Tuesday, June 7, 2016

Silampukau : Mencipta Berdasar Peristiwa

Pertemuan Musik Surabaya berinisiatif untuk menyajikan sesuatu yang berbeda di pertengahan tahun 2016 ini. Bukan lagi membahas musik klasik, kontemporer, maupun tradisional, namun PMS juga ingin menjangkau musisi-musisi folk indie dengan semangat berbagi dan mengenal musik yang sama. 

Surabaya belakangan banyak disuarakan melalui musik indie yang ditampilkan band Silampukau. Album mereka yang bertajuk Dosa, Kota dan Kenangan masuk dalam daftar 20 album Indonesia terbaik Rolling Stone 2015 dan 10 album terbaik versi Majalah Tempo.

Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening, dua personel Silampukau, tampil mendendangkan karya-karya mereka di depan umum sudah jamak terjadi. Namun bagaimana dengan kisah menarik di balik terciptanya karya-karya mereka? Silampukau membagikannya pada pendengar-pendengar setianya, 30 Mei 2016 lalu. 





Silampukau tak menjejak tangga pencapaian karier musiknya secara instan. Mereka menapak jalur mandiri dalam menyampaikan pesan musikal selama beberapa tahun. Berangkat tanpa mengekspektasikan apa-apa dari apa yang mereka kerjakan, kini Silampukau dikenal secara nasional. Lirik-lirik yang jujur bercerita dan melodi yang sederhana menjadi ciri khas yang mereka tampilkan.

Kharis Junandharu mengungkap bahwa inspirasi Silampukau dalam mencipta karya bermula dari hal sehari-hari yang mengusik pikiran. Gaya mereka yang lepas dari batas-batas melahirkan keunikan dan keragaman yang berbeda dalam karya-karya yang mereka ciptakan. Puan Kelana, salah satu lagu yang mereka anggap satire dan "memenuhi semua syarat untuk tak diterima pendengar" justru digemari oleh banyak orang. Sebagian besar karya mereka dimulai dari melodi-melodi mentah yang kemudian mereka kembangkan hingga menemukan tema dan lirik yang sesuai. Kuat dalam lirik, Silampukau berujar bahwa mereka konsisten menjaga cerita dalam lagu. Bagi mereka, lebih mudah mengolah melodi dengan kata-kata, dibanding hanya menawarkan nada. Lirik pun tak begitu saja mengalir terciptakan, mereka mempertimbangkan rima, pilihan kata, juga kuantitas suku kata. Rima dan kata bagi mereka membantu untuk membentuk suasana, sedangkan kuantitas suku kata juga dipertimbangkan untuk memenuhi efektifitas lirik dalam lagu. Inti utama dari proses penciptaan lagu mereka adalah keinginan kuat untuk bercerita.

Ditanya tentang beberapa lirik karya Silampukau yang keras menyindir sesuatu, bukan berarti tidak ada kekhawatiran dari "jalur bebas" yang diambil. Mereka mengungkap bahwa sebelum lagu tersebut dirilis ke publik, mereka mencoba mendengarkannya pada beberapa teman sebagai percobaan. Ketika respons positif yang didapat, mereka percaya bahwa sesungguhnya pendengar secara luas memiliki sisi humor yang bisa disentuh. Silampukau pun mengemasnya menarik, selaras dengan pilihan melodi yang mereka rencanakan. 

Mengapa menjadikan Kota Surabaya menjadi sorotan dalam karya-karya mereka, Silampukau menjelaskan bahwa inspirasi mereka dipicu oleh Didi Kempot yang juga menciptakan lagu-lagu iconic tentang suatu kota, seperti Stasiun Balapan. Tak banyak lagu bertema Surabaya yang diciptakan oleh musisi kota pahlawan sendiri. Silampukau berangkat dengan semangat serupa.

Ditanya mengapa memilik jalur folk, meski berangkat dengan banyak referensi musik keroncong dan country, Silampukau merasa folk paling fleksibel. Mereka kemudian mencari tahu apa yang bisa ditawarkan genre folk dan memutuskan untuk menekuninya.

Silampukau menawarkan keunikan tersendiri. Kejujuran dan kebebasan berekspresi yang mereka sajikan menjadi magnet bagi penikmat musik yang sedang dikungkung kejenuhan dalam pusaran yang "itu-itu saja", serta mengajak mereka melampaui batasan tentang bagaimana mengapresiasi suatu karya.
  
Kiranya Silampukau akan terus menjejak kehidupan sekaligus terbang meraih jumlah pendengar yang lebih besar, seperti kata-kata mereka dalam mendeskripsikan karya yang tercipta. 

"Lagu-lagu sederhana tentang orang-orang sederhana."




Untuk Pertemuan Musik Surabaya, 

Nabila Budayana


No comments:

Post a Comment