Thursday, May 21, 2015

Kamisan 9 Season 3 : Tentang Bapak dan Teddy

Sejak dulu bapak tak pernah bisa membelikanku boneka. Katanya, untuk makan saja keluarga kami sudah begitu susahnya. Di rumah kami tak pernah ada kisah karpet Aladdin atau dunia penuh keajaiban Alice. Setelah dewasa, aku baru mengenal siapa Yasmine dan Mad Hatter. Kami terlalu sibuk dengan bagaimana kehidupan hari esok. Tentang apa yang akan ada di atas piring seng kami. Tapi jangan berikanku tatapan iba itu. Bahkan hal itu bukan menjadi hal memalukan untukku. Tak perlu juga memberikanku tatapan simpati yang berlebihan hanya karena segan. 

***  

Aku telah akrab dengan aroma itu sejak kecil. Aroma alkohol menyengat yang selalu hadir ketika bapak menjejakkan kaki di rumah dengan berjalan limbung. Biasanya ia begitu saja berbaring di tikar anyaman plastik warna-warni, satu-satunya tanda bahwa ruang kecil setelah pintu masuk adalah ruang tamu. Itu hal terbaik yang bisa kudapatkan. Namun bapak yang 'sekadar berbaring' hanya terjadi beberapa kali. Ia lebih sering mengamuk, membanting piring, panci, gelas belimbing berisi kopi, atau bingkai foto kenangan ibu satu-satunya tentang kakek. Bagus, kami tak perlu tukang loak, sindir ibu. Memangnya ada barang kita yang bisa diloak? dalam hati, aku penasaran. Sehari-hari, aku menjaga rumah ketika ibu bekerja menjadi pembantu rumah tangga di kota. Jangan tanyakan tentang bapak, ia selalu berangkat dan pulang selayaknya pekerja kantoran, meski tak pernah membawa uang sepeser pun untuk kami. Menghitung jumlah ubin, bermain Cublak Cublak Suweng seorang diri, atau membayangkan berbagai bentuk dari goresan di tembok, menjadi kegiatan sehari-hariku. Saat ini aku heran bahwa aku tak jadi gila dengan masa kecil yang sedemikian. Kami benar-benar tak punya apa-apa. Apalagi mainan dan buku anak. Jangan harapkan untuk ada. Dan memang aku tak boleh mengharapkannya.

***

Lalu, saat ini, ketika aku sudah dewasa, pria itu datang ingin menebus semuanya. Katanya, masa lalu kami tak semestinya begitu. Sudah kukatakan bahwa ia tak perlu berkata demikian. Teras dengan bunyi gemericik air, kicau burung, juga kursi goyang yang nyaman untuk punggung dan lehernya sering pegal karena usia. Lebih sering, ia memegang dadanya yang sesak. Meski tak pernah mengeluhkannya, aku tahu dari kebiasaannya memijat sendiri dengan tangan yang entah sejak kapan telah menggelambir dan mengendur kulitnya. Rasanya mungkin sejak aku terakhir kali mencium tangannya lima, sepuluh tahun lalu? Entah. Apa untungnya menyembunyikan keluhan? Aku bahkan mampu membawanya ke dokter spesialis paling mahal. Jika bukan karena keinginannya yang menolak dengan keras, tentu aku sudah akan membawanya paksa untuk memeriksakan tubuhnya. Bolehkah kukatakan bahwa sejujurnya aku berterimakasih padanya?

***

Aku seorang berhati mulia. Semua kulakukan untuknya sebagai balas jasa. Yang mengubahku sedemikian rupa. Sejak usia belasan, ia benar-benar berubah, Ted. Ia membawakanmu, mainan pertama semenjak kelahiranku. Aku melihat bayangan samar diriku sendiri di cembung mata hitammu. Aku jatuh cinta dengan senyummu yang lebar dan tak pernah berkurang seinci pun. Bulu lembut kecokelatan yang selalu berhasil membuatku memeluk dan menggendongmu sesering mungkin. Teman pertama yang menyenangkan. Masing ingat ketika kemudian bapak membawa kita pindah ke rumah besar? Katanya di sana akan ada banyak Teddy selucu dirimu. Siapa yang tak ingin, bukan? Semenjak itu aku tinggal bersama bapak lain. Ia memberiku banyak kawan-kawanmu sebanyak yang kumau. Sebagai gantinya, aku menghadirkan banyak manusia-manusia kecil dari rahimku. Bapak tidak sejahat yang kubayangkan. Ia yang menemukanku dengan bapak lain, dan Teddy-Teddy lain sepertimu. Karenanya, aku ingin membalas segala kebaikannya.

***

Mengapa pria tua penuh penyesalan itu kerap mengataiku bodoh, Teddy?

***


Kisah ini ditulis untuk proyek menulis Kamisan

No comments:

Post a Comment