Thursday, October 24, 2013

"All The World Loves a Clown"



Dua pasang mata itu terpaku di depan selembar surat kabar. Sang wanita paruh baya tertunduk dalam suram, sedangkan suami di sampingnya hanya terus membaca dengan sungguh-sungguh tanpa bicara. Seakan ia tak boleh melewatkan satu kata pun dari berita.
Tangan mereka berdua saling menggenggam.
“Kau tak perlu merasa cemas, istriku.”
Sang wanita tetap diam, masih sedikit gemetar, dengan mata yang mulai basah. Foto beberapa badut di atas artikel itu semakin menambah gundahnya. 

“Mungkin perkataannya benar, sesungguhnya kita hanya perlu tertawa.”

***

Udara di luar terlalu dingin bukan hanya untuknya, namun juga untuk seluruh kota. Ia bayangkan sebagian besar orang sedang menghangatkan tubuhnya di depan perapian, meminum secangkir cokelat hangat, juga pelukan orang terdekat yang sanggup memerahkan wajah. Namun kemudian ia menghapus bayangan itu dari kepalanya, dan mulai kembali melangkahkan kakinya. 

Demi menghalau dingin, didekapnya sendiri tubuhnya, dikerucutkan bibirnya, dan mulai bersiul. Mulutnya perlahan mulai menyenandungkan melodi dari "All the world loves a clown."* Sesekali sepatunya menendang kaleng bekas dan kerikil sebagai pengalih perhatian atau penghilang kebosanan. Namun kepalanya tetap tak sanggup bertahan dalam kekosongan. Memorinya kembali terputar. Gambar dan suara yang begitu familiar seakan hadir nyata di hadapannya.

“Aku tak tahan!” gadis itu berteriak..
Dengan langkah lebar dan tergesa karena amarah, ia dengan cepat mencapai beranda.
“Terserah kau saja! Tak usah kembali!”
Dadanya berdegup mendengar suara sang wanita paruh baya saat itu. Tak ia sangka sang wanita dapat mengatakan hal itu padanya. Tapi ia enggan peduli. Meski kepalanya hendak meledak tanpa kendali, ia pergi. Dan ia punya harga diri.

Bahkan jaket jeans washed yang ia kenakan saat meninggalkan rumah itu masih melekat di tubuhnya saat ini. Beberapa bulan ini jaket itu tak pernah menyentuh air untuk dicuci. Jangankan untuk mencuci baju, pikirannya setiap detik adalah tentang bagaimana bertahan hidup. Apa ia harus kembali mendatangi mini market dan menyelundupkan beberapa kardus sereal ke balik jaketnya, atau ia mesti meminjam beberapa sen pada orang lain? Pada siapa saja. Setidaknya yang belum bosan ia bohongi.

“Gaun ini sungguh indah. Terima kasih.” Gadis kecil itu nampak sibuk melihat dirinya di depan kaca.
Seorang wanita muda menghampirinya dan memujinya.
“Kau sungguh cantik. Apa ini benar-benar gadis kecilku?”
Sang ibu dan sang gadis kecil tertawa bersama. Kemudian gadis itu mencium pipi sang ibu dan memeluknya erat. Seakan tak pernah ingin lepas.
“Ah, pestamu segera dimulai. Cepatlah turun.”
“Ibu tak mengundang badut, kan?”
Dengan tatapan lembut, wanita itu memandang putrinya sejenak.
“Mana mungkin aku lupa bahwa putriku takut pada badut?”
Gadis kecil dengan gaun merah jambu itu membalasnya dengan senyum lebar, kemudian dengan riang melompat-lompat kecil tak sabar menuju pestanya.

Ia mulai membenci dirinya sendiri. Baginya mengingat-ingat hal yang tak perlu adalah lemah. Dipukul-pukulnya kepalanya. Berharap isi kepalanya bersih dan kembali kosong, tanpa perlu terisi apapun. Tak ada kenangan. Hanya hari ini dan masa depan. Ia bertekad untuk mulai membentuk masa depan dalam hidupnya. Ia bisa menjadi apa saja yang ia inginkan. Apa saja. 
  
***

Akhir-akhir ini jalanan menjadi lebih sepi. Anak-anak tak bermain di luar rumah, atau mungkin sekadar mengajak anjingnya berjalan-jalan. Setiap petang menjelang, mereka dipaksa duduk tenang di dalam rumah oleh orang dewasa. Untuk mengganti waktu bermain mereka, orang tua menambah fasilitas di dalam rumah. Entah itu berbagai jenis buku bacaan atau bahkan game console sesuai dengan yang anak mereka minta. Apa saja, agar mereka bertahan di dalam rumah, dan mengurangi kadar kecemasan para orang tua. 

Sementara itu anak-anak tak pernah tahu apa yang disembunyikan para dewasa di balik perkataan keras mereka. Diam-diam mereka merasa cemas dan dihantui. Di luar sana, setiap menjelang petang, di komplek mereka, bahkan terkadang di depan rumah mereka, badut-badut semakin bertambah jumlah. Tiga, enam, sembilan, entah berapa orang saat ini. Tak satupun mengerti dari mana mereka datang. Semuanya sama, memutuskan mengambil white face sebagai peran yang mereka mainkan. Hidung dengan bola merah, wig keriting berwarna, pakaian warna-warni, dan seluruhnya dengan balon-balon di tangan. Awalnya mereka kira, badut itu hanya seseorang dari kota yang datang untuk mencari penghasilan tambahan dengan menghibur anak-anak di komplek perumahan tepi kota. Namun tak pernah mereka sangka semakin hari semakin banyak pula badut-badut itu. Mereka tak melakukan apapun. Hanya berdiri, membagi senyum yang lebar, menari-nari kecil, terkadang jika lelah mereka akan memandangi balon-balon yang mereka pegang. Seakan ada sesuatu yang penting pada balon itu. 

***

Mengikuti desas-desus akan ketakutan yang berlebihan terhadap badut-badut itu, para polisi mengkaji apa yang mesti mereka perbuat. Belum ada laporan pelanggaran hukum yang badut-badut itu lakukan, hingga mereka tak bisa menangkapnya. Warga pun ternyata tak sepenuhnya merasa terganggu. Bahkan beberapa mengatakan bahwa badut-badut itu sesekali membantu para wanita membawakan kantung belanja hingga rumah tanpa bayaran, membantu para lansia untuk menyeberang jalan, bahkan seringkali mereka memberikan balon secara cuma-cuma pada anak-anak. Seakan tak ada apapun yang perlu dikhawatirkan. 

Sementara pemerhati masyarakat berkonsultasi dengan psikolog. Mengira-ngira apa ada kemungkinan badut-badut itu berpotensi untuk membahayakan orang lain. Mereka sibuk rapat, berdebat, meski akhirnya tak menghasilkan apa-apa. Dan tak melakukan apa-apa. Badut-badut itu pun menghilang sama cepatnya ketika datang. Begitu petang menjelang, satu per satu berdatangan, namun tak pernah seorang pun yang tahu dari arah mana dan bagaimana mereka datang.

***

Petang semakin mendekat. Langit semakin pekat. Hanya beberapa langkah lagi ia akan pulang, menemukan rumah barunya. Sementara sekitar semakin senyap dan gelap, ia menghilang pada tikungan terakhir menuju sebuah rumah tua yang tak terawat, yang terasing dari riuh rendah kehidupan.

Ia melangkah cepat, sebelum akhirnya disambut oleh remangnya lilin-lilin yang membagi cahaya keemasan setelah pintu masuk. Pandangannya menyusur segala arah. Kali ini nyaris sepuluh orang di dalam. Masing-masing terpisah, tak bicara, sibuk dengan dirinya masing-masing. Maklum, mereka mengejar waktu. Memerahkan bibir, memutihkan wajah, memasang hidung merah, rambut warna-warni, juga perut pasangan. Badut-badut itu siap tampil sesaat setelah petang. Gadis itu tak mau ketinggalan. 

Tak ada yang bisa disebut layak di rumah itu. Semua orang hidup dengan seadanya. Atau mungkin tanpa apa-apa. Mereka hanya memiliki satu sama lain. Sebagai keluarga. Mereka hanya memiliki kesempatan untuk berbagi tangisan atau senyuman. Itu satu-satunya sumber kehangatan di rumah itu. Tanpa perapian, cokelat panas, atau pelukan.
   
***

Pasangan suami istri itu mendapat panggilan telepon istimewa baru-baru ini. Namun sang istri sukses dibuatnya menangis. Sambungan itu dari seorang gadis.
“Di mana kau berada?” suara berat sang suami menggema di dalam rumah, nyaris menunjukkan marah.
Sang gadis tak bicara. Dengan tercekat, pria paruh baya itu terus mencoba bertanya.
“Mengapa kau lakukan ini, putriku?”
Gadis itu memberikan jeda, sebelum akhirnya bicara.
“Semakin banyak orang yang menangisi kehidupan, ayahku. Mereka bisa melupakan sejenak beban hidup itu, mengecat wajahnya, memerahi bibir dan hidungnya agar selalu gembira. Begitupun denganku. Aku tak bisa kembali. Sampaikan maafku pada ibu dan katakan bahwa aku tak lagi membenci badut. ”
Sebelum gagang telepon itu berpindah ke tangan sang wanita paruh baya, di ujung sana sang gadis telah memutus sambungannya. Melangkah dengan kostum badutnya diiringi senyum lebar. Ia kini mampu menertawakan hidupnya sendiri.


"To truly laugh, you must be able to take your pain, and play with it!"Charlie Chaplin.


 *Lagu yang ditulis oleh penulis lagu Amerika Serikat, Cole Porter (1893 - 1964) 
**Terinspirasi dan dikembangkan dari kisah nyata #northamptonclown






Ditulis untuk PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1


No comments:

Post a Comment