Sunday, April 2, 2017

Terus Hidup : Slamet dalam Karya, Laku, dan Ilmu

Slamet Abdul Sjukur, komponis musik kontemporer Indonesia, masih pekat dalam kenangan. Mengenang dua tahun kepergiannya, delapan kota di Indonesia mengadakan pertemuan di waktu yang berdekatan. Jogjakarta, Surabaya, Papua, Jakarta, Bogor, Pontianak, Padang Panjang, dan Bandung. 


"Slamet dalam Karya, Laku, dan Ilmu" terwujud 27 Maret 2017 lalu. Di sekitar panggung kecil di Warung Mbah Cokro Surabaya, berkumpul murid-murid, sahabat, bahkan yang belum sempat mengenal beliau. Acara dibuka dengan dibacakannya catatan Gema Swaratyagita, murid Slamet, tentang perayaan Sluman Slumun Slamet,79 tahun usia Slamet Abdul Sjukur 2014 lalu yang sempat digelar di tiga kota. Gema bercerita tentang beberapa hal kecil yang menarik. Salah satunya pengalaman menelusuri teka-teki berapa usia Slamet sesungguhnya demi perhelatan tersebut. Juga cerita tentang beliau yang mencuri usia demi untuk mendaftar beasiswa ke Prancis, hingga bagaimana inspirasi yang datang dari seorang Slamet bisa membekas di benak banyak orang hingga kini. Gema juga mengungkap kesannya tentang hari-hari menjelang Slamet berpulang. Beliau selalu berkata "Besok (saya) mati." setiap kali murid dan rekannya merencanakan suatu hal untuk beliau.

Pemilik warung Mbah Cokro, Zurqoni mengajak hadirin mengenang sejenak dan mengucap doa untuk Slamet. Dalam hening, baru terasa betapa banyak orang yang masih membutuhkan Slamet hingga saat ini. Menggugah ingatan kembali, diputarkan juga video tentang ucapan selamat ulang tahun dari sahabat-sahabat Slamet di peringatan Sluman Slumun Slamet. Tentang betapa Slamet meninggalkan beragam kesan pada orang-orang terdekatnya.

Foto oleh : Adrea Kristatiani

Yang menarik, tampaknya seorang Slamet Abdul Sjukur juga mempunyai kedalaman dan sisi yang tak banyak diketahui orang lain. Banyak pengakuan yang terlontar dari murid dan rekannya, bahwa mereka merasa tak begitu mengenal Slamet, dan menduga orang lain mengenal beliau lebih baik. Menandakan bahwa Slamet begitu rendah hati dan tak ingin memamerkan dirinya pada orang lain. 

Beranjak pada ilmu SAS, sebuah video membawa ingatan kembali pada ilmu-ilmu yang dibagikan Slamet, salah satunya program Kukiko, sebuah workshop mencipta komposisi musik yang dibimbing langsung oleh Slamet. Dalam video, sosok Slamet tampak menciptakan suasana cair dan santai, namun tetap berkualitas. Pada puluhan anak muda, beliau menyampaikan tentang pentingnya memaksimalkan ingatan, kepekaan, dan kebebasan berekspresi dalam mencipta komposisi. Slamet juga seorang yang eksperimental. Dalam membuat komposisi, beliau menekankan jika komponis mesti menyisihkaan sesuatu yang sifatnya rutin. Terlihat SAS bukan hanya mengajarkan hal-hal teknis, namun juga mengajarkan karakter dan kepekaan sebagai manusia melalui musik.

Foto oleh : Adrea Kristatiani

Memvisualkan ingatan kembali tentang karya Slamet, malam itu juga diputarkan video dua karya yang dimainkan langsung oleh SAS di panggung Sluman Slumun Slamet di Surabaya. Gelandangan yang diciptakan di tahun 1998, dan Kabut yang dicipitakan menjelang keberangkatan SAS ke Prancis di tahun 1960. Kedunya dibawakan oleh sang empunya komposisi sendiri bersama Ika Sri Wahyuningsih dan Gema Swaratyagita. 

Dalam sesi berbincang, Joko Porong sebagai murid SAS merasakan berbagai pengalaman yang tak terlupakan tentang beliau. Salah satunya ucapan "Kalau bernafas jangan membuat berisik orang lain." yang disampaikan oleh SAS di pertemuan pertama perkuliahan. Kesan nyentrik Slamet begitu membekas pada ingatan Joko. Meski begitu, dengan karakter beliau yang sederhana, Joko Porong juga menduga seorang SAS mungkin tak suka dirayakan kematiannya. Namun spirit SAS untuk mengubah teks kehidupan menjadi elemen musikal tetap tak tergantikan dan meninggalkan kekaguman tersendiri. Lini Natalini, Oke Kawooan, dan Pak Wie turut memberikan cerita tentang bagaimana mereka bersinggungan dengan sang komponis.

Foto oleh : Adrea Kristatiani

Mengantar audiens beranjak, Gema Swaratyagita, Joko Porong, Evie Destiana, dan Kidung Kelana menampilkan Kabut ciptaan SAS, ditemani deklamasi dari Totenk Masduki dan Syarif Wajabae. Di balik betapa heningnya musik yang diciptakan Slamet, deklamasi itu menggelegar, seakan bersama menghadirkan kembali SAS yang memilih menempuh jalan sunyi, namun besar dalam karya.  

30 Juni 1935 hingga 24 Maret 2015 masih terasa terlalu singkat untuk rentang hidup seorang dengan jiwa besar berdedikasi. Namun beliau tak pernah mati. Slamet Abdul Sjukur sejatinya terus hidup. Hidup dalam hati, kepala, dan jiwa setiap yang tergerak, terinspirasi diri dan karyanya.

Foto : dokumentasi Adrea Kristatiani

Thursday, March 30, 2017

Kemegahan Indonesia : Bunga Rampai Art Festival 2017

Berjalan sendiri tentu sangat melelahkan. Sebaliknya, bersama-sama akan terasa menyenangkan. Tampaknya itu juga menjadi salah satu semangat dari Amadeus Enterprise sebagai penyelenggara berbagai kegiatan seni di Surabaya untuk mempertemukan pencinta musik dari berbagai latar belakang peran, usia, hingga genre, yang terwujud dalam Bunga Rampai Art Festival 2017 Gala Concert. Dihelat di gedung kesenian Cak Durasim Surabaya 26 Maret 2017 lalu, puluhan musisi hadir merayakan musik yang beragam dalam satu panggung.



Di awal acara, menarik untuk menyimak refleksi yang disampaikan Bapak Musaifr Isfanhari, Ketua Asosiasi Pengajar Musik Jawa Timur mengungkapkan optimismenya tentang geliat musik di Surabaya dengan antusiasme audiens yang hadir di festival Bunga Rampai. Beliau begitu mengapresiasi gelaran seni Bunga Rampai yang menurutnya menunjukkan semangat berkesenian, meski hal itu belum berarti bisa sejalan dengan pendapatan finansial penyelenggara, mengingat kegiatan seni di sisi lain masih belum begitu menjanjikan untuk menyokong pendapatan acara. Bukan hanya terjadi di Indonesia, bahkan di Amerika dengan tingkat apreasiasi musik tinggi pun, hal yang sama masih terjadi. Sebagai gambaran, 60 orkes simfoni yang ada di Amerika, hanya 5 orkes yang mampu menghidupi dirinya sendiri. Sementara sisanya disokong bantuan dana dari pemerintah dan masyarakat. Beliau bahkan berandai tentang crowd funding, jika seribu orang saja pencinta musik di Surabaya menyisihkan Rp.25.000 setiap bulan, acara-acara seni sejenis tentu akan bisa lebih sering diselenggarakan.

Nuansa teduh dan sangat Indonesia mengantar audiens pada pertunjukan malam itu. Tim Musik Angklung Nafiri Sion dari GKI Manyar menyuguhkan beberapa komposisi yang menyenangkan. Sekitar 45 personel dari berbagai rentang usia, dari anak-anak hingga lansia membahu menghadirkan bunyi yang menarik. "Surabaya" dibawakan sebagai lagu perdana. Jangan bayangkan ansamble Angklung yang monoton dan membosankan. Aransemen yang mereka tampilkan tampak diperhitungkan untuk memaksimalkan bunyi angklung.

Meletakkan permainan angklung dari Nafiri Sion di awal acara bisa dibilang sangat tepat, seakan mengingatkan bahwa musik asli Indonesia akan bertabur di sepanjang jalannya acara. Audiens langsung disambut dengan nuansa yang sangat Indonesia dan bunyi angklung yang tenang. Harmoni angklung sangat padu, meski hanya sebagian kecil masih samar dalam tempo. Setelah "Surabaya", "Tanah Airku" dan "Indonesia Pusaka" dibawakan syahdu dan menggetarkan. Sebelum mengantar audiens ke penampil berikutnya, Nafirision menyisakan "I Will Follow Him" dengan beat rancak yang menaikkan kembali mood audiens. Sekali lagi, Nafiri Sion membuktikan kekuatan aransemen dan dinamika mereka. 

Gala Concert Bunga Rampai juga memberi kesempatan di setengah babak pertama pada penampil-penampil junior yang terpilih dari seleksi sebelumnya. Dimulai dari tingkat beginner, rata-rata penampil masih di usia yang sangat muda. Memainkan duo piano, trio cello-piano-violin, mereka hadir dengan komposis-komposisi pendek yang sederhana dari barat maupun lagu tradisional dan lagu anak Indonesia. Mereka tampil cukup baik dan percaya diri. Beberapa kesalahan kecil terjadi, namun tak mengurangi optimisme akan bakat mereka yang masih akan terus berkembang. Menariknya, beberapa dari mereka bahkan menghibur dengan keluguan dan atraksi lucu dengan gesture tubuh yang sesuai beat, atau bahkan mengenakan kostum lucu sesuai lagu yang mereka bawakan. Gregorius dan Teresa, misalnya. Berbagi piano berdua, mereka kompak mamainkan soundtrack animasi The Flinstones, lengkap dengan pakaian ala Fred dan Wilma, tokoh utama dalam kisah tersebut. 

Di tingkat intermediate, genre musik yang disajikan lebih beragam. Mulai duo piano-cello, duo harpa, hingga trio cello. Namun dinamika acara ditarik ke atas dengan kejutan dari trio keyboard-bass-drum dari Adi Nugroho, Fanny Surya, dan Prananda. Mereka terlihat begitu berbeda dari penampil-penampil sebelumnya dengan menyajikan hentakan-hentakan khas band semi rock. Meski berbeda, namun mereka terlihat salah satu yang paling siap dengan menampilkan kekompakkan yang sangat baik, bahkan ketika dinamika lagu terus berubah drastis. Berbagai jenis rhythm mampu dilalui dengan tepat. Yang terpenting, mereka terlihat nyaman untuk menjadi berbeda dari yang lain. 

Beranjak ke tingkat advance, penampil tak berjumlah terlalu banyak di kategori ini. Audiens dimanjakan dengan duo vokal dari Yarret Didish dan Matata Vidya di awal. Menyuarakan "Gambang Suling", mereka tampil jauh dari kesan monoton. Meski hanya berdua, mereka tak canggung menguasai panggung, namun tetap menyajikan harmoni dan aransemen yang dinamis. Mengakhiri sesi pertama, Aris Pujo tampil menggaungkan seriosa dengan "Aku Ingin Menjadi Malam". Diiringi piano FX Kartika Ratri yang mengambil porsi pengiring dengan tepat. 

Setelah jeda, Shine Harmony Voice, grup vokal yang telah membawa karya mereka di tingkat internasional tampil dan memikat audiens dengan aransemen baru dari lagu anak lawas "Impianku" milik Natasha Chairani. Nuansa grande pun hadir dengan sentuhan Amadeus Orchestra yang tampil full team. Seakan menghilangkan dahaga di audiens, Shine Harmony Voice secara berturut-turut membawakan dua komposisi kembali, dengan jenis rhythm yang berbeda dengan lagu awal. Total menghibur, Shine Harmony Voice bahkan juga menyuguhkan "Serba Salah" dari Raisa yang sangat santai dan popular. Kematangan mereka terlihat dari harmoni, stage act dengan koreografi menarik, hingga kepercayaan diri dan interaksi dengan audiens yang baik. Meski kadang paduan vokal tertutup iringan orchestra, namun hal itu tak mengurangi apreasiasi positif dari audiens. 

Jubing Kristianto yang telah ditunggu-tunggu hadir di atas panggung kemudian. Dengan penuh senyum, Jubing menyapa ramah audiens di awal. Bungong Jeumpa dibawakan sebagai lagu pertama. Sebagai solois kenamaan Indonesia, Jubing menampilkan kualitasnya dengan memainkan komposisi dengan seimbang. Melodi dan rhythm tak saling berebutan, namun tetap berhasil menyergap perhatian audiens hingga akhir. Meski seorang diri, Jubing juga tetap berhasil memunculkan ruh dari musik yang dimainkannya dan menyampaikannya pada audiens. Rek Ayo Rek dibawakan kemudian. Aransemen Jubing tetap mempesona tanpa menghilangkan karakter dari lagu. Bahkan Jubing seperti seorang pencerita. Ia selalu memberikan dinamika yang tak terduga, juga sesekali atraksi dari kemampuan tekniknya yang mumpuni. Becak Fantasi andalannya menutup penampilan solonya tanpa audiens merasa jenuh atau monoton. 

Foto oleh : Gandhi Wasono

Amadeus Orchestra hadir kembali dan bermain bersama Jubing Kristianto. Audiens diterbangkan ke nuansa pop klasik Indonesia melalui "Kala Sang Surya Tenggelam" milik Chrisye. Dengan conductor Nico Alan, orchestra bermain dengan proporsional. Belum cukup dimanjakan secara audio, di tengah tampilan, Chendra Yunita Koestomo dan Paulus Dwi Raharja hadir dan mewarnai visual panggung dengan tarian kontemporer.  

Foto oleh : Gandhi Wasono

Ochestra Amadeus kembali dengan "Pink Panther" yang familiar kemudian. Dibawakan sebagai sebuah keutuhan, komposisi tersebut juga terdengar bulat dan memiliki greget. Sebagai puncak dan suguhan terakhir, audiens yang sudah mulai merasa lelah dengan pertunjukan yang panjang dinaikkan mood-nya kembali dengan komposisi yang diaransemen dan ditampilkan secara khusus oleh Nico Alan, Amadeus Orchestra, Shine Harmony Voice, dan Jubing Kristianto. Patrisna May Widuri pun tampil apik sebagai pianis. Berbagai lagu tradisional dari berbagai daerah dipadukan dalam satu komposisi antara lain Kampuang Nan Jauh di Mato, Manuk Dadali, hingga Yamko Rambe Yamko. Tim Angklung Nafiri Sion kembali hadir dan melengkapi nuansa Indonesia dalam tampilan lengkap itu. 

Foto oleh : Shine Harmony Voice


Tampilan penampil tampak cocok dengan konsep dengan semangat keberagaman dengan pakaian-pakaian khas Indonesia, juga melodi-melodi Indonesia yang memanjakan audiens hingga akhir. Rasa Indonesia yang dibingkai megah mengingatkan kembali tentang kekayaan tanah air yang luar biasa. Hasil kerja keras Amadeus dan seluruh penampil patut diapresiasi tinggi. Pada akhirnya Bunga Rampai Art Festival 2017 membawa banyak hal positif pada setiap yang terlibat di dalamnya. Mulai penampil hingga audiens bersama-sama dalam satu lingkaran kebersamaan dan kebahagiaan : seni.    


Saturday, March 25, 2017

Edukasi Musik Ala Worldship Orchestra : A Musical Journey 3

"Music has to be a right for every citizen." - Gustavo Dudamel.

El Sistema, sebuah program edukasi tentang bagaimana anak-anak Venezuela meraih optimisme hidup melalui musik, telah menginspirasi hingga ke setengah lingkaran bumi, negeri Jepang. 

Worldship Orchestra, sebuah orkestra yang terdiri dari anak-anak muda Jepang, berlayar berkeliling dunia untuk membawa spirit dan keyakinan yang serupa : mengenalkan musik secara lebih luas. Akihide Noguchi, kapten dari WSO lah yang memiliki inisiatif untuk program mereka. Puluhan anak muda tersebut berkeliling ke banyak negara, seperti Kamboja dan Filipina dengan membawa misi edukasi musik pada anak-anak di daerah yang dikunjungi. 

Beberapa kali berkeliling Asia sejak 2015, Worldship Orchestra datang membawa semangat yang sama di Surabaya baru-baru ini. Selain atrium mall yang menjadi lokasi mereka bermain, gedung kesenian Cak Durasim pun mendapat giliran di hari Kamis, 23 Maret 2017 lalu. Sejalan dengan tujuan edukasi yang mereka angkat, tiket acara pun dapat ditebus dengan donasi berupa buku bacaan atau mainan anak.



WSO tampil tak biasa. Begitu masuk dan mengedarkan pandangan pada panggung, sudah terlihat perbedaan yang mencolok dibanding konser-konser biasanya. Berbagai karton warna-warni bertuliskan jenis-jenis instrumen pada orkestra tertempel di bagian depan masing-masing music stand.

Jangan harapkan nuansa formal pada A Musical Journey 3 WSO kali ini. Mereka tampil sangat santai dan kasual. Mulai dari kostum yang hanya kaus dan jeans, pilihan komposisi yang disajikan, hingga bagaimana acara dibawakan. Tampaknya cara itu sengaja dipilih sebagai upaya pendekatan antara audiens dan musik yang dibawakan.

Sebagai prolog, WSO menyuguhkan melodi-melodi khas dari soundtrack film-film kenamaan, seperti Harry Potter, E.T, dan Superman. Tak serta merta dilanjutkan dengan komposisi berikutnya, kapten dari WSO pun muncul menyapa audiens. Rupanya itu menjadi pola sepanjang acara. Sebelum setiap komposisi dimulai, kapten selalu memberikan gambaran tentang lagu yang akan dibawakan. Sesuai dengan misinya untuk memberikan edukasi musik, WSO memperkenalkan secara bertahap jenis instrumen apa saja yang ada dalam orkestra. Dimulai dari woodwind, masing-masing personel menjelaskan dan mendemokan bagaimana bunyi dari instrumen yang mereka mainkan. Secara santai dan interaktif pula, audiens diajak untuk memahami. Komposisi yang dipilih juga menunjukkan bunyi woodwind yang menonjol, ialah Clarinet Concerto Immer Kleiner (Always Smaller). Dengan solois Klarinet Sae Yamashita, sepanjang komposisi didemokan secara menyenangkan bagaimana bunyi masing-masing bagian Klarinet ketika dilepaskan. Edukasi yang humoris dan menghibur, pelepasan masing-masing bagian Klarinet pun dilakukan dengan semi teatrikal. Yamashita terlihat agak kurang rapi dalam memfrasekan kalimat terutama di bagian running, namun masih bisa dinikmati audiens  

Beralih ke bagian berikutnya, string section yang mendapat giliran lampu sorot. Dance Macabre (Tarian Kematian) dihadirkan. Ini cukup menjadi tantangan bagi WSO untuk menyelipkan kemuraman di antara konsep fun. Concert Master pun berpindah posisi menjadi solois, tampil dengan jubah bertudung dan gerakan-gerakan atraktif. Kemudian giliran konduktor yang mendapat perhatian. Setelah sebelumya audiens diajak untuk mencoba gerakan mengayun baton bersama, dipilih tiga audiens untuk naik ke panggung dan menjajal langsung rasanya menjadi konduktor dan mengendalikan dinamika lagu. 

Sebelum jeda, dibawakan komposisi yang sangat familiar, Carmen. Untuk komposisi yang bisa dibilang sederhana, kekompakan orkestra cukup baik. Namun ada hubungan secara emosional yang terputus antara audiens dengan harmoni yang tersampaikan. Sekadar menduga, bisa jadi karena komposisi yang terlalu sering dimainkan, sehingga para pemain pun kurang maksimal dalam menyampaikan pesan lagu. 

Di bagian kedua, WSO tak sendiri. Mereka berkolaborasi dengan Pusat Oleh Seni Surabaya Orchestra (POSS) dan Tumapel Youth Orchestra Malang. Komposisi yang dipilih soundtrack dari animasi Frozen yang sangat familiar. Total ingin menghibur audiens junior di bangku penonton, salah seorang personel WSO berkostum Elsa dan berkeliling di antara audiens, mengajak audiens bernyanyi bersama. 

Foto : instagram @annara24

Seakan mencoba menampilkan nuansa yang berbeda, soundtrack Godzilla menjadi sajian berikutnya. Sebagai penutup, Rek Ayo Rek sebagai lagu tradisional Surabaya dibawakan dengan gaya yang lebih tenang. Namun sayang, justru pilihan aransemennya menghilangkan karakter kuat beat dari Rek Ayo Rek yang kental dengan staccato-staccato yang tegas. Untuk kolaborasi dengan puluhan, bahkan ratusan pemain dalam waktu singkat, penampil bisa dibilang cukup berhasil. 

WSO menunjukkan kualitas yang cukup baik secara keseluruhan. Memilih menampilkan komposisi-komposisi yang sederhana juga bisa menjadi tantangan tersendiri. Di satu sisi untuk pertimbangan kepentingan edukasi dan pendekatan selera audiens, namun di sisi lain orkestra tetap harus bermain maksimal karena audiens mengenal betul apa yang mereka dengar. Sepanjang acara WSO terdengar longgar di beberapa bagian komposisi, serta greget yang kurang tersampaikan. Meski begitu, konsep pendidikan yang digarap WSO sangat kreatif. Berani keluar kotak, dan menampilkan berbagai atraksi yang bersifat menghibur tampaknya menjadi andalan WSO untuk memercik apresiasi audiens terhadap musik, terutama orkestra. Untuk konsep pertunjukan, WSO telah selangkah di depan. Namun di atas itu semua, WSO berani memilih "turun gunung" dan mengambil substansi musik yang sering terlupakan : ada untuk dinikmati semua orang. 



Tuesday, February 7, 2017

Kotak Penuh Terisi : Buah Tangan Kunjungan Pegiat Budaya 2016

Lima puluh pegiat budaya menyorot kembali dan memberi refleksi tentang geliat seni di Indonesia sekembalinya dari Selandia Baru akhir tahun lalu. Benarkah Selandia Baru jauh lebih di depan?


***

Akhir tahun 2016 lalu, lima puluh pegiat budaya dari berbagai bidang dan daerah asal di Indonesia melakukan residensi selama tiga minggu (15 November 2016 - 3 Desember 2016) di Selandia Baru. Mereka terpilih dari ribuan aplikasi yang telah diajukan pada Dinas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Rabu, 1 Februari 2017 lalu, berlokasi di auditorium IFI Surabaya, beberapa dari para pegiat budaya terpilih asal Surabaya; Gema Swaratyagita, Parriska Indra, Dwiki Nugroho, dan Fauzan Abdillah, berinisiatif membagikan kisahnya pada publik tentang kegiatan dan analisa mereka terhadap geliat kebudayaan di Selandia Baru dengan tajuk acara "Marmoyo" Mari Ngomong Budoyo. 




Ialah Gema Swaratyagita, seorang musisi dan komposer asal Surabaya yang mengawali panelnya, dan berbagi inspirasi dengan audiens. Secara umum para pegiat budaya melaksanakan tahap pembekalan sebelum keberangkatan, pengenalan tentang negara tujuan, melakukan berbagai kunjungan dan pembelajaran ke beragam titik kebudayaan di Selandia Baru, hingga memperkenalkan ragam budaya Indonesia dengan berbagai tampilan kolaborasi. Gema membawa kesan tersendiri tentang giat budaya di Negeri Kiwi. Sebagai seorang musisi, Gema mendapatkan Auckland University of Technology sebagai salah satu destinasi kunjungan. Tidak hanya belajar tentang musik, namun lebih jauh dari itu, ia juga mencari informasi tentang kebijakan-kebijakan pemerintah Selandia Baru terkait kegiatan budaya. Di Selandia Baru, pemerintah mewadahi diskusi antar seniman, serta mendukung geliat seni melalui Art Council dan beberapa Foundation. Meski begitu, dari sisi keragaman budaya, Indonesia berada jauh di depan Selandia Baru. Maori, sebagai satu-satunya suku dengan kebudayaan yang masih dipertahankan hingga saat ini menjadi andalan Selandia Baru dalam menampilkan wajah kebudayaannya. Gema bahkan berkesempatan untuk mendapat arahan langsung dari musisi Maori. Menjadi suatu keistimewaan tersendiri, mengingat tradisi dan budaya Maori baru beberapa tahun belakangan boleh dimainkan oleh masyarakat umum selain suku Maori. Musik Maori turut berkembang bersama zaman, hingga lahir kolaborasi antara musik Maori dengan musik modern, seperti Rap dan DJ. Yang berbeda, musik Maori berkisar di antara alat musik tiup dan pukul sejatinya tidak dimainkan untuk sesuatu yang "hingar-bingar", justru penuh kedalaman yang syahdu; kepentingan ritual atau doa. 

Gema juga melawat ke sebuah pusat budaya di mana anak-anak muda diberikan ruang untuk mempelajari song writing dan audio recording. Dari kunjungannya, Gema mencari informasi tentang pembiayaan operasional tempat yang didukung oleh program amal masyarakat dan pemerintah. Hal itu membuka kesempatan besar pada seniman maupun pemula yang ingin berkarya secara sungguh-sungguh. Gema juga menemukan rasa Indonesia di New Zealand School of Music dalam kelompok Gamelan Padhang Mochar yang dimainkan penuh oleh warga negara Selandia Baru. Kesungguhan mereka mempelajari Gamelan terbukti dengan kebanyakan personil yang telah menyambangi Indonesia untuk mempelajari Gamelan. Bicara tentang pengarsipan, Auckland National Museum bisa menjadi contoh bagi Indonesia dalam mendokumentasikan dan merawat aset budaya. Dari perjalanannya, Gema berharap negara kita bisa belajar dari pengarsipan dokumen budaya, serta lebih sinerginya berbagai pihak di Indonesia demi mendukung budaya bangsa.    

Sejalan denga Gema, bersama sembilan orang penari lain, Parriska yang bergerak di bidang seni tari juga membawa "oleh-oleh" berharga. Jauh mendalami makna, Parriska mengungkapkan bahwa setiap kali memulai tarian, penari Selandia Baru selalu menselaraskan dirinya dengan alam. Dari kunjungannya ke berbagai lokasi, Parriska mempelajari beberapa jenis tarian suku Maori. Di antaranya Haka, tarian perang yang banyak bermain di kekuatan kaki dan ekspresi. Parriska juga mampir ke New Zealend Dance Company yang berfokus pada Ballet dan tarian kontemporer. menurut pengamatannya, penari-penari di sana gemar bereksplorasi dengan berbagai jenis objek sebagai variasi pada tarian. Meski begitu, keragaman jenis tarian Indonesia yang sempat ditampilkan pada publik Selandia Baru membuat kekaguman tersendiri. Parriska ingin seniman Indonesia bisa lebih dihargai oleh negeri sendiri, dengan lebih dimilikinya ruang-ruang untuk tampil di hadapan publik.

Fauzan dan Dwiki yang berangkat dari bidang film dan seni rupa juga memiliki buah tangan yang patut disimak. Sedikit berbeda, Fauzan menganggap dunia film Selandia Baru nyaris serupa dengan Indonesia. Hanya saja, apresiasi penonton di sana lebih baik, akses untuk mendapatkan dana produksi lebih mudah, dan disokong oleh piranti yang lebih canggih. Sedangkan Dwiki yang merupakan seorang kurator seni angkat bicara bahwa pola kerja seni di Selandia Baru berbeda dengan di Indonesia. Masalah tersebut cukup mendasar, karena di Indonesia karya seni diciptakan berdasarkan masalah yang terjadi di masyarakat, sedangkan sebaliknya, di Selandia Baru seni digunakan sebagai solusi dari masalah sosial yang ada. Apresiasi yang didapatkan untuk karya seni yang diletakkan di ruang terbuka pun bukan sebagai objek yang dekoratif, namun benar-benar dianggap sebagai karya seni yang diperlakukan sebagai perhatian utama. Meski begitu, Dwiki justru mengungkap ironi yang baginya menyenangkan. Ia merasa lebih nyaman berkesenian di Indonesia. Karena baginya, dengan minimnya dana dari pemerintah, justru seniman mampu lebih bebas berkarya tanpa terikat dengan pemberi dana. 

credit picture : instagram gemaswaratyagita

Dipandu moderator Vika Wisnu, para pegiat budaya terpilih juga mengadakan sesi obrolan ringan bersama terkait sudut pandang mereka tentang geliat budaya Negeri Kiwi demi kepentingan perkembangan seni budaya di Indonesia. Menanggapi tentang hubungan antara seniman dan pemerintah di Indonesia, Gema menilai dari sudut pandang yang berbeda bahwa kebanyakan seniman juga resisten ketika bekerjasama dengan pemerintah, sehingga menjadi kendala tersendiri dalam perkembangan budaya. Fauzan sebagai seniman muda mengungkap bahwa seniman bisa mulai pro aktif mendekatkan diri dengan pemerintah dengan mengajukan berbagai aplikasi untuk program kebudayaan. Baginya, sinergi itu krusial terjalin karena industri dibentuk dari manajerial seni dan pelaku. Menyambung hal tersebut, Dwiki berpendapat, bahwa kendala lain dalam industri seni adalah kehomogenan pelakunya. Semua berebut ingin tampil, sehingga Indonesia kekurangan pelaku manajerial yang berperan penting. Tak heran, seniman mendapat tugas yang terlalu banyak untuk dipikul sendiri. Hal tersebut jadi salah satu hal yang menghambat berkembangnya industri seni di Indonesia. Pada akhirnya, langkah kaki para pegiat budaya menjejak negeri seberang bertujuan sama. Kembali dengan kotak yang penuh terisi : keinginan besar agar kekayaan budaya Indonesia dapat ditampilkan oleh anak bangsa menuju kekaguman dunia.     



Why you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. - Terry Pratchett.

 

Friday, December 16, 2016

Jurnal Pesiar Lembar Ketiga

Save the best for last. 

Kalimat itu juga berlaku di atas kapal. Sembari berlayar kembali ke Singapura, kami sehari penuh di atas kapal, kesempatan terakhir untuk menikmati fasilitasnya. Di hari kelima, kami sekilas mampr di beberapa lokasi di Singapura sebelum kembali terbang ke kota masing-masing.

***

Pagi hari, kami tidak langsung beranjak sarapan. Saya menemani Bu Ade menjajal jogging track yang mengelilingi deck 12 Tapi saya tak jogging, justru ambil gambar sana-sini. Dugaan saya bahwa di pagi hari angin di deck yang terbuka akan kencang, ternyata tak terbukti. Langit keabuan yang agak mendung masih malu-malu menampilkan matahari. Lantai deck masih agak basah sisa hujan kemarin. Namun itu tak menyurutkan semangat karena sudah ramai orang berolahraga, rupanya. Pemandangan dari atas ke lautan memang menenangkan. Ketika Bu Ade sibuk berlari, saya tanpa sengaja bertemu Mak Gondut, Mbak Dame, dan Mbak Atid yang tampaknya sudah memilih jalan kaki di putaran kesekian. Karena langit sedang bagus, saya ambil beberapa gambar mereka.

Saya sekadar sok ikutan lapar, meski tak ikut berolahraga. Jadi kami putuskan untuk sama-sama menuju ruang makan. Karena ingin berganti suasana dari Windjammer, kami memilih Rhapsody in Blue Dining Room di deck 3. Berbeda dengan Windjammer yang bisa langsung masuk ke dalam, kali ini kami mesti mengantre sejenak. Ditanya berapa orang, dan dicarikan meja, kami akhirnya dapat meja sendiri di salah satu sudut. Karena terbiasa makan di deck 4, kami belum melihat bagaimana interior di deck 3. Ternyata, di sini lah pojok grande-nya. Di tengah ruangan, kami bisa melihat dua tangga besar, di mana kapten memberikan sambutan. Menu makan pagi di sini spesial. Berkonsep ala carte, saya memesan fillet salmon yang dipotong tipis dan rasanya jagoan!

ruang makan


Di hari terakhir, kami mencoba mini golf di sports area. Meski tak bisa golf, saya iseng coba saja. Berhasil memasukkan bola sekali, sisanya lebih banyak lelah karena sibuk kejar bola. Selain mini golf juga ada lapangan basket juga fasilitas rock climbing. Fasilitas itu tak dibuka setiap saat. Ada jam tertentu yang diberlakukan, juga bergantung kondisi cuaca. Jika dinding panjat basah karena hujan, kegiatan ini tak bisa dilaksanakan. Meski begitu, antrean tetap mengular. Peminatnya berbagai usia. 

sebagian sports area


Big A, Little A, dan Bu Ade memanfaatkan diskon setengah harga token Arcade, dan menukarkan hadiah. Masih ada senggang waktu sebelum makan siang, saya memilih kembali ke perpustakaan. Kali ini perpus sepi sekali. Saya coba sudut baru untuk baca. Di ujung ruang dengan pandangan langsung ke Royal Promenade. Siapa saja yang berkunjung ke perpustakaan? Di perpustakaan biasanya saya melihat dua orang lansia, atau satu-dua orang paruh baya yang memilih membaca buku. Kapal tampaknya menyajikan sebanyak mungkin fasilitas untuk mencegah penumpang "mati gaya". Sudoku dan soal trivia tentang kapal pesiar disediakan setiap pukul sembilan pagi. Beberapa orang datang mengambil dan mengerjakan soal.





Saya kembali ke Windjammer untuk makan siang. Sengaja datang di awal waktu ternyata keputusan tepat. Saya dapat meja dekat jendela. Oh ya, selama perjalanan kami saya tak pernah melihat kapal menerjang ombak yang cukup membuat guncangan, bahkan di malam hari sekalipun. Kapal tetap tenang membelah selat. Di tengah mengudap makanan, ternyata Mbak Dame datang dan bergabung. Kami mengobrol cukup banyak. Kami masih setengah menghabiskan cookies dan cake ketika Mbak Atid dan Mak Gondut bergabung. Wah, obrolan semakin mengalir, dan nuansa Batak itu yang saya kangeni. Sebagai satu-satunya bukan Batak di antara mereka, saya jadi banyak tahu hal baru, dan bagaimana keluarga Batak mengenal satu sama lain. Kami mengobrol tentang apa saja. Dunia film di balik layar dengan Mbak Atid, karier dosen Teolog dan aktivitas akting Mak Gondut, pekerjaan Mbak Dame, dan lain sebagainya.

Ada show jazz kecil di Royal Promenade, kami berempat pun pindah lokasi menuju Cafe Promenade. Mak Gondut belum puas untuk ngemil cookies, rupanya. Kebetulan kami mendapat kursi yang menjorok ke jalan, sehingga bisa melihat hilir mudik aktivitas di Royal Promenade. Serombongan bapak-bapak India yang asik mengobrol di meja sebelah, seorang bapak sepuh yang duduk sendirian, pelayan toko yang sibuk memasarkan parfum, ibu yang sibuk berfoto dengan pohon natal, anak-anak yang asik mengudap pizza. Area ini memang selalu ramai.

keramaian Royal Promenade

Masih ada waktu sampai makan malam, saya meluangkan waktu sejenak ke perpustakaan, melanjutkan membaca. Karena 25 November ini bertepatan dengan perayaan Thanks Giving, beberapa crew kapal juga mengadakan kegiatan story telling dalam dua bahasa, Mandarin dan Inggris. Di perpustakaan juga disediakan community board. Siapapun bisa membuat acara kumpul-kumpul dan mengajak penumpang lainnya. Tinggal menuliskan tema, lokasi, dan waktu acara. Siapa pun yang membaca dan tertarik, bisa hadir. Karena ini hari terakhir kami di atas kapal, ada beberapa hal yang mesti diselesaikan. Misalnya, pembayaran seluruh transaksi di atas kapal untuk pengguna pembayaran tunai, mengambil paspor sesuai jadwal, dan mampir ke photo kiosk. Yang terakhir tak wajib, sebenarnya. Tapi di hari terakhir, foto-foto kami yang selama ini diabadikan oleh fotografer kapal dipajang dan dijual di sana. 

Di makan malam terakhir, makan malam agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kami kembali ke Top Hat and Tails. Xiaolong dan Pak Gede melayani kami dengan sama baiknya. Bahkan, Xiaolong membuatkan beberapa hiasan kepala dari sapu tangan untuk beberapa perempuan di grup indo. Waiter mengingatkan bahwa akan ada parade spesial sebagai tanda perpisahan dari tim dapur dan restoran. Ternyata nyaris seluruh waiter memberhentikan kegiatan mereka sejenak, dan masuk ke dalam dapur. Ketika keluar, puluhan waiters dari berbagai negara berbaris dan melambai-lambaikan sapu tangan dan berkeliling di ruang makan. Tampaknya itu juga terjadi di dua decks lainnya. Kemudian di tangga tengah deck 3, waiters dan chefs mempertunjukan beberapa kebolehan, seperti menyanyi dan menari. Sekejap, orang-orang beranjak dari mejanya dan merangsek ke bagian tengah restoran untuk menyaksikan aksi itu. Dilayani selama empat malam berturut-turut membuat kebanyakan penumpang merasa memiliki keterikatan dengan para waiters. Banyak dari mereka yang mengajak berfoto dan memberikan tip. 



Malam terakhir di kapal, kami sudah harus mengemas barang, karena paling lambat pukul sepuluh malam koper sudah harus diletakkan di depan pintu kamar. Betul saja, begitu kembali, di atas tempat tidur sudah ada tag bagasi dan berbagai selebaran pemberitahuan. Berberes sebentar, masih ada waktu sebelum larut. Geng Batak kebetulan bertemu dan nonton farewell broadway performance di Savoy Theatre. Karena pertunjukan terakhir, temanya pun lebih ceria. Komposisi-komposisi lawas semacam karya David Foster banyak diperdengarkan. Karena ingin karaoke, geng Batak justru ngumpul di kamar Mak Gondut dan membahas candaan Batak.

Esok paginya, Windjammer buka lebih awal karena ini pagi terakhir kami di kapal. Jika saya biasanya menikmati matahari terbit di balkon kamar, kali ini akhirnya menyaksikan matahari perlahan tampak dari jendela ruang makan bersama geng Batak. Kebetulan kapal belum tiba di Marina Bay Cruise Centre, jadi kami masih bisa melihat permukaan air yang perlahan mengombak dibelah kapal, matahari yang setahap demi setahap muncul, sambil ngobrol dan sarapan pagi. Mendekati pelabuhan, hilir mudik kapal juga jadi pemandangan menarik. 



Masih ada setengah hari menuju waktu kembali terbang ke kota masing-masing, kami menjelajah sebagian kecil Singapura. Icip-icip berbagai rasa cookies di Cookies Museum, belajar menyajikan teh ala China di Tea Chapter, mampir ke Tin Tin Shop, dan makan siang berpernik pahlawan super di Super Heroes Cafe. 







Jika kata Mary Roach, nothing much new happens di atas kapal pesiar, cruise trip bagi saya justru memberikan pengalaman serba baru yang menyenangkan, juga menenangkan. 




  
Baca juga Jurnal Pesiar Lembar Pertama dan Jurnal Pesiar Lembar Kedua.



Saturday, December 10, 2016

Jurnal Pesiar Lembar Kedua

pe-si-ar v berkeliling kota dsb dng kendaraan; berjalan-jalan; bertamasya; pelesir;

Sesuai kata KBBI, agenda pesiar hari ke-dua dan ke-tiga kami tak hanya sebatas berlayar, menikmati pemandangan laut. Tapi juga turun untuk wisata darat, shore excursion. 

*** 

Setelah pulang makan malam di hari pertama, ada monyet putih bergelantungan di kamar. Saya dan Big A cukup terkejut. Ternyata kreasi handuk dari Pak Rudolf, room attendant kami adalah monyet. Setiap kamar mendapat "hewannya" masing-masing. Setelah kroscek ke "kamar para tetangga", ternyata ada babi atau anjing yang sudah duduk manis di atas tempat tidur mereka. Karena lucu dan unik, si monyet tetap kami biarkan di atas, bergelantungan hingga keesokan hari.

si gajah dan si monyet

Meski sepele, tapi kejutan kecil selain kamar yang sudah rapi setiap kali kembali dari makan malam memang menyenangkan. Soal handuk, awalnya saya kira akan berhenti di hari pertama. Karena menurut cruise compass, event demo kreasi handuk oleh awak kapal hanya ada di hari kedua. Selain itu, di kamar lain, kejutan handuk juga hanya sampai hari pertama. Namun nyatanya, hingga malam terakhir di kapal, saya dapat "hewan-hewan" yang berbeda setiap harinya. Karena merasa sayang, saya tak pernah mengubah bentuknya kecuali hanya memindahkan posisinya ke sofa.

si anjing

Bicara soal kamar, meski di dalam kapal, kamar yang kami tempati tak terlalu kecil. Begitu masuk,di bagian kanan sudah kamar mandi dengan wastafel, bilik shower, dan toilet. Meski mungil, namun efektif dan fungsional. Di sebelah kiri lemari kayu. Bedanya dengan kamar hotel di darat, di rak terbawah lemari tersedia dua life jackets untuk keadaan darurat. Berlanjut, sudah langsung disambut area santai dengan sofa panjang dan televisi yang terpasang di meja rias. Diikuti tempat tidur, dan balkon yang dibatasi oleh pintu kaca. Di awal masuk, langsung tertulis pemberitahuan terkait dengan pintu balkon. Ketika tamu membiarkan pintu pembatas antara balkon dan kamar terbuka atau tak rapat, maka pendingin ruangan secara otomatis akan mati.


view sunrise dari balkon kamar

stateroom 


Karena saya kerap bangun terlalu pagi dan masih ada sela waktu sebelum waktu breakfast, saya iseng saja keluar kamar karena ingin tahu kondisi kapal di pagi hari. Selain itu juga memang ingin mampir ke perpustakaan (buka 24 jam!). Ternyata memang acara yang berakhir larut semalam membuat mayoritas penumpang masih lelap. Saya hanya sesekali berpapasan dengan crew yang bertugas. Dan benar, saya kemudian leluasa memelototi satu per satu punggung buku yang ada di rak. Karena mengambil secara acak, saya memilih The Supreme Macaroni Company milik Adriana Trigiani, dan beberapa kali membuka-buka Webster Dictionary of American Writers. Kadang ada kegembiraan yang tidak bisa didapatkan dengan melakukan aktivitas fisik. Kebutuhan untuk tenang dan berdialog dengan diri sendiri. Karena itulah perpustakaan yang nyaman jadi favorit saya di antara fasilitas yang lain.   



Di deck atas perpustakaan persis, area komputer juga disediakan. Untuk koneksi internet, kapal menyediakan penjualan data dengan tarif tertentu. Informasinya bisa diakses di customer service deck 5.

Berpindah dari area yang sepi menuju ramai, pool area deck 11 menjadi salah satu area yang tak pernah sepi. Di sini tersedia beberapa kolam renang yang diperuntukkan untuk dewasa maupun anak-anak. Sementara jacuzzi dan sauna tersedia di area tersendiri yang diperuntukkan khusus untuk dewasa. Di area ini disediakan stall ice cream dan hot dog gratis.




Di area kolam renang ada layar raksasa yang memutarkan film yang berbeda setiap harinya. Nonton film di bawah bintang-bintang dan bersanding dengan lautan, bukan mustahil.

Area yang nyaris tak pernah sepi lainnya adalah Royal Promenade. Area "down town" ini bisa ditemukan cafe, gerai barang bermerk, dan lainnya. Cafe tepi jalan, Cafe Promenade buka 24 jam. Penumpang bisa mengudap makanan kecil mulai cake hingga puddingpizza hingga sandwich. Di area ini juga sering diadakan acara parade, dance party di malam terakhir, hingga tampilan musik jazz. Mendekati Natal di akhir tahun, pohon natal raksasa juga turut dalam dekorasi.

Royal Promenade

geng batak yang doyan ngemil cookies di cafe promenade

Anak-anak bisa jadi makhluk paling gembira di atas kapal. Kapal bahkan menyediakan Arcade, tempat bermain. Tinggal menggesek sea pass card, anak-anak bisa menikmati berbagai jenis permainan sesuka hati. Mulai balap mobil, hingga permainan ketangkasan. Poin yang didapatkan bisa ditukarkan dengan sejumlah pilihan hadiah. Di akhir perjalanan cruise, beberapa token permainan didiskon setengah harga. Anak-anak : kalap!



Lokasi favorit Little A dan Big A! 

Makan siang kami di hari kedua bukan di Windjammer. Kami diajak untuk mencoba sajian resto burger Johnny Rockets. Berkonsep ala western 50-an, interiornya pun menyesuaikan. Kursi bar tinggi, warna serba merah-hitam-putih, dan musik oldies. Sangat casual. Di hari sebelumnya, kami sudah diwanti-wanti untuk tak terlalu banyak mengudap sarapan, agar perut masih punya ruang besar untuk burger Johnny Rockets yang berukuran besar.





Ternyata benar. Sajiannya berbagai macam. Mulai burger, french fries, soda,bahkan ramen untuk memenuhi selera Asia. Ukuran burger-nya, jangan ditanya. Sudah coba buka mulut selebar mungkin, saya masih gagal menggigit semua bagiannya. Akhirnya menyerah, dan pakai pisau dan garpu saja.



Meski sudah waktunya turun kapal untuk menuju Kuala Lumpur, namun ternyata rombongan kami tidak turun kapal. Kami justru menuju area depan kapal di mana ada helipad. Lokasinya memang sepi, karena tak banyak penumpang yang menyambanginya. Helipad diperlukan jika sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat, seperti mengangkut penumpang yang sakitnya tak mampu ditangani petugas medis di atas kapal. Ini jadi sudut berfoto yang berbeda. Mulai pose biasa, hingga pose kayang di tengah huruf H, seperti yang Little A lakukan.



bagian ujung kapal. Mau ber-Jack dan Rose? Silakan!

Puas mengambil gambar di sini, kami ingin menyaksikan badan kapal dari kejauhan. Maka kami turun menuju Port Klang, Malaysia meski tak turut serta ke KL. Di pelabuhan disediakan supermarket mini, toko souvenir, dan jika bisa mengambil sudut yang tepat, bisa berfoto dengan badan kapal yang besar tampak kejauhan. Saat turun, kami tak perlu menunjukkan paspor, karena di awal keberangkatan, paspor diminta, sebagai gantinya, sea pass card lah yang menjadi pengenal identitas hingga akhir waktu berlayar.

Nah, salah satu yang diminta secara khusus di tiap pesiar adalah aturan formal dinner yang diberlakukan satu kali dalam perjalanan cruise pendek, atau beberapa kali dalam perjalanan beberapa belas hari cruise. Selain itu juga ada aturan sederhana, seperti tidak diperbolehkan bercelana pendek dan memakai sandal setiap makan malam. Hal itu untuk menghidupkan kesan makan malam formal di antara penumpang, karena setiap makan malam sifatnya semi formal. Di makan malam kedua, kami diminta untuk mengenakan pakaian formal. Di malam ini pula, kapten kapal memberikan sambutan selamat datang pada seluruh penumpang. Penumpang yang biasanya berkaus, tiba-tiba berubah menjadi kemeja resmi. Wanita disarankan memakai gaun malam. Tentang pilihan makanan, menu makan malam berubah setiap harinya, baik appetizermain course, maupun dessert. Waiter biasanya memberikan rekomendasi apa yang spesial dari menunya, dan menyesuaikan dengan keinginan kita. Menunya beragam. Mulai hidangan western hingga India. Saya duga, karena penumpang mayoritas Asia, menu pun menyesuaikan. Suatu kali, saya pernah ragu dalam memillih makanan penutup. Sekadar coba-coba, saya memesan semacam mango rice. Dan saya tanyakan pada Xiolong, waiter kami apakah itu enak. Ia katakan, jika nanti hidangan itu tak cocok dengan lidah saya, bisa ia tukar dengan dessert yang lain. Ketika dessert datang dan saya mencobanya beberapa suap, Xiaolong menanyakan kembali apa saya ingin tukar. Penumpang sangat dimanjakan hingga hal terkecil. Saya sempat berniat memburu sun set di awal berlayar, namun ternyata selalu gagal karena selalu bertepatan dengan jam makan malam. Tapi tak apa, kami masih bisa sesekali melihatnya melalui jendela ruang makan.

view setiap makan malam dari kursi saya

Kenyang makan malam, acara malam berikutnya adalah menonton pertunjukan broadway di Savoy Theatre deck 3. Peserta cruise disuguhkan berbagai plot cerita pendek yang dipentaskan dalam bentuk teatrikal dan diiringi band secara langsung. Di saat yang bersamaan dengan broadway, di Royal Promenade diselenggarakan bazaar serba $10 oleh beberapa merk. Kapal juga mewadahi keinginan para penggila belanja, rupanya. Di akhir waktu berlayar kami pun masih ada promo clearance sale dan tambahan diskon di beberapa gerai barang bermerk.





Tak semua penumpang memutuskan untuk turun dan turut serta dalam shore excursion, karena fasilitas di atas kapal pun seakan tak habis untuk dicoba dan dijelajahi. Pagi hari, ketika mengintip ke balkon, saya sudah melihat kami melewati pulau-pulau kecil. Penumpang pun bisa tahu posisi kapal saat itu dengan layanan televisi di channel internal kapal. Semacam monitor di pesawat terbang untuk kita mengetahui lokasi di mana pesawat sedang berada.




Di hari ketiga, kapal merapat pada pelabuhan di Langkawi, Malaysia. Kami turut serta secara penuh kali ini. Setelah sarapan, kami berkumpul untuk bersama-sama dengan penumpang lain menjajal wisata darat. Penumpang tak bisa begitu saja turun, namun mesti diatur dalam grup-grup yang dikoordinir oleh salah satu crew kapal. Masing-masing peserta diberikan stiker angka sesuai nomor grup untuk ditempelkan di tubuh. Sebelumnya kami sudah mendapat tiket untuk wisata darat yang diletakkan room attendant di atas tempat tidur. Begitu turun, sudah ada beberapa bus yang menunggu. Setiap grup berada di dalam satu bus yang sama.



Mengingatkan pada adegan-adegan di film Anna and The King, Langkawi memang tersohor dengan pantainya. Pihak travel membawa kami berkeliling ke beberapa destinasi, seperti toko cokelat, rice museum, dan akuarium besar. Menariknya, karena lokasinya yang tenang, Langkawi jamak dijadikan tempat berharitua oleh beberapa turis asing. Mereka hanya mesti membayar sekian Ringgit untuk mendapat izinnya.   

underwater world Langkawi

salah satu sudut rice museum
view dari pelabuhan Langkawi



Beberapa dari kami mengganggap wisata di atas kapal lebih menarik, jadi hanya beberapa jam kemudian, kami sudah kembali ke atas kapal. Crew kapal sudah memberikan pemberitahuan tentang jam keberangkatan kembali kapal. Maka jika ada penumpang yang memutuskan untuk melakukan shore excursion sendiri pun tak apa, asalkan bisa kembali ke pelabuhan tepat waktu. Karena kapal sedang merapat, sebelum naik, kebanyakan penumpang (termasuk saya) mengambil gambar, karena terlihat badan kapal yang raksasa. 

hanya terlihat setengah panjang kapal

Karena cukup lelah setelah wisata darat dan masih ada waktu sebelum makan malam, saya memilih untuk istirahat di kamar. Tak tidur, justru duduk di balkon sambil baca buku. Little A, Big A, dan Bu Ade memilih untuk berenang mumpung cuaca sedang tidak terlalu terik. Makan malam kali ini agak berbeda. Kami mencoba Giovanni's Table, resto Italia di deck 11. Dibanding Grand Dining Room, Giovanni tampak lebih lengang. Karena memang penumpang mesti membayar biaya tambahan untuk makan di sini. Namun meja-meja tetap penuh terisi, karena konon resto ini selalu jadi pilihan favorit. Dari meja makan, tamu bisa melihat para chef yang sedang memasak, waiter yang hilir-mudik, dan kepala resto yang mensupervisi setiap pesanan. Kami disambut oleh waiter perempuan asal Filipina yang sangat ramah. Pelayanan di Giovanni's lebih spesial lagi. Detail sangat diperhatikan. Anak-anak? diutamakan! Little A dapat buku menu khusus, makanan yang datang lebih cepat, spaghetti yang dipotongkan, dan bermacam lainnya. Beberapa keluarga juga memilih makan malam di Giovanni's. Obrolan-obrolan mengalir. Tapi nyatanya yang paling tahan lama duduk di tempat dan ngobrol hanya grup indo. Ketika "tetangga-tetangga" kami sudah pergi dan mejanya diisi oleh pelanggan berikutnya, kami masih asik berlama-lama mengobrol. Bukan urusan selokan saja yang diselesaikan dengan musyawarah, urusan makan pun juga gotong royong. hiruk pikuk. Orang Indonesia memang menyenangkan! :D

salah satu main course di Giovanni's

appetizer
Shore excursion memang pengalaman yang berbeda. Namun mencoba berbagai fasilitas di atas kapal tampaknya masih lebih banyak jadi pilihan penumpang. Keesokan harinya : kami sehari penuh di atas kapal!