Wednesday, November 13, 2013

#5BukuDalamHidupku | Mengantongi 50 Ribu



Selain pecahan uang berwarna biru, kami sebelumnya tak memiliki definisi lain akan angka lima puluh ribu. Ah, tunggu. Mungkin ada satu : kami sama-sama menganggap lima puluh ribu adalah delapan gelas minuman cincau yang menemani (lebih dari) lima jam pertemuan kami setiap kali. Bertemu pertama kalinya di salah satu acara workshop, juga merasa memiliki kesamaan minat pada hal yang sama, kami mengumpulkan tekad, kemudian menyatukannya. Setelah di akhir tahun sebelumnya berhasil merampungkan sembilan puisi, sepuluh cerita pendek, juga sebelas fiksi pendek di dalam satu sampul yang sama, kami melangkah kembali. Mungkin hanya langkah kecil dan perlahan, namun pasti. 

Saat itu pun begitu. Kami bertemu, di antara obrolan ringan, tercetus kalimat “Kita harus bikin proyek bareng lagi” Enam kepala, lima perempuan dan satu laki-laki, sama-sama tak melahirkan ide baru. Buntu, suram, tak menemukan. Lalu ada satu celetukan dari hasil candaan : “Lima Puluh Ribu!” berlanjut ada yang menyahut untuk menjadikan Lima Puluh Ribu sebagai benang merah. Ide-ide itu datang.  Berbeda, namun kami gabungkan. Dipilah dan disatukan. Didiskusikan dan diperdebatkan. Setuju, tidak setuju. Dipilih dan diganti sana-sini. Hingga akhirnya kami menemukan satu konsep baru yang disetujui semua kepala. 

Kami mencoba melangkah setapak lebih berani. Mencoba konsep baru yang lebih bebas. Mendatangi tempat di mana kami bisa bermain, dan bersenang-senang. Kisah bukan lagi dimiliki seseorang secara utuh. Namun dibagi. Kami berbagi ruang. Kami berbagi plot dan tokoh. Kisah ditulis estafet. Bahkan sang pencipta kisah di awal tak akan tahu bagaimana kisah akan menjadi. Seorang marah-marah karena tokohnya yang ‘dihancurlebur’kan, seorang terkejut karena mendapati ekspektasi yang berbeda, sementara sisanya sibuk komat kamit berdoa demi undian setiap minggu untuk menentukan urutan. Bukan berarti semua berjalan lancar-lancar saja. Proyek ini susah bagi kami. Tenggat waktu yang rapat, genre dan gaya tulisan yang berbeda-beda, pembagian tugas hingga ke penerbitan, ketidaksamaan persepsi, perdebatan kecil, semuanya terkadang membuat frustasi, dan ingin berhenti. Namun ada satu yang membuat kami terus mencoba : keinginan agar proyek ini rampung dan mampu dibaca banyak orang nantinya.  

Setelah proses menulis selesai, kami pontang panting mengurus semua keperluannya, hingga mengatur mini launching sendiri. Melobi kanan-kiri, demi menepatkan kelahirannya persis di tanggal 10-11-12. Sepuluh November 2012. Lanjutan dari buku kami sebelumnya di 9-10-11. Sembilan Oktober 2011. Beruntung, banyak pihak lain yang dengan murah hati membantu keperluan-keperluan kami. Mengembus napas lega, sore itu melaju lancar untuk kami. Cukup banyak teman-teman yang berkenan hadir. Bukan acara besar, memang. Namun terasa cukup bagi kami. 

Hingga hari ini, jika ditanya proyek apa yang paling mengasyikkan? Kemungkinan besar saya akan menjawab “50 Ribu”. Karena saya (dan kami) belajar banyak hal. Bagaimana melepaskan beban ketakutan, mengenyampingkan keinginan masing-masing, menghargai satu sama lain, menyatukan karakter yang jelas berbeda. Mereka adalah partner, juga teman. Bahwa mungkin kelak sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi, berapapun itu, saat kami mungkin sudah alpa atau lupa, akan ada kenangan bahwa kami pernah melahirkan “50 Ribu” bersama. 

Kadang kala ada kerinduan dari saya untuk menemui mereka kembali di proyek-proyek baru. Namun saya memang suka lupa. Terkadang ada beberapa hal yang mesti kami maklumi bersama. Kesibukan yang mengikat, jarak yang semakin lebar, juga waktu yang terus terasa minus. Saya mengatur langkah, dan membawa lembar(an) “50 Ribu” di kantong saya.

- Nabila Budayana -




No comments:

Post a Comment