Sunday, January 4, 2015

Tikus Biru di Kantong Harry

Seseorang tumbuh berbekal cerita-cerita masa kecilnya. Menikmati sebuah karya dari seorang penulis terkenal selalu menarik. Namun bagaimana dengan menelusuri buku favorit sang penulis?

Saya tidak begitu tertarik dengan Manxmouse ketika melihat fisiknya di rak toko buku bertahun lalu. Bagi saya, buku bagus mestinya tak perlu sebegitu berusahanya untuk menampilkan diri dengan tagline "Buku Favorit JK Rowling". Sempat melewatkannya begitu saja, meski bukan menjadi tujuan utama, saya memutuskan untuk membeli buku itu di salah satu toko buku online beberapa waktu lalu. Kemudian saya bertanya-tanya sejauh apakah buku itu mampu membuktikan pada saya bahwa ia sebegitu menariknya untuk dicintai seorang penulis kenamaan dunia.

Di tahun 1999, Rowling menyebut karya Gallico ini "Funny, magical, very imaginative book". Michael Bond, penulis Paddington, beranggapan bahwa Manxmouse unputdownable. Telinga kelinci Manxmouse menghasilkan peruntungan dengan diangkatnya kisah 'tikus kanguru' ini menjadi anime di Jepang dengan judul Tondemo Nezumi Daikatsuyaku : Manxmouse (Manxmouse's Great Activity) di tahun 1979. Tak berhenti di situ, ia masih menjadi kisah favorit abadi, bahkan diangkat ke berbagai bentuk karya lain, seperti teater.


paulgallico.info


Manxmouse diterbitkan pertama kali di tahun 1968, dengan subjudul "The Mouse Who Knew No Fear". Bagi saya, Manxmouse adalah tikus (jika ia benar-benar bisa disebut tikus, mengingat ia berwarna biru, tak memiliki ekor, bertelinga mirip kelinci dan menyerupai tubuh Kanguru) yang berhasil mengalahkan rasa takutnya. Bukannya begitu saja percaya pada perkataan semua orang dan hewan yang ia temui tentang betapa menakutkannya Manx Cat, ia justru berusaha menguak misteri perlahan dan menghadapinya dengan tulus dan berani. Kemudian angan saya berpindah pada Harry Potter dalam perjalanan dan petualangannya untuk bertarung dengan Voldemort. Harry bahkan menolak merasa takut hanya karena orang lain tak memiliki cukup nyali untuk menyebut Voldemort. Harry dan sang tikus biru sama-sama enggan untuk merasa ketakutan akan sesuatu yang belum pernah mereka temui. Selain keberaniannya, Manxmouse banyak mengingatkan saya pada karakter Harry Potter.

Menulis salah satu buku terlaris dalam sejarah perbukuan dunia, JK Rowling mampu menciptakan dunia imajinasinya sendiri hingga seakan nyata. Begitu pula dengan Manxmouse. Meski tak terlalu rumit layaknya HP, namun kisahnya sama bernyawa. Imajinasi yang dibagun Gallico mampu menarik pembaca masuk ke dalamnya. Bagaimana Manxmouse menumpang lori di sepanjang kota London, membuat saya membayangkan Harry sedang menarik kopernya di tempat yang sama.

Mari berjalan-jalan menuju Diagon Alley. Tempat dimana penyihir dapat menukar Galleon, Sickle dan Knut mereka dengan berbagai benda, bahkan hewan sihir. Toko hewan Eeylops Owl Emporium dimana Hagrid membeli Hedwig, sukses melayangkan pikiran pada toko hewan peliharaan milik si licik, Mr. Smeater dimana Manxmouse dijual dan dipamerkan.

Di halaman awal-awal, Manxmouse sudah berhasil 'dihidupkan' dari imajinasi secara ajaib oleh sang penulis dengan persuasi pada pembaca bahwa Manxmouse benar-benar ada. Ia tercipta berbeda, tak memiliki nama, bahkan tak menyadari keistimewaan dirinya. Kemudian siapa yang tidak teringat bagaimana nyatanya seorang anak laki-laki remaja kurus yang hidup di lemari bawah tangga, merasa tak percaya bahwa dirinya seorang penyihir ketika Hagrid memberitahunya?

Perjalanan jauh seorang Manxmouse ternyata bukan hanya untuk menemukan Manx Cat, namun juga untuk menemukan dirinya sendiri. Ia mengeruk banyak pelajaran melalui petualangan dan perjalanannya. Merasakan bertemu dengan berbagai manusia dan hewan, tanpa berpikir panjang, ia setulus hati menolong meski harus mengorbankan nyawa sendiri. Terasa sangat Harry, bukan?

Merasa ngeri dengan ular raksasa milik Tom Riddle? Basilisk dan Naga di dalam mitologi juga disinggung di antara halaman Manxmouse. Guru-guru sekolah Wendy, anak perempuan yang begitu menyayangi sang tikus biru sempat menyebutkan binatang-binatang dalam legenda itu ketika mereka berusaha menduga-duga makhluk apakah Manxmouse.

Meski sebatang kara, baik Manxmouse maupun Harry 'memiliki' rumah dengan pasangan suami-istri yang hangat dengan sejumlah anak. Sosok Molly Weasley yang penuh kecemasan khas seorang ibu juga dapat ditemukan pada Margery, istri dari Manx Cat.

Entah tikus, entah manusia, nyatanya (kurang lebih) menginginkan akhir cerita yang sama sempurnanya. Petualangan panjang usai, musuh besar kalah, menjadi pahlawan, dan hidup berbahagia bersama pasangan hidup untuk kemudian memiliki generasi penerus.    

Kemudian saya curiga mulai merasa melihat tikus biru, bertelinga mirip kelinci, tanpa ekor sedang menyelip di antara barang-barang di rumah. Begitu juga dengan beberapa tahun lalu dimana saya mengharap 'Wingardium Leviosa' bisa bekerja pada wand bonus sebuah majalah film.

Kadang, saya kira, dunia seringkali berkonspirasi untuk mengecilkan nyali saya dalam menghadapi sesuatu. Meski diam-diam, saya tahu Tuhan di atas sana sedang mempersiapkan plan B, hadiah ketika saya berani melampaui ketakutan dan takdir yang seakan-akan tak bisa diubah itu. Ternyata saya belajar memperbaiki nyali dari tikus biru bertelinga kelinci yang menyembul dari saku jubah.seorang remaja laki-laki dengan bekas luka di dahi.

No comments:

Post a Comment