Wednesday, June 5, 2013

Mengapa Hujan, ditulis di Bulan Juni

"Yang tabah merahasiakan rindu, bijak menghapus jejak dan arif menyimpan rahasia, ternyata bukan kita. Tapi Hujan Bulan Juni."

Hari pertama bulan Juni, saya terpikir untuk memposting kalimat itu pada akun twitter saya. Saat itu hujan turun sejak pagi hari, dan saya (seperti banyak orang lainnya) terbersit tentang puisi Sapardi yang luar biasa melegenda. Dan rasanya, tepat sekali dengan momen yang terjadi : "Hujan Bulan Juni".

Dulu (mungkin sampai saat ini) saya masih seringkali mengutuk hujan. Saat kecil, saya bukan termasuk anak-anak yang dengan riang mampu berlarian dan bermain di tengah hujan. Saya lebih sering dilarang dan hanya sanggup memandangi hujan dari dalam rumah. Namun itu sangat beralasan. Ibu saya paham betul. Tubuh saya tak sekuat kawan-kawan yang lain. Bermain di tengah hujan hari ini, esok akan mudah diprediksi : tumbang dan demam. Jadi, bergembiralah anda yang memiliki banyak kenangan masa kecil dengan hujan. Saat dewasa, ketika sudah menganggap tubuh lebih kuat dan bisa memutuskan pilihan sendiri, saya justru tak ingin berhujan-hujan. Dengan skeptisnya saya berpikir : "untuk apa?" Saya sudah merasa lebih baik hanya dengan melihatnya dari balik jendela saja. Ternyata, saya tidak jodoh dan tidak menjodohkan diri dengan hujan hingga saat ini. Masa kecil tak mampu, saat dewasa sudah tak mau.

Tapi bukan berarti saya anti. Kerap kali pula, saya jatuh cinta dengannya. Membau aromanya, mengagumi jatuhnya, hingga mewujudkannya dalam cerita. Hujan memesona penciuman dengan menarik Petrichor dan Geosmin dari tumbuhan dan tanah, yang lebih sering memperkenalkan dirinya dengan 'bau hujan'. Jatuh satu-satu, kemudian berubah semakin kencang dan cepat. Lalu saya sibuk menyimak bunyi derap derasnya dan berakhir pada angan juga kenangan, lelap atau mengucap doa.

Hujan belum habis memikat siapa saja, bukan hanya saya. Bagi pembaca dan penulis, misalnya. Entah berapa judul buku telah mengulas tentang hujan, tentang kisah drama di dalamnya, tentang keindahannya, tentang ia yang ternyata memiliki pengaruh lebih besar dari sekadar 'membasahi bumi'.

Saya teringat dan masih begitu terpikat dengan kisah Julia dan Shaheryar dalam "Humsafar" yang ditulis Hanny Kusumawati. Kisah itu melibatkan seorang wanita Indonesia pengusaha pemakaman dan seorang pria Pakistan wartawan perang. Pertemuan mereka di bandara yang sekilas ternyata berujung panjang. Sang wartawan meninggal dalam tugas, dan sang wanita yang tak bisa lupa. Lalu di mana peran hujan? Gerimis selalu turun ketika sang wanita menyambangi makam yang sesungguhnya berisi buku catatan sang pria. Sang pria sempat berkata, suatu saat jika dirinya meninggal ia ingin dalam suasana mendung dan gerimis.

"Hujan. Deras Sekali." yang ditulis oleh M. Aan Mansyur memberi peran lebih besar pada hujan. Hujan ternyata mampu membuat lingkaran perselingkuhan di antara tokoh-tokohnya. Pembaca diajak mengarungi pengertian bahwa hujan tak melulu bermain dalam melankoli itu-itu saja. Hujan pun mampu 'nakal' dan mengusik kepala manusia untuk menjadikannya alasan atas segala perbuatan.

Puisi Joko Pinurbo yang ditujukan untuk Sapardi Djoko Damono, "Kepada Penyair Hujan" tentu melibatkan hujan. Menurut penafsiran saya yang dangkal, puisi itu seakan menawarkan pertemanan pada "Hujan Bulan Juni". Ia gambarkan pertemuan hujan dan senja yang berakhir pada pelangi. Hujan yang akhirnya berhenti turun, kemudian menjadi risau. Kerisauan ini saya tangkap, masih berkorelasi dengan hujan Juni milik Sapardi yang sedang menahan diri dan memupuk kesabaran, meski ia sedang dalam kerinduan.

Seno Gumira Ajidarma menyandingkan hujan sebagai variabel dalam prosesnya memfiksikan tragedi sejarah Penembakan Misterius. "Bunyi Hujan di Atas Genting" merupakan sebuah kisah yang datang dari seorang juru cerita. Ia bercerita pada Alina (pasangan Sukab, tokoh yang begitu dikenal oleh pembaca karya-karya SGA) tentang sesosok wanita bernama Sawitri yang selalu was-was setiap kali hujan datang. Karena ia selalu membuka jendela dan menemukan mayat bertato di depan rumahnya. Ketakutan itu beralasan. Selain karena selalu ada mayat di depan rumahnya, ia takut dan bertanya-tanya apa itu Pamuji, pasangannya yang juga bertato dan bisa jadi salah satu target penembakan misterius. Hujan dan mayat yang memberi risau pada seorang wanita.

Goenawan Mohamad pun mengawinkan pagi dan hujan dalam epigramnya. Tentang hujan yang menimpa kembang, namun memberi arti untuk dimulainya hari. Hujan mengambil peran kedua dan bersifat ringan saja. "Pagi : Sisa hujan tadi malam masih jatuh dari kemuning. Yang segar akan sebentar. Yang harum akan coba bertahan. Lumayan."

Hujan ternyata meresap hingga pada kata. Ia menari turun dari langit, menghampiri pikiran lalu melebur dan menyimpan ruhnya dalam aksara. Menghampiri siapapun yang merindukannya, mengangankannya atau yang sedang bermain bersamanya. Ia akan datang. Hari ini, minggu depan, sepuluh tahun lagi, seterusnya. Meski bukan di bulan Juni.

No comments:

Post a Comment