Tuesday, November 12, 2013

#5BukuDalamHidupku | Penumpang Tetap Kereta Tidur

"Di baris ketujuh sebelah kiri, empat kursi dari ujung, Tuhan duduk dan menangis. Di tangannya tergenggam sebuah dadu. Pada semua sisinya tertulis : dosa."


Semoga saja saya diizinkan mengutip kalimat akhir dari sebuah cerita pendek berjudul "Perempuan Pertama" oleh sang penulis, Avianti Armand. Selain karena terasa hidup, kuat, berani namun juga melankolis, saya memiliki kesan tersendiri di dengan kalimat itu.

Di sebuah bangku di ujung meja panjang, sembari menunggu pesanan, di salah satu rumah makan di Kota Malang, saya tenggelam kembali sebagai 'penumpang' "Kereta Tidur". Entah itu proses pembacaan ulang yang keberapa, saya lupa. Yang jelas, saat itu saya memilih membawanya, selain karena saya yang belum bosan dengan kisahnya, juga karena jumlah halamannya yang tak terlalu banyak, membantu punggung saya tak memanggul terlalu banyak beban bawaan. Mendung itu tak membuat saya berdiri di selasar rumah makan dan melayangkan kenangan. Justru saya sibuk membaca ulang "Kereta Tidur". Sesungguhnya sedikit banyak saya cukup menyebalkan. Ketika obrolan di antara teman sudah kurang menarik bagi saya, saya akan kabur pada halaman-halaman buku. Kali itu pun begitu. Meski sudah kesekian kalinya, Tuhan masih menangis di baris ketujuh. Saya ulang, ulang, ulang dan ulang kembali kalimat penutup itu. Ada apa? Mengapa Tuhan selalu menangis? Mengapa di kursi keempat, baris ketujuh? Mengapa di semua sisi dadu tertulis dosa? Saya tenggelam dalam pertanyaan di antara keramaian obrolan teman-teman. Saya sibuk menelaah. Saya sibuk mencari jalan menelusuri lorong-lorong pikir seorang Avianti. Sebelum saya berhasil menyusurinya, bangku di sebelah saya berderit tergeser. Seseorang menempatinya. Saya mengalihkan pandangan, mencari tahu siapa yang duduk di sebelah saya. Ternyata seorang teman yang sudah lama saya kenal, namun tak pernah cukup lama kami berbincang atau berdiskusi. Ia bertanya, apa yang sedang saya baca. Saya menjawab dengan menunjukkan sampul awal dari "Kereta Tidur". Dia tak begitu suka membaca, dan menanyakan hal-hal kecil tentang buku yang saya pegang. Siapa penulisnya, novel atau kumpulan cerpen, bagus atau tidak, dan sebagainya. Entah untuk basa-basi atau benar-benar ingin tahu. Saya jelaskan dengan riang. Entah karena saya yang otomatis semangat bicara setiap bercerita tentang buku bagus, atau karena memang suasana hati yang sedang ingin bicara banyak. Beberapa pasang mata teman menatap kami bicara. Maklum, kami kombinasi yang cukup 'aneh'. Mungkin sebagian mereka bertanya-tanya apa yang kami bicarakan. 

Lalu saya tunjukkan padanya tentang kalimat penutup yang indah itu. 
"Coba deh, baca ini" jari saya menunjuk pada halaman di mana kalimat itu berada.
Ia sejenak tenggelam dalam diam. Nampaknya berkosentrasi betul dengan kalimat di hadapannya. Entah karena ingin, atau sekadar tak enak hati pada saya. Sesaat, ia mengembalikan buku itu ke tangan saya dibarengi cengiran khasnya. Nampaknya ia pun sibuk menelaah. Saya kembali mempersuasinya bahwa kalimat itu hebat. Ia hanya kembali nyengir. 

Saya tak ingat bagaimana awalnya, kami tiba-tiba bicara tentang Tuhan. Kebetulan kepercayaan kami berbeda. Juga tak biasanya ia bicara serius. Mungkin kali itu saja. Sempat saya kira kami akan berbeda dan sedikit menimbulkan percikan di antara pendapat. Namun, ternyata, kami justru saling bertanya. Timbal balik, tukar opini dan ilmu. Ia memberikan pandangan baru terhadap saya tentang Tuhan. Beberapa bagian tak mampu ia jelaskan. Katanya, saya hanya bisa mengerti itu ketika saya berada di posisi dirinya. Saya masih bertanya. Ia menyederhanakan kalimat. Kemudian kesempatan itu juga saya gunakan untuk menanyakan sejarah dari beberapa cerita yang ada di "Kereta Tidur" tentang bagaimana yang tertulis di kitab sucinya. Tak terlalu banyak yang saya dapatkan, namun cukup. Dari saat itu saya belajar banyak tentang hal-hal baru yang mempengaruhi cara berpikir saya hingga saat ini. Terutama tentang perbedaan kepercayaan. Mulai saat itu saya bertransformasi dari seorang 'penumpang' yang hanya duduk dan memandang jendela, menjadi 'penumpang' yang mulai berani berjalan di antara lorong kereta.  

***

Seorang ibu paruh baya yang tak pernah menangis di depan putri yang disayanginya, tiba-tiba tak mampu menahan air matanya. Sang gadis bertanya-tanya apa yang terjadi dengan sang ibu. Nyatanya, sang ibu menyaksikan kejadian yang membuat batinnya terguncang luar biasa. Ia bertemu dengan sang suami, ayah sang gadis, yang menghilang dan telah lama ia tunggu. Sayang, pertemuan itu tak membahagiakan. Sang suami justru nampak tengah menjalani rumah tangga bahagia dengan seorang wanita pemetik teh.

Itu sepenggal adegan dari cerita pendek yang sempat saya tulis untuk satu sayembara. Lalu di mana peran "Kereta Tidur"? Saya menceritakan bahwa sang ibu, di tengah kesedihannya, menyempatkan diri tenggelam dalam halaman-halaman "Kereta Tidur" dan merasa senasib dengan tokoh perempuan berbaju putih yang duduk di kursi tunggu berwarna kuning, Naomi. Mereka sama-sama terjebak penantian, kisah yang salah dan masa lalu. 

Tak saya sangka, cerita pendek itu mendapat apresiasi yang baik dari juri. Mungkin sekadar keberuntungan, atau karena ada Naomi di dalamnya? Entahlah. Namun cerita pendek itu berhasil meyakinkan saya bahwa tulisan saya tak terlalu buruk. Juga sebagai sekelumit kecil bentuk apresiasi saya terhadap Kereta Tidur. Ucapan terima kasih karena saya telah diberikan tempat sebagai 'penumpang tetap'nya. 'Penumpang tetap' yang selalu ingin menulis dengan sama indahnya.

***


Dalam cerita pendek  berjudul "Sempurna" saya menemukan sebagian gambar dari hidup saya, dan mungkin sebagian perempuan lainnya yang selalu merasa kesal diperbandingkan seperti benda. Juga memperhatikan orang lain yang selalu terobsesi dengan kesempurnaan. Bahkan hingga harus menyakiti diri sendiri. Ironis, namun ada. Bahkan membuat saya selalu bertanya, hingga pada tahap apa saya ingin menjadi Lara yang selalu ingin sempurna hanya untuk sekadar menuruti keinginan untuk 'terlihat'. Tak ada yang benar-benar sempurna. 

***



Buku ini mengubah hidup? Ya. Memberi kesan dalam di diri saya, mengantarkan pada pandangan-pandangan baru, juga membuat saya (setidaknya) terus mencoba bergerak dan menulis seindah dan sebaik itu. 

***

Saya pun masih menjadi penumpang tetap "Kereta Tidur" dan menikmati metafora indah, juga pesan yang melekat melalui jendela setiap kali. Terkadang mungkin saya turun dan menumpang kereta lain. Namun setumpuk tiket Kereta Tidur masih ada di genggaman, dan siap digunakan kapan saja.


- Nabila Budayana -

No comments:

Post a Comment