Saturday, October 5, 2013

[Cerpen Absurd] Langit Menggelap, Kemudian...


"Bagaimana seandainya matahari menghilang, ibu?" mata biru gadis kecil itu penuh pertanyaan.
"Tak akan mungkin, Liz. Berhenti bertanya dan habiskan makananmu!" sang ibu mencapai titik jenuhnya.
Meja makan beberapa minggu ini memang suram. Ayah Liz, Lermon tak kembali jua dari medan perang. Atmosfer itu yang menjadikan Klazia, Ibu Liz, menjadi uring-uringan. Suami yang menghilang tanpa kabar,  semakin besarnya kemungkinan kelaparan karena tabungan yang menipis, belum lagi mesti merawat seorang diri gadis kecil dengan sejuta pertanyaan, membuat psikis Klazia nyaris runtuh. Tak pernah Liz mengerti, bahwa di balik hari-hari ini, ibunya begitu rajin menangis sendiri. Entah di dalam kamar, bahkan di sela-sela saatnya memasak makan malam. Situasi itu tak mungkin terselamatkan, kecuali mungkin jika Lermon pulang. Sementara gadis kecil itu sendiri tak bosan-bosannya menopangkan dagu pada bingkai jendela, menatapi matahari yang semakin memudar sinarnya.   

Itu percakapan terakhir Liz dengan sang ibu. Setelah itu, Liz terbangun dengan tubuh yang tak lagi sama. Waktu dan usia membuatnya seorang remaja seketika. Rambut pirang berombaknya sudah menjadi begitu panjang. Ia yang sedari tadi sibuk dengan menatapi dirinya, tak sadar ia telah berada di dalam rumah yang berbeda. Rumah itu jauh lebih kecil dari ukuran kamar tidurnya. Bahkan hanya ada tanah sebagai alasnya. Sekilas serupa kandang hewan. Di depannya, dekat jendela yang terbuka, terlihat seorang perempuan dengan raut wajah lelah dan kuyu. Ia terus menatap ke arah pintu. Seakan terus berharap seseorang akan datang melewatinya. Liz berpikir sejenak, sebelum benar-benar meyakini bahwa perempuan itu begitu menyerupai ibunya.
"Kau sudah bangun?"
Sesaat Liz mengira suara itu mengalir dari bibir Klazia.
"Hai, Liz!"
Suara deham yang dipanjang-panjangkan itu datang dari sebelah kiri kursi di mana ia duduk. Liz nyaris tak percaya. Seekor domba berdiri dengan dua kakinya! Belum cukup, ia juga berpakaian layaknya manusia! Ia sibuk menyisir rambut Liz dengan perlahan, - dengan tangannya atau kakinya? - seakan ingin berlama-lama.  Kata-kata yang ada di ujung lidah Liz kembali ke tenggorokan, urung terlontar.
"Sudah lama sekali aku menunggumu terbangun, Liz. Sebelas tahun semenjak kau mendamba matahari agar tak kelabu. Setiap saat aku seakan sedang mendandani boneka yang mati. Tapi rambutmu yang cantik ini tak pernah membuatku jera untuk menyisirnya."
Domba itu bicara benar-benar menyerupai manusia, seandainya tak ada deham dan intonasi menyeret serupa domba mengembik. Liz sedikit bergidik dengan suara itu. Mengingatkannya seakan ia sedang berada di dunia yang berbeda.
"Di mana ini? Siapa kau?" Liz terbata, tak percaya.
Sang domba tak menjawab. Ia terus saja menyisir rambut berombak Liz dengan tekun. Setelah menyisakan hening yang panjang, ia kembali bersuara.
"Ayahmu dan seluruh manusia di dunia kalah dalam peperangan, Liz. Kami menang bukan karena tanduk dan empat kaki kami, tapi karena kesombongan mereka. Dunia menjadi milik kami. Sebagian besar hewan memilih untuk membalas perlakuan manusia selama ini pada mereka. Sebagian yang lain memilih tidak melakukannya. Seperti aku."
Liz merasa tercengang. Bangsa manusia sudah mengalami kejatuhannya. Hanya karena kesombongan mereka sendiri. Nyeri di dalam hati Liz mengiris.
"Ke mana perginya matahari? Langit tak berubah sama sekali. Masih sama gelapnya."
"Para hewan menanam matahari di dalam tanah, Liz. Setelah ia tak lagi memiliki kekuatannya. Mulai saat ini, langit akan selalu gelap. Pertanda hewan yang sedang berkuasa."
Jiwa anak-anak dalam diri Liz menangis. Ia berharap benar ini hanya mimpi buruk. Yang kemudian ia akan sanggup kembali memandang matahari. Meski tertutup kelabu.
Sang domba membiarkannya menangis sepuasnya. Liz mengelap air mata dan ingusnya dengan pakaian lusuh yang ia kenakan. Jahitannya berantakan dan benang lepas di mana-mana. Pakaian itu kemungkinan dijahit oleh kaki-kaki hewan yang ingin menyerupai tangan manusia.

Ilustrasi oleh Sveta Dorosheva


Liz kembali menatap pada perempuan di dekat jendela. Kini ia yakin bahwa itu ibunya.
"Ibu, ibu!" Liz terbata.
"Ibu, ibu!"
Tak ada jawaban dari sang wanita. Ia masih saja diam menatap ke luar. Semenjak tadi Liz disibukkan dengan dirinya sendiri. Hingga ia tak sempat memperhatikan apa yang dilihat sang ibu. Liz menajamkan pandangan dan menjerit keras. Ayahnya di sana, membungkuk, dengan kedua tangan yang bertumpu pada sebuah tongkat, ia terus mencoba berjalan dengan tertatih. Tanpa belas kasihan, keledai yang menumpang di punggungnya menjerit-jerit dan menghentakan kaki-kakinya pada tubuh Lermon. Berharap agar manusia yang ditungganginya mampu berjalan dengan lebih cepat. Suasana di luar sungguh aneh. Buah-buah pada pohon berganti menjadi bangkai ikan. Perdu-perdu berjarum yang nampak berbahaya, dan tumbuhan yang menumbuhkan dedaunannya ke dalam tanah nampak di mana-mana.

"Cepatlah, manusia bodoh!" dengusan selalu menyertai kalimat yang keledai ucapkan.
Liz ingin segera berlari ke luar dan mendorong keledai itu dari punggung ayahnya.
"Ayah, ayah!" Liz menangis dan mengatupkan kedua telapak tangan ke wajahnya.
"Mengapa bisa jadi begini? Mengapa semuanya menjadi terbalik?" Liz merengek, berharap mendapat jawaban entah dari siapa.
"Tak akan ada jawaban, Liz. Kecuali dari manusia sendiri."
Domba dengan tenang menambahkan,

"Tenang, aku tak akan sekejam yang lain, Liz. Kau cukup menjadi bonekaku."
Liz tak mampu membendung tangisan, sementara di luar, langit semakin menggelap.

***

"Selamat. Anda pemenang lelang."
Kedua pria berpakaian resmi itu berjabat tangan.
"Ada yang salah?"
"Ya. Sepertinya ada yang berubah dengan lukisan ini."
Mata mereka beradu dengan kanvas.
"Sejak kapan gadis di ujung lukisan ini menangis?"

***


 

No comments:

Post a Comment