Tuesday, November 26, 2013

Oleh-oleh dari Kuliah Umum Agustinus Wibowo


Saya kebetulan hadir dalam kuliah umum Agustinus Wibowo di UK Petra 23 November 2013 yang lalu. Karena temanya tentang bagaimana menulis cerita perjalanan, kali ini materinya cukup berbeda dengan talkshow/seminar beliau sebelumnya. Lebih spesifik tentang how to dan tips-tips menarik. Jadi, mari disimak. Karena disampaikan dengan cukup cepat dan kemampuan saya sebagai notulis gadungan patut dipertanyakan, jadi akan saya sampaikan dalam bentuk poin-poin saja, di samping memudahkan anda membacanya pula. Silakan, dan semoga bermanfaat.



*Cerita perjalanan bukan merupakan panduan perjalanan, meskipun bisa jadi merupakan panduan perjalanan. Jika suatu buku mengulas tentang bagaimana menuju ke suatu tempat tujuan, itu bukan cerita perjalanan. 

*Dalam dunia travel writing, sesungguhnya tidak perlu ada genre baru berupa fiksi perjalanan. Karena semua cerita perjalanan adalah bentuk tulisan non fiksi.

*Buku panduan perjalanan merupakan travel guide, bukan travel writing.

*Roh nomor satu dari tulisan perjalanan adalah tempat. Meski begitu, tempat bukan hanya menjadi sekadar setting. Roh nomor dua adalah harus adanya unsur pengalaman dari penulis. Harus ada informasi siapa yang melakukan perjalanan. Roh nomor tiga adalah harus adanya unsur rasa maupun opini, juga sudut pandang personal. Rasa yang dimaksudkan adalah adanya opini pribadi yang bisa dipertanggungjawabkan. Dicontohkan, pada zaman dahulu tulisan perjalanan memang jamak tidak ada pelaku di dalamnya. Misalnya saja, Marcopolo. Namun kondisi itu sudah kurang mampu diterima lagi pada zaman ini. Saat ini harus ada pelaku pada tulisan perjalanan tersebut. Semua cerita perjalanan adalah cerita tentang kemanusiaan.

*Cerita adalah cara kita berkomunikasi untuk menyampaikan pesan. Esensinya adalah pesan. Bukan bisa dikatakan cerita ketika tak ada pesan di dalamnya. Dan esensi dari cerita atau tulisan adalah narasi. Sedangkan cerita perjalanan bertujuan mengomunikasikan pesan yang ingin disampaikan melalui perjalanan.
*Lalu, apa esensi dari perjalanan? Perjalanan adalah kodrat hidup manusia. Orang-orang melakukan perjalanan untuk kemudian kembali dan menceritakan tentang perjalanannya pada orang lain (fantasi universal). Perjalanan bukan tentang tempat yang jauh, maupun tempat eksotis yang belum pernah terjamah. Melainkan tentang bagaimana kita mengenali diri kita sendiri. Kita bisa melakukan perjalanan di mana saja. Bahkan di rumah sendiri sekalipun.

*Di luar negeri, travel writing digunakan untuk menengok sejarah. Tulisan perjalanan penting untuk belajar sejarah. Banyak tokoh-tokoh yang melakukan perjalanan dan menuliskannya, antara lain : Marco Polo, Ibnu Batutah, Biksu Tong, dll. Perjalanan merupakan mimpi semua orang. Tulisan perjalanan adalah perkara bagaimana mengemas fakta dalam bentuk berita, agar mampu diterima semua orang. Hal itu menjadikan tulisan perjalanan berkesan pada pembaca di waktu apapun. Tulisan perjalanan membantu kita mengenal dunia dan diri sendiri. “Tempat yang paling jauh bukan di ujung dunia, tapi ke dalam diri kita sendiri.”

“The misconception is that the travel book is about a country. It’s really about the person who’s travelling.” – Paul Theroux

*Dari tulisan perjalanan, pembaca harus bisa meraba karakter penulisnya. Hal itu bertolak dari tujuannya agar pembaca harus merasa ikut melakukan perjalanan. Jika tidak, maka akan ada jarak. Tulisan perjalanan yang baik hanya dapat dihasilkan oleh pejalan yang baik. Jika tidak, teknik sebaik apapun akan percuma.

*Dalam menulis perjalanan, sudut pandang yang segar/baru sangat berperan penting. Namun, kita seringkali dijebak oleh rutinitas. Hal-hal yang terus berulang itu menjadi hal yang biasa. Mata kita tidak akan melihat hal yang baru, juga sensitifitas yang sudah tereduksi. Oleh karena itu, ada baiknya kita berpikir dari berbagai sudut pandang. Perlu ditekankan bahwa tidak pernah ada sudut pandang yang salah. Maka, seorang pejalan mesti bersifat terbuka.

*Perjalanan adalah travelling with purpose. Tetapkan apa yang ingin disampaikan (pesan), komunikasi (interview orang lain), observasi (rasa ingin tahu yang besar), juga riset.

*Bagi seorang Agustinus, melakukan komunikasi dengan warga lokal sangat penting. Ia benar-benar merasa sudah benar-benar berada di sebuah tempat ketika ia bisa tertawa dan menangis dengan mereka.

*Observasi mesti dilakukan secara detail.

*Jurnalis wajib melakukan riset. Baik sebelum melakukan perjalanan, saat di perjalanan, sesudah perjalanan, maupun saat menuliskannya. Singkatnya, riset harus tetap ada di setiap tahapan.

*Banyak orang yang melakukan perjalanan untuk membuktikan informasi-informasi yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Namun, sesungguhnya perjalanan bukan untuk membuktikan hasil riset. Karena selain informasi yang didapat belum tentu merupakan kebenaran, juga menimbulkan prasangka yang membuat kita menutup mata pada hal lain. Oleh karena itu, saat melakukan perjalanan, tinggalkanlah semua prasangka.

*Satu hal krusial lain dari tulisan perjalanan adalah kejujuran. Yang dimaksud kejujuran dalam hal ini adalah tidak boleh ada unsur fiksi sedikitpun. Hal itu mempertaruhkan hal besar pada penulis : kredibilitas. Agustinus mencontohkan kasus yang terjadi pada “Three Cups of Tea”, buku perjalanan mega bestseller yang bercerita tentang seorang Amerika yang pergi ke Pakistan. Beberapa waktu setelah terbit, buku itu terbukti bahwa terdapat banyak kebohongan di dalamnya melalui investigasi seorang jurnalis. Hal itu memberikan pelajaran, bahwa jika ingin memasukkan unsur fiksi, katakanlah itu sebagai fiksi. Namun jika tidak, harus 100% berupa tulisan non fiksi.

*Tulisan perjalanan yang baik juga harus melibatkan emosi. Hal itu menjadi penting karena sebuah tulisan harus melibatkan pembaca. Emosi menjadi benang merahnya. “Eat, Pray, Love” merupakan salah satu contoh tulisan yang berhasil menampilkan emosi yang universal pada banyak orang. Buah dari hal itu adalah jumlah penjualan buku yang bagus. Di sisi lain, kita harus berhati-hati dengan emosi. Karena hakikat dari tulisan perjalanan adalah menyeimbangkan emosi dan fakta. Keduanya harus diusahakan agar seimbang, dengan perpindahan yang halus.
“Menulis perjalanan adalah juga sebuah perjalanan.” – Agustinus Wibowo

*Agustinus berkisah bahwa awalnya ia berpikir bahwa perjalanannya akan cukup diceritakan melalui media foto, karena adanya kedekatan antara fotografer dan objek. Kelamaan ternyata ia merasa bahwa penyampaian lewat foto tidak sepenuhnya cukup. Maka ia memilih menyampaikan juga melalui kata-kata, dan menjadi penulis.

Langkah Menulis :
1) Tentukan Tema. Tema adalah ide besar yang mendasari cerita. Tidak berupa kalimat yang panjang. Maksimal satu buah kalimat, bahkan satu kata. Tema besar tidak boleh bertele-tele, tentukan tokoh (bukan selalu manusia, bisa berupa alam, kejadian, ketakutan, dsb).
2) Daftar Ide Pertanyaan
3) Strategi Penulisan. Contoh : Alur, plot, dsb. Meskipun menulis cerita perjalanan yang bersifat non fiksi, namun seorang jurnalis disarankan agar banyak membaca novel untuk mempelajari bagaimana menulis kreatif. Demikian pula dengan penulis yang harus belajar jurnalistik agar mampu menyampaikan fakta secara logis. Tersebut juga genre ‘Jurnalisme Sastrawi’ yang merupakan cara bagaimana memberikan jurnalisme melalui cerita.
4) Menyusun kerangka. Salah satu penyebab orang yang menulis di awal sangat semangat, kemudian di tengah proses merasa bosan, kebanyakan karena mereka menulis tanpa kerangka.
5) Prinsip 5W+1H
*Tulisan perjalanan mengandalkan detail, namun jangan sampai berlebih, hingga mengaburkan cerita anda. Juga harus ada informasi dan konflik. Konflik adalah perbedaan pandangan yang menyebabkan perselisihan tokoh. Selama ini sering terjadi kesalahan persepsi. Konflik bukan pertengkaran, namun apa yang menjadi penyebab pertengkaran tersebut.

*Resolusi dapat berupa penutup, kesimpulan, pertanyaan, dsb.

*Struktur tulisan : Pembukaan, Isi, Penutup. Pada pembukaan, jangan pernah bertele-tele. Paragraf pertama harus menarik dan sudah langsung bisa dideteksi oleh pembaca apa yang ingin diceritakan. Jangan pernah memulai tulisan dengan penggambaran cuaca, suasana, bahkan informasi yang tidak penting.
Contoh tulisan dengan paragraf pembuka yang bagus : “The New Mecca” – George Saunders.

*Cara paling baik untuk membuka tulisan adalah dengan anekdot untuk memancing masalah yang lebih besar selanjutnya. Jika anda membicarakan hal yang berat pada tulisan, jangan letakkan itu di depan. Karena akan menyurutkan niat pembaca untuk membaca lebih jauh.

*Dalam tulisan perjalanan, detail adalah nyawa. Pada deskripsi, lakukan sistem “Show, Don’t Tell.” Ceritakan, untuk membuat deskripsi lebih hidup.

*Dalam jurnalistik, haram menyebutkan kata sifat. Contoh sebagai pembanding :
1. Kereta api ini sangat sesak.
2. Kereta api ini sangat sesak sampai tidak ada tempat untuk lewat.
3. Kereta api ini sangat sesak sampai saya terpaksa harus berdiri dengan satu kaki.
Contoh di atas menunjukkan bagaimana mendeskripsikan kata ‘sesak’. Dalam deskripsi, gunakan panca inderamu, bawa pembaca ke dalam suasana yang tergambar. Jangan memberi tahu pembaca, tapi deskripsikan.

*Dalam tulisan perjalanan menggunakan kata sifat tidak haram, namun harus hati-hati. Karena tidak semua hal harus dideskripsikan dengan detail. Jika cukup dijelaskan dengan kata sifat, tidak apa-apa. Namun, pilihlah kata yang spesifik/detail, bukan generik. Misal : Jangan hanya sebutkan “tinggi” namun jelaskan tinggi yang seperti apa. Hal itu juga berlaku pada kata, seperti : cantik. Cantiknya seperti apa? Apa dia elegan, artistik atau anggun. Juga berhati-hatilah pada kata ‘unik’ karena unik berarti sama sekali tidak ada duanya. Apa kita yakin bahwa hal yang kita beri label unik tersebut memang benar-benar tidak ada duanya? “Paling indah” “Paling ramah” “Paling seru”, berhati-hatilah juga dengan kata “paling” harus ada dasar yang kuat untuk itu. Apa kita sudah menyelidiki semua data, sehingga berani memberi kata “paling”? Berhati-hatilah dengan generalisasi, stereotype, dsb. Untuk memperkaya diri dengan itu, banyak gunakan kamus dan tesaurus untuk mencari diksi yang cocok.

*Hal lain yang harus dihindari adalah klise. Adanya hal yang klise membuat kualitas tulisan anda menurun. Misalkan : “Matahari bersinar cerah” atau “Surga di bumi”, juga contoh lain berupa deskripsi tempat dengan permata, zamrud dan harta karun.

*Creative writing bukan berarti menulis tanpa aturan. Bukan pula ajang pamer diksi. Creative writing yang bagus berarti tulisan yang mampu menyampaikan pesan.

*Kita tidak bisa menggunakan pengalaman pribadi kita untuk menilai sebuah tempat.

*Narasi harus dibuat hidup. Jangan hanya memberi data dan fakta. Caranya adalah dengan membuat dialog. Perlu dicatat, dialog tidak sama dengan percakapan. Percakapan merupakan ucapan sehari-hari yang dituliskan. Misal, masih ada kata-kata seperti “Dar!” “Klik” “Wek” “Ngiik” dalam percakapan. Jangan gunakan kata-kata itu pada dialog kecuali perlu sekali. Juga, jangan beri dialog yang tidak ada artinya. Saring dialog anda, sampai menyisakan hanya yang benar-benar informatif. Contoh ada pada Paul Theroux yang memiliki tulisan dengan dialog yang baik. Ia bisa memberi gambaran, namun membiarkan pembaca yang menilai/berinterpretasi.

*Tulisan yang baik adalah tulisan yang ketika dibaca berulang mampu menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda setiap kali.

*Cara menghidupkan tulisan adalah dengan menghidupkan adegan. Misalnya menceritakan kejadian perampokan tanpa menyebutkan “perampokan”, namun menggunakan deskripsi keadaan perampokan tersebut.

*Setelah menulis, biasakan membaca ulang hasil tulisan. Tulisan yang bagus adalah tulisan yang enak dibaca ulang, bukan tulisan yang monoton (jumlah kata sama, repetitif, bentuk kalimat sama). Oleh karena itu, gunakan semua bentuk kalimat.

*Prinsip jurnalistik : “Less is More”. Semakin ekonomis, semakin kuat tulisan anda. Mengutip pernyataan “Keep it simple, stupid (and short)”

*Berhati-hatilah dengan tulisan yang panjang. Tantangannya adalah harus dinamis. Cerita harus bergerak dan ada perpindahan.

*Sebuah tulisan mestinya harus ‘disedot lemak’ (membuang bagian-bagian yang kurang efektif dan tidak penting) hingga hanya menyisakan sebuah tulisan yang sederhana dan indah.

*Jangan menjabarkan perasaan. Biarkan pembaca yang merasakannya sendiri. Juga jangan berikan semua hal pada pembaca. Karena mereka membutuhkan ruang untuk berimajinasi, berpikir dan memberikan interpretasi. Karya sastra yang bagus adalah yang seperti itu. Yang memberi ruang pada pembaca.

*Penulis perjalanan yang tidak mendalami perjalanannya, akan hanya menulis tentang data. Namun yang mendalami perjalanannya akan memberikan opini dan deksripsi yang menunjukkan bahwa sang pejalan benar-benar berada di tempat yang diceritakan. Seorang penulis perjalanan tidak bisa tidak melakukan perjalanan.

*Bagian penutup yang paling biasa dipakai pada tulisan perjalanan adalah akhir dari perjalanan (secara kronologis). Namun akan lebih menarik apabila dibuat sebuah penutup yang terbuka. Tidak ada kesimpulan di sana, namun justru diberikan pada pembaca. Juga dapat dilakukan teknik ‘penutup melingkar’ dengan memberi kata kunci yang sama pada pembuka dan penutup, juga ada benang merah di antara keduanya.

Tips untuk memulai menulis perjalanan :
*“Nothing is New” berlaku di dalam dunia penulisan. Yang membuat tulisan berbeda adalah cara anda menyampaikan, juga sudut pandang yang berbeda.
*Seorang pejalan mesti memanusiakan manusia. Perlakukan mereka sebagaimana anda ingin diperlakukan.
*Jangan pernah remehkan pembaca. Sembilan puluh persen pembaca lebih pintar dari penulisnya. Cobalah untuk intropeksi diri.
*Berbohong adalah sebuah dosa besar. Hal itu tentu juga berlaku pada tulisan perjalanan yang memijak teguh non fiksi. Kredibilitas anda dipertaruhkan.
*Jangan berhenti sebelum memulai.
*Tidak ada penulis yang langsung menulis bagus. Semua ada proses tulis ulang. “The first draft of anything is shit.” – Hemingway.
*Banyaklah lakukan perjalanan, banyak membaca, banyak menulis.
*Kedalaman adalah sesuatu yang penting. Agustinus mencontohkan, pada Lonely Planet. Ia sudah tak mampu bertahan karena tidak adanya kedalaman/opini. Misalkan sebuah buku terbit di tahun ini, tahun depan sudah akan basi, karena semua orang mampu mencarinya di internet.
*Travel writing adalah tentang sudut pandang. Ada opini, namun berikan opini yang berdasar. Jika tidak dapat menjadi stigma. Setiap pandangan kita harus ada dasarnya.

*Pembaca yang baik, bukan yang kejar setoran. Tapi yang mempelajari apa yang dibacanya.

*Karena tulisan perjalanan adalah tentang detail, seringkali banyak alat yang mampu membantu untuk menyimpan detail. Misalkan kamera atau recorder. Namun, alat bantu yang paling penting jutsru adalah kertas dan pulpen. Agustinus mencontohkan bahwa ia selalu mencatat kejadian dalam buku harian. Ia memberi permisalan bahwa ia bisa menulis dengan detail bagaimana aroma pada penggorengan di India. Sebegitu pentingnya buku harian, maka ia lebih memilih kehilangan dompet daripada kehilangan buku harian.

*Memulai tulisan perjalanannya dengan menulis di blog memberi kesan yang berbeda dengan saat Agustinus menulis buku. Buku harus punya tema besar yang kuat, berbeda dengan blog yang bersifat ‘lepas’.

*Perbedaan antara tulisan perjalanan dan feature travel adalah pada tulisan perjalanan, terdapat cerita dengan unsur personal penulis yang kuat. Sedangkan feature travel belum tentu merupakan cerita perjalanan. Namun feature travel waktu ini sudah bergeser. Tidak melulu membahas destinasi, namun juga memberi ikatan pada pembaca melalui narasi. Karena unsur tulisan perjalan yang bagus adalah yang mengandung unsur komunikasi.

*Bagaimana cara menyikapi menempatkan sejarah pada tulisan, jika sejarah itu masih ‘buram’? Orang bercerita adalah fakta. Kita melihat sudut pandang orang yang bercerita. Sudut pandang orang-orang yang berbeda.

*Tulisan perjalanan memiliki cakupan yang luas. Antropologi, budaya, science, memoar, linguistik, dsb. Oleh karena itu penulis perjalanan harus kuat di observasi dan dialog. Karena dialog sesungguhnya menunjukkan opini.
   


No comments:

Post a Comment