Thursday, June 30, 2016

The Sweet Taste of Flute Recital : Flute dalam Lampu Sorot

Flute belum mendapat ruang sebesar Piano atau strings di dalam pertunjukan. Untuk itu lah, Satryo Budi Gunawan (Flute) dan Patrisna May Widuri (Piano) berkolaborasi dalam The Sweet Taste of Flute Recital di Melodia Hall Surabaya, 18 Juni 2016 lalu. Sebuah perayaan, dengan memberi ruang sebesar-besarnya pada Flute untuk berada di bawah lampu sorot utama. Satryo Budi dan Patrisna berada dalam satu naungan yang sama, Amadeus Orchestra. Satryo merupakan woodwind principal dan Patrisna mengepalai bagian Piano. 

Dibuka dengan Siciliano dari Bach sebagai komposisi pertama, alunan Flute yang lembut dan nuansa Pastoral langsung menyergap audiens. Dinamika yang dibawakan Satryo pun terasa. Sedangkan Patrisna tampil dewasa dengan kontrol yang pas. Menjadikan Siciliano sebagai pembuka adalah keputusan yang tepat. Yang menarik, pertunjukan ini terkesan dekat dan tak terlalu formal karena Satryo banyak bermonolog, dengan memberikan sambutan, maupun pengantar setiap kali komposisi akan dimainkan.

Beethoven dihadirkan sebagai komposisi kedua dengan Allegro Vivace e Disinvolto. Komposisi yang sejatinya diciptakan untuk strings dan Piano ini diaransemen ulang untuk Piano dan Flute tanpa mengurangi orisinalitasnya. Not-not yang rapat membuatnya tak semulus komposisi pertama. Phrasing pun agak longgar di bagian yang ber-staccato. Ialah Scherzo milik Eugene Walckiers, yang dipilih sebagai karya ketiga di pertunjukan ini. Walckiers, karya dari komposer dan flutist Prancis ini terkesan layaknya tarian dengan banyaknya not-not trio yang dimainkan.

Seakan semakin lama semakin rumit, audiens dibawa pada Nocturne karya Lili Boulanger kemudian. Komposisi kali ini memang terkesan "gelap". Sicilienne - Faure sebagai komposisi keempat seakan mengulang nuansa serupa dengan Siciliano di awal. Satryo apik ketika mencapai puncak dinamika.

Aria milik Albert Roussel menjadi komposisi keenam yang dimainkan. Menuntut kekompakan duo Piano dan Flute, koneksi Satryo dan Patrisna mampu kembali diasah, terutama di bagian timing. Canzone miliki Samuel Barber menjadi komposisi pilihan berikutnya. 

Setelah break singkat, pertunjukan dimulai kembali dengan lebih cair dan menghibur. Telemann dibawakan oleh Jivanetra, sebuah komunitas pemain Flute pertama di Surabaya yang juga digawangi oleh Satryo. Tiga orang flutist bermain di atas panggung bersama Jeanne Christine yang mengiringi dengan piano. Secara kekompakan, mereka cukup baik dan bermain bersih. Komposisi indah Berceuse milik Faure juga turut dibawakan sebagai komposisi berikutnya. Meski sejatinya diciptakan untuk Piano dan Harpa, Satryo dan Patrisna sangat baik membawakannya. Not-not sederhana yang ada tak membuat mereka terburu-buru menghabiskan lagu.

Berbagi tentang serba-serbi instrumen flute, Satryo mengatakan bahwa flute merupakan instrumen woodwind secara subjektif yang paling susah dimainkan di antara yang lain. Instrumen ini tak memiliki reed, sehingga produksi bunyi benar-benar bergantung pada mulut pemain yang berperan untuk menggantikan reed. Sedikit mengulik sejarah, Satryo juga membagi informasi bahwa pada zaman Barok dan Klasik, instrumen Flute hanya memiliki satu kunci. Di masa musik Prancis yang menuntut not-not "absurd" barulah instrumen mengalami modifikasi perkembangan menjadi kromatik. 

Promenade "Le Tombeau de Poulenc" milik John McLeod yang tegas dan rapat. Part Piano Patrisna sangat baik, bersih dan penuh kontrol, sekaligus tak membuat bunyi Flute tenggelam. Komposisi kesepuluh kembali dihadirkan Faure dengan Fantasie Op 79. Sedangkan komposisi kesebelas Flute Concerto, datang dari komposer perempuan yang juga seorang flutist, Chaminade. Khas komposisi modern yang tak terikat tema, kedua komposisi berat ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Satryo. Meski sempat lepas di beberapa bagian, terutama di bagian solo, namun keberanian dan keyakinan kuat Satryo untuk memilih komposisi tersebut mesti diapresiasi hangat. 

Setelah melampaui klimaks di komposisi sepuluh dan sebelas, Smoke Gets in your Eyes sebagai komposisi keduabelas lebih dingin. Karya modern ini juga dibawakan dengan ringan dan romantis. Menjelang akhir, sesuai dengan semangat yang dibawa Satryo untuk lebih mempopulerkan Flute, Halleluya dibawakan secara bersama-sama oleh sebelas flutist, yang sebagian besar perempuan. Pertunjukan ditutup dengan Cinta Sejati, OST Ainun Habibie yang juga dibawakan oleh quartet Amadeus di pertunjukan sebelumnya. Meski tak full team, kesempatan ini menjadi ajang pertunjukan bagi Amadeus Orchestra dalam satu panggung.

Dua belas komposisi jelas menuntut stamina dari pemain. Begitu singkatnya waktu persiapan menjadi tantangan tersendiri bagi Satryo Budi Gunawan dan Patrisna May, namun pertunjukan mampu dieksekusi dengan cukup baik. Semangat belajar, keterbukaan, penghargaan Satryo dan Patrisna terhadap proses, juga misinya untuk mengembangkan Flute di Surabaya patut diapresiasi sebagai ragam bentuk dedikasi terhadap dunia musik klasik. 

No comments:

Post a Comment