Friday, June 7, 2013

Risau - [Flash Fiction]

Dingin membuatnya bergidik kecil. Entah karena risau, atau hujan. Kepalanya penuh berlalu-lalang akan berbagai pilihan. Bukan hanya sekadar ya atau tidak. Namun juga bagaimana, meski ia telah paham betul siapa. Ia mesti menentukan. Bahkan saat ini juga. Ia bukan peragu, hanya pemikir. Jemarinya sibuk membentuk irama, bersentuhan dengan permukaan meja. Satu per satu butir menit berjatuhan. Sama seperti hujan. Ia akhirnya memutuskan. Kilau pisau iu belum habis juga menyita pandangan sang wanita. Diraihnya benda berkilap itu secepat yang ia bisa. Dalam kepalanya, terbayang wajah suaminya. Di sana. Di tengah hujan.

No comments:

Post a Comment