Sunday, November 8, 2015

Concert de Piano : Pascal & Ami Roge

Setelah mendapat sambutan baik di Jakarta, Pascal Roge dan Ami Roge akhirnya hadir di Surabaya. Di hari ke-empat November 2015, IFI Surabaya bersama Diapason Music mendatangkan pasangan pianis ini ke Ballroom Sheraton Hotel yang berhasil menarik perhatian begitu banyak audiens yang antusias. Bahkan pintu masuk tetap dibuka untuk menampung audiens yang terlambat datang dan terpaksa berdiri untuk menonton pertunjukan.

Membawa semangat Negeri Eiffel bersama duo pianis ini, ditampilkan berbagai komposisi ciptaan komposer-komposer Prancis yang tersohor seperti Claude Debussy, Erik Satie, Maurice Ravel, Igor Stravinsky, dan Henri Dutilleux. Meski begitu, Pasangan Roge juga ingin menunjukkan penghargaan mereka pada komposer Indonesia. Karya Slamet Abdul Sjukur dan Trisutji Kamal yang memiliki keterikatan khusus dengan Prancis turut dibawakan.

Kali ini sang performer tak langsung tampil. Pertunjukan dibuka dengan penampilan secara bergilir beberapa anak yang mengikuti masterclass Pascal dan Ami Roge. Anak-anak Surabaya usia 9 hingga 13 tahun ini menampilan berbagai komposisi. Liszt hingga Debussy. Ini menjadi menarik karena mereka menjadi penampil pembuka dari performer utama. Ketujuh bakat baru ini memiliki kualitas penampilan yang luar biasa. Di usia belia, mereka telah berhasil menaklukkan komposisi-komposisi dengan teknik tinggi. Beberapa dari mereka menonjol dengan kemampuan komunikasi emosional dengan audiens melalui karya yang mereka mainkan. Jonathan Inkirawang dan Sally Yapto mengagumkan dan begitu menikmati waktu mereka di atas panggung. Mereka seakan telah siap untuk menjadi performer andal masa depan.

Ballroom semakin penuh ketika Pascal dan Ami Roge tampil. Bersama, mereka membawakan Petite Suite piano duet dari Debussy. Pilihan ini cukup mengejutkan. Alih-alih membuka konser dengan komposisi yang menuntut show-off  berbagai teknik dengan menggebu, kali ini justru dibuka dengan movement En Bateu yang bright, tenang dan mengalir. Komposisi yang didominasi Andantino dan Moderato ini baru menampilkan melodi-melodi cepat Allegro di movement terakhir, Ballet. Komposisi ini memang pendek, sederhana dan mudah dicerna. Debussy sengaja menciptakannya untuk pianis amatir, berlawanan dengan karya modern lain yang ia ciptakan.

Pascal Roge kembali seorang diri untuk menampilkan karya tersohor milik Satie, Gymnopedie 1. Frase awal yang familiar memikat audiens dan seketika mengudarakan atmosfer sepi dan muram. Komposisi ini konon terinspirasi dari novel historical karya sastrawan Prancis Gustave Flaubert, Salammbo. Tak seperti ketika menulis Madam Bovary, Flaubert banyak dipandang aneh di buku ini. Nuansa epic itu pun terlihat pada Gymnopedie dengan melodi-melodi yang tak terduga khas Satie. Pascal kemudian menyajikan time-line waktu penciptaan komposisi yang berurutan terhadap karya Satie. Gnossiennes 5 yang masih bertempo lambat namun banyak menampilkan hitungan yang tak terduga ditampilkan jelas oleh Pascal. Pemilihan Satie dalam daftar karya yang ditampilkan memang menjadi menarik, mengingat karakteristik Satie yang unik.

Photo by : Vincent Jose

Audiens kemudian dibawa ke nuansa yang berbeda dengan running-running notes dan legato Sonatine milik Ravel. Petualangan berikutnya ini membawa pada suasana elegan dan klasik dengan virtuoso dari Pascal Roge. Emosi yang tak berlebihan dan kejernihan dalam penyampaian membuat komposisi ini nyaman untuk dinikmati. Modere, Movement de Menuet dan Anime digarap rapi dan baik oleh Pascal. L'adoration de la Terre milik Stravinsky mendapat giliran berikutnya. Audiens diboyong ke suasana Rusia dengan dinamika yang menegangkan dan kental dengan bunyi disonan. Tak dihadirkan dengan bantuan string, ketegangan di komposisi ini sesungguhnya berpotensi minim grande. Namun ambiance ketegasan dan kesuraman tentang pengorbanan seorang perempuan masih terasa lekat. 

Jeda sejenak sebelum komposisi berikutnya ditampilkan, cukup banyak penonton yang tak ingin meninggalkan kursinya. Suhu dingin ballroom tak membuat mereka kehilangan antusiasme untuk mengikuti pertunjukan hingga usai. Ketika akhirnya performer kembali ke panggung, Pascal dan Ami Roge sempat berkisah singkat bahwa komposer Prancis begitu banyak yang terpengaruh dengan Gamelan Indonesia. Oleh karena itu, setelah dibawa ke beragam warna komposisi Prancis sebelum intermession, Gunung Agung Act 1 Joy of Life milik Trisutji Kamal yang bernuansa khas Indonesia dibawakan. Meski tak mengajak kolaborasi I Ketut Budiyasa seperti pada konser di Jakarta, namun Pascal dan Ami tak membuatnya terlihat timpang. Komposisi ini tetap termainkan dengan nuansa pentatonik yang menarik. Duo pianis ini juga mengajak audiens untuk mengenang Slamet Abdul Sjukur. Komposisi Tobor : Tiring ditampilkan oleh Ami Roge. Karya ini seakan mengingatkan bahwa Indonesia benar-benar kehilangan seorang komposer besar dengan warisan karya-karya yang mendunia. Hal minor yang menarik dari pasangan suami istri ini adalah keterikatan emosi mereka yang sangat terlihat. Ketika Ami memainkan Tobor, Pascal dengan setia memilih untuk duduk di tepi panggung dengan membiarkan kakinya menggantung. Selama karya dimainkan, ia menunduk, meresapi permainan sang istri dalam-dalam.

Yang spesial, karya dari Henri Dutilleux yang merupakan guru dari Slamet Abdul Sjukur turut dibawakan. Semakin spesifik, Resonance ciptaan Dutilleux ini hanya bisa dimainkan oleh Pascal Roge, mengingat komposisi ini diciptakan secara khusus untuknya. Ketenangan Pascal dalam bermain memang mengagumkan. Bergantian, Ami memilih untuk duduk di antara kursi penonton. Ia mendengarkan dengan serius harmoni-harmoni yang diciptakan sang suami.  

Menjelang akhir, Debussy dan Ravel sengaja dipilih untuk meninggalkan kesan Prancis pada audiens. Sebelum memainkan keduanya, Pascal mengatakan bahwa kedua komposer ini baginya adalah dua komposer terhebat dalam ranah musik klasik Prancis. Mereka menentukan keistimewaan warna musik Prancis. Ia pun bercanda bahwa untuk menentukan siapa yang terbaik, audiens hanya perlu mendengarnya dan menentukan pilihannya masing-masing. Berkewarganegaraan dan hidup di zaman yang sama, pun sama-sama disebut mengusung musik impresionis, tak heran banyak yang membandingkan Debussy dan Ravel. 4 Preludes milik Debussy terpilih untuk dibawakan lebih dulu. Voiles membuat audiens terlempar kembali ke ketenangan dengan banyak ruang imajinasi di antara frase. Le Vent dans la Plaine dan La Fille aux Cheveux de Lin yang lebih dinamis menaikkan dinamika emosional audiens dengan permainan yang tenang namun dinamis. Tetap terkontrol, Minstrels menjadi puncak dengan dinamika yang lebih tajam dengan forte dan arpeggio yang kerap muncul.       

Pemilihan komposisi terakhir ciptaan Ravel yang justru erat dengan nuansa Spanyol, Rapsodie Espagnole empat tangan menjadi karya terakhir dalam daftar. Tema yang terus berulang berpotensi menimbulkan kemonotonan. Meski begitu heningnya malam hari terasa di movement pertama, Prelude a la nuit. Nuansa rancak Spanyol mulai terlihat di Malaguenas. Movement singkat ini seakan memperlihatkan penari Flamenco yang mulai berdansa. Audiens kembali melambatkan mood dengan diberikan Habanera, sebelum akhirnya ditutup dengan Feria yang sangat hidup dan ramai. Begitu komposisi berakhir, selain tepuk tangan panjang, duo pianis Roge juga menerima hujan apresiasi berbentuk karangan bunga dan kado dari peserta masterclass mereka. Mereka mengaku begitu tersentuh dengan segala bentuk penghargaan tersebut. Kekaguman mereka pun tercurah untuk kualitas bakat-bakat baru musisi klasik Surabaya yang melebihi ekspektasi. Interaksi manis suami-istri ini pun terlihat melalui beberapa hal kecil. Selain selalu menggandeng tangan sang istri setiap kali turun panggung, hal serupa pun terjadi ketika Ami sedang berbicara pada penonton dan tampak kerepotan dengan kado dan karangan bunga yang memenuhi tangannya, dengan sabar Pascal mengambilnya satu per satu dan memindahkannya ke panggung. Tanpa berlama-lama, duo pianis ini memberikan encore pendek ciptaan Colin McPhee, seorang komposer asal Canada yang tekun mengeksplorasi Gamelan Bali.

Photo by Vincent Jose

Pascal dan Ami Roge meninggalkan kesan dengan menjadi penampil yang tak emosional berlebihan. Gerakan yang efisien dan rapi juga menjadi referensi simplicity dalam performa musik klasik. Duo ini seakan membiarkan komposisi yang mereka mainkan menjadi indah dengan sendirinya. Pertunjukan pun telah direncanakan matang dengan pemilihan komposisi dan urutan yang menyenangkan. Sebagian besar waktu penyajian yang tak terlalu panjang membuat audiens mudah menerima dan tak terkesan melelahkan. Komunikasi yang terbangun selaras di antara duo ini pun membentuk kepaduan yang menyenangkan untuk komposisi-komposisi piano empat tangan, serta keseluruhan pertunjukan. 


No comments:

Post a Comment