Monday, June 17, 2013

Awan yang Berserat-serat


Saya termenung sejenak menatap langit. Awan mencipta serat-serat yang menjalin bentuk apa saja. Katanya, awan bisa berbentuk sesuai dengan yang dipikirkan oleh mata yang melihatnya. Tapi saat itu berbeda. Awan tak mampu menerjemahkan kesedihan yang ada di kepala. Kesedihan saya? Bukan. Ini tentang kesedihan orang lain. Seseorang yang bahkan baru saya temui kurang dari hitungan sebelah jari tangan. Namun, jangan anggap itu sedatar menyapa, berbincang, bersalaman hingga kemudian mengucap sampai bertemu. Saya, belajar banyak darinya. Bahkan sebelum ia sempat mengucapkan suatu apa. Gerak tubuhnya menggambarkan bagaimana ia menyikapi hidup. Bagaimana ia sebagai seorang anggota dari kaum Hawa, namun keberanian dan kegigihan adalah bagian dari dirinya. Yang melekat, menyusup dalam setiap embus napas yang ada. Ia tak terlalu banyak bercerita tentang dirinya. Namun, orang lain bahkan tak sanggup menahan diri untuk berkisah tentang karakternya yang... luar biasa. Selalu ada tekad dalam jiwanya. Ia bagai memiliki banyak pertahanan yang selalu mendukungnya untuk terus hidup. Sangat berbeda dengan saya. Sangat berbeda. Hingga sesekali saya merasa, saya tak pernah cukup baik, bahkan untuk diri saya sendiri. Lalu, kehidupan saat ini memberi pelajaran baru untuknya. Terpaan besar mampir dalam rumah hatinya. 

Kehilangan. Ini tentang kehilangan. Tabu yang seringkali kita naifkan dalam kegembiraan; sesekali merasuk memberi sejumput ketakutan, kemudian hilang; juga yang membuat kita tak sanggup menahannya saat ia benar-benar datang. Tak pernah ada yang sanggup mengerti seberapa dalam ruang hampa yang ditinggalkan di kalbu. Hingga kita benar-benar dihampiri kehilangan.

Kini ia sedang berdiri di tengah pusaran. Berjuang merelakan, menata ulang, kemudian melanjutkan kehidupan. Keberanian dan kelembutannya nyata diuji. Demi menguatkan dirinya sendiri, juga menguatkan orang lain. 

Saya bahkan terlalu bingung mengapa saya turut merasakan kesedihan yang menghambur, meski tentu tak sebesar miliknya. Ketika kejujuran itu datang, ternyata saya bahkan sanggup membawanya ke dalam doa. Yang biasanya bahkan seringkali alpa terucapkan. Hanya sesederhana, "Langkahkan kakinya pada kekuatan"

Kemudian langit seakan kembali bergerak dalam tatapan saya. Masih berupa serat-serat yang nyaris karam dalam tumpukan mendung. Sebelum beranjak, harapan saya pada langit berubah. Jadilah sebentuk roket atau pesawat, agar kau sampaikan doa saya pada Tuhan cepat.      




No comments:

Post a Comment