Friday, July 12, 2013

Mendamba Beno atau Membodohi Tohru


Di suatu kesempatan, seorang teman wanita berkisah pengalaman 'menarik'nya tentang perjodohan yang terjadi pada dirinya. Garis besar cerita, ia merasa tak cocok dengan pria pilihan orang tuanya karena satu dan lain hal. Itu membuka mata saya, bahwa waktu tak bisa dibohongi. Dua orang manusia bersinggungan rasanya memang mesti menanti 'saat yang tepat'. Tapi saya tak ingin berbicara tentang perjodohan itu. Saya tertarik dengan ia yang menyelipkan kalimat ini di tengah berbagi pengalamannya itu. "Dia (sang calon) dokter bedah. Beno banget!" Saya bahkan masih mengingat bagaimana ia mengucapkannya. Sangat bersemangat dengan sorot mata yang meledak. Oke. Kemudian otak saya langsung menangkap. Ia penggemar novel-novel Ika Natassa. Pasti karakter Beno dalam novel Divortiare dan Twivortiare yang dimaksudnya. Saya tersenyum dan takjub. Ternyata sesosok tokoh rekaan pun begitu mampu untuk merasuk dalam kehidupan pembacanya. Betapa penulis selalu memiliki peluang untuk memberikan pengaruh pada kehidupan banyak orang. Tentunya, pengaruh itu diciptakan dari banyak sebab. Penulis yang sebegitu baiknya dalam melakukan eksplorasi tokoh, pembaca yang merasa memiliki kedekatan personal, subjektifitas dan sebagainya.

Kemudian saya berkaca untuk bertanya pada diri sendiri. Siapa tokoh fiksi yang mampu 'mendekati' dan menyentuh saya secara personal. Ia tidak berada di dalam novel-novel yang saya baca, ternyata. Ia justru berdiam di halaman-halaman komik berseri yang dulu kerap kali saya koleksi. Gadis SMA yang hidup sebatang kara, namun selalu tegar dan ceria. Honda Tohru dalam "Fruits Basket" - Natsuki Takaya yang saya maksud. Dalam panel-panel komik itu, seringkali ia mendapat julukan bodoh karena tetap ceria, sehingga terkesan terlalu naif dalam kondisi apapun. Bahkan saat dimanfaatkan atau dibenci. Saya tentu bukan selayaknya Honda Tohru. Namun saya merasa berempati padanya. Bagi saya, sesungguhnya ia adalah gadis yang luar biasa pintar. Pintar menjalani kehidupan. Ia seakan tak pernah merasa berhak sakit hati untuk dirinya sendiri. Ia mampu terluka lebih dalam demi kesulitan hidup orang lain. Saking 'bodoh'nya, ia bahkan seringkali tak menyadari bahwa ada kebencian besar yang ditujukan padanya. Kemampuannya untuk selalu berprasangka baik dan memandang kehidupan dengan positif itu yang tanpa sadar saya kagumi. Tohru juga sangat tulus memandang kepercayaan. Dalam bergaul, ia lebih memilih memercayai orang lain, bahkan yang tidak ia kenal atau yang berniat jahat padanya sekalipun. Tohru seringkali menjadi pengingat bagi saya bahwa memercayai lebih baik daripada mencurigai. Entah apakah 'kebodohan' Tohru ada di dunia nyata atau tidak. Namun rasa-rasanya Tohru percaya, bahwa Tuhan tak akan membiarkan niat dan tindakan baik menjadi sia-sia. 

Belajar dari itu, tokoh fiksi sesungguhnya tak selalu benar-benar di awang-awang, mereka selalu menjadi refleksi sifat manusia, yang seringkali membuat kita bercermin dan berempati, atau bahkan terobsesi. Tanpa sadar, mereka menyusup dalam kepala kita dan menciptakan sebentuk ekspektasi baru akan diri, akan kehidupan sendiri. Sisanya, kita sebagai pembaca dituntut untuk selalu bijak menikmati, sekaligus menyikapi.

2 comments:

  1. Natsuki Takaya emang ganteng... hahah... jadi feeling like Honda ya? aihh aih.... ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru karena merasa jauh sekali dari Honda, jadi saya nulis ini. :D

      Delete