Wednesday, January 21, 2015

Taman Baca Kampung Pemulung Kalisari Damen

Ide ini sesungguhnya telah lama tersimpan di kepala. Pengalaman mengajar menulis kreatif untuk anak-anak yang memicu saya. Meski cukup puas dengan kemampuan siswa-siswi, saya melihat banyak kekurangan dalam langkah saya.

Diilhami tatapan anak-anak yang dengan gigih menjajakan koran dan mengetuk kaca jendela kendaraan saat lampu lalu lintas berubah merah, saya mulai mengajukan pertanyaan pada diri saya sendiri. Jika anak-anak yang pernah saya ajar cukup beruntung dengan berbagai fasilitas bacaan dan kesempatan untuk belajar menulis, bagaimana dengan anak-anak yang belum memiliki akses untuk itu? Beberapa bulan lalu, saya sempat menyatakan keinginan untuk mengajar mereka kepada seorang teman. Sederhana. Saya kira itu hanya akan menjadi ucapan belaka.

Langkah saya seringkali ragu. Mampukah saya? Saya sejujurnya khawatir akan terjebak pada sindrom pembuktian diri. Saya khawatir ini akan dianggap menjadi ajang 'unjuk kebolehan' saya. Saya khawatir saya tidak akan mampu memberikan apapun untuk mereka. Saya khawatir mereka akan menolak kehadiran saya. Saya khawatir mereka tidak akan antusias dengan bacaan. Saya khawatir ini akan menjadi sia-sia. Berakhir pada album foto facebook dan like, tak berarti apa-apa.

Namun saya tergerak ingin mencoba. Dengan harapan, mungkin saja satu-dua anak akan tergerak. Setidaknya inspirasi dan imajinasi mampu melatih daya pikir mereka untuk berpikir lebih analitis dan kritis. Setidaknya itu akan menjadi kontribusi untuk investasi masa depan mereka kelak. Semua bisa dimulai dari memberikan mereka fasilitas bacaan.

Langkah dimantapkan, tekad dibulatkan. Kebetulan si mbok (wanita paruh baya yang berotoritas tinggi tentang seisi rumah kami) memiliki seorang teman yang tinggal di daerah Kalisari Damen Surabaya (tidak begitu jauh dari rumah, hanya butuh 5 menit dengan kendaraan bermotor). Putrinya sejak kecil pun seringkali bertandang ke rumah kami. Sesekali kami membawakannya pakaian layak pakai atau alat tulis. Saat ini, ia, Novi, sudah menginjak SMP, dan memiliki banyak teman dengan usia yang lebih muda darinya. Sementara ustadz yang kerap mengajarkan anak-anak mengaji di Mushola Annisa Kalisari Damen sering membantu kami untuk menyulap bagian-bagian rumah yang rusak. Sedikit banyak kami cukup dekat dengan daerah tersebut, meski jarang berkunjung.

Saya dan mama kebetulan sama-sama senang, tentu dengan dana terbatas yang kami miliki, membeli buku anak untuk diberikan pada rumah tahfidz binaan teman-teman PAY (Pencinta Anak Yatim) Suroboyo, tempat dimana kakak saya bergiat. Kemudian terpikir untuk membaginya juga dengan anak-anak kampung pemulung. Merasa jumlah buku yang sanggup kami kumpulkan masih sangat sedikit, terpikir untuk mengajak beberapa teman menyumbang buku-buku bacaan pula. Di gelombang awal sekitar 20-30 buku berhasil dikumpulkan dan kami titipkan pada Novi untuk diletakkan di mushola. Namun karena tak ada yang mengajak mereka untuk membaca, buku-buku itu pun belum tersentuh. Minim antusiasme.

Survei pertama saya lakukan. Beberapa penduduk sekitar mengatakan mushola masih seringkali terkendala dengan pembiayaan listrik. Belakangan ketika sedang membaca buku dengan anak-anak, ternyata atap bagian kanan mushola juga bocor, sehingga ada genangan ketika hujan. Meski anak-anak tak masalah dengan hal itu, namun cukup berbahaya karena mampu membuat mereka terpeleset, mengurangi ruang untuk ibadah (Mushola Annisa hanya seluas kira-kira 10 meter persegi) juga membasahi benda-benda di dalam mushola. Saya mengutarakan keinginan saya untuk mampir ke mushola sekali seminggu untuk mengajak anak-anak membaca. Novi tentu kooperatif. Rupanya mereka sudah terbiasa dengan kedatangan rekan-rekan mahasiswa yang kerap mampir untuk mengajarkan mata pelajaran sekolah atau menyumbangkan pakaian.

Tuhan mengabulkan impian saya. Ia memberi kesempatan pada saya untuk belajar bersama anak-anak yang membutuhkan. Desember 2014, saya mulai seorang diri. Saya meminta bantuan Novi untuk memanggil teman-temannya untuk berkumpul di mushola. Hampir dua puluh anak terkumpul meski saat itu hujan sangat deras datang. Rentang usia mereka 5-15 tahun. Rata-rata mengenakan busana muslim. Rapi, seperti akan mengaji. Begitu melihat buku-buku tambahan yang saya bawa, mereka langsung menyerbu dan berebut. Ada yang meminta dicarikan buku bergambar mobil, pesawat, tokoh kartun favorit sampai novel. Karena sebagian besar buku masih dalam keadaan terbungkus plastik, mereka meminta izin untuk membukanya. Alhasil, di akhir pertemuan seluruh mushola tersebar berbagai sampah plastik. Saya terkejut dengan kehausan mereka akan bacaan. Mereka sibuk memilih dan membaca. Beberapa dari mereka masih harus mengeja meski sudah seusia sekolah dasar. Anak laki-laki kecil dengan bedak dingin di wajahnya turut memegang rapat buku di dada, meski belum sanggup membaca. Nyaris semua anak ribut bertanya pada saya apakah mereka boleh membawa pulang bukunya. Berapa jumlah yang boleh dipinjam, dan sebagainya.

Di pertemuan-pertemuan berikutnya, mereka dengan tertib mengembalikan buku. Meski, tentu saja ada satu-dua orang yang lupa. Saya usahakan selalu menanyakan kesan dan bagaimana cerita yang telah mereka baca. Jika mereka hanya mengatakan singkat, "seru" atau "bagus" saya akan kejar mereka untuk memberi alasan. Seorang gadis kecil dengan semangat menunjukkan hasil tulisannya tentang buku yang telah usai ia baca. Meski masih jauh dari review yang saya harapkan, namun semangatnya patut dipuji. Perlahan saya berikan contoh pembenaran di bawah hasil tulisannya, sembari menanggapi gadis kecil lain yang ingin bercerita dari lift-the-flaps-book. Salah seorang dari tiga anak laki-laki sepantaran 4-5 tahun yang di awal pertemuan harus saya panggil dari tempat mereka bermain ayunan, di minggu berikutnya memberi kabar membahagiakan bahwa ia dibantu ibunya untuk membacakan buku ensiklopedi tentang pesawat tempur. Sementara yang lain bolak-balik meminta perhatian saya untuk meminta penjelaskan tentang tank.    

Beberapa teman yang saya ceritakan tentang taman baca ini bermurah hati menyumbangkan sejumlah nominal dan buku anak untuk adik-adik. Bahkan ada yang berinisiatif untuk bergabung dan mengajarkan bahasa asing. Jumlah buku yang berhasil dikumpulkan sekitar 200 buah (Mulai buku cerita anak bergambar, komik, kisah nabi, ensiklopedi, hingga lift-the-flaps-books). Seluruhnya kami titipkan di dalam lemari mushola. Sementara sejumlah uang kami alokasikan untuk membenahi atap mushola yang bocor, dengan harapan warga sekitar bisa lebih nyaman beribadah dan berkegiatan di dalam mushola. Sisa anggaran yang lain saya rencanakan untuk membeli perlengkapan berkreasi untuk mereka gunakan setiap Jumat, agar bisa melakukan aktivitas menulis dan mewarnai tanpa harus kembali ke rumah untuk mengambil alat tulis. Ada sederet rencana untuk mengajak mereka melakukan berbagai kegiatan pula.

Saya memang tak pernah tahu seberapa jauh kaki saya akan berjalan. Ternyata, ada satu hal yang membuat saya mengucap syukur dan selalu ingin kembali : lambaian tangan, dan tatapan mereka ketika mengantar saya pulang.
 






No comments:

Post a Comment