Thursday, June 18, 2015

[Review] Konzertone : Trio Broadway

“Music sounds different to the one who plays it. It is the musician's curse.” 
― Patrick Rothfuss 

Surabaya Symphony Orchestra Conservatory Hall Surabaya, Rabu lalu, 10 juni 2015 sejak pukul 18.30 sudah tampak ramai. Konzertone : Trio Broadway Recital kali itu adalah penyebabnya. Di ruangan dan panggung yang tak terlalu besar, justru menjadikan konser ini bersuasana santai dan akrab. Ketika break, audiens disuguhkan berbagai jenis kudapan manis. Macaroon, fruit cake, mini doughnut, biscuit, dan lain sebagainya disajikan di taman belakang yang memberikan nuansa hangat pada recital kali ini.

Jessica Sudarta, Nikodemus Lukas, Mariska Setiawan ditantang untuk menyanyikan komposisi-komposisi broadway adalah sebuah hal baru. Pihak Konzertone menyebut mereka sebagai Natural Born Entertainers. Muda, berbakat, berprestasi dan memiliki kesempatan besar untuk berkembang. Mengapa broadway menjadi pilihan untuk recital kali ini? Pihak Konzertone menilai bahwa tema broadway mampu menghibur audiens.



Jessica Sudarta, harpist muda produktif yang sedang bersinar ini kembali hadir dengan lagu-lagu broadway. Sempat hadir pertanyaan di kepala saya, mengapa di e-flyer dan invitation foto Chika - nama panggilan Jessica- mengambil porsi paling besar di acara ini. Nyatanya, memang Chika bermain harpa sepanjang program. Baik untuk mengiringi atau pun bermain solo. Kali itu kesempatan pertama saya menyaksikan penampilan sang soprano, Mariska Setiawan. Membalik-balik booklet, saya menemukan prestasi yang dimilikinya cukup mengagumkan. Mulai menjadi soprano Paduan Suara Gita Bahana hingga berkolaborasi dengan Ananda Sukarlan. Ia pun sempat berguru pada Aning Katamsi dan Bernadeta Astari. Melengkapi Chika dan Mariska, tampillah Nikodemus L. Hariono, yang berperan sebagai tenor. Jejak rekam suaranya juga tak bisa dibilang remeh. Ananda Sukarlan, Indra Aziz, Aning Katamsi sempat menjadi mentornya. Ketiga bakat muda ini berkolaborasi di satu panggung, namun bukan untuk komposisi-komposisi klasik, justru berangkat dengan tema broadway.

Beruntunglah saya datang lebih awal. Partner nonton saya kali ini pun tak terlambat. Kami berhasil mendapatkan tempat yang cukup strategis. Baris terdepan untuk penonton. Dua baris di depan kami dikhususkan untuk tamu undangan. Ketika menunggu partner saya datang, seperti biasa, saya langsung menelusuri booklet. Wow, ekspektasi saya tentang komposisi-komposisi klasik yang saya kira akan dimainkan, luruh seketika. Nyaris seluruh komposisi di dalam program merupakan lagu-lagu yang berangkat dari soundtrack film layar lebar. Dan pilihan lagunya cukup familiar di telinga audiens. Pertanyaan dan keheranan kami terjawab oleh pihak Konzertone mengatakan bahwa memang pertunjukan kali ini sengaja disusun ringan dan menghibur. Penonton tidak terikat pada aturan-aturan konser klasik seperti biasa. Bahkan audiens dipersilakan untuk bertepuk tangan maupun bernyanyi bersama ketika komposisi dimainkan.

Di babak pertama, panggung menjadi milik Chika. Bersama harpanya, ia memainkan berbagai komposisi. Namun ada satu kejadian menarik yang melekat di ingatan saya. Meski masih berusia sangat muda, sebagai musisi profesional, Chika menampilkan etika yang cukup mengagumkan. Ketika ia telah siap dengan harpanya, audiens sempat dibuat heran dengan komposisi yang tak segera dimainkan. Alih-alih, Chika hanya tersenyum memandang audiens. Ternyata ia sedang menunggu 'kanvas'nya tersedia. Kanvas musisi yang berupa sunyi masih belum bisa dihadirkan oleh beberapa penonton yang datang terlambat dan meninggalkan ketukan sepatu pada lantai kayu sepanjang perjalanannya menuju kursi di bagian belakang. Dengan tenang, Chika hanya tersenyum dan ketika sunyi sudah ia dapatkan, komposisi dimainkan. Over The Rainbow sebagai pembuka sangat menarik, terutama ketika Chika memainkannya dengan penghayatan yang baik. Melodi lagu ini yang sederhana seringkali berpotensi membuat pemain ingin bervirtuoso dan mempercepat tempo, namun Chika tidak melakukannya. Ia memilih untuk menghadirkan ambience yang tenang dan manis. Saya suka ekspresinya ketika damping di bagian akhir. Menjadi terasa lebih mengena karena ini merupakan lagu favorit saya.




My Favourite Things yang mengemuka melalui The Sound of Music menjadi komposisi pilihan kedua. Komposisi ketiga dan keempat menjadi spesial untuk Chika karena ia mempersembahkan khusus lagu-lagu tersebut untuk kedua orangtuanya, My Way dan Memory. Ketika Memory dimainkan, saya sempatkan untuk mengintip ekspresi dari ibunda Chika, tante Yenny Sudarta yang tersenyum bangga. Saat giliran dimainkannya When You Wish Upon A Star, sesuatu yang berbeda terjadi. Kejutan, ini kali pertama saya melihat Chika dengan konsep permainan yang berbeda. Ia tak hanya bermain harpa, namun juga memainkan harpa dan xylophone bersamaan. Konsep ini agak riskan, dan cukup banyak pertaruhan ekspektasi dari konseptor acara. Konsentrasi untuk memainkan dua alat musik secara bersamaan berpotensi menimbulkan kesalahan. Namun cerdiknya, xylophone dipilih karena relatif mudah dimainkan, meski cukup terkesan repot, namun konsentrasi Chika dalam memainkan harpa tidak terlalu terganggu. Tangan kanannya masih lincah memetik harpa sebagai iringan, sedangkan tangan kirinya sibuk memukul xylophone sebagai melodi dari When You Wish Upon A Star.


Dalam memainkan harpa dan bernyanyi pada Sunrise Sunset, sebuah komposisi dari film Fiddler on The Roof, Chika tampil cukup baik. Bernyanyi dalam program yang sama dengan dua penyanyi profesional tentu bukan hal mudah. Namun, Chika terlihat berani keluar dari zona aman dan berniat menyajikan sesuatu yang baru untuk audiens. Saya memilih memejamkan mata dan merasakannya. Komposisi yang 'minor' ini cukup membuat suasana kelam mengambang di hall conservatory.

Pertunjukan dilanjutkan dengan I Got Rhytm yang jazzy. Sebelum memainkannya, Chika mengatakan bahwa ini adalah lagu jazz pertama yang ia mainkan dengan harpa. Tantangan komposisi ini ada pada pengaturan pedaling dan rhytm yang tentu tidak mudah. Meski sempat sedikit missed, namun Chika tetap tenang dalam mengatasi lagu. Come What May sebagai komposisi terakhir sebelum break, disajikan oleh ketiga penampil. Nikodemus dan Mariska tampak hangat menyapa penonton. Diambil dari drama Shakespeare : Macbeth, komposisi ini disajikan dengan penuh energi. Mariska dan Nikodemus tampak menyenangkan, kompak dan saling mengimbangi. Komposisi yang seharusnya sangat pop ini menjadi terasa klasik di tangan mereka bertiga. Bagian favorit saya tentu klimaks akhir dengan lirik "I will love you until my dying day" dimana Mariska dan Nikodemus sama-sama mengeluarkan virtuosonya.

Babak kedua menjadi lebih semarak. Unexpected Song dan I Dreamed A Dream dinyanyikan oleh Mariska Setiawan dengan iringan harpa Chika. Sebagai pembukaan dari Mariska Setiawan, lagu ini menantang Mariska untuk mengeksplorasi range vokal, baik chest voice maupun head voice. Dengan iringan harpa Chika, lagu ini terdengar syahdu, ekspresi yang ditampilkan Mariska pun tepat. Penampilan Mariska yang menyajikan I Dreamed A Dream adalah salah satu yang paling membekas di kepala saya. Lagu yang begitu pedih ini menceritakan tentang dinamika kehidupan seorang wanita yang sedang berada di titik terendah hidupnya dan dihimpit penderitaan dalam Les Miserables. Mariska rela kembali ke belakang panggung untuk melepas sepatunya. Hebatnya, ia sudah memulai penjiwaannya bahkan ketika belum menaiki panggung. Ekspresinya begitu sedih. Saya duga lagu ini akan berhasil. Tepat. Dinamika dan pesan yang tersampaikan menghasilkan tepuk tangan meriah. Di komposisi itu, Mariska dan Chika tampil sama-sama 'kuat'. 

Seisi Conservatory Hall SSO malam itu kemudian dibawa pada keceriaan baru. Part of Your World dari Little Mermaid. Di komposisi ini Chika bermain dewasa dengan mengikuti dinamika dari Mariska. Karakter Mariska tereksplorasi baik. Saya bahkan cukup merinding di bagian ini. Tapi karena ruang panggung yang masih luas, saya jadi membayangkan seandainya Mariska bisa melakukan sedikit perpindahan atau ekpresi gerak tambahan ke sisi panggung yang lain. Mengingat lagu ini begitu penuh harapan tentang suatu lingkungan dan tempat yang baru. Salah satu komposisi favorit saya di sepanjang program ini. 

Di komposisi I Could Have Dance All Night, Mariska berkespansi ke sisi panggung yang lain. Menuntut tempo yang agak cepat, Mariska menyampaikan lagu ini dengan modern dan dinamis. Alih-alih terlalu terpaku pada unjuk virtuoso, Mariska memilih untuk menikmati lagu dan menyajikan dengan karakternya sendiri. Phrasing di lagu ini pun dilakukan mulus. Ditutup dengan klimaks pertunjukan head voice di akhir, komposisi lincah ini tersampaikan baik. Di bagian akhir, bahkan Chika turut memberi applause untuk penampilan Mariska kali ini. 

Nikodemus tampil dengan senyum mengembang kemudian, membawakan You'll Never Walk Alone lagu kebangsaan dari klub bola Liverpool. Di lagu berikutnya adalah saat paling interaktif sepanjang acara. Moon River yang begitu familiar di antara audiens, dibawakan Nikodemus dengan berbagai kejutan. Di pengulangan bait, ia menyerahkan panggung pada suara penonton yang bernyayi secara masal. Diiringi harpa Chika, 'paduan suara' ini menciptakan syahdu. Merasa ini lagu favorit, saya tentu tak ingin ketinggalan bernyanyi. Trik ini jitu menjadikan penonton tak lagi malu-malu untuk bernyanyi mengikuti melodi di komposisi-komposisi berikutnya.




Nikodemus masih berada di panggung untuk menyanyikan komposisi pendek, Tonight. Nikodemus diminta untuk menggeber power di sepanjang lagu. Kendati demikian, lagu tersebut tak terasa 'kosong' meski dinyanyikan oleh tenor seorang diri. Menjelang bagian-bagian akhir dari program, Mariska kembali bergabung untuk menampilkan medley The Sound of Music. Secara berurutan Maria, The Sound of Music, Sixteen Going on Seventeen, Edelweiss, Climb Every Mountains, Do-Re-Mi, So Long Farewell. Jika saya tidak alpa mengingat, terselip juga My Favorite Things di deretan medley. Bagian kesukaan saya di komposisi ini tentu Edelweiss. Seketika berhasil membawa kenangan masa kecil ketika saya dan mama seringkali bernyanyi bersama dan saya memainkannya di organ.


The Prayer memberikan ruang pada Nikodemus untuk dominan. Di komposisi yang begitu familiar ini, banyak penonton yang memilih untuk bersenandung bersama. Time To Say Goodbye. Seluruh program ditutup dengan Con Te Partiro yang begitu identik dengan suara dari Andrea Bocelli dan Sarah Brightman. Meski telah familiar, tantangan para penampil adalah menghadirkan kesan grande yang biasa diciptakan oleh orchestra. Mariska dan Nikodemus cukup berhasil menggaungkan The Prayer dengan kesan yang berbeda. Untuk akhir pertunjukan dengan tepuk tangan audiens lebih dari sepuluh detik, dihadiahkan encore. Encore kali ini cukup berbeda. Nyatanya ada permintaan khusus dari tamu undangan untuk dimainkan Twinkle-Twinkle Little Star dan Nina Bobo. Tak serta merta dimainkan, lagu-lagu tersebut diawali dengan drama kecil antara Nikodemus dan Mariska yang berebut memainkan xylophone. Chika datang menengahi dan pada akhirnya mereka menghadirkannya kepada penonton. Penutupan itu seakan ingin menunjukkan bahwa tema dari keseluruhan program kali ini adalah entertaining-menghibur. Tentang bagaimana mengenang, bernyanyi, menikmati secara bebas musik yang disajikan.  

Sunday, June 7, 2015

The Joy of Music

Melihat Jessica Sudarta bermain bersama guru-gurunya sudah saya lakukan beberapa kali. Bagaimana ketika ia mesti bermain dengan muridnya?

23 Mei 2015 lalu, saya diundang Tante Yenny Sudarta untuk hadir di acara penampilan musikal siswa-siswi sekolah musik dan sekolah tari. Usia penampil beragam mulai anak-anak hingga remaja. Karena ada sedikit kejadian yang tidak diharapkan, saya dan kedua partner nonton saya mesti lapang dada untuk sedikit terlambat mengikuti program acara. Sesuai dengan konsepnya yang fun dan anak-anak, tak ada penampilan 'berat' sore itu. Pilihan-pilihan lagu pun disesuaikan dengan keceriaan dan kegembiraan khas dunia anak-anak. Terhitung dua puluh empat lagu yang dibawakan oleh para pemain. Tak heran, waktu konser ini juga lebih panjang dari konser biasanya. Lagu yang dibawakan kebanyakan sangat akrab di telinga anak-anak, seperti Soundtrack Doraemon dan Disney. Meski begitu juga ditampilkan komposisi pop barat, Mandarin dan lagu Indonesia.

Selayaknya pentas seni, ditampilkan drama musikal, permainan instrumen musik personal maupun kelompok, tarian, dan lain sebagainya. Kami cukup dibuat geli dan gemas dengan penampilan dari anak-anak yang menari dengan berbagai kostum lucu, atau ansamble biola dengan salah satu pesertanya yang sangat mungil. Panggung besar menampilkan ansamble gesek di bagian ujung kiri, diikuti Jessica Sudarta bersama harpanya. Bagian tengah dikosongkan untuk ruang tampil, di bagian kiri berdiri Grand piano hitam, keyboard dan drum. Yang membuat tampilan semakin menarik adalah layar LCD besar yang menjadi background panggung. Layar tersebut seringkali menampilkan animasi-animasi seperti Aladdin, Mickey Mouse, dan Mulan ketika soundtrack dimainkan.

Penampilan dari anak-anak ini memang nyaris selalu kolektif. Entah ansamble piano, biola dan mini orchestra, saksofon bersama harpa, dan lain sebagainya. Di balik kelucuan dan cerianya anak-anak awal usia yang menari, terselip beberapa penampilan menarik dari Jessica Sudarta dan murid Harpanya, Ferren. Meski terlihat belum sematang Jessica dari sisi keyakinan dan kepercayaan diri, namun Ferren tampil cukup baik. Belakangan saya mendapat informasi bahwa ia menginjak tahun pertama berguru pada Jessica. Edelweiss sukses membawa saya ke masa kecil dimana saya cukup sering memainkan dan menyayikan lagu itu. A Whole New World kembali membawa angan pada konser debut Jessica. Meski tak se-grande sebelumnya, namun saya tetap menikmati melodinya sebagai lagu kesukaan.
   
Di akhir pertunjukan, anak-anak yang telah tampil diminta untuk memberikan hadiah dan berkenalan dengan teman-teman baru mereka dari sebuah yayasan. Seakan ingin menyampaikan bahwa bermusik adalah masalah melatih kepekaan, juga kepekaan sosial.

Mengatur begitu banyak anak dalam satu acara, bahkan seringkali mesti berkolaborasi, saya mesti angkat topi pada guru dan pengatur acara. Meski sempat beberapa kali terjadi 'kecelakaan kecil' di bidang teknis, namun secara umum, acara tersebut cukup menghibur. Pertunjukan ini seakan mengingatkan bahwa musik memang semestinya dimainkan bebas, riang gembira, tak peduli siapa yang mendengar dan bagaimana komentar yang akan didapatkan. Saya 'ditampar' kembali tentang esensi kegembiraan bermusik.

Friday, June 5, 2015

Kamisan 10 season 3 : Monster Biru

Monster biru tak pernah tidur. Ia selalu mencoba hinggap di kepalamu, ingin menyelip di lekuk hatimu, juga berharap mampu bersarang di sela jarimu. Monster biru.

***

Ibu tak pernah menyadurkan sesuatu secara berlebihan. Cenderung kisah yang komplit, tanpa repot-repot dicerna ulang atau disederhanakan. Katanya, kasihan penulis butuh berdamai dengan jejaring otaknya demi memilih sebuah kata. Bocah itu hanya mengangguk sembari mengamini, meski hanya setengah mengerti. Terserah apa katamu, yang penting kisah berlanjut. Bocah itu telah fasih berpikir egois, rupanya. Sementara kisah terus berjalan, kepala mungil itu makin nyaman bersandar pada lengan sang ibu. Sesekali sang ibu membetulkan posisi karena rambut tajam sang bocah yang menusuk kulitnya. 

Monster biru tak pernah datang tanpa diundang. Meski berbulu menakutkan, mata yang melotot mengerikan, ia bisa saja dengan sopan menawarkan secangkir susu hangat ketika malam, juga menghadirkan tawa renyah untuk menyelamatkan kecanggungan. 

Ini tentunya bukan monster yang sibuk keluar masuk pintu, monster yang pemakan kue, atau monster pantai biru mungil dengan telinga lebar. 

"Ibu, aku ingin menjadi monster biru."
"Menjadi monster biru tak semenyenangkan itu."

Sang wanita hanya terkekeh kecil. Menggeleng tak percaya ketika bocah laki-lakinya memperlihatkan sinar mata yang sungguhan.


*** 

Belakangan sang bocah merasa cemburu. Tak ada kisah sebelum tidur yang dibacakan, atau sekadar ucapan selamat malam. Ibu begitu sibuk. Katanya ia mesti menyelamatkan pundi-pundi harta karun di ruang bawah tanah. Sang bocah berkali-kali mencari di mana ruang bawah tanah itu. Diselidikinya setiap celah di lantai, digesernya tiap perbabotan yang dianggap mencurigakan. Ia yakin akan menemukan sang ibu sedang menjaga tumpukan peti emas di bawah tanah. Mengapa ia tak mengajaknya untuk permainan seseru itu?

Sesaat sang bocah berharap di dalam hatinya. Bisakah ia mendapat bantuan dari monster biru?
Mengapa ibu selalu melarangnya untuk bertemu monster biru?

***

Berpuluh tahun berjalan, bocah itu telah ditarik waktu menjadi dewasa. Tampilan trendy tanpa perlu berlebihan membuatnya begitu saja dihampiri banyak wanita. Sayang, jiwanya tak pernah bisa beranjak dari teka-teki monster biru yang belum juga terpecahkan. Ia begitu saja ditinggalkan mengambang oleh ibu yang sudah tak lagi sama di hari-hari setelahnya. Ia semakin sibuk melanglang, sementara sang bocah ditinggalkan bersama seorang pengasuh bayaran robotik yang bekerja hanya karena uang.

"Membosankan. Dan sepi."
"Maafkan ibu."

Di suatu tempat, mereka berdua berhadapan. Mengejutkan, sang ibu justru semakin menampilkan aura muda. Rok midi di atas lutut dengan wedges nyaris menyentuh tujuh centi. Mereka berhadapan untuk sebuah pertanyaan.

"Di mana monster biru?"
"Ia sudah meninggal empat tahun lalu."

Laki-laki rupawan itu tercekat.

***

Secara filmis kenangan menyembul dari ujung berdebu kepala sang laki-laki. Jauh, jauh sebelum hari dibacakannya dongeng itu, ia ketakutan melihat seorang pria yang melangkah ke rumah dengan lebam kebiruan di sekujur tubuhnya. Meski ia tersenyum, sang bocah tak mau melihatnya lagi. Sang monster biru memutuskan untuk pergi dari rumah setelahnya.

Monster biru terus bertarung di arena pertaruhan, memulung pundi-pundi harta demi sang ibu dan bocah laki-laki yang tak lagi bisa ia temui hingga akhir hayatnya.

Monster biru bahkan rela menjadi sebatas dongeng bagi putra satu-satunya.

***


Ditulis untuk proyek menulis Kamisan