Monday, May 20, 2013

Apa yang kau rindukan dari sebuah perpisahan?


Seberapa dalam Anda mencintai orang terdekat? Seberapa dalam Anda tak ingin berpisah darinya? Hal itu juga seringkali menjadi pertanyaan dalam diri saya. Lebih-lebih di saat saya sudah tahu kapan akan berpisah dengan orang tersebut. Sebut saja, perpisahan dengan kawan satu kelas di bangku perguruan tinggi dan sekolah, yang saya tahu beberapa tahun ke depan kami akan berpisah dan menjalani jalan kehidupan masing-masing. Namun juga, lebih sering kita mesti menjalani ketidakpastian akan kapan perpisahan itu datang. Satu jam lagi, sepuluh hari lagi, dua puluh tahun lagi, siapa tahu. Dalam permisalan, hal yang paling absolut di muka bumi : kematian. Hingga saya cenderung lebih sering mengalami ini. Menaifkan rasa yang menggedor, bahwa suatu saat perpisahan itu akan pasti datang. Saya tak ingin merusak momen dan membiarkan ketakutan akan perpisahan di suatu hari nanti itu akan hadir menjemput. "Biarlah saya nikmati momen-momen ini sebelum saat itu tiba." Itu yang seringkali bercokol pada kepala saya dan mungkin juga Anda. 

Mungkin saja suatu perpisahan bersifat sementara. Hanya membutuhkan beberapa hari atau beberapa tahun untuk menjalaninya. Kemudian kita akan menyatukan kembali rasa rindu dengan jiwa yang selalu kita nanti kehadiran fisiknya. Tapi terkadang, itu tak selalu mengobati sepenuhnya hati yang telah dicungkil paksa oleh perpisahan. Kita memang mampu menggenggam tangan mereka serta memeluk hangat dan merasakan detak jantung mereka. Namun, bagi saya, ada kepingan yang selalu hilang dan seringkali tak mampu ditemukan sekeras apapun saya mencari. Rasa yang sama. Rasa yang sama antara kami sebelum terjadinya perpisahan. 

Namun, meski tak ingin, akan hadir masanya di mana kita akan berpisah hingga di saat yang kita tak akan pernah tahu. Ketidaktahuan kapan lagi waktu untuk bertemu, melahirkan kecemasan yang bahkan sanggup menyesakkan. Kita hanya mampu mengikuti garis takdir yang telah dituliskan. Meraba hari, menata hati dan mencoba sebisa mungkin menjalani. Lagi-lagi, apa benar yang kita rindukan adalah orang yang berpisah dari kita?

Bagaimana waktu tak begitu istimewanya. Setiap ketukan dinamika hidupnya, ia tak pernah menyajikan wajah yang sama. Kita yang tinggal di dalamnya akhirnya mesti juga dihadapkan pada momen yang berbeda setiap detiknya. Bisa jadi detik yang melahirkan banyak kenangan itu akan berulang di kemudian hari, tanpa kita sadari, atau kita sadari sepenuhnya. Namun, kembali, tak akan pernah ada rasa dan kesan yang sama meski itu terjadi lagi.

Dari analisa asal-asalan di atas, saya jadi curiga pada diri saya sendiri. Bisa jadi dalam perpisahan selama ini bukan seseorang yang saya rindukan. Namun ternyata seperti yang telah saya duga sebelumnya, saya justru rindu dengan momen dan rasa sama yang tak akan pernah kembali serupa.

Jadi, apa yang bisa saya lakukan saat ini? 
Ternyata saya tak mampu melakukan apa-apa. Hanya setingkat lebih baik untuk menghargai momen yang terlewati dan yang akan terjadi nanti. Tentunya, dengan siapa saja yang singgah dalam kehidupan saya.


No comments:

Post a Comment