Monday, June 20, 2016

Catatan dari Berbuka : Taman Baca Kampung Pemulung

Jika hal terberat dari suatu pekerjaan adalah memulai, kiranya benar adanya. 

Buka bersama tahun kedua kami bersama adik-adik di Taman Baca Kampung Pemulung Kalisari Damen Surabaya, syukurlah tidak seberat buka bersama tahun sebelumnya. Kendala utama di tahun 2015 adalah minimnya dana dan waktu persiapan yang sempit. Kali ini, kami mesti bersyukur dengan kas yang cukup dan beberapa donatur yang berinisiatif memberi donasi. 

Buka bersama ini telah kami rencanakan dua minggu sebelumnya. Karena mengumpulkan volunteer di saat bersamaan cukup susah, kami lebih banyak berdiskusi melalui grup chat. Hingga akhirnya menentukan 19 Juni 2016 menjadi tanggal acara juga mesti melalui voting kecil-kecilan mengingat jadwal kegiatan volunteer yang tak sama. Kakak-kakak volunteer sebagian besar sedang berkutat dengan Tugas Akhir mereka yang telah mendekati masa deadline. Sedang yang lain sedang dihimpit nuansa UAS dan beban pekerjaan di kantor. Namun, saya mesti angkat topi untuk dedikasi mereka, masih menyempatkan untuk membeli perlengkapan buka puasa dan hadir menemani adik-adik. 




Kemudian menu ditentukan. Masing-masing anak mendapat makanan dan minuman tajil, makanan dan minuman buka, snack untuk dibawa pulang, serta souvenir. Kali ini souvenir diusulkan oleh salah satu volunteer, Dian, berupa botol minuman, agar adik-adik mampu mengurangi frekuensi mereka membeli minuman di luar atau menggunakan botol air mineral berulang kali. Karena keteguhan hatinya, Dian memutuskan bertanggungjawab untuk sesi souvenir. Kami tentu tak bisa menghalanginya, sekaligus senang karena merasa terbantu.:) Dian juga selalu bertugas untuk mendokumentasikan kegiatan kami.

Sementara kakak volunteer berdedikasi lainnya, Ghozi, di antara tekanan deadline Tugas Akhir yang menurutnya belum kelar juga, ia masih menawarkan diri untuk memilih dan membeli makanan tajil. Ghozi paling tak bisa melihat ketidakrapian, bukannya seperti sebagian besar kami yang menyerah karena isi lemari yang selalu cepat berantakan, Ghozi memilih untuk merapikan buku-buku di lemari hingga tertata kembali seperti semula. 

Sisa keperluan lainnya, masih sanggup saya tangani dengan bantuan dana donatur. Begitu tiba di depan musholla pun saya sudah disambut beberapa anak yang berteriak-teriak memanggil. Bahkan membukakan pintu mobil karena saya agak lama di dalam. Mereka berebut membawakan keperluan berbuka puasa di saat berikutnya. Saya terbantu sekali dengan apa yang mereka lakukan. Kejutan yang saya dapatkan datang dari Ryan, seorang adik di taman baca yang selalu kami kenal karena kenakalannya, berhasil menghafal nyaris 50 kosa kata Bahasa Inggris baru sembari menunggu waktu berbuka dengan bantuan kartu edukasi. Saya bahkan masih terpana dengan kecepatan anak kelas 2 SD itu dalam belajar.   

Ryan, si pemberi kejutan.

Meski masa persiapan berbuka cukup lancar, kali ini nyatanya kendala ada pada lokasi. Di bulan suci, beberapa adik-adik taman baca tekun membaca Qur'an secara bergantian dengan menggunakan bantuan sound system di dalam musholla. Di tengah kegiatan itu, perangkat suara yang mereka gunakan tiba-tiba berasap dan menguarkan aroma gosong. Sontak, adik-adik meninggalkan bacaannya dan lari menjauh. Maklum, ada sedikit trauma pada mereka. Di kampung itu sempat gempar karena seorang kakek tewas tersengat listrik dari perangkat elektronik. Beberapa saat kemudian, seorang pemuda dari rumah sekitar datang membantu mematikan perangkat. Namun adik-adik sudah enggan melanjutkan bertadarus, sehingga mereka lebih memilih bermain dan membaca buku.

Kegiatan sebelum berbuka


Beberapa saat kemudian, volunteer berdatangan. Sama seperti anak kecil yang lain, mereka selalu punya kakak favoritnya masing-masing, menyambut dan duduk belajar atau bermain dengan mereka. Kali ini, favorit sebagian besar dari mereka adalah Windhy, volunteer baru yang sudah memanen cukup banyak perhatian adik-adik yang berebut untuk bermain atau sekadar meminta duduk di pangkuannya. Perangkat pengeras suara yang sempat berasap ternyata berdampak pada aliran listrik di dalam musholla. Lampu terus-terusan gagal dinyalakan. Kami terancam berbuka dalam gelap. Untung, Windhy "menyulap" sekring, dan kami berbuka seperti seharusnya. :)

Sembari menunggu berbuka, kami melakukan dialog beberapa menit dengan adik-adik. Sekadar menyampaikan evaluasi kegiatan adik-adik selama ini, serta ungkapan pesan dari kakak-kakak volunteer untuk kebaikan adik-adik ke depan. Harapan mereka pun beragam. Mulai Devi yang berencana akan menikah di tahun ini, ingin adik-adik lebih tenang, Winda dan Icha yang menyampaikan harapan serupa. Sementara Mbak Tiwi ingin adik-adik lebih banyak belajar dan membaca buku. Di antara riuh rendah kegiatan berbuka, kami cukup merindukan beberapa volunteer yang tahun lalu turut serta dalam buka bersama. Tahun ini mereka terpaksa tak dapat hadir karena terbentur kesibukan, waktu dan jarak.  

Volunteer yang hadir

Kegiatan berbuka bersama kali ini cukup lancar dan selalu berhasil meninggalkan kesan di hati kami. Bahkan tak terlintas di benak kami tahun lalu, bahwa tahun ini pun kami masih berkesempatan untuk menemani adik-adik secara konsisten setiap minggu, apalagi berbuka puasa bersama. Kiranya ini bukan hal besar secara kuantitas dengan nyaris empat puluh anak, namun selalu menjadi hal besar untuk kami. Dengan mendapat kesempatan untuk menjadi bagian dari sepenggal masa kecil mereka, dan terus percaya bahwa kebermanfaatan bagi sesama tak pernah habis untuk diusahakan, bagaimana pun bentuknya. 

Saatnya berbuka! :)

Kakak-kakak volunteer membagikan makanan berbuka

Kami membagikan kelebihan makanan berbuka untuk warga sekitar musholla

Melalui catatan yang begitu personal ini, saya berterimakasih sebesar-besarnya untuk kakak-kakak volunteer dan para donatur untuk sebentuk kemurahan hati, dan kesediaan untuk selalu menjadi kawan seperjalanan saya dalam meyakini bahwa kebahagiaan hakiki adalah ketika kita bisa terus berbagi. 


Salam hangat,

Nabila Budayana   


*dokumentasi acara secara lengkap dapat diakses di sini atau Fanpage taman baca kami di sini
   

3 comments: