Thursday, May 7, 2015

Kamisan 8 Season 3 : Mimpi dan Puluhan Televisi

"Seratus lima puluh ribu?"
Dasar opurtunis. Ia pasti telah mengenalku dari penjual toko sebelah.
"Maaf, uang saya tidak segitu."

Wanita paruh baya itu kemudian melenggang pergi. Melampaui jalan pertokoan, mengambil sisi jalan yang lain dan berbelok di ujung. Roda kereta barang lipat yang dibawanya berbunyi sepanjang jalan. Gudang. Toko ini cukup terkenal di kalangan pemburu barang antik. Bangunannya tak sebesar toko-toko yang lain, namun selalu membuat heran siapa pun, karena ia mampu menampung segala jenis benda berdebu itu dengan ruang yang cukup pantas untuk disinggahi. Tanpa ragu ia mendorong pintu kaca berbingkai mahoni hingga lonceng bergemerincing. Sang wanita langsung bertatapan dengan pria berambut berantakan. Senyumnya khas dengan gigi yang jarang.

"TV lagi? Belum ada. Maaf. Mungkin kau ingin mencoba pemutar piringan hitam ini? Kemarin seseorang menawarnya dengan harga mahal, tak kuberikan. Kukira ini lebih tepat untukmu."
Perempuan itu hanya menggeleng dan tersenyum. Dia bahkan sudah hapal benar bagaimana jurus rayuan sang pemilik toko.

Angin sepoi yang datang begitu ia menghambur keluar toko berhasil mengenyahkan bau apak yang terekam dalam penciumannya. Setelah menimbang sesaat, ia memutuskan kembali menyusuri jalan yang lain. Layar berwarna elektronik itu harus didapatkan.

***

"Sampai kapan?"
Suatu kali, ia bertanya pada sang wanita.
Lagi-lagi tak ada jawaban.

Sang wanita menatap tembok dengan puluhan televisi yang menggantung, mengagumi hasil kerja kerasnya itu selama beberapa waktu. Ia beranjak ke sofa yang biasa, mengambil remote dan menikmati waktunya. Dunianya berputar kembali. Dalam remang ruangan, sang wanita menatap benar pada layar-layar yang membiaskan cahaya. Seketika semua layar itu menghadirkan seorang pria berkumis bersamaan. Mereka semua tampak sedang melakukan hal yang sama : dengan gembira mempersiapkan perlengkapan liburan, peralatan barbeque. Pria itu tampak agak terlalu bersemangat hilir mudik mengangkut karung arang, pemanggang, hingga alat memasak dan peralatan makan. Sesaat kamera fokus pada sang pria. Tak ada orang lain di sana, selain sang pria dan pemegang kamera. Jika ini bukan dilihat oleh sang wanita, tentu akan menjadi video liburan pasangan yang sangat membosankan.

"Kemari. Lihatlah ini. Ini bagian yang paling menyenangkan."
Meski sang gadis remaja telah hapal benar dengan tabiat sang ibu, ia tetap melakukan apa yang diinginkannya. Bergabung, menonton bersama.
"Aku sudah muak dengan video liburan ini ibu. Diputar berapa kali pun ayah tak akan pernah kembali." sang remaja cukup terkejut dengan dirinya sendiri yang mampu berkata demikian. Kejenuhan telah menguasai dirinya.

Ini pertama kalinya ia melihat sang ibu tersenyum.
"Sudah saatnya kamu tahu," ucap sang wanita.
Sang gadis remaja bertanya-tanya apa maksudnya. Sesaat tak ada yang tampak berbeda di layar-layar itu. Ayahnya yang dalam beberapa detik tiba-tiba menghilang dari kamera dan adegan berikutnya telah menampilkan ia yang telah terbaring tak berdaya. Adegan ini juga sudah kerap kali ia saksikan. Meski menyakitkan, mereka sudah sepakat untuk bisa menerima hal itu. Ayah yang terkena serangan jantung tiba-tiba. Itu yang membuat hidup sang gadis remaja tak pernah kembali sama. Tiba-tiba video berhenti terputar. Adegan kembali diulang. Layar-layar televisi itu menampilkan hal yang selama ini luput dari pandangan sang remaja. Tangan berlumur darah yang tak pernah terlihat sebelumnya, karena hanya hadir sekelebat. Jelas, itu tangan sang pemegang kamera.

"Aku yang membunuhnya. Agar ia tak membuatmu sengsara," sang wanita berkata datar.
Sang gadis belum percaya, menatap benar-benar sang wanita.
"Agar engkau tak perlu memiliki sosok ayah yang memiliki dua wanita dalam hidupnya."

"Layar-layar televisi di dinding ini adalah dendamku. Agar kelak semua orang dengan jelas menyaksikan. Wanita tak bisa begitu saja diremehkan."

Dunianya diputarbalikkan seketika. Sang gadis ingin melewati detik ini dan menganggapnya mimpi. Mimpi buruk tentang ayah, ibu juga puluhan televisi di hadapannya.

***

No comments:

Post a Comment