Friday, November 27, 2015

Goodreads Surabaya : Perempuan dan Literasi bersama Sirikit Syah

Banyak yang menarik dari seorang Sirikit Syah. Kiprahnya di bidang jurnalistik dan kesusastraan yang telah dijalani begitu lama membuatnya menjadi tokoh yang menarik dengan banyak inspirasi. Tanggal 22 November 2015 lalu, Goodreads Indonesia regional Surabaya mendapat kehormatan untuk berdiskusi langsung dengan beliau.

Mengajukan tiga tema sebelumnya, Sirikit memutuskan untuk merangkum ketiga tema tersebut dalam Perempuan dan Literasi yang menggambarkan karier beliau secara keseluruhan, baik dalam bidang jurnalistik maupun literasi. Sesungguhnya, tema kali ini agak terlalu luas. Namun justru menjadi menarik karena audiens bebas menanyakan apa saja dan bagaimana Sirikit menempatkan diri dalam berpendapat dan memandang berbagai hal, terutama terkait dengan beliau yang vokal dan tajam dalam mengupas sesuatu.

Foto oleh Lina Handriyani

Bukan hanya pada karyanya, kesan perempuan dengan pendirian kuat dan daya juang tinggi juga melekat di diri seorang Sirikit Syah. Hal itu tergambarkan melalui bagaimana pilihan-pilihan hidup yang beliau ambil dalam kisah perjalanan hidupnya. Sirikit pun tak segan mengakui kesalahan-kesalahannya dalam mengambil keputusan besar ketika dihadapkan dengan berbagai pilihan. Seperti ketika beliau mesti memilih antara berangkat untuk pertukaran pemuda ke luar negeri atau bekerja. Juga menolak tawaran menjadi dosen dari sastrawan senior, Budi Darma dan memilih bekerja di Surabaya Post. Namun lebih banyak keputusan yang beliau tak sesali. Memutuskan untuk berhenti bekerja karena enggan untuk terlibat dalam politik uang, misalnya. Beliau berharap bahwa ini mampu menjadi bahan pembelajaran pada kaum muda untuk lebih bijak dan matang dalam mengambil keputusan.

Karier seorang Sirikit Syah dimulai ketika beliau lulus dari perguruan tinggi IKIP Surabaya dengan major Pendidikan Sastra Inggris. Pernah menjadi wartawan di harian Surabaya Post hingga The Brunei Times, juga menjalani tahun-tahun panjang jenjang karier di media pertelevisian seperti SCTV dan RCTI membuatnya banjir pengalaman. Kejadian di dunia media suatu kali mengusik kepalanya. Beliau berpendapat bahwa belakangan media sudah terlalu bebas dan sarkas. Ingin menunjukkan jurnalisme damai, beliau memutuskan untuk membentuk Media Watch, sebuah lembaga konsumen media. Beliau juga melatih ratusan jurnalis dari banyak wilayah di Indonesia untuk menulis dengan lebih berimbang. Jika mesti membandingkan antara media cetak dan media televisi, Sirikit Syah lebih nyaman untuk menulis di koran. Baginya, media televisi terlalu sempit untuk mengutarakan sesuatu. Sedangkan di koran, gagasan dapat dibaca secara utuh oleh khalayak. 

Erat kaitan dengan perempuan, Sirikit Syah sangat optimis dengan penulis-penulis perempuan di Indonesia saat ini. Baginya, penulis perempuan di Indonesia telah mendapat kedudukan yang baik sekali. Secara kuantitas, menurutnya lebih banyak penulis perempuan saat ini. Dari sisi kualitas pun hampir sama antara perempuan dan laki-laki. Sebagai contoh, ia mengaku menyukai karya dan diksi dari juniornya, Dee, yang indah. Sirikit Syah pun optimis terhadap dunia sastra Indonesia ke depan. Baginya, keunggulan sastra Indonesia ada pada keberagaman hal yang bisa diangkat. Menjawab pertanyaan tentang bagaimana memisahkan jurnalistik dan sastra, beliau berkata bahwa menulis fiksi semestinya membebaskan. Dalam karya fiksi, penulis bisa merasa bebas, mampu membela diri, meski karya tersebut diangkat dari fakta-fakta yang didramatisir. Baginya, eksplorasi dalam sastra oleh penulis sebaiknya bersifat bebas dan "liar". Karena sastra adalah medium untuk menjangkau banyak orang, dengan simbolisme, dengan majas. Sastra harus mampu menyentuh banyak hati. Sementara dalam jurnalistik mesti ada sifat ketepatan dan real. Menjembatani antara sastra dan jurnalistik, terdapat jurnalisme sastrawi dapat digunakan untuk menulis feature.

Dalam kumpulan cerita pendeknya yang berjudul Harga Perempuan. Sirikit Syah banyak menampilkan sudut pandang tokoh perempuan yang memiliki karakter tersendiri. Karakter perempuan dalam kumcer tersebut berbeda dari karakter-karakter perempuan dalam fiksi yang ada saat itu. Salah satu yang menjadi inspirasinya adalah sosok perempuan tangguh yang ditampilkan Pram dalam Bumi Manusia. Diary Anne Frank, kisah seorang anak perempuan dalam setting Holocaust lah yang membawa Sirikit Syah untuk menulis sastra secara serius di masa mudanya. Berbicara tentang perempuan, pertanyaan menarik datang dari seorang audiens tentang feminisme. Menjadi sebuah kata yang bermakna sangat subjektif, Sirikit memberikan pandangan dirinya terhadap makna feminisme dengan mengambil contoh rumah tangganya. Baginya, kesuksesan seorang perempuan tergantung pada bagaimana ia memilih pasangan hidup yang tepat. Beliau membiarkan laki-laki sebagai seorang pemimpin. Sang Suami berhak memutuskan apa saja dalam keluarga. Dalam tubuh manusia, ia adalah kepala. Namun, Sirikit bertutur bahwa perempuan adalah leher. Kepala boleh saja memiliki keputusan. Tapi, kepala tak akan bisa bergerak ketika leher tak mengizinkan. Baginya, dalam mendampingi perempuan, laki-laki mampu memimpin dengan berjalan di depannya, bisa menjaga dengan berjalan di belakang, namun lebih sering berada di samping untuk menemani.

Memiliki karier panjang dalam dunia penulisan jurnalistik dan sastra, Sirikit Syah membagi pesan substansial pada generasi muda.

"Open your eyes, your ears, your mind, and your heart."

Beliau seakan mengingatkan kembali bakat-bakat muda yang terlalu sibuk menggali pernik-pernik di permukaan. Bahwa kepekaan sosial adalah modal dasar dalam kepengarangan. Sirikit Syah juga membuktikan dengan perjalanan kariernya, bahwa perempuan dengan keistimewaannya selalu memiliki ruang tersendiri dalam ranah literasi.


Foto oleh Lina Handriyani


No comments:

Post a Comment