Sunday, December 29, 2013

Sepenggal Picisan



“Namanya Debur Ombak Selatan. Oke, orang tua macam apa yang menamai anaknya Debur Ombak Selatan?”
Bahkan sudah bosan aku mendengarnya. Itu bisik-bisik yang sudah sampai di telingaku. Sayang, aku pun tak mengerti mengapa namaku begitu. Setidaknya sampai hari ini. Di akhir perbincanganku dengan ayah. 

***

Ayah. Aku tak pernah ingin menyalahkan ayah. Kata ibu, hanya seorang pecundang lah yang terus saja menyalahkan orang lain. Seandainya saja ayah saat itu tak membawa kami pindah ke mari. Ke tepi selatan suatu pulau, yang seakan terpencil ini. Kehidupan kami di kota sangat baik sebelumnya. Ayah mampu hidup dari honor menulisnya, dan ibu mampu menambah biaya hidup kami dengan bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit besar. Tak ada kejanggalan apapun saat itu, sampai akhirnya bertahun-tahun kemudian, saat ini, ketika diriku bukan lagi anak-anak. Usiaku sudah lebih dari dua puluh tahun. Ayah mengajak kami mengepak semua barang, dan memilih tinggal di sebuah pondokan tepi pantai selatan yang sederhana, namun tertata apik.
Bukan aku tak suka. Namun, mestinya ayah menyadari rasanya menjadi seorang gadis muda yang telah terbiasa dengan segala fasilitas kota. Untunglah kami tak benar-benar terputus dari kehidupan. Ada akses internet yang sengaja ayah pasang untuk mengirimkan naskah-naskahnya pada penerbit dan media. Sedangkan ibu, telah berhenti total dari pekerjaannya. Ia murni menjadi seorang wanita rumah tangga. Ketika aku bertanya, apa alasan ayah mengajak kami pindah ke mari, yang keluar dari bibirnya hanya “Sudah saatnya kembali ke masa lalu.”

***

Jauh, jauh sebelum saat ini, di kepala ayah, sebuah kisah lahir. Ia sesumbar kisah itu akan menjadi bagian penting dalam buku yang sedang ditulisnya. Buku yang mungkin akan bernasib sama seperti buku-buku sebelumnya. Tak terlalu laku. Hanya bertahan beberapa minggu di bagian rak depan toko buku, sebelum akhirnya berpindah di bagian pojok, dan berakhir di tumpukan gudang, menanti saat-saat ia masuk pada tumpukan rak diskon beberapa tahun kemudian. Aku selalu berpikir, apa yang menyebabkan buku ayah tak laku. Apa karena temanya yang sudah terlalu umum? Atau teknis penulisannya yang jauh dari cukup? Entah. Namun, ayah pun tak pernah peduli dengan itu. Ia seakan menutup kedua telinganya terhadap surat-surat elektronik yang berisi cacian pembaca. Hebat juga, pikirku. 

Anganku belum menemukan muara, ketika kudengar suara langkah seseorang dari belakang. Ternyata ayah. Ia mengambil tempat di ayunan kosong sebelahku. Ayunan ini kubuat sendiri, ketika kurasa tak ada tempat yang tepat untuk memandang laut.
“Sudah lama?”
“Lumayan. Tulisan ayah sudah selesai?” kataku tanpa menoleh padanya.
“Melihatmu dari jendela, ayah jadi ingin bergabung,” senyumnya masih sehambar warna langit di depan kami.
“Sejak kapan kamu menjadi sebesar ini?”
“Sejak ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan,” kata-kataku agak ketus, tapi biarlah.
Kami kemudian berada dalam kecanggungan. Seperti dua orang yang sudah lama tak saling bicara. Meski raga kami berada di dimensi yang sama.
“Mengapa ayah suka menulis kisah roman? Bukankah bagi sebagian orang itu terdengar payah?”
“Haha. Mungkin selama ini ayah terlalu sibuk dengan tulisan, hingga tak mendengar jika orang berbicara begitu?” ia sedikit tergelak. Aku tak merasa itu lucu.
“Ini kisah terbaru yang ayah tulis. Khusus untukmu, ada spoiler istimewa.”
Aku sudah yakin, tak akan ada yang menarik dari seorang penulis laki-laki yang bukunya telah membuat rugi penerbit dan berakhir di gudang. Tapi, biarlah. Lagipula, aku sedang senggang. Di antara deru suara angin pantai di telinga kami, ia pun lamat-lamat mulai bercerita.

***

Hanya ada tiga tokoh di kisah ini. Seorang laki-laki jahat, seorang pria payah yang berlagak pahlawan, dan seorang wanita yang tingkat kesabarannya keterlaluan. Maklum, lah. Hanya ada sekat tipis antara kesabaran dan kebodohan mau diperdaya.
Sang laki-laki menjanjikan banyak hal untuk sang wanita. Keberanian, kebijaksanaan, dan yang paling utama, janji-janji yang begitu manis. Janji setia, janji menyayangi, janji sehidup semati. Klise, gombalan tak mutu. Kata orang, keberuntungan adalah ketika kita berhadapan dengan musuh yang tepat. Sang wanita yang selalu menyajikan senyum dan ketulusan tanpa pura-pura, sayangnya terperdaya. Ia selalu setuju dengan ajakan sang laki-laki untuk bertemu setiap kali. Tak ada kecurigaan, tak ada prasangka. Semua laki-laki sebaik bapak, baginya. Sayang, bunga yang indah tak selalu mekar di tempat yang tepat. Sang laki-laki menghancurkan hidupnya seketika. Bukan hanya untuk saat itu, namun seterusnya. Laki-laki itu hanya mengaku ia tak sengaja melakukannya. Sang wanita, mengaku telah mencoba melawan sekuat tenaga. Namun, apa daya, ia hanya perempuan dengan bobot tubuh yang tak lebih dari lima puluh kilogram. Kuku-kuku jarinya sudah putus karena membela diri, tak mampu merobohkan tubuh besar sang laki-laki. Rasanya ia nyaris buta karena meratap. Meronta, menangis, mencoba bunuh diri, sudah ia coba lakukan semua. Bukan hanya untuk kehidupannya yang berantakan, namun kepercayaan dan ketulusannya yang telah dimanfaatkan. Butuh waktu yang lama sebelum akhirnya ia berani menatap kembali harinya, dan membuka diri pada seorang pria yang lain. Pria payah yang tak pernah menjanjikan apapun, namun bertekad membawa sang wanita keluar dari pusaran kemuraman. Bukan hal mudah. Sang pria pun harus meluluhkan hatinya dalam waktu yang lama. Wanita itu begitu rapuh, hingga ia takut menjadi pria kedua yang menghancurkan hidupnya. Sang pria terus mencoret kalendernya, menunggu waktu hingga sang wanita menerima pinangannya. Di sela itu, sang pria masih sibuk dengan dirinya sendiri, dengan tulisan-tulisannya sendiri.
Aku begitu ingin menutup kisah ini dengan bahagia. Oleh karena itu, sang pria kubuat bertekad kuat dalam dirinya sendiri, bahkan menuliskannya besar-besar di setiap halaman catatannya. KEBAHAGIAAN UNTUKKU DAN WANITAKU. Kubuat sang pria meminang sang wanita di suatu pantai. Keduanya sepakat. Untuk memungut dan menyusun sisa-sisa harapan. Melanjutkan kehidupan. Nyatanya, kenyataan tak semudah itu. Mereka belum siap untuk bersama-sama. Sang perempuan belum banyak mampu menerima seorang pria di samping tempat tidurnya setiap saat. Ia masih terbayang laki-laki yang dulu, yang melantakkan hidupnya. Sang pria memilih mengalah, ketimbang memaksakan. Kemudian keduanya sepakat berpisah. Memberi waktu masing-masing untuk berpikir. Namun, aku tetap kukuh ingin menjadikan kisah ini bahagia. Jadi kubuat mereka bertemu kembali, di tepi pantai yang sama, beberapa tahun kemudian. Mereka kembali. Kali ini keduanya berjanji untuk tak saling pergi. Debur ombak menyaingi suara janji mereka. Janji itu benar adanya. Putri mereka yang lahir beberapa tahun kemudian, dinamakan Debur Ombak Selatan. Setelah beberapa tahun pergi, mereka kini tinggal kembali di sana, di tepi pantai itu, untuk menyusuri masa lalu. Sejak itu, diam-diam, mata sang wanita selalu terlihat sembab, dan ia seringkali menatapi kuku jarinya sendiri. Sedangkan sang pria sibuk menuliskan kembali kisah itu, sekaligus mengungkapkan masa lalunya. Meski akhirnya terkesan picisan dan penuh drama, itu hidupnya. Dan kini ia mengungkap rahasia dua puluh tahunnya. Kepada Debur Ombak Selatan, putri yang tak pernah tahu betapa besar rasa sayangnya.

***

Ayah menarik napas panjang setelah bercerita. Aku terdiam. Tak ada yang mampu kukatakan. Kisah roman itu menjadi kisah paling mengubah hidupku. Setelah itu, aku tak pernah lagi bertanya-tanya. Mengapa kami pindah ke mari, dan mengapa ibu tak pernah memberi penjelasan dari mana nama Debur Ombak Selatan itu berasal. Namun itu sekaligus menyulut benci pada diriku. Mengapa ayah selalu berkisah roman. Yang saat ini kukira, tak selalu picisan.

                                                                                            

         

* Ditulis untuk tantangan menulis #ombak Jia Effendie


 

No comments:

Post a Comment