yang menampilkan sebuah aquarium di Jepang yang kehilangan pengunjung. Dengan kreatif, terciptalah sebuah aplikasi motion capture yang memungkinkan calon pengunjung untuk dipandu kawanan penguin yang terlihat dari layar ponselnya menuju aquarium. Trik ini memanfaatkan insight kebiasaan manusia yang secara naluriah senang mengejar hewan-hewan lucu. Ide kreatif itu terbukti berhasil mengembalikan pengunjung untuk kembali bertandang ke aquarium. Pesan kuatnya, "We have to think what the other people can not think." Kekuatan cara promosi tersebut ada pada diferensiasi dan pengupayaan maksimal untuk mendekati berbagai emosi dan keinginan pelanggan. Sebuah iklan yang baik bukan yang menampilkan merek sebanyak mungkin, namun yang dapat memiliki kedekatan emosi dengan konsumen. Cara itu dapat ditempuh dengan memahami bagaimana isi kepala konsumen dan menembusnya. Ditanya, mana yang lebih baik, hard selling atau soft selling, Wimala menjawab bijak bahwa penjual mesti pintar membaca kondisi tentang urgensi penjualan produknya. Hard selling bersifat short term, soft selling akan bersifat long term karena memiliki koneksi emosi dengan konsumen. Berjalan dua arah, peserta juga melakukan diskusi kelompok dan presentasi tentang perencanaan konten promosi yang bertumpu pada human insight.

Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network


Perubahan dunia menjadi dua sisi mata pisau. Di satu sisi ia terkesan "membahayakan", di sisi berbeda ia dapat menjadi tantangan bagi pegiat kreatif untuk terus berinovasi. 
 
***


Burhan Solihin kembali membagi materi pada peserta. Menyadari bahwa usaha adalah perkara bertahan, ia mengungkap beberapa kesalahan fatal pengusaha muda di awal proses. Antara lain melakukan tindakan tanpa pertimbangan, terlalu mudah percaya, asal mengikuti tren, ingin cepat sukses, dan buta keuangan usaha. Fakta mengatakan, sebagian besar start-up gagal karena tidak ada yang membutuhkan produknya. Hal itu terjadi karena penjual yang kerap kurang peka terhadap kebutuhan pasar. Mindset penjual kerap terbalik. Seperti orientasi untuk mencari customer dari produk, bukan menghadirkan produk yang dibutuhkan customer. Orientasi itu dapat selalu dibenahi dengan mengubah perspektif dari sisi konsumen. Penjual mesti mengerti apa yang disukai konsumen dan menyediakan sesuai kemampuan. Mengikuti dinamisnya perubahan dunia, penjual mestinya juga tak takut untuk mengubah haluan jika dibutuhkan. 




Diferensiasi begitu penting dalam menghadapi persaingan pasar. Burhan memetakannya dengan USP (Unique Selling Proposition), sebuah bagan variabel yang menentukan keunikan produk. USP meliputi proses, bahan, ekslusif, daerah, fungsi produk, harga, servis, serta kualitas. Burhan menegaskan, bahwa sebuah produk mestinya kuat setidaknya di beberapa komponen dari USP. Produk yang unik akan percuma tanpa teknik pemasaran yang memadai. Untuk itu, penjual mesti memahami bahwa content marketing memiliki tiga hal yang membangunnya. Value, community, dan authority. Setiap produk harus memiliki value untuk meningkatkan brand image di mata konsumen, serta dipercaya oleh banyak orang serta pihak yang memiliki authority di mata publik. Memanfaatkan hal-hal yang sedang viral pun terbukti ampuh untuk membuat sebuah promosi yang menarik perhatian khalayak. Pelanggan selalu butuh diyakinkan. Penambahan pemberian testimoni, dan penambahan unsur kelangkaan akan menarik pembeli untuk segera melakukan transaksi. 

Di akhir sesi, peserta ditantang untuk praktik copy writing langsung pada produk masing-masing. Sesi ini dibimbing langsung oleh Burhan dan Endri Kurniawati. Masukan-masukan banyak diberikan baik tentang keluwesan, penambahan kalimat persuasif, hingga keefektifan informasi. 


Credit : Dokumentasi Surabaya Creative Network

"Human think in stories rather than in facts, numbers, or equations, and the simpler story, the better."  -Yuval Noah Harari

***


*baca juga Kombet Kreatif bagian pertama di sini

Tuesday, September 4, 2018

Sinergi Pelaku Ekonomi Kreatif : Kombet Kreatif Surabaya 2018 [Bagian Pertama]



Philip Pullman, seorang penulis fiksi kenamaan dunia pernah mengatakan, 

"After nourishment, shelter and companionship, stories are the thing we need most in the world."


Manusia pada dasarnya menyukai cerita. Kita terbiasa bercerita dan mendengar cerita tentang apa saja. Pendekatan manusiawi itu tampaknya makin dilirik belakangan. Termasuk pada teknik pemasaran produk. 

***

Badan Ekonomi Kreatif bersama Tempo Institute menyeleksi dan menemui ratusan pelaku ekonomi kreatif di 12 kota. Padang, Surabaya, Bandung Barat, Bojonegoro, Malang, Singkawang, Kendari, Karangasem, Maumere, Kupang, Belu, dan Merauke. Menamakan programnya dengan Kombet Kreatif 2018, Bekraf ingin menciptakan iklim kolaborasi di antara pelaku ekonomi kreatif, serta memberikan pelatihan mendasar tentang bagaimana menyampaikan produk yang dimiliki dengan baik. Story telling produk dinilai penting bagi peserta, mengingat saat ini era penjualan telah bergeser ke media digital yang tentu membutuhkan kecakapan bercerita.



Surabaya yang difasilitasi oleh Surabaya Creative Network menjadi kota kedua yang disinggahi tim Bekraf dan Tempo Institute di 31 Agustus-2 September 2018. Dihadiri 40 pelaku UKM berbagai bidang, mulai jasa pembuatan animasi, produk kerajinan daur ulang, pembuatan board game, kelas pendidikan anak, hingga catering makanan sehat. Berlokasi di Satu Atap Co Working Place and Food Station, di hari pertama hadir kreator karakter "Si Juki" Faza Meonk, Burhan Solihin direktur eksekutif tempo.co, serta Endri Kurniawati selaku editor tempo.co. 

Kreatif tak pernah identik dengan hal-hal yang kaku dan rutin. Oleh karenanya, acara ini sengaja dikemas santai. Bukan hanya materi satu arah, peserta juga diajak untuk melakukan diskusi kelompok dan dibimbing langsung oleh para pembicara. Hasil diskusi mesti dipresentasikan bersama berdasarkan masukan dari nara sumber.







Burhan Solihin memberikan fakta bahwa Indonesia masih begitu tertinggal dari sisi jumlah pelaku UKM dibanding negara lain. Sebut saja Singapura yang telah lebih maju dengan 7% pelaku UKM dari jumlah total populasi, Malaysia 5%, sedangkan Indonesia baru mencapai 2,5%. Bergerak mengikuti pola konsumsi dunia, Indonesia sedang berproses mengubah pola konsumsi dari konvensional ke digital (transaksi online). Menyadari bahwa UKM mampu menjadi pembuka lapangan kerja, saat ini ekonomi kreatif menjadi salah satu prioritas pemerintah. Ia juga menekankan bahwa lebih daripada sekadar meraup keuntungan, pelaku UKM mestinya memiliki visi untuk menjadi bagian dalam memajukan perekonomian negeri.

Di era disrupsi ini, media digital adalah jalan yang luar biasa untuk melakukan bisnis. Internet mulai menggeser pemain-pemain usaha lama yang tak mau menyesuaikan zaman. Menurut data, lebih dari separuh perusahaan besar dunia mati karena serbuan perubahan di era disrupsi. Perusahaan harus terus menggali value produknya untuk terus berkembang. Salah satu caranya adalah melalui digital marketing yang selalu membutuhkan kemampuan copy writing yang bersifat story telling untuk konsumen. Copy writing dalam hal ini bukan selalu berupa tulisan, namun juga dapat mewujud ke berbagai bentuk media lain. Meski begitu, penjual tak mungkin selalu bertumpu pada kemampuan copy writing, konten produk pun harus tetap berkonsep dan menarik, karena menjual sesuatu berarti juga berarti membangun reputasi. Terkait dengan masalah mana media digital yang paling tepat untuk berpromosi, Burhan menyarankan agar penjual mengenali karakter masing-masing medsos baik dari sisi fitur maupun perilaku mayoritas penggunanya. Dari hal itu, penjual dapat menyesuaikan dengan kebutuhan marketing produk. 

Credit : Instagram @fianda.julyantoro


Bukan hanya membagikan hal yang bersifat teoritis, Burhan yang juga memiliki bisnis kuliner membagikan tip praktis melakukan penawaran di media sosial. Misalnya saja, jika di Facebook, penjual tak bisa hanya sekadar mengunggah posts, namun juga harus selalu ada interaksi antara penjual dan pembeli. "Tanpa interaksi, tidak ada transaksi." Mengerti berbagai tipe konsumen juga penting bagi penjual. Tipe customer dapat dibagi menjadi tiga : cold, warm, hot. Cold berarti tahapan di mana calon konsumen masih meraba produk tanpa merasakan keterikatan apapun. Konsumen akan merasa warm ketika ia sudah mulai mengenal dan tertarik dengan produk. Tahap ini dapat diupayakan dengan sharing tip atau informasi terkait hal-hal yang berhubungan dengan produk. Jika telah melewati tahap itu, konsumen akan tiba pada tahap hot, di mana mereka merasa mantap untuk melakukan transaksi karena telah teryakinkan. Ketiga tahap itu dapat ditempuh dengan soft selling, bukan melulu langsung berjualan dengan hard selling. Burhan menyederhanakannya dengan istilah "Sharing-sharing dahulu, selling-selling kemudian." Pada prinsipnya, konsumen akan bertransaksi ketika benefit yang ia dapatkan lebih besar dari uang yang dikeluarkan. Benefit dapat dibagi menjadi dua : physical benefit dan emotional benefit. Emotional benefit dapat diartikan sebagai keuntungan bagi konsumen yang tak terlihat, semisal memiliki keanggotaan gym agar terlihat sebagai penganut gaya hidup sehat, atau mengikuti kelas workshop menulis agar dapat memilki kemampuan untuk menginspirasi orang lain melalui tulisan. Benefit itu dapat dibangun dan dilekatkan pada produk.

 ***

Faza Meonk mengisi sesinya dengan membagikan kisah perjalanan Si Juki, sebuah karakter komik yang ia ciptakan. Karakter itu tak hanya berhenti sebagai sebuah cerita komik, namun juga merambah ke berbagai media bisnis lain seperti film, merchandise, hingga perusahaan karakter yang dinamai Pionicon. Faza mengakui bahwa ia merangkum kesemuanya sebagai bisnis karakter. Bisnisnya banyak berkembang karena menangkap berbagai potensi di era sosial media. Bisnis karakter bertumpu pada popularitas, sehingga media sosial efektif untuk mengenalkan dan menjadikan karakter dekat dengan konsumen. Faza meyakini bahwa karakter dapat menambah value dari sebuah produk. Meski begitu, ia pun objektif membedakan bahwa tidak semua produk perlu karakter sebagai media marketing



Walau minim modal di awal, Faza tetap memutuskan berinvestasi dengan membagikan komik Si Juki gratis selama setahun di media sosial demi membangun kepopuleran Si Juki di mata konsumen. Baginya, awareness konsumen terhadap produk penting untuk diupayakan terlebih dahulu. Pasca karakternya populer, Faza dapat mengembangkan bisnisnya baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan berbagai pihak. Dalam mengembangkan lini bisnis, Faza tak sembarangan. Ia memiliki tim dan budget riset tersendiri untuk membaca perilaku pasar. Ditanya bagaimana menghadapi pesaing yang mirip dengan bisnis Faza, ia menyikapi bahwa pengembangan harus terus dilakukan agar berbeda dengan pelaku bisnis serupa yang lain. 

***


Credit : Instagram @tempo.institute



People don't buy your product, they buy your story. - Seth Godin

Tuesday, June 5, 2018

Mendengar Bunyi, Memeluk Literasi : Literasi Musik Sehari ala Pertemuan Musik

Sore itu, 28 Mei 2018, denting piano mengalun dari Qubicle Center Suropati 84 Surabaya. Sang pianis seorang siswi SMKN 12 Surabaya membawakan salah satu karya Chopin. Pertunjukan itu menjadi salah satu suguhan pertunjukan di acara diskusi “Literasi Musik” dari Pertemuan Musik Surabaya. Seperti acara-acara khas Pertemuan Musik sebelumnya, para pencinta musik dari berbagai kalangan hadir dan mendiskusikan tentang musik dengan lebih dalam daripada sekadar mendengarkan dan memainkannya. 





        Hadir dalam panel diskusi, seorang Etnomusikolog asal Jogjakarta Erie Setiawan, pegiat musik senior Surabaya Musafir Isfanhari, serta kurator seni Ayos Purwoaji. Ketiga sudut pandang yang berbeda ini menarik untuk diikuti. Erie yang banyak bergelut dengan dunia tulis menulis dan penerbitan buku musik, Isfanhari yang mengampu banyak murid musik selama bertahun-tahun, serta Ayos yang menilai musik dari bahan bacaannya. Perbincangan semakin kaya dengan moderasi dari dosen musik Moh. Sardjoko dan Evie Destiana. Mulai mengupas topik, literasi tak sekadar diartikan sebagai membaca dan menulis, namun juga hingga tahap pemahaman dan pemaknaan seseorang terhadap musik. Isfanhari mengingatkan audiens untuk benar dalam memaknai musik. Ia mengangkat sebuah ironi. Selama ini musik masih kerap dianggap sebagai alat untuk mengangkat gengsi bagi sebagian masyarakat. Misalnya dengan sekadar memiliki piano di rumah meski tak bisa memainkannya, atau sekadar mendatangi konser musik klasik demi dianggap termasuk dalam status sosial tertentu. Isfanhari menyayangkan hal tersebut dan menyebutnya sebagai paradigma feodal. Mestinya musik dimaknai sebagai hal indah dan dinikmati secara benar. Kesalahan sikap pun terjadi pada level pembelajar musik. Anggota paduan suara yang memilih menuliskan not angka di atas not balok sebagai panduan, misalnya. Ini kesalahan fatal karena notasi balok merupakan hal yang fixed, sedangkan notasi angka merupakan moving notes. Hal-hal tersebut dapat diluruskan dengan membaca banyak buku musik untuk menajamkan pemahaman. Isfanhari pun memberikan gambaran tentang kondisi musik Indonesia saat ini. Pertumbuhannya yang tak cepat salah satunya dikarenakan literasi musik yang masih belum diupayakan oleh berbagai kalangan. Isfanhari juga menilai bangsa kita lebih terbiasa dengan budaya tutur, daripada tulisan. Tak heran, literatur musik juga sangat kurang secara kuantitas dan kualitas. Sardjoko menambahkan jika literasi penting untuk mengaplikasikan kesenian. 




       Sementara Erie Setiawan sebagai seorang pegiat di lembaga Pusat Informasi Musik : Art Music Today ini mengungkap fakta bahwa masih begitu sedikit pencinta musik bahkan musisi yang rajin membaca literatur-literatur musik sehingga berpengaruh pada perkembangan musik di Indonesia.  Hal tersebut bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Misalnya belum terjalin baiknya hubungan antara masyarakat dengan literasi. Tercermin dari begitu "horor"nya perpustakaan di mata masyarakat, sehingga kebiasaan untuk berdekatan dengan buku dan membaca pun menjadi kering. Beberapa tip diberikan untuk menumbuhkan kesukaan membaca. Seperti membaca keras, meninggalkan buku yang masih terasa sulit dicerna (dapat diatasi dengan mencari pembimbing yang telah lebih dulu mengerti isinya) dan menjadikan membaca sebagai sebuah kebiasaan. Menjadikan literasi menjadi budaya tentu juga tak lepas dari peran seorang pendidik.

         Di tengah break setelah buka puasa, spontanitas dari para nara sumber juga menjadi pertunjukan yang menarik. Seakan enggan terjerat pada kotak "duduk dan berbicara" dalam diskusi, Erie Setiawan, Musafir Isfanhari, Sardjoko, dan beberapa musisi muda melakukan jamming session dengan membawakan lagu keroncong. Mengikuti jejak seniornya, Stikommusic dan UNESA Keroncong menyajikan berbagai komposisi berbagai genre. Mulai keroncong hingga pop. Di akhir acara, duo Westlist Cello Ensemble asal UNESA pun memainkan beberapa karya klasik barat.



          Sesi diskusi berlanjut dengan Erie dan Ayos. Ayos membagikan khasanah beberapa judul buku musik yang pernah dibacanya. Antara lain buku karya Jeremy Wallach, Nuran Wibisono, dan Yoyon Sukaryono. Banyak hal yang didapatnya dari buku-buku tentang musik, membuat Ayos berhasil memaknai musik dengan sudut pandang yang berbeda dan lebih luas. Dari karya pikiran Jeremy Wallach, ia mendapat gambaran landscape musik orang Indonesia yang berbeda. Masyarakat Indonesia lebih akrab dengan kebisingan, sehingga limit pendengarannya lebih tinggi dibanding penduduk negara barat. Meski berkebangsaan asing, riset mendalam Wallach mampu menghasilkan  pemetaan tiga jenis musik populer di Indonesia, yaitu dangdut, keroncong, dan religi. Nuran Wibisono berkisah dengan cair tentang kesan personalnya pada musik rock and roll melalui bukunya. Ambisi itu bahkan membawanya pada sebuah kesimpulan bahwa musik yang didengarkan ketika masa puber adalah musik yang akan didengarkan sampai mati. Sementara itu, karya Yoyon Sukaryono cenderung menyajikan opini tajamnya tentang musik grunge. Bahkan karyanya itu menciptakan reaksi keras dari pembaca yang mengancam akan membunuhnya.



          Erie Setiawan juga memberikan referensi judul bacaan yang menarik. Antara lain "Mendengar Bali, Merindukan Arawadisima" milik Gardika Gigih, "Estetika Musik" milik Suka Hardjana, dan "Notasi Musik Abad 20-21" karya Septian Dwi Cahyo. Berkaca dari karya Gardika Gigih yang menuliskan pengalaman personalnya tentang musik, semua orang dapat melakukan hal yang sama juga. Tanda bahwa tak harus seorang ahli musik melulu yang dapat menulis musik. Sementara "Estetika Musik" menggabungkan filsafat, etnomusikologi, dan estetika. Buku legendaris tersebut telah terbit sejak 1983, dan masih terus digunakan sebagai diktat kuliah musik. Karya Septian Dwi Cahyo lebih mengunggulkan teori ketimbang estetika. Erie juga memberikan refleksi menarik tentang dunia penerbitan buku musik. Salah satunya tentang menyeimbangkan idealismenya untuk menyampaikan sebuah wawasan spesifik dan mesti bergelut dengan minat pasar. Meski masih menyimpan banyak peluang yang bisa dikerjakan, nyatanya masih sedikit musisi yang memilih untuk menulis. Enam tahun Art Music Today berupaya bertahan dengan mencetak 500-1000 ekslemplar setiap judul terhitung cukup berat bagi Erie. Selain kekurangan penulis, Erie mengaku juga kesulitan mencari editor buku musik yang bukan hanya bisa memahami bahasa, namun juga mengerti teknis musik. Menyikapinya, Erie mengajak beberapa orang untuk mengikuti latihan editorial naskah musik, hingga pembahasan distribusi buku musik. Bertahan di industri yang cukup "seret" itu, ia menganalisis pemetaan pasar buku musik. Ada pasar yang mengikuti tren yang terus berubah, dan ada yang cenderung teguh pada prinsip. Untuk mengikuti tren tentu akan susah. Sehingga Erie menyasar pihak-pihak yang memiliki kompromi terhadap hal-hal yang tetap.  

Pemahaman dan pemaknaan yang mumpuni terhadap bunyi akan selalu dibutuhkan untuk iklim musik yang ideal. Meski begitu penting, namun literasi musik memang masih membutuhkan upaya perubahan besar di tengah masyarakat. Penting sebagai refleksi, sudahkah kita memaknai bunyi, yang berarti juga memaknai segala sesuatu dengan lebih dalam? 

Saturday, March 17, 2018

La La Land hingga Rhapsodia Nusantara : BRAF 2018


Kesuksesan BRAF (Bunga Rampai Art Festival) 2017 tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Amadeus Enterprise dalam mengonsep BRAF 2018. BRAF sebagai sebuah perayaan seni tetap membawa semangat kolaborasi dari berbagai genre dan usia. BRAF bukan hanya membawa nama-nama musisi yang kerap malang melintang di panggung-panggung konser Surabaya, namun juga memberi ruang begitu besar pada bakat-bakat baru.

Berlokasi di Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya 11 Maret 2018 lalu, BRAF kembali hadir menyapa publik Surabaya. Yang berbeda dari BRAF tahun ini, BRAF terlihat ingin menampilkan semakin banyak bakat baru antara lain dari Amadeus School of Orchestra dan Amadeus Dance Work di samping Amadeus Orchestra.

Dalam durasi sekitar 3 jam, BRAF memberikan sebagian besar waktu dan panggung pada peserta-peserta peraih penghargaan dari rangkaian seleksi sebelumnya. Belasan penampil yang didominasi duet atau grup menunjukkan kegembiraan mereka dalam bermusik. Bukan hanya usia dewasa, anak-anak juga banyak mengambil tempat. Beberapa tampilan memang tak sempurna. Beberapa dari mereka, BRAF 2018 adalah panggung besar pertamanya. Namun keberanian dan kepercayaan diri mereka patut dihargai tinggi.

Yang menarik dari puluhan penampil salah satunya adalah kolaborasi antara Amadeus School Orchestra bersama Gloria Children Choir. Membawakan "Kapan Pulang" milik Alexander Tan sekitar 40 anak usia SD muncul sebagai choir yang menggemaskan. Di luar perkiraan, di usia yang dini, kontrol mereka dalam produksi suara begitu baik. Lebih dari itu, mereka bahkan mampu menyatu dengan produksi musik dari Amadeus Orchestra.

Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


Salah satu Peraih Gold Medal kategori beginner juga mencuri perhatian. Abiyy Affan pada vokal, ditemani Moch Haruslan Hasibuan pada piano membawakan "Mengejar Mimpi" yang sempat dipopulerkan oleh Patton Idola Cilik. Di sini audiens begitu terhibur dengan polah dan aksi panggung dengan kepercayaan diri yang begitu tinggi dari Abbiy. Dengan mudah, penampilan Abbiy mencuri impresi audiens.

Sisi Indonesia juga banyak ditampilkan. Salah satunya dari vokal grup Mix Voice dengan dua orang remaja perempuan dan satu remaja laki-laki yang menyajikan medley "Anganku Anganmu" dan "Dangerous Woman". Menariknya, aransemen dari dua lagu populer yang mereka bawakan diselipkan nuansa gamelan Bali pada interlude. Ini menarik sebagai sajian twist untuk audiens. Dari segi konsep aksi panggung pun mereka benar siap dengan properti topeng ketika membawakan "Dangerous Woman".

Nuansa grande ditampilkan oleh Aries Pujo pada vokal dan Fransiska Ratri pada piano. Keduanya terlihat begitu matang mempersiapkan penampilan. Sebagai penampil di tahun lalu, mereka sudah jauh lebih siap menghadapi panggung BRAF 2018. Membawakan "Melayang" mereka menghadirkan nuansa megah yang berhasil meninggalkan kesan.

Paruh kedua yang menjadi puncak acara. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang didominasi oleh musik-musik bernuansa Indonesia, Amadeus memilih tema populer "La La Land" yang mengadopsi konsep dari film layar lebar dengan judul sama. "La La Land" dianggap sebagai sebuah paduan menarik antara tari dan musik. Ini sejalan yang diinginkan BRAF 2018 agar tak melulu menyuguhkan musik klasik, namun juga pop. Amadeus Orchestra dengan conductor Erwin Prasetya, Shine Harmony Voice, serta Amadeus Dance Work mengantarkan audiens pada paruh pertunjukkan semi teatrikal yang ramai. Menggabungkan berbagai lagu di original soundtrack "La La Land", tampilan pertama itu terasa dinamis karena pemilihan urutan lagu yang menampilkan berbagai mood.

Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


Sang bintang tamu, Ananda Sukarlan mengambil ruang panggung kemudian. Ini penampilan pertamanya di Surabaya setelah terakhir kali di 2012. Membawakan komposisi karyanya, Fantasia Indonesia Pusaka, yang merupakan mashed up dari beberapa lagu nasional Indonesia. Ananda terlihat tidak membuang waktu. Sejak denting pertama sudah begitu terasa virtuoso yang kental. 


Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


Amadea Pranoto dengan biolanya menemani Ananda Sukarlan di komposisi berikutnya. Membawakan "Sadness Becomes Her", salah satu karya Ananda. Berbeda dengan karya yang dimainkan sebelumnya, komposisi ini terasa lebih sederhana. Amadea lebih banyak berperan mengambil melodi. Sebagai bakat baru. tampilan Amadea matang dan terlihat nyaman didampingi Ananda.


Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


Rhapsodia Nusantara no.16 dipilih sebagai sajian berikutnya karena kental dengan melodi-melodi nuansa lagu daerah Jawa Timur. Ananda mengaku, beberapa inspirasi untuk komposisi ini datang dari Jalan Tunjungan yang legendaris di Surabaya. Not yang rapat, terang sesuai dengan nuansa beberapa not ciri khas "Rek Ayo Rek". Ananda mengacak not-not khas dari lagu-lagu daerah sedemikian rupa hingga menjadi sesuatu yang berbeda. Ada kesan klasik, modern, dan dinamis dalam lantunannya.

Sebagai penutup, Ananda Sukarlan, Amadeus Orchestra dengan conductor Nico Alan yang sekaligus menjadi pengaransemen komposisi kali ini, Shine Harmony Voice, serta Amadeus Dance Work membawakan Pesona Indonesia 4 yang merupakan aransemen gabungan dari beberapa lagu daerah Indonesia. Gundul-Gundul Pacul membuka, disusul dengan nuansa grande dari "O Inane Keke". Di bagian tengah dimunculkan nuansa keroncong sebagai kejutan. Juga terdengar "Dondong Opo Salak" di bagian lain. Beberapa bagian mengingatkan pada aransemen lagu daerah milik komponis Indonesia, Addie MS. Aransemen ini mengambil kekuatan pada kejutan tiba-tiba dengan mengubah genre. Pop rock, keroncong, blues, waltz dipadukan dengan not-not ciri khas dari lagu daerah. Tidak menggeber semua penampil untuk terus menerus hadir, dinamika secara bunyi dan visual juga ditunjukkan dengan tampilan yang bergantian. Aransemen untuk lagu daerah "Janger" menutup keseluruhan acara. Shine Harmony Voice dan Amadeus Dance Work kembali hadir mengisi panggung hingga akhir.


Dokumentasi : Instagram Amadeus Enterprise


BRAF hadir dengan nuansa perayaan atas seni yang lebih besar tahun ini. Namun ada kerinduan pada penonton tentang tampilnya alat-alat musik tradisional layaknya Angklung di tahun lalu. Pemilihan tema kolaborasi yang lebih bernuansa Indonesia alih-alih "La La Land", kostum Amadeus Dance Work yang tentu akan lebih memanjakan secara visual dengan pakaian tradisional ketika lagu daerah dan tarian khas Indonesia menyatu. Ekspektasi audiens tentang Ananda Sukarlan sebagai bintang tamu tentunya juga dapat diberikan ruang lebih banyak pada tampilan saat itu. Meski begitu, BRAF tahun ini tetap konsisten keluar dari kekangan genre dengan membawa nuansa pop dalam panggung yang barangkali kerap diekspektasikan dengan musik klasik. Plus bersikap total dengan konsep sebagai sebuah sajian yang utuh, baik secara audio maupun visual. Di atas itu semua BRAF sebagai sebuah perayaan dan semangat berbagi masih konsisten membuka seluas-luasnya kesempatan pada bakat-bakat baru, yang tentu saja merupakan bentuk investasi luar biasa untuk musik Indonesia di masa depan. 




Monday, February 5, 2018

Ekplorasi Bunyi Baru ala duo Siedl-Cao

"It's gonna be really depressing."
Perempuan asal Vietnam bertubuh mungil dan berkacamata, Lan Cao, beberapa saat kemudian membuktikan ucapannya. Satu per satu peserta workshop maju ke panggung, bersama Cao dan Siedl, rekannya asal Vienna, secara bersamaan mereka tertawa keras tanpa henti. Di dalam kegelapan total ruangan itu, ponsel di tangan mereka masing-masing terus berkelip menghadirkan layar yang terus berganti-ganti warna. Setiap habis jeda sekian detik yang ditandai dengan redupnya cahaya dari ponsel mereka, tawa akan kembali menggaung, terus menerus.

***

Mengeksplorasi musik bersama, duo Gregor Siedl dan Lan Cao yang berasal dari Vienna dan Vietnam mengajak publik Surabaya meluaskan cakrawala musiknya dengan menghadirkan berbagai bentuk berbeda dari eksplorasi bunyi. Pertemuan Musik menghadirkan mereka di dua kota, Jakarta dan Surabaya di awal tahun 2018 ini. Bertekad tak hanya menghadirkan musik elektronik, duo composer-performer yang telah tampil di berbagai festival musik di dunia, antara lain Festival Krieg Singen di Berlin, FTARRI di Tokyo, Sappho di Taipei, CHELA di Buenos Aires, dan sebagainya ini juga memadukan unsur teatrikal dan interaksi dengan audiens sebagai keunggulan mereka dalam menghadirkan musik kontemporer.




Duo ini hadir di Wisma Jerman Surabaya tanggal 29-30 Januari 2018 lalu. Siedl dan Cao yang merasa bosan dengan "konsep" musik yang biasa mereka tekuni, ingin membawa musik mereka sendiri yaitu musik eksperimental dengan improvisasi dan partisipasi dari audiens. Siedl dan Cao ingin melibatkan orang lain dalam pertunjukan mereka. Bukan hanya peserta workshop yang mereka tatar, namun juga audiens. Mereka meyakini bahwa semua orang bisa bermusik. Seperti pada komposisi kedua yang mereka tampilkan, seorang audiens diajak naik ke panggung untuk mengunyah kerupuk. Tak sekadar mengunyah, bunyi gemerisik dari mulut kunyahan kerupuk tersebut dipadukan dengan efek audio elektronik tertentu yang telah direkam sebelumnya. Bunyi seperti suara air yang menggelegak dan bunyi frekuensi tinggi seperti cicit anak ayam, suara robotik, dan gemerisik noise itu berpadu dengan suara kerupuk. Sementara itu, kedua penampil melakukan aksi teatrikal dengan berlutut di sisi berlainan seraya mengatupkan tangan seperti berdoa menghadap sang pengunyah kerupuk. Hal itu terus berlangsung hingga bunyi usai diperdengarkan.

Aksi teatrikal selalu hadir di setiap komposisi yang ditampilkan duo Siedl dan Cao. Ekspektasi dan interpretasi penonton dimainkan ketika mereka membuka pertunjukan dengan melakukan aksi diam berpangku tangan di depan laptop masing-masing. Mereka mengisi sunyinya ruang dengan bermain bunyi gaung yang muncul dari perangkat musik elektronik yang terhampar pada meja. Selain frekuensi munculnya bunyi, mereka juga bermain dengan tekstur, timing, dan amplitudo.

Dokumentasi Pertemuan Musik Surabaya


Bukan hanya bermain dengan bunyi dari instrumen yang mereka gunakan, duo Siedl/Cao juga bermain dengan suara dari mulut mereka. Di komposisi ketiga yang mereka bawakan, Cao mengambil posisi di belakang instrumen yang mengubah suara dari mulutnya menjadi sebuah sajian musik elektronik dengan pola berulang yang bermain pada tempo dan efek bunyi. Sementara Siedl berdiri di tengah kegelapan dan membawa lampu putar yang memantulkan berbagai lingkaran warna-warni di penjuru ruangan.

Menyebut komposisi mereka sebagai "Playing in Tune", kali ini duo Siedl melibatkan clarinet, sementara Cao memainkan theremin, sebuah alat musik elektronik yang memanfaatkan kapasitor dan logam untuk menghasilkan bunyi. Clarinet ditiup perlahan dengan satu not panjang, bersama dengan bunyi theremin yang terdengar seperti petikan dari Cao. Hasilnya, bunyi yang terdengar seperti suara gaung dan bunyi laut, sesekali suara bass. Di kesempatan berikutnya, duo ini masih aktif mengeksplorasi berbagai benda. Kali ini mereka menggunakan kamera saku yang terhubung pada perangkat audio. Mereka bermusik dengan mengambil foto selfie diri mereka sendiri atau foto audiens. Setiap kali gambar diambil, saat itu juga terdengar bunyi yang berbeda.

Komposisi terakhir disebut oleh duo ini sebagai "partly installation, partly perfomance". Siedl meniup clarinet dengan perlahan, sementara Cao menghasilkan bunyi selotip yang ditarik dan disobek secara terbata-bata. Seakan ingin membawa pesan bahwa musik bisa dihasilkan dari benda apa saja, instalasi yang dimaksudkan duo ini ditunjukkan dengan robekan selotip yang dipasangkan satu per satu pada stand mic. Di tengah penampilan itu, lampu dimatikan, masing-masing dari mereka mengenakan lampu pada kepala,saat itulah dinamika musik meningkat. Ujung selotip yang ditempelkan sejenis besi menghasilkan suara ketukan, Cao pun menggunakan berbagai alat lain untuk dibenturkan pada besi-besi tersebut, sehingga menghasilkan bunyi yang menyerupai gergaji listrik. Di bagian akhir, mereka menunjukkan aksi teaktrikal dengan diam berlutut menghadap stand mic dengan lampu di kepala yang dikedipkan.

Setengah pertunjukan berikutnya diisi oleh bagaimana duo Siedl dan Cao berkolaborasi dengan pesera workshop yang mereka bimbing di hari sebelumnya. Di sesi ini ekspresi teatrikal lebih banyak hadir. Mereka memanfaatkan instrumen, tubuh, benda-benda di sekitar. Penampil terlihat tampak cair dan kolaboratif. Siedl dan Cao tak tampak sebagai mentor, namun justru membaur bersama penampil lainnya. 

Dokumentasi Pertemuan Musik Surabaya


Duo Siedl/Cao terasa unik dengan kemampuan mereka untuk mengeksplorasi musik dengan memanfaatkan segala jenis benda, dan penekanan pada interaksi dengan audiens. Mereka mengaku memilih jalur musik ini karena merasa mampu mengeksplorasi dunianya sendiri ketika melakukan musik eksperimental dibanding jenis musik yang sebelumnya mereka mainkan. Pun mereka memasrahkan makna sepenuhnya pada interpretasi pendengar. Siedl dan Cao pun mengaku tak memiliki aturan dan keharusan dalam mencipta bunyi. Inspirasi bisa diawali dengan apa saja, baik instrumen maupun ide suara yang ingin diciptakan. Duo ini pun dalam memaknai apa yang mereka pilih dan lakukan. Enggan sekadar berorientasi pada hasil, mereka lebih memilih menikmati proses berkembang dengan terus mencari dan mencoba hal baru, dibanding sekadar berpuas diri setelah selesai memainkan sebuah komposisi.