Monday, December 9, 2013

Bicara Buku Indie dengan Kirana Kejora



Kira-kira setahun lalu, di suatu acara, saya tertarik dengan kisah seorang Kirana Kejora, seorang penulis kelahiran Ngawi, 2 Februari tentang bagaimana perjuangannya menerbitkan buku secara indie. Dengan gaya santai dan apa adanya, Kirana bagi saya jauh dari kesan penulis yang ‘berjarak’. Bahkan masih teringat betul apa yang dikatakannya pada saya saat itu. “Jangan takut memilih. Tuhan tidak pernah salah memilihkan.”
Kemudian akhir-akhir ini, buku-bukunya diangkat ke layar lebar. Seorang penulis lain kembali membuktikan ia mampu berangkat dari penerbitan indie. Saya jadi teringat bahwa semakin banyak penulis-penulis yang memilih jalur indie sebagai pilihan langkahnya. Ketika saya tawarkan beberapa pertanyaan sebagai sarana berbagi, beliau menyambut dengan hangat. Hasilnya, sebuah jawaban-jawaban menarik yang bermanfaat untuk siapapun yang memilih menerbitkan buku melalui jalur indie.     

Memang, sudah begitu banyak artikel tentang menerbitkan buku secara indie. Namun, saya rasa pengalaman Kirana bisa memberi satu sudut pandang baru. Silakan disimak! 


Gambar dari wartakota.tribunnews.com


 Menurut Kirana, apa arti penerbit indie dan major?
   
Penerbit indie adalah penerbit yang memproduksi sebuah buku dalam jumlah yang terbatas, tanpa tekanan dan pesanan pihak tertentu serta tak peduli dengan selera pasar, lebih memikirkan idealis diri sendiri atau komunitas yang mau dibidik.

Penerbit major adalah penerbit yang memproduksi buku dalam jumlah yang besar, dengan perhitungan tertentu, membidik pasar dan segmen, lebih profesional, lebih ke industri yang memikirkan benar-benar untung ruginya menerbitkan sebuah produk.

      
 Mengapa pada awalnya Anda memilih untuk menerbitkan melalui jalur indie?

Saat itu di Surabaya minim penerbit buku fiksi atau sastra, saya terbiasa kerja sama dengan   teman-teman indie (band dan club fotografer), saat itu saya ada sanggar model dan teater kecil. Banyak CD lagu-lagu indie beberapa teman yang sukses, memicu saya untuk menerbitkan buku secara indie atas dukungan mereka pula. Semangat berkesenian, itu pada awalnya.

Seni itu bebas. Jadi bagi saya alangkah baiknya saya terbitkan buku sendiri, toh ada dukungan dari komunitas yang saya bentuk dengan teman-teman lintas seni saat itu. Seni yang tidak tergantung pasar, apalagi tekanan. Bebas menerbitkan dan memasarkan bukunya kemanapun dengan cara apapun. Merasa yakin buku laku dengan kemasan serta isinya. Indie bukan berarti sendiri. Dulu saya menerbitkan dan mencetak buku saya sendiri karena awalnya buku-buku saya adalah sebatas curahan hati dan pemikiran pribadi saja yang tak mau diedit siapapun. Menulis saat itu bagi saya adalah obat sakit jiwa. Namun meski indie, saya juga melakukan prosedur layaknya penerbit major, mengurus ISBN serta kerjasama dengan toko-toko buku yang mau menerima buku saya. Saya melakukannya sendiri, dalam arti dari sisi menulis, mengurus ISBN, mencetak, mengemas produk, memasarkan dan promosi. Karena tidak dalam tekanan siapapun, indie, maka saya pun melenggang asyik bisa kerja sama dengan siapapun untuk pemasaran buku saya Kepak Elang Merangkai Eidelweis (2006) novelet dan puisi, Selingkuh (2006) kumpulan cerpen dan puisi, Perempuan dan Daun (2007) kumpulan cerpen, puisi, dan foto, serta Novel Elang (2009), semua buku tersebut edar di toko buku kecil maupun major selain direct selling dari Almira Management punya saya pribadi.

     
Apa saja tantangan dari menerbitkan buku melalui jalur indie saat itu?

Bagaimana buku yang sedikit jumlahnya ini bisa dilihat pasar dengan minimnya ruang untuk pajangannya di toko.

 
Strategi apa yang digunakan Kirana untuk memperkenalkan buku indie pada khalayak?

Saat itu belum ada FB, jadi selain melalui acara-acara lintas seni, share dengan festival Band, pameran lukisan. Saya mengemas pertunjukan promo buku dari panggung ke panggung dengan menampilkan puisi, petikan cerpen dipadu dengan musik atau lukisan. Tak lelah bikin musikalisasi puisi atau menawarkan puisi jadi lirik lagu teman-teman indie yang disambut baik, dan jadilah lagu-lagu mereka dari buku-buku saya.
Foto kegiatan promo buku diunggah di blog multiply selain promo melalui chating dan radio yang tertarik mengundang saya, yang saat itu dilihat sebagai perintis buku indie di Surabaya, hanya bonek saja modalnya. Berani di caci maki, itu saja. Kalau ada pujian anggap bonus. Narsis bagian dari optimis, itu prinsip saya sebagai penulis dan penerbit indie.
  

Ada kejadian menarik yang paling diingat tentang seorang Kirana yang menerbitkan melalui jalur indie?

Saat itu anak sanggar model saya membantu menawarkan buku pertama saya, Kepak Elang Merangkai Eidelweis (KEME) seharga 20 ribu, ke Gramedia Tunjungan Plaza, dia sudah ditolak satpam sebelum bertemu bagian pemasaran. Sementara toko buku lain di Surabaya sudah mengedarkan buku saya dan lumayan laku meski kecil omzet-nya, maklum jumlah buku saya saat itu hanya 500 ex yang edar di Surabaya. Saya penasaran saja, nekad, esoknya membawa 50 buku KEME ke toko tsb. Dan langsung mau bicara dengan manajer tokonya. Saya bilang kalau saya penulisnya. Eh, langsung diterima dengan baik dan beliau bilang begini, ”Sebuah kehormatan saya, didatangi penulisnya langsung.” Rasanya kepala terbang saja saat itu, lha wong saya ini hanya penulis cilik, indie, dan ecek-ecek, namun beliau sangat menghargai kedatangan dan kenekatan saya, atau mungkin kasian dan merasa iba? Entahlah, yang jelas bapak itu langsung menerima buku yang saya bawa, dan bahkan membuka jalur saya untuk bisa lebih luas memasarkan ke seluruh Indonesia melalui bagian pemasaran Gramedia Pusat di Jakarta Timur. Langsung saya diberi contact person, dan segera saya nekad ke Jakarta share dengan bagian pemasaran (gudang). Alhamdulillah setelah saya presentasi, akhirnya mereka minta share 750 ex buku saya, kecil jumlahnya bagi mereka namun besar bagi saya. Semenjak itu saya semakin semangat menulis dan menerbitkan buku secara indie. Karena makin banyak peluang serta guru di jalan yang membantu saya berkembang pada akhirnya.


      Sejauh ini, apa yang Kirana rasakan saat menerbitkan buku secara major dan indie?

Karena saya semakin banyak pekerjaan di FTV maupun film untuk menulis script, maka energi saya mulai terkuras untuk mengurusi penerbitan indie saya. Mengingat untuk penagihan, pengiriman buku memakan waktu dan tenaga, hal ini akan menyusahkan saya tentunya dengan semakin banyaknya buku saya yang terbit. Kapan saya ada waktu tenang menulis lagi? Akhirnya setelah memilah memilih tawaran kerjasama dari beberapa penerbit major, saya pun memilih kerjasama dengan Group Hi-Fest Publishing. Saya nyaman, karena saya sangat diberi penghargaan dalam proses kreatif dari kepenulisan hingga promosinya, mereka selalu mendukung penuh apa yang ada dalam pemikiran saya. Dari layout, pemilihan cover, saya dilibatkan dan kami bisa saling berbagi dengan nyaman untuk kebaikan kemasan produk yang tentu harus lebih baik hasilnya dari buku-buku saya dulu. Serahkan pada ahlinya, itu saya. Saya tetap merasa bebas berkreasi dengan diskusi yang baik serta terbuka dengan penerbit, idealis saya tentu buku saya bisa terbaca dengan baik oleh semua orang dan dapat tersebar seluas-luasnya. Maka saya pun tak lagi bisa egois menulis untuk diri sendiri, namun juga memperhatikan pembaca yang telah mengeluarkan uang untuk beli buku saya, tentu saya juga berusaha tidak mengecewakan mereka. Saya mulai peduli apa kebutuhan pembaca di tanah air dengan dukungan penerbit yang cerdas menyiasati apa yang ada di kepala saya dengan apa yang diinginkan pasar. Terbukti buku-buku saya yang diterbitkan major label bisa bagus hasilnya, dan salah satunya AIR MATA TERAKHIR BUNDA dalam waktu enam bulan sudah cetak ulang 6 kali, hingga diangkat ke layar lebar dan menang di beberapa festival film. Dan yang baru AYAH MENYAYANGI TANPA AKHIR (AMTA) sudah cetak ulang 3 kali dan telah dipinang sebuah PH besar untuk diangkat ke layar lebar.  Sementara yang terbaru PENCARIAN CINTA TERAKHIR baru saja edar.


      Apa perbedaan yang paling besar dirasakan dari penerbit indie dan major?

Lebih nyaman menulis, karena telah ada tim kreatif yang mendukung dari penerbit major. Mereka lebih tahu dari saya apa yang terbaik bagi tulisan saya. Saya banyak belajar tentang ‘selling point’ sebuah buku.

      Apa tanggapan Kirana dengan semakin banyaknya penulis-penulis yang memilih jalur indie untuk berkontribusi dalam dunia literasi?

Ya asyik saja. Semakin banyak penulis baru lahir dan berani menerbitkan bukunya. Hanya sayang banget setelah terbit mereka lupa merawatnya. Buku itu adalah bayi, bagaimana kita menumbuhkembangkan dia menjadi seorang anak manis yang banyak disukai orang karena sehat, lucu, cantik, ganteng, dan menyenangkan. Artinya, banyak teman-teman hanya efouria saja menerbitkan buku indie, launching besar, namun minim di promosi berikutnya. Dulu kemanapun saya pergi, di dalam tas saya selalu ada buku-buku saya buat saya promosikan dimanapun saya berada. Jangan pernah malu membawa buku kemanapun kita jalan, karena buku itulah sayap kita untuk terbang.


      Sebagian khalayak masih menilai buku-buku indie belum sebaik buku-buku dari penerbit major. Bagaimana Anda memandang masalah ini?

Ya nyatanya memang begitu. Karena keterbatasan tim kreatif yang tidak melakukan riset pasar saja saya kira. Riset bagaimana sebuah buku itu bisa diterima, dilihat dan dibaca banyak orang, bukan hanya komunitas saja, hal ini sangat penting!

     
      Ada tips yang bisa dibagikan untuk penulis yang memilih menerbitkan buku secara indie?

-          Berani dengan ide, jujur dengan tema.
-          Jangan setengah-setengah.
-          Berlakulah layaknya major label yang berpikir untung ruginya baik dari sisi nilai maupun harga sebuah buku.
-          Ramahlah dengan pembaca, jaga mereka.
-          Layani pembeli siapapun dia dengan sama, adil.
-          Belajar professional di promosi maupun penjualannya.
-          Terus semangat promosi dengan kata-kata yang tidak hanya inspriratif, kreatif, komunikatif, tapi juga provokatif.
-          Serius dalam hal marketing komunikasi, peka terhadap pasar dan sponsor.
-          Jangan sepelekan selling point buku : Judul, Cover, Harga, Kemasan, Kertas, Tagline, Sinopsis atau petikan buku di back cover, serta harga. Ini kunci sebuah buku indie agar terlihat diantara ribuan buku yang setiap hari lahir dan terpampang mewah di rak-rak toko.
-          Banyak mendengar dan bertanya pada orang yang memang tepat sebagai praktisi buku atau penerbitan.
-          Jalin selalu kerjasama yang nyaman dengan pihak distributor maupun toko.
-          Jangan sungkan menawarkan kerjasama dengan siapapun.
-          Percaya diri, yakin buku kita laku!
-          Semua buku punya takdir sendiri-sendiri



Mungkin akan banyak luka dan perjuangan Anda menerbitkan karya melalui jalur indie. Namun mengutip prinsip Kirana, “Derita itu sebuah kekuatan, bukan kematian. Dan luka itu menghasilkan karya. Tidak ada pilihan lain selain ‘mengolah luka’, berdiri dan kembali berjuang.

-Nabila Budayana-



1 comment:

  1. makasih kak...
    aku suka karya kirana kejora
    begitu nyata!
    namun selalu menyisipkan pesan kehidupan
    seperti novel ELANG :-)

    ReplyDelete