Saturday, June 11, 2016

Ensemble Trielen dan String Orchestra of Surabaya : Perayaan Musim Semi Bersama

Festival musim semi (Printemps Francais) kali ini, Institut Francais Indonesia kembali mendatangkan reed trio, Ensemble Trielen ke hadapan publik berbagai kota. Jakarta, Surabaya, Yogyakarta. Ballroom Sheraton Surabaya menjadi lokasi pilihan pertunjukan 2 Juni 2016 lalu.

Audiens diajak kembali mendengar paduan bunyi Clarinet, Oboe, Bassoon yang matang. Musisi-musisi asal Prancis itu tak hadir sendiri, String Orchestra of Surabaya (SOOS) menjadi pembuka dan berkolaborasi dengan mereka.

Pertunjukan dibagi dalam tiga bagian. SOOS mengisi penuh di bagian pertama, bergantian Ensemble Trielen di bagian kedua, dan kolaborasi keduanya di bagian akhir.  SOOS membuka dengan Divermetimento in D KV 136 milik Mozart. Untuk pembuka yang langsung menuntut tampilan not-not rapat dan tempo cepat di movement pertama dan ketiga, SOOS tampil cukup baik dengan dinamika yang terjaga, namun frase dan artikulasi bisa digarap dengan lebih bersih di beberapa bagian sebagai kesatuan dari sebuah sajian kelompok strings. Di sisi lain, SOOS berhasil menyuguhkan dinamika yang cukup mengesankan sebuah sajian Sinfonia nuansa opera.

Le Cygne from Le Carneval des animeaux dari Camille Saint-Saens dipilih sebagai komposisi kedua. Dani Kurnia Ramadhan sebagai soloist Cello ditampilkan menonjol, sedangkan Shienny Kurniawati berpindah mengisi posisi Harpa. Di komposisi yang tak terlalu panjang ini, Dani tak menyia-nyiakan ruangnya dengan pandai memainkan frase dan dinamika yang ekspresif. Sehingga menghanyutkan, berhasil merepresentasikan gesekan Angsa dengan permukaan air danau yang tenang.

Carmen Suite from the Opera, komposisi ringan dan menghibur ini kerap dibawakan ini dipilih sebagai komposisi terakhir di bagian pertama. Les Dargaons d'Alcala, Habanera, Seguidilla, Les Toreadors menjadi sajian ringan sebelum intermessions. Membawakan Les Toreadors yang begitu familiar di telinga audiens sangat membantu dalam penyampaian. Namun juga sekaligus menjadi tantangan bagaimana ketiga bagian lainnya juga menjadi sama hidupnya.

Ensemble Trielen menyapa ramah audiens di bagian kedua. Mereka menjelaskan singkat tentang komposisi yang akan mereka bawakan, Variations on "La ci darem la mano" from "Don Giovanni" from Mozart milik Beethoven. Di komposisi pertama ini mereka langsung memberi kesan hidup dan menyenangkan dengan sajian nada yang bulat dan selaras, baik secara teknis maupun emosi. Trielen meninggalkan kesan sebuah komposisi yang megah, serta dinamika yang terasa.

Berbeda dengan komposisi sebelumnya, Suite Breve en Trio milik Eugene Bozza dipilih oleh Trielen sebagai unjuk kebolehan lainnya dengan menuntut instrumen untuk "berjalan masing-masing" meski harus tetap berada di kesatuan tujuan menyampaikan pesan yang sama. Meski tak "semudah" mendengarkan komposisi pertama dari Trielen, namun mereka tetap berhasil menyajikan kesegaran dan pesan yang tersampaikan dengan kematangan dan kedewasaan berbagi ruang.

Sebagai penutup dan puncak acara, Ensemble Trielen dan SOOS membahu memainkan Alexander Feast, Concerto en Do Majeur de Haendel HWV 318. Meski terbagi dalam part-part pendek, namun Trielen dan SOOS menunjukkan kerjasama yang cukup menyenangkan dalam komposisi ini. Dalam part yang terbagi jelas dan jarang memberikan ruang unjuk kebolehan pada pemain, Trielen dan SOOS menjauhkan audiens dari kemonotonan dengan menampilkan keselarasan yang cukup. Sebagai encore, Rasa Sayange dan Manuk Dadali dari aransemen Sounds of Indonesia Addie MS dibawakan secara berurutan. 

Pada akhirnya, musim semi Prancis tak harus selalu dipenuhi dengan nuansa komposer-komposer negeri Eiffel. Sebuah perayaan lebih memerlukan keceriaan bersama-sama. Ensemble Trielen dan SOOS membawanya ke panggung penutupan Printemps Francais 2016 di Surabaya dan mengajak audiens merasakan hal yang sama. 



No comments:

Post a Comment