Tuesday, April 21, 2015

Pertanyaan

Sahabat karibku adalah biru. Biru yang terkadang seukuran tubuhku, terkadang terlalu besar untuk kurangkul. Biru tak pernah pergi. Ia setia. Sesetia aku yang selalu mencintainya tanpa lelah. Namun, mengapa aku begitu mencintai biru? Alasan nomor satunya sederhana. Ia tidak pernah pergi.

***

Biru tak pernah menunjukkan ia merasa lapar. Ia hanya memandangiku ketika aku lahap menyantap bubur ayam hambar yang biasa di pagi hari, atau nasi campur dengan hanya seiris dua iris potongan daging dan sayuran tanpa bumbu.

"Kau tak ingin makan bersamaku?"
Ia bergeming.
Mungkin karena makananku tak pernah membuatnya berselera. Entah. Ia justru bertanya.
"Apa kau takut lapar?"


***

Tidak ada yang sanggup menghentikan amarahku kali ini. Gaung teriakanku mampu membuat siapapun menutup telinga. Aku hanya mampu membuat suara, menghentak-hentak, berguling, layaknya penari yang sedang kehilangan akal. Setiap kali memang melelahkan. Tapi ini satu-satunya jalan. Sayang, rasanya ini tak lengkap. Tak ada benda-benda yang mampu kuhancurkan. Yang berdenting merdu ketika menghantam lantai, dan berkeping indah menjadi serpih terkecil. Bukankah selalu ada kepuasan di diri manusia ketika mampu menghancurkan sesuatu? Menihilkan hasil ciptaan, entah karena kecemburuan atau ketidakmampuan. Bagaimana dengan menghancurkan diriku sendiri? Bukan ide yang buruk. Bisa kucoba lain kali.

Siapa yang mampu menghalangiku? Biru? Dia selalu mengafirmasi apapun yang kulakukan. Bukankah menyenangkan? Tapi bukan berarti ia alpa menanyakan. 

"Mengapa kau selalu marah begitu?" tanyanya suatu kali.
"Hei, apa kau pernah merasakan rasanya tak memiliki apapun, paling miskin dan paling bodoh?"
"Kau merasa miskin dan bodoh?"
"Kau sebut apa orang yang bahkan tak memiliki memori sepertiku?"
Biru hanya diam.

***

Perbincangan kami berlanjut tentang hal berbeda, suatu kali yang lain.  
"Hei, Biru. Apa yang kau takutkan di dunia ini?"
"Kau."
"Aku?"
"Kau yang suatu saat bisa pergi begitu saja,"
Biru sangat absurd. Jawaban macam apa itu. Permainan kuputarbalik. 
"Jika kau, apa yang membuatmu takut?"
"Tidak ada. Karena kurasa aku tak punya apa-apa. Ah, aku cuma punya kau," jawabku tanpa ragu. 
Biru terdiam kembali. Kuajak ia bernyanyi, ia bungkam. Kuajak ia bergulingan, ia tak menghiraukan. Tiba-tiba Biru kembali berucap, "Kau pembohong. Jangan-jangan kau hanya pengecut yang selalu khawatir tak memiliki rasa takut?"

Aku tak ambil peduli. Aku berlari, menatap, berteriak, membentur, menendang, menyakiti, menghantam. Biru memang selalu seperti itu. Seisi rumah sakit ini pun begitu. 

Kenalkan. Ia Biru, dinding di kepalaku. 


***

*Ditulis untuk proyek menulis dwi mingguan, Sisa Selasa #3

No comments:

Post a Comment