Sunday, November 1, 2015

Pertemuan Musik Surabaya : Improvisasi Akord bersama Tamam Hoesein

Memiliki seorang guru yang hangat, humoris dan menyenangkan di pertemuan pertama tidak mudah. Namun kesan positif itu justru langsung terasa dalam 'ruang kelas' dengan pengajar spesial, Tamam Hoesein. Pertemuan Musik Surabaya yang terus konsisten menyelenggarakan acara bulanan dengan tema musik yang cerdas, selalu menarik untuk diikuti. Kali ini dihadirkan seorang Tamam Hoesein yang bersedia berbagi ilmu tentang teknik improvisasi dengan akord.

Tema yang sangat dekat dan aplikatif membuat kelas ini berhasil dipenuhi oleh anak-anak muda yang tertarik mendapat cipratan ilmu dari Pak Tamam. Ruang aula Wisma Jerman Surabaya, 25 Oktober 2015 kali itu dipenuhi audiens.

Bukan hanya sibuk dengan penjelasan teorinya, terlihat Tamam Hoesein sangat interaktif dengan aktif menanyakan sejauh mana audiens memahami penjelasannya. Dengan gaya santai, ia bahkan tak segan untuk menyapa beberapa nama yang ia kenal di antara audiens. Grand piano di hadapannya hanya sesekali ia gunakan untuk memperjelas apa yang ia tuliskan di white board. Kemauannya untuk ingin selalu mendengar penuh perhatian apa yang ditanyakan oleh audiens membuat proses belajar menjadi menyenangkan. Transfer ilmu itu berjalan seakan tanpa batasan. Dengan jam terbang dan berbagai pengalamannya mengajar, Ia memang terlihat begitu terbiasa dengan suasana pembelajaran.




Tamam Hoesein menjelaskan tentang bagaimana berimprovisasi dengan memberikan bunyi dan nuansa yang berbeda. Dalam proses improvisasi ini, sangat penting untuk mengenal akord Tonic dan Dominant. Tonic merupakan akord yang bisa berdiri sendiri, tidak memerlukan akord tambahan untuk menyelesaikannya. Sedangkan akord Dominant merupakan akord yang tidak bisa berdiri sendiri, dibutuhkan akord Tonic untuk menyelesaikannya. Alih-alih menggunakan pola yang biasa,secara umum misalnya urutan akord I - V7 - I, ia memberikan alternatif dengan cara mensubsitusi akord. Akord V7 yang digunakan, bisa diganti dengan variasi yang berbeda sesuai kebutuhan. Tentu saja dengan akord yang tetap masih 'sejalan' dengan yang ingin dimainkan. Misalnya dengan mengubah pola sebagai berikut :

I            V7           I
I      IIm7   V7      I
I      IIm7  IIb7     I
I      IIm7  II7       I

Pak Tamam pun tak setengah-setengah dalam memberikan materi. Dalam modul ciptaannya, dijelaskan berbagai jenis akord dan opsi-opsi bagaimana melakukan improvisasi untuk menghasilkan melodi yang lebih halus, sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal ini, kebutuhan penggunaan jenis akord sangat bergantung pada pemain menghasilkan melodi apa yang diinginkan. Meski begitu jangan sampai memaksakan untuk  menciptakan kesan "rumit" atau "jazzy".

Seorang audiens menanyakan tentang permasalahannya yang kesusahan dalam melakukan improvisasi akord, karena berangkat dari jalur musik klasik yang lebih sering bermain musik sesuai dengan partitur. Tamam Hoesein menjelaskan bahwa dalam musik klasik pun sesungguhnya beberapa komposer menerapkan pola improvisasi yang sama. Beliau menyarankan audiens untuk membuktikannya dengan menganalisa komposisi-komposisi yang diciptakan Chopin. 

Berbicara tentang musik klasik, Pak Tamam berkisah tentang pengalamannya mengajar di sebuah sekolah musik tertua di Indonesia yang didirikan tahun 1950 di Medan. Sekolah tersebut pada awalnya hanya mengajarkan musik klasik pada siswa-siswinya. Namun kemudian berbagai jenis musik mulai diajarkan. Kebetulan ia diminta untuk mengenalkan musik jazz. Sesungguhnya musik jazz 'lebih sederhana' dibanding musik klasik, karena pemain lebih bebas untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Sedangkan pada musik klasik, pemain diminta untuk mempelajari dan memainkan komposisi dari komposer tertentu. Tamam Hoesein mulai mengajarkan Blues. Siswa-siswi yang telah terbiasa bermain musik klasik secara spontan diminta untuk berimproviasi dengan gaya Blues. Awalnya mereka merasa kesulitan, karena belum terbiasa bermain secara bebas. Namun pada akhirnya mereka merasa gembira karena menemukan 'garis-garis yang dibongkar' dan boleh melakukan apa saja dengan lagu. "Feel free to do that." Berkaca dari pengalaman tersebut, Tamam Hoesein memberikan saran agar audiens mampu menikmati musik dengan bermain secara bebas. Bagi yang telah terbiasa memainkan musik klasik, banyaklah mendengar berbagai improvisasi lagu. Di awal proses tersebut pemain akan tiba di tahap meniru terlebih dahulu. Namun proses itu tetap harus dilanjutkan dengan terus mencoba serta menjaga konsistensi untuk berlatih setiap hari.   

Dalam sub bab Reharmonisasi, Pak Tamam memainkan lagu lawas milik Harold Arlen, "Over The Rainbow" yang beliau reharmonisasi menjadi lebih jazzy dengan banyak menerapkan akord-akord IIm7 dan V7. Berkaca dari cara beliau yang mampu mengimprovisasi berbagai lagu, tips yang disarankan pada audiens adalah dengan mengaplikasikan pola I - V7 (beserta turunannya)- I pada dua belas kunci yang ada.  

Bicara tentang improvisasi, bukan berarti kemudian melupakan substansi bermain musik. Seorang Tamam Hoesein pun memberikan pandangan-pandangan membuminya. Bahwa tidak pernah ada masalah di musik dan tak perlu dipermasalahkan. Pernyataan itu berlanjut dengan bahwa dalam musik tidak ada yang benar atau salah. Seluruhnya hanya masalah selera, suka atau tidak. 

"Musik adalah cermin apa yang kita rasakan." - Tamam Hoesein.

No comments:

Post a Comment