Pages

Thursday, February 26, 2015

Kamisan 3 season 3 : Prasangka

Wanita itu masih mendengarkan dengan begitu jeli. Jam dinding di rumahnya berdetak seakan makin cepat. Ia curiga. Tik tok. Tik tok. Jangan-jangan kepalanya sendiri yang menghitung tak tepat. Ia salah mendasarkan perhitungannya pada detak jantungnya sendiri yang ketukannya makin lama makin kencang. Diiringi gelisah, kepala Sang Wanita dipenuhi dugaan. Apa kecerobohannya menumpahkan tepung saat mengayak berarti langkah yang terjerembab di luar sana. Apa lamunannya yang membuat calon adonan terlalu lama dikocok berarti hati yang tak tenang untuk seseorang yang dipikirkannya. Apa kealpaannya menentukan suhu yang salah berarti impian yang hangus di suatu tempat yang lain. Ia sama sekali tak mengerti. Pada akhirnya, ia memilih untuk menutupi kegelisahannya dengan mengatakan bahwa semuanya adalah prasangka belaka.

*** 

Bertahun lalu wanita itu merasa dunianya berubah seketika. Hatinya tak lagi pada putaran dirinya sendiri. Dunianya selalu penuh dengan kewajiban menulis kisah orang lain ke dalam artikel singkat majalah wanita. Matanya menemukan petualangan baru untuk melihat dunia di luar sana. Dunia yang begitu besar dengan hati yang lapang dan bijaksana milik Sang Pria. 

Pertemuan mereka sama sekali tidak disengaja. Ini terlihat klise. Tentang wanita yang mewawancara seorang generasi ketiga kebangsaan Belanda yang kerap mendengar kisah perjuangan sang kakek ketika mesti menjadi bagian dari Perang Dunia 2. Wanita itu terkesima bagaimana Sang Lelaki bermata biru redup mengisahkan ulang tentang kekelaman Rotterdam dan Middelburg yang dihujani bom secara besar-besaran. Berapi-api, ia seakan menghadirkan kakeknya kembali dengan deskripsi suasana dan ketegangan antara hidup-mati. Bahkan juga rasa kebangsaan sejati yang sangat kental, meski Sang Lelaki saat ini memutuskan untuk memilih tinggal di Amerika. Diam-diam, Sang Wanita merasa kesal. Bisa jadi, kakek Sang Pria mengesankan di hadapannya adalah salah satu Londo yang membuat negaranya dijajah selama ratusan tahun. Tapi kali itu ia mampu menyeimbangkan rasa dan logika. Itu sudah berlalu, dan kini ia mesti mendasarkan dirinya pada sikap profesional.

Obrolan hangat itu berakhir pada mereka yang saling berbagi cerita hidup dengan sepotong Red Velvet dan teh hangat untuk masing-masing. Sang wanita sempat menolak tawaran beberapa buah Poffertjes. 
"Maaf, saya tak terlalu suka rasanya,"
"Ah, seleramu sangat Amerika, rupanya." 
Sang Wanita agak merasa lucu. Ketika teman laki-lakinya sedang begitu menggandrungi kopi, bule Belanda di hadapannya justru sangat menggemari teh. Sang Lelaki bahkan tak goyah sedikitpun dengan promosi membusa Sang Wanita tentang Kopi Gayo atau Kopi Luwak. Berpendirian. Mengesankan.   

Baginya, laki-laki di hadapannya berdiri di dua negara yang bahkan turut andil dalam pengakuan kedaulatan negerinya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa akan melelahkan untuk menilai segala sesuatunya dari sejarah. Laki-laki di hadapannya masih membuatnya berhasil menciptakan kekaguman.

***
Sang Wanita mengabarkan artikel yang telah dimuat. Mereka berjanji untuk bertemu kembali. Alasannya untuk saling mendiskusikan hasil jadi artikel yang telah terbit. Meski begitu, keduanya tak mampu menutupi bahwa justru sebagian besar hati mereka tergerak untuk menemukan kenyamanan yang sama satu sama lain. Obrolan dan tukar pikiran. Berdiskusi dalam merasa dan menilai segala sesuatunya. 

Red Velvet kedua hari itu berhasil membuat Sang Wanita kesal sekaligus bahagia. Meski harus merasakan sakit karena gigi yang ngilu, bahagia pun ia terima ketika tahu bahwa cincin lah yang terkunyah olehnya. Sementara laki-laki mata biru di hadapannya tak mampu menahan tawa. Sang Wanita begitu menyesal mengapa ia mengenakan celana cargo dan kaos yang sangat kasual hari itu.

"Lain kali, jangan letakkan cincin di dalam kue." sang wanita berlagak mengambek
"Tentu tak ada lain kali. Saya tahu tak perlu melamarmu dua kali. Bukankah jawabannya "ya"?" Laki-laki itu mengerling usil.

*** 

Gelisah Sang Wanita belum juga habis. Justru semakin menjadi. Tak mampu dihitung lagi berapa kali ia menatap pada jam dinding. Tak habis-habisnya ia memainkan cincin di jari tangannya. Percobaan keenam kali membuat Red Velvet tak pernah lepas dari lidah penguji : sang suami. Pernah terasa enak, meski esoknya keras atau hangus. Ia selalu membutuhkan komentar lelakinya. Namun kali ini berbeda. Apakah ia masih boleh berharap? Mulutnya komat-kamit mengucap doa. Hatinya tak pernah lepas dari ketakutan akan kehilangan sang suami yang pamit menuju Amerika untuk mengurus keperluan perpindahan, sebelum ia berganti kewarganegaraan merah putih. Namun berita pesawat yang kehilangan kendali membuatnya cemas dan berharap itu bukan penerbangan Sang Lelaki. Ia terus saja menunggu berita...

***

Takdir boleh saja bertindak kejam. Kecemasan Sang Wanita bisa ditafsirkan apa saja. Siapa sangka Sang Pria telah mengabaikan segala rasa dan berpura-pura. Di tengah gemerlap New York, ia tengah menikmati kue berikutnya. Red Velvet yang tak pernah gagal dalam tampilan dan rasa. Di cake shop itu, ia menggenggam erat tangan wanita. Wanita kebangsaan Amerika penggemar makanan manis dengan lipstik semerah kue di hadapannya.



*ditulis untuk Nulis Kamisan 3 #3

Thursday, February 12, 2015

Lautan


Sudah lama aku berangan ingin merasakan lautan, yang selama ini hanya terbatas dalam pandangan. Keinginan itu sempat kukira hanya akan menjadi kenangan. Namun ini keajaiban.

***

Pertama kali aku melangkah, mataku tak bisa lepas dari air yang begitu biru dan tak berbatas. Dimana langit dan laut seringkali menyatu, sulit dipisahkan. Ini terasa sangat berbeda. Dimana langit sangat oranye ketika matahari pulang, sedangkan air tercemar warnanya. Ombak terasa tak pernah habis. Bergerak, memberikan dinamika, seakan marah atau bicara. Aku bebas bermain pasir, berlarian, berenang dan menyentuh air.

Tak ada yang sanggup kuajak bicara, kecuali angin yang tak habis menderu. Seakan berteriak atau bernyanyi. Kukira dunia luar berhasil membuat bahagia. Lautan menemukanku pada seorang pria yang pertama kali menganggapku seorang wanita luar biasa. Yang selalu berhasil membuatku merasa istimewa.

***

Belakangan, hariku habis hanya untuk memandang wanita itu. Yang selalu menatap laut dengan mata yang menyimpan cerita. Kadang ia hanya menatap lama sembari bersenandung kecil. Sesekali ia berteriak, melampiaskan amarah pada lautan. Kemudian, ia juga pernah menangis sekeras-kerasnya, seakan ingin menandingi deru ombak. Aku bertanya-tanya, apa yang sesungguhnya ada dalam pikirannya? Sebegitu rumitkah manusia? Aku terlalu penasaran untuk mengabaikannya.

"Apa yang sedang ibu bayangkan?"
Ia hanya tersenyum tanpa berkata. Tetapi ia tersenyum, sedetik kemudian berubah tangisan. Mungkin ia gila. Raut wajah paruh bayanya membuatku tak tega. Aku ingin menggenggam tangannya.
"Anakku hilang di sini. Di pantai ini," air mata masih terus saja meleleh di pipinya.

***

Pria itu begitu mencintaiku. Pertemuan pertama kami di pantai ini membawa kami ke perjalanan hati yang jauh. Ia mengetahui kondisiku yang sementara. Ia bahkan tahu kapan hari terakhirku tiba. Aku tercengang ketika ia berkata ingin menggantikan posisiku agar aku selamanya merasakan lautan dan dunia. Bukan seekor kunang-kunang yang hanya terperangkap sarang ciptaan manusia.

Kini aku tak sanggup berkata-kata lagi pada wanita itu, selain menggantungkan sarang di sana. Sang Ibu hingga kini terus di tempatnya. Memandang lautan, menginginkan putranya pulang. Tanpa pernah percaya dan menerima bila lelaki itu ada di sana. Di hadapannya. Terperangkap di sarang kecil, menemaninya melihat lautan. Menjadi seekor kunang-kunang, seperti diriku sebelumnya.




*Ditulis untuk Nulis Kamisan 3 #2

Wednesday, February 11, 2015

LPM GRI Sby : "Di Balik Toko Buku"

Pembaca sekaligus pembelanja, pasti kerap menyambangi toko buku sebagai surganya. Kehabisan bahan bacaan, toko buku menjadi jujugan. Kini, toko buku tak hanya didominasi oleh satu nama besar. Toko-toko buku lain semakin menjamur dengan menawarkan berbagai rupa pelayanan yang menarik.

***

Berdasarkan permintaan beberapa teman yang ingin mengetahui lebih jauh tentang toko buku, di tanggal 31 Januari 2015 GRI Surabaya berinisiatif untuk menjembatani diskusi antara pihak toko buku dengan pembeli, yang seringkali hanya terhubung melalui sosial media atau kertas-kertas di kotak saran.

Dibantu oleh Bapak Poedjiono, General Manager toko buku Togamas sekaligus Store Manager Petra Togamas Surabaya, materi dengan tema "Di Balik Toko Buku" diberikan oleh Ibu Margaretha Debby selaku Store Manager Togamas Diponegoro Surabaya. Kota yang diguyur hujan deras siang itu tak menghalangi teman-teman untuk hadir di Oost Koffie & Thee. Beberapa dari mereka bahkan agak kuyup sepanjang perjalanan. Saya harus angkat topi untuk semangat mereka. Namun usaha itu tak sia-sia, ternyata. Selain mendapatkan ruang diskusi yang menarik, di akhir pertemuan ada kejutan spesial dari Ibu Debby untuk kami semua yang hadir.  

Dalam berbagi kisah tentang manajemen toko buku, Ibu Debby begitu banyak menyinggung sang founder jaringan toko buku Togamas, alm. Bapak Johan Budi Sava. Kedigdayaan Toko Buku Togamas diawali dari beliau, seorang mahasiswa yang tak rampung menyelesaikan beban kuliahnya. Seringkali berkumpul dan ngobrol dengan para mahasiswa membuat Bapak Johan Budi seringkali mendengar persoalan-persoalan yang dihadapi mereka. Salah satunya adalah harga buku yang belum terjangkau. Padahal, mereka sangat membutuhkan akses untuk buku-buku diktat yang menyangkut proses pembelajaran. Dengan berbekal kecintaannya pada membaca, tercetuslah sebuah toko buku kecil yang dimulai di ruang tamu kediaman Pak Johan di tahun 1999. Tujuannya, mengadakan sebuah toko buku yang memberikan diskon, namun tetap menawarkan kualitas buku yang sama, dengan sasaran utama, para mahasiswa.

Di Surabaya dan beberapa kota lainnya, toko buku Togamas telah begitu dikenal sebagai toko buku berdiskon. Menurut Ibu Debby, setiap cabang Togamas, secara sendirinya memiliki daya serap pasar yang berbeda, kebanyakan ditentukan oleh koleksi yang dimiliki. Untuk toko buku yang menyajikan banyak buku-buku diktat dan keperluan sekolah, akan memiliki pelanggan yang kebanyakan merupakan pelajar dan mahasiswa. Dengan koleksi yang lebih banya tentang sastra, akan mengundang masyarakat umum, begitu juga toko buku dengan kebanyakan koleksi buku religi. Tak heran, secara sendirinya, masing-masing toko memiliki dominasi pelanggan yang berbeda.

Karena ada pertanyaan tentang, “Mengapa Togamas bisa berdiskon?” Ibu Debby menjelaskan dengan cukup jelas bahwa Togamas memilih untuk memangkas biaya lain seperti biaya AC atau fasilitas lain, sehingga dapat dialokasikan untuk harga buku yang lebih terjangkau dibanding toko buku yang menjual buku dengan harga normal. Dengan itu, ada harapan agar setiap orang bisa membeli buku. Di sisi lain, semakin banyak pula toko-toko buku baru yang mengadopsi program diskon yang serupa. Namun Togamas tidak menganggap toko buku lain sebagai pesaing, justru sebagai partner dalam menumbuhkan minat membaca masyarakat. Menurut Ibu Debby, jika profit mampu bertambah setiap tahun, rasanya tak perlu menganggap toko buku lain sebagai pesaing.

Ditanya apakah ada perlakuan berbeda dari toko buku tentang penerbit besar dan kecil, Ibu Debby mengatakan tidak ada, berdasarkan prinsip Pak Johan yang tidak membedakan penerbit apapun. Meski tidak membatasi penerimaan buku, tetap harus ada evaluasi terhadap hasil penjualan suatu buku. Ada masa 3 hingga 6 bulan bagi suatu buku untuk diretur. Beliau mengatakan, setiap buku memiliki umurnya di toko buku masing-masing. Rata-rata untuk setiap judul berusia 1 hingga 3 bulan. Setelah 3 bulan, buku akan cukup susah untuk diangkat jumlah penjualannya. Toko buku berkewajiban untuk membuat laporan tentang hasil penjualan.

Tentang perilaku buku, Ibu Debby membaginya menjadi 4 jenis. Jenis pertama, grafik yang dimulai dengan tingkat penjualan kecil kemudian terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu. Biasanya judul dengan jenis pertama ini, dari awal terbit menghasilkan jumlah penjualan yang biasa-biasa saja, namun karena ada sesuatu hal, penjualannya menjadi melejit dan terus naik. Jenis kedua berkebalikan dengan jenis pertama. Judul buku dengan jenis kedua memiliki ciri sangat besar nilai penjualannya di awal, namun terus menurun seiring berjalannya waktu. Jenis kedua ini biasanya sangat meledak di saat launching, namun tak mampu bertahan lama. Tipe ketiga, buku tesebut memiliki life time yang panjang, meski rata-rata hasil penjualannya stabil (biasa-biasa saja). Contoh tipe ketiga adalah kamus maupun kitab suci. Jenis terakhir menunjukkan grafik penjualan yang naik-turun. Buku-buku tersebut biasanya mengalami kenaikan penjualan ketika kepopulerannya meningkat karena adaptasi ke film atau hal lainnya.

Lantas, bagaimana dengan penulis self publishing yang ingin menitipkan bukunya di toko buku? Togamas selalu terbuka untuk penulis-penulis indie. Meski begitu, ada beberapa aturan yang perlu dilakukan. Misalnya saja hal-hal yang berhubungan dengan usia buku dan laporan penjualan. Sisanya, dapat dilakukan kesepakatan langsung dengan pihak toko. Untuk penerbit major, dalam kerjasamanya, Togamas menjemput bola maupun mendapatkan penawaran langsung. Dalam menitipkan buku yang diterbitkannya, penerbit juga melihat prospek, laporan administrasi serta kerjasama yang baik dari toko buku yang dituju.

Ibu Debby juga memberikan saran kepada para penulis. Berdasarkan pengalamannya mengamati perilaku konsumen dan perilaku buku, alangkah baiknya ketika seorang penulis juga memikirkan strategi promosi buku yang telah diterbitkan. Beberapa cara diantaranya adalah dengan menyusun program marketing dan display buku yang menarik. Dicontohkan dengan Seri Supernova : Gelombang yang ditulis oleh Dee Lestari. Gelombang di-launching dengan cara yang berbeda di tiap kota. Penulis yang disampaikan melalui penerbit meminta toko-toko buku untuk diadakan cosplay tokoh dari buku yang menyapa calon pembeli, hadiah merchandise berupa kaos dan mug, bahkan musik horor yang diputar di toko buku. Di samping acara launching yang menggebrak, penulis dan penerbit dapat bekerja sama untuk mengemas konsep promosi dengan merchandising maupun bermain di display toko buku. Toko buku akan sangat terbuka untuk membantu dalam menampilkan display yang menarik.   

Kami kemudian bertanya apa parameter yang membuat suatu buku digolongkan dalam rak best seller atau new release. New release mencakup buku-buku yang baru terbit dalam rentang waktu satu bulan. Sedangkan Best Seller dihuni oleh buku-buku yang telah mencapai nilai penjualan tertentu.

Dalam mengembangkan toko buku, diperlukan program-program yang menarik, sebagai bentuk promosi kepada pelanggan. Namun, bagaimana ide tersebut berasal? Beliau justru mengatakan bahwa ide-ide program itu didapatkan dari para pelanggan yang memang memberikan saran untuk toko buku kesayangan mereka. Program-program ini sangat menunjang hasil penjualan, karena memberikan fasilitas-fasilitas yang disukai oleh pelanggan.

Dengan maraknya penjualan online beberapa tahun terakhir, Ibu Debby membagi sarannya untuk para penjual buku, bahwa toko buku online akan timpang tanpa toko buku offline, dan sebaliknya. Pada hakikatnya, sebuah bisnis harus terus mengikuti perkembangan dan pasar. Bagaimana nasib buku-buku cetak yang mesti berdesakan, berbagi tempat dengan e-book, apakah juga menjadi ancaman bisnis toko buku offline? Buku cetak masih akan terus dicari, dibuktikan dengan semakin banyaknya toko buku offline yang bermunculan. Dengan optimisme yang sama, penulis dan penerbit baru bertambah dalam jumlah yang tak disangka-sangka banyaknya.

Lantas, mengapa harga buku terus menjadi mahal? Nyatanya setiap tahun harga buku selalu naik sekitar 10 hingga 20 persen. Hal tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bakar, sehingga ongkos ekspedisi dan otomatis harga buku pun menjadi meningkat. Mengapa harga buku juga bisa jatuh? Hal itu terjadi pada buku-buku yang diobral oleh penerbit, maupun buku-buku yang berada di gudang toko buku. Diskon biasanya mencapai 50 persen. Untuk buku-buku dengan permintaan yang banyak, penerbit akan melakukan cetak ulang. Harga buku-buku lokal dipengaruhi oleh bahan baku dan percetakan. Sedangkan untuk harga buku impor yang mahal, jelas dikarenakan adanya pajak untuk buku-buku fiksi. Sedangkan buku-buku non fiksi tersubsidi dengan tidak dibebankannya pajak.

Mengakhiri sesi bincang sore itu, Ibu Debby berharap akan semakin banyak orang yang mencintai toko buku, berujung dengan cinta kepada buku dan mengajak orang lain untuk rajin membaca.

Kecintaan dan idealisme Johan Budi Sava untuk meningkatkan minat baca masyarakat melalui toko buku terwujud bahkan mengepak lebar hingga saat ini. Tertarik mencoba juga?    
   
  

Thursday, January 29, 2015

Hari Pengharapan

Sudah beberapa tahun ini, wajah-wajah di kota itu tak jua mengalami perubahan. Wajah tua dan muda nyaris sama. Wajah mereka seluruhnya pucat, tak merona. Matahari sudah lupa datang ke kota ini, rupanya.

Kota seakan selalu diselimuti kabut setelah hujan turun. Tinggal di dalam kesuraman yang sama selama bertahun-tahun membuat seluruh kota merasa ditempatkan pada sebuah penjara bawah tanah. Anak-anak muda tenggelam dalam lamunannya akan mendung yang selalu datang. Mereka lebih memilih memandang jendela dalam hening ditemani balada-balada romantis. Sedangkan yang tua lebih memilih merajut dan membaca koran diiringi bunyi tetesan hujan. Tak ada aktivitas belakangan. Hanya sektor-sektor penting yang masih bergerak. Misalnya industri batu bara, pangan dan media (sebagian besar mengabarkan berita dari luar kota dan iklan). Seluruhnya berjalan lambat.

Berdasarkan rancangan undang-undang pemerintahan kota, hujan sudah dianggap sebagai penyebab kesuraman dan ketidakproduktifan. Ia hujan, bukan kambing hitam. Namun kekuasaan berbicara. Perlahan kota mulai membenci hujan yang turun terus menerus selama bertahun-tahun. Tak ingin dianggap tak berhasil, walikota memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari pengharapan di antara arsip perpustakaan. Salah seorang dari mereka berhasil menemukan. Menurut ramalan para tetua, akhir bulan depan akan ada hari istimewa.

Semua jiwa menunggu hari besar. Berdasarkan almanak, dalam satu hari, matahari akan mampir kembali sejenak. Ia menyelinap beberapa derajat dari garis edarnya. Menggantikan sementara hujan yang seakan abadi. Seluruh kota menantikan, bersiap. Generasi tua menantikan kembali setelah sekian lama, sedangkan pemuda bertanya-tanya seperti apa rupa matahari jika menyinari rumah dan tanah lapang mereka. Hari itu krusial karena ditumpuk dari begitu banyak pengharapan.

***

Di antara remang dan sepi, wanita paruh baya itu terbangun dengan cemas. Keringat dingin menyusur di sepanjang pelipisnya. Matanya membelalak, mencoba menangkap gambaran samar yang ia saksikan di alam bawah sadar sebelumnya. Napasnya memburu tak beraturan. Ditengoknya jam dinding, masih beberapa menit lewat tengah malam.

Seorang bocah laki-laki mengejutkannya, tampak di ambang pintu, dan menatapi wanita itu dengan seksama.

"Terjadi lagi?"

Sang wanita mengangguk lemah. Tubuhnya terasa lengket dengan keringat, membuat tak nyaman.

"Apa yang kali ini ibu lihat?"
Sang wanita mengacungkan telunjuk ke atas. Sang bocah membaca gerakan mulut ibunya. "Hujan"

***  

Meski lesu, kabar burung di kota ini selalu berhasil melesat cepat. Menyusup melalui celah gorong-gorong, menumpang partikel angin. Seseorang dengan begitu cepat dapat mengetahui perubahan di kota ini. Nyaris tak ada yang mampu disembunyikan kecuali bisikan hati terdalam. Dalam hitungan jam, kabar burung itu telah bertransformasi menjadi prasangka. Sedikit banyak ditambahi dan didramatisasi. Setiap orang tak lagi memperhitungkan logika dan empati, hanya keegoisan dan menikmati perhatian sebagai si paling tahu.

Si bocah laki-laki berlari ketakutan ke dalam rumah. Ini sudah kesekian kalinya. mestinya ia tak boleh setakut dulu. Ia berlari dengan derap kencang di sepanjang lantai kayu rumah. Meninggalkan bunyi derit-derit kayu dari tangga tua, melesat menuju kamar ibunya.

"Kali ini berbeda." katanya, bergetar, tersengal.

Sang ibu yang baru saja selesai menatap langit-langit, menoleh padanya.

"Mereka membawa obor dan minyak tanah."

Bocah laki-laki itu tak percaya dengan apa yang dilihatnya, dan apa yang dihadapinya. Tak disangkanya, setelah membuat ibunya tak mampu lagi bicara, mereka belum puas juga. Sementara teriakan di luar rumah semakin kencang saja. Semua memaki, menyalahkan sang wanita. Ia sudah bertekad untuk melindungi ibunya, apapun yang terjadi. Ia kira ia akan kuat. Nyatanya, tubuhnya gemetar. Kepalan tangan, teriakan, minyak tanah dan obor, sudah berhasil mengecilkan nyalinya. Sang wanita beranjak memeluk putranya erat. Kini mereka mesti menghadapinya berdua saja. Sementara itu derak-derak kayu yang ditelan api terdengar, bau asap mulai menghampiri penciuman. Sang bocah terisak menangis. Sementara sang ibu berairmata dalam diamnya...

***

Meski di ujung kamar mandi, masih terasa panas. Api semakin menyudutkan. Bayangan gelap seakan telah menjangkau-jangkau. Sebelum tak sadarkan diri dalam pelukan ibunya, bocah laki-laki itu menyesal setengah mati. Ia terus saja bertanya-tanya mengapa dibiarkannya sahabat kecilnya mengetahui cerita itu. Cerita tentang mimpi ibunya yang berpayung di tengah hujan, di hari pengharapan...





Ditulis untuk Nulis Kamisan Season 3 #1


Wednesday, January 21, 2015

Taman Baca Kampung Pemulung Kalisari Damen

Ide ini sesungguhnya telah lama tersimpan di kepala. Pengalaman mengajar menulis kreatif untuk anak-anak yang memicu saya. Meski cukup puas dengan kemampuan siswa-siswi, saya melihat banyak kekurangan dalam langkah saya.

Diilhami tatapan anak-anak yang dengan gigih menjajakan koran dan mengetuk kaca jendela kendaraan saat lampu lalu lintas berubah merah, saya mulai mengajukan pertanyaan pada diri saya sendiri. Jika anak-anak yang pernah saya ajar cukup beruntung dengan berbagai fasilitas bacaan dan kesempatan untuk belajar menulis, bagaimana dengan anak-anak yang belum memiliki akses untuk itu? Beberapa bulan lalu, saya sempat menyatakan keinginan untuk mengajar mereka kepada seorang teman. Sederhana. Saya kira itu hanya akan menjadi ucapan belaka.

Langkah saya seringkali ragu. Mampukah saya? Saya sejujurnya khawatir akan terjebak pada sindrom pembuktian diri. Saya khawatir ini akan dianggap menjadi ajang 'unjuk kebolehan' saya. Saya khawatir saya tidak akan mampu memberikan apapun untuk mereka. Saya khawatir mereka akan menolak kehadiran saya. Saya khawatir mereka tidak akan antusias dengan bacaan. Saya khawatir ini akan menjadi sia-sia. Berakhir pada album foto facebook dan like, tak berarti apa-apa.

Namun saya tergerak ingin mencoba. Dengan harapan, mungkin saja satu-dua anak akan tergerak. Setidaknya inspirasi dan imajinasi mampu melatih daya pikir mereka untuk berpikir lebih analitis dan kritis. Setidaknya itu akan menjadi kontribusi untuk investasi masa depan mereka kelak. Semua bisa dimulai dari memberikan mereka fasilitas bacaan.

Langkah dimantapkan, tekad dibulatkan. Kebetulan si mbok (wanita paruh baya yang berotoritas tinggi tentang seisi rumah kami) memiliki seorang teman yang tinggal di daerah Kalisari Damen Surabaya (tidak begitu jauh dari rumah, hanya butuh 5 menit dengan kendaraan bermotor). Putrinya sejak kecil pun seringkali bertandang ke rumah kami. Sesekali kami membawakannya pakaian layak pakai atau alat tulis. Saat ini, ia, Novi, sudah menginjak SMP, dan memiliki banyak teman dengan usia yang lebih muda darinya. Sementara ustadz yang kerap mengajarkan anak-anak mengaji di Mushola Annisa Kalisari Damen sering membantu kami untuk menyulap bagian-bagian rumah yang rusak. Sedikit banyak kami cukup dekat dengan daerah tersebut, meski jarang berkunjung.

Saya dan mama kebetulan sama-sama senang, tentu dengan dana terbatas yang kami miliki, membeli buku anak untuk diberikan pada rumah tahfidz binaan teman-teman PAY (Pencinta Anak Yatim) Suroboyo, tempat dimana kakak saya bergiat. Kemudian terpikir untuk membaginya juga dengan anak-anak kampung pemulung. Merasa jumlah buku yang sanggup kami kumpulkan masih sangat sedikit, terpikir untuk mengajak beberapa teman menyumbang buku-buku bacaan pula. Di gelombang awal sekitar 20-30 buku berhasil dikumpulkan dan kami titipkan pada Novi untuk diletakkan di mushola. Namun karena tak ada yang mengajak mereka untuk membaca, buku-buku itu pun belum tersentuh. Minim antusiasme.

Survei pertama saya lakukan. Beberapa penduduk sekitar mengatakan mushola masih seringkali terkendala dengan pembiayaan listrik. Belakangan ketika sedang membaca buku dengan anak-anak, ternyata atap bagian kanan mushola juga bocor, sehingga ada genangan ketika hujan. Meski anak-anak tak masalah dengan hal itu, namun cukup berbahaya karena mampu membuat mereka terpeleset, mengurangi ruang untuk ibadah (Mushola Annisa hanya seluas kira-kira 10 meter persegi) juga membasahi benda-benda di dalam mushola. Saya mengutarakan keinginan saya untuk mampir ke mushola sekali seminggu untuk mengajak anak-anak membaca. Novi tentu kooperatif. Rupanya mereka sudah terbiasa dengan kedatangan rekan-rekan mahasiswa yang kerap mampir untuk mengajarkan mata pelajaran sekolah atau menyumbangkan pakaian.

Tuhan mengabulkan impian saya. Ia memberi kesempatan pada saya untuk belajar bersama anak-anak yang membutuhkan. Desember 2014, saya mulai seorang diri. Saya meminta bantuan Novi untuk memanggil teman-temannya untuk berkumpul di mushola. Hampir dua puluh anak terkumpul meski saat itu hujan sangat deras datang. Rentang usia mereka 5-15 tahun. Rata-rata mengenakan busana muslim. Rapi, seperti akan mengaji. Begitu melihat buku-buku tambahan yang saya bawa, mereka langsung menyerbu dan berebut. Ada yang meminta dicarikan buku bergambar mobil, pesawat, tokoh kartun favorit sampai novel. Karena sebagian besar buku masih dalam keadaan terbungkus plastik, mereka meminta izin untuk membukanya. Alhasil, di akhir pertemuan seluruh mushola tersebar berbagai sampah plastik. Saya terkejut dengan kehausan mereka akan bacaan. Mereka sibuk memilih dan membaca. Beberapa dari mereka masih harus mengeja meski sudah seusia sekolah dasar. Anak laki-laki kecil dengan bedak dingin di wajahnya turut memegang rapat buku di dada, meski belum sanggup membaca. Nyaris semua anak ribut bertanya pada saya apakah mereka boleh membawa pulang bukunya. Berapa jumlah yang boleh dipinjam, dan sebagainya.

Di pertemuan-pertemuan berikutnya, mereka dengan tertib mengembalikan buku. Meski, tentu saja ada satu-dua orang yang lupa. Saya usahakan selalu menanyakan kesan dan bagaimana cerita yang telah mereka baca. Jika mereka hanya mengatakan singkat, "seru" atau "bagus" saya akan kejar mereka untuk memberi alasan. Seorang gadis kecil dengan semangat menunjukkan hasil tulisannya tentang buku yang telah usai ia baca. Meski masih jauh dari review yang saya harapkan, namun semangatnya patut dipuji. Perlahan saya berikan contoh pembenaran di bawah hasil tulisannya, sembari menanggapi gadis kecil lain yang ingin bercerita dari lift-the-flaps-book. Salah seorang dari tiga anak laki-laki sepantaran 4-5 tahun yang di awal pertemuan harus saya panggil dari tempat mereka bermain ayunan, di minggu berikutnya memberi kabar membahagiakan bahwa ia dibantu ibunya untuk membacakan buku ensiklopedi tentang pesawat tempur. Sementara yang lain bolak-balik meminta perhatian saya untuk meminta penjelaskan tentang tank.    

Beberapa teman yang saya ceritakan tentang taman baca ini bermurah hati menyumbangkan sejumlah nominal dan buku anak untuk adik-adik. Bahkan ada yang berinisiatif untuk bergabung dan mengajarkan bahasa asing. Jumlah buku yang berhasil dikumpulkan sekitar 200 buah (Mulai buku cerita anak bergambar, komik, kisah nabi, ensiklopedi, hingga lift-the-flaps-books). Seluruhnya kami titipkan di dalam lemari mushola. Sementara sejumlah uang kami alokasikan untuk membenahi atap mushola yang bocor, dengan harapan warga sekitar bisa lebih nyaman beribadah dan berkegiatan di dalam mushola. Sisa anggaran yang lain saya rencanakan untuk membeli perlengkapan berkreasi untuk mereka gunakan setiap Jumat, agar bisa melakukan aktivitas menulis dan mewarnai tanpa harus kembali ke rumah untuk mengambil alat tulis. Ada sederet rencana untuk mengajak mereka melakukan berbagai kegiatan pula.

Saya memang tak pernah tahu seberapa jauh kaki saya akan berjalan. Ternyata, ada satu hal yang membuat saya mengucap syukur dan selalu ingin kembali : lambaian tangan, dan tatapan mereka ketika mengantar saya pulang.
 






Sunday, January 4, 2015

Tikus Biru di Kantong Harry

Seseorang tumbuh berbekal cerita-cerita masa kecilnya. Menikmati sebuah karya dari seorang penulis terkenal selalu menarik. Namun bagaimana dengan menelusuri buku favorit sang penulis?

Saya tidak begitu tertarik dengan Manxmouse ketika melihat fisiknya di rak toko buku bertahun lalu. Bagi saya, buku bagus mestinya tak perlu sebegitu berusahanya untuk menampilkan diri dengan tagline "Buku Favorit JK Rowling". Sempat melewatkannya begitu saja, meski bukan menjadi tujuan utama, saya memutuskan untuk membeli buku itu di salah satu toko buku online beberapa waktu lalu. Kemudian saya bertanya-tanya sejauh apakah buku itu mampu membuktikan pada saya bahwa ia sebegitu menariknya untuk dicintai seorang penulis kenamaan dunia.

Di tahun 1999, Rowling menyebut karya Gallico ini "Funny, magical, very imaginative book". Michael Bond, penulis Paddington, beranggapan bahwa Manxmouse unputdownable. Telinga kelinci Manxmouse menghasilkan peruntungan dengan diangkatnya kisah 'tikus kanguru' ini menjadi anime di Jepang dengan judul Tondemo Nezumi Daikatsuyaku : Manxmouse (Manxmouse's Great Activity) di tahun 1979. Tak berhenti di situ, ia masih menjadi kisah favorit abadi, bahkan diangkat ke berbagai bentuk karya lain, seperti teater.


paulgallico.info


Manxmouse diterbitkan pertama kali di tahun 1968, dengan subjudul "The Mouse Who Knew No Fear". Bagi saya, Manxmouse adalah tikus (jika ia benar-benar bisa disebut tikus, mengingat ia berwarna biru, tak memiliki ekor, bertelinga mirip kelinci dan menyerupai tubuh Kanguru) yang berhasil mengalahkan rasa takutnya. Bukannya begitu saja percaya pada perkataan semua orang dan hewan yang ia temui tentang betapa menakutkannya Manx Cat, ia justru berusaha menguak misteri perlahan dan menghadapinya dengan tulus dan berani. Kemudian angan saya berpindah pada Harry Potter dalam perjalanan dan petualangannya untuk bertarung dengan Voldemort. Harry bahkan menolak merasa takut hanya karena orang lain tak memiliki cukup nyali untuk menyebut Voldemort. Harry dan sang tikus biru sama-sama enggan untuk merasa ketakutan akan sesuatu yang belum pernah mereka temui. Selain keberaniannya, Manxmouse banyak mengingatkan saya pada karakter Harry Potter.

Menulis salah satu buku terlaris dalam sejarah perbukuan dunia, JK Rowling mampu menciptakan dunia imajinasinya sendiri hingga seakan nyata. Begitu pula dengan Manxmouse. Meski tak terlalu rumit layaknya HP, namun kisahnya sama bernyawa. Imajinasi yang dibagun Gallico mampu menarik pembaca masuk ke dalamnya. Bagaimana Manxmouse menumpang lori di sepanjang kota London, membuat saya membayangkan Harry sedang menarik kopernya di tempat yang sama.

Mari berjalan-jalan menuju Diagon Alley. Tempat dimana penyihir dapat menukar Galleon, Sickle dan Knut mereka dengan berbagai benda, bahkan hewan sihir. Toko hewan Eeylops Owl Emporium dimana Hagrid membeli Hedwig, sukses melayangkan pikiran pada toko hewan peliharaan milik si licik, Mr. Smeater dimana Manxmouse dijual dan dipamerkan.

Di halaman awal-awal, Manxmouse sudah berhasil 'dihidupkan' dari imajinasi secara ajaib oleh sang penulis dengan persuasi pada pembaca bahwa Manxmouse benar-benar ada. Ia tercipta berbeda, tak memiliki nama, bahkan tak menyadari keistimewaan dirinya. Kemudian siapa yang tidak teringat bagaimana nyatanya seorang anak laki-laki remaja kurus yang hidup di lemari bawah tangga, merasa tak percaya bahwa dirinya seorang penyihir ketika Hagrid memberitahunya?

Perjalanan jauh seorang Manxmouse ternyata bukan hanya untuk menemukan Manx Cat, namun juga untuk menemukan dirinya sendiri. Ia mengeruk banyak pelajaran melalui petualangan dan perjalanannya. Merasakan bertemu dengan berbagai manusia dan hewan, tanpa berpikir panjang, ia setulus hati menolong meski harus mengorbankan nyawa sendiri. Terasa sangat Harry, bukan?

Merasa ngeri dengan ular raksasa milik Tom Riddle? Basilisk dan Naga di dalam mitologi juga disinggung di antara halaman Manxmouse. Guru-guru sekolah Wendy, anak perempuan yang begitu menyayangi sang tikus biru sempat menyebutkan binatang-binatang dalam legenda itu ketika mereka berusaha menduga-duga makhluk apakah Manxmouse.

Meski sebatang kara, baik Manxmouse maupun Harry 'memiliki' rumah dengan pasangan suami-istri yang hangat dengan sejumlah anak. Sosok Molly Weasley yang penuh kecemasan khas seorang ibu juga dapat ditemukan pada Margery, istri dari Manx Cat.

Entah tikus, entah manusia, nyatanya (kurang lebih) menginginkan akhir cerita yang sama sempurnanya. Petualangan panjang usai, musuh besar kalah, menjadi pahlawan, dan hidup berbahagia bersama pasangan hidup untuk kemudian memiliki generasi penerus.    

Kemudian saya curiga mulai merasa melihat tikus biru, bertelinga mirip kelinci, tanpa ekor sedang menyelip di antara barang-barang di rumah. Begitu juga dengan beberapa tahun lalu dimana saya mengharap 'Wingardium Leviosa' bisa bekerja pada wand bonus sebuah majalah film.

Kadang, saya kira, dunia seringkali berkonspirasi untuk mengecilkan nyali saya dalam menghadapi sesuatu. Meski diam-diam, saya tahu Tuhan di atas sana sedang mempersiapkan plan B, hadiah ketika saya berani melampaui ketakutan dan takdir yang seakan-akan tak bisa diubah itu. Ternyata saya belajar memperbaiki nyali dari tikus biru bertelinga kelinci yang menyembul dari saku jubah.seorang remaja laki-laki dengan bekas luka di dahi.

Tuesday, December 23, 2014

Host Family 41st SSYEAP

I still think that I owe Berry something. I haven’t given anything to him. Even I gave my book, he couldn’t understand, because it's written in Bahasa Indonesia. I wanted to give a shirt for him, I thought he would prefer for t-shirts. So, still have no idea what to give him, until he left. I think I should write this in English, so Berry could also read and (hopefully) would like. I wrote this not just for Berry, but also for us who may have that kind of belonging memory, also for my mind which could forget everything just  in two seconds. Writing for capturing. But, Lois Lowry told me this,
“The worst part of holding the memories is not the pain. It's the loneliness of it. Memories need to be shared.”  
So, I've better not make this for my own.

"Mama, let's go home. We'll not get anyone to stay with us."

Sometimes we couldn't as that fast  giving up  something. Even it's seems dark and there's no way out. I've learnt. That could be the most stupid thing I did.
Our family had sent an application to be a host family for the PYs (Participant Youths) of 41st SSEAYP (Ship for Southeast Asian Youth Program) 2014 since few  months ago. But unfortunately, there's no any feed back from the commitee in Jakarta. Until the hostmatching day came, we still had no idea with the news. But, mama strongly asked me to accompany her to the host matching event. "We have to find out!" she said. Without any argument like usual, I just nodded, and drived her without saying anything. When we came, and saw the announcement, we just knew officially that there's no name of our family there, in the list of the hostparent names.

So many regrets trapped in our hearts at that time. The commitee gave mama advice to just queue in reserve list of hostparents. She wrote her name for the  PYs girls. We sat at the tribune, saw how excited the foster parents ready to welcome their PYs down there. It's the quietest moment of us. Several times we almost left the building. We gave up. “I think it would be hard. We’re still 5th in the reserve list for girls.” But whenever we passed the commitee desk, mama always going back and asked, “Is there any chance for us?” Nobody could promise her. She convinced me to stay. "Just wait. At least we still can see how the foster parents and their PYs meet". We sat in the stairs of tribune, so we could see the PYs who just came in. In my mind I thought, how lucky the other foster parents. Smile, greet, even took selfie with their PYs. And we're really ready to go home. For years, mama always take the chance to be foster parents for youth exchange program if they have homestay in Surabaya from foreign countries. It always succeed throwing back her memories to the past, when she was one of the participant of the Canadian World Youth Exchange Program.  

At last, God opened the way. Several fosterparents didn't come until the last minutes. The commitee called mama, and offered her to be the changing foster parent. But she had to take boys PYs, not girls. "It's okay!" she thankfully answered. She just made a little sign to me, and directly got in to the hall. Those two boys for the first time, met their foster parent in Surabaya. 
When all the people got out, excited, I wondered who will be our foster childrens. In aisle which was full of people, I tried to catch where mama was. Then I saw her with -where’s your foster childrens? You've got separated?- face. A moment after that, mama got out from the line and smiled,  
“This is my daughter.”
It’s the first time I saw those two guys, the tall guy with very straight face but very kind, also the guy who looks very relaxe, little bit a perfunctory in my first impression.  

I wondered what they are like? They aren't like George and Lennie in John Steinbeck's Of Mice and Men, or Franz Wisner and Kurt Wisner in 'Honeymoon with My Brother', or Lawrence and Lorne Blair who did Ring of Fire journey, even the little prince and the pilot in Exupery's Le Pettit Prince. They just not like them. They just like Elvin and Berry. The wise man and the fun guy. Due to the rules of the SSYEAP commitee that host children picked randomly, they just knew each other in Surabaya, even they're in the same deck on board.

Elvin just like my old brother. He's very mature, firm, sincere, approachable, a-leader-born-to-be, full of emphaty, calm, warm, decisive, belongs to his sensitivity, sometimes he could read what the other pepole   think. When we just knew that boarding passes to get into the ship are not enough for the whole family, i just wanted to say to him "Maybe I have to give my boarding pass to my cousin." But he said first before I told what was in my mind. "Bila, you have to come to the ship." And he got another three boarding passes in the last minutes. Elvin also gave me so many advices. We did discussion, sharing about many things. Historical places, book publishing, history, foods, everything. We have the same birth year, the same month. Yet, I just feel like many steps behind along with his maturity. I think he would be still alive even we throw him to the middle of nowhere. :D

By his special interest to history of colonial era, he got worry at Museum Tugu Pahlawan, "What if the PYs from Japan and their foster parents saw the history of Indonesian dark time? That could be not so comfortable for them." I just said to him, it's a history, it's a fact, we always can learn from history. He nodded, and said, yeah, it happened in the past. Besides his maturity, he is always thinking about other people. Elvin is gentle too. He almost never made us to walk behind. He always pleased the way to us first  politely.

Berry, our little brother, is always lovely for us. We're always touched when he called "Mama" to my mom. When he asked help to pick the good stuff for souvenirs. When I just pushed him to buy a Batik for him self. We're suprising to know that he's the college student with two different majors in the same time. Nevertheless, he just could vigorously took his monopod and ask for selfie in the middle of the crowd. Surprisingly, Berry is a care guy too. When we just did shopping, the shopping master got worry about Fira who looks tired. 
"Fira, are you okay?"
"Yeah, I'm okay."  said Fira
 "Sounds you're not."
In the other time, he's impressing too. When we had to go to wedding, Elvin didn't bring any of formal clothes. Berry just did heroic statement. If Elvin didn't wear any formal clothes, he would do the same thing. So, we made those two guys wear t-shirts for Javanese wedding reception. We just passed some college students who asked for charity at Car Free Day. Berry stopped and asked me, "Do they accept US dollars?" What a generous man. So, there he goes, put dollars on charity box.    

Berry is like a perfect object for fun joke. By his fast and steps for shopping, he always leading us where to go.

“Where to go?”
“You’re the leader. We will follow you!”

I still remember, how funny Berry when he directly went upstairs at the mall by escalator when we were still  downstairs. He even didn’t realize that we three of us did not follow him. Then I said, “Berry, where are you going?” he just looked behind, realized, and surprised. “Okay, bye Berry!” we waved and acted like would leave him. Then he turned like hamster that was running backward the escalator. One of the funniest things that I could not  forget. Those two guys were looking for barber shop. They had not cut their hair during the program. So, we added barber shop to our itinerary. We brought them to our grandma's barbershop. When we came, Elvin's hair directly cut by the capster. Then.. Berry was busy to browse the hair style and began worried. 
"Could the capster do like this picture?" he asked. 
"Aah, don't worry Berry. I'll cut your hair. It's very easy!" of course, I don't have any skill for that. 
He's got more worried. He showed several shakeheads and laughed. Then when he finished with the capster, I asked "Is it similar with the style that you want?" He smiled. "Similar." "Err..a bit." 
"I told you, if I cut your hair, it would be very similar." We laughed.     

By the route of shopping master, we could pass the same spot for several times. It’s my very first time to look for M size of men shorts. No. It’s just not me. All of us. Elvin, Fira and me. We’re all looking M size shorts. I also had to fit like a dozen t-shirts to Berry. Became a secretary of Berry, I did it too. I had to note all of his spend, reminded him that he just passed a nominal of rupiahs, and also transfer it to US dollar by the currency. That’s memorable. Also interesting, indeed. When he always curious of everything : what the traffic light said, what is nastar, how is the interior of ice cream house. When we three of us were busy with fun conversation in the car, then while driving, I called him "Berry, are you there?" there wasn't any answer. Aah, he was asleep with his monopod!

Berry style is always like casual or something. Blur printed t-shirts, another t-shirts, another t-shirts. You mentioned it. So, it's very hard to ask him to buy Batik for him self. Though, he's really good on Bali Batik, when he fitted Batik shirt for his father. He didn't want to take one Batik for himself, even I'd repeated many times "Berry, please buy Batik for your self." Finally he confessed "I don't know where to use it."  

Sometimes God fulfilled our wish in a very strange way. Years ago, I was joking by saying that uuh, I think that it would be great if I could have a brother. Then, he gave me two in the same time. 

There's no part of the world that too far to go. We'll look forward to new destination, Cambodia to visit Berry. Or even ready to welcome Elvin for another trip here in East Java. Let's! 

I just wondering how dramatic the farewell ceremony was. And I should  know who's the creator of that moment. How it feels to be someone that always making hundred, even thousands people crying for the same emotional moment since 1970? Sounds too dramatic? Hey, this world is a big screen of drama, right? :)

When the PYs had to find their host family from the ship, when they threw the ribbons to catch by us, when they presented Brigthman's voice with Time to Say Goodbye and when To Be One played, when we just never feeling tired to wave our hands, when the alumni sang and said goodbye, when finally the ribbon cut by the separated between the ship and the harbour, when we were still trying to looked at each other faces until the ship got far away. We just knew that God gave us so many magical things in our hearts. Feelings about to have each other even with the differences, even without any siblings line, even it happened in very short time. 

We sincerely could call each other as brother, sister, children, even mommy. Family. We made a promise that it won't be the last meeting, we promised another hands, hugs and cheer up, we'll very looking forward when the next meeting will happen, we start to talk about our memories with the PYs everyday until we are getting bored with the same words and keep it in our hearts. It's not only about how soon we'll see each other, but how long our memory could against mortality.

Everything could be fade away or even lost at all. But somebody's said, we live because we have memories. And stories...