Thursday, February 18, 2016

Tak Pernah Ada Babi di Rumah Ini

"Ada babi di rumah ini."

***

Sejak itu, mereka semua mencari. Di balik lemari, lipatan celana, hingga di dalam teko lawas. Di mana saja. Ini bukan sekadar perintah. Sejak dulu, Eyang paling takut dengan babi. Di masa tuanya, semua anak-cucu-cicit berlomba memberikan segalanya. Entah sungguh-sungguh atau hanya pura-pura. Jadwal kunjungan seluruh anak-cucu-cicit yang seminggu sekali berganti dari santap malam bersama, berbincang dan nonton TV, menjadi mencari babi. Rumah tua Eyang dengan halaman luas memang menjadi PR besar. Mereka gembira. Orang tua dan anak-anak kerjasama menyepakati pembagian area tugas dan dengan tekun mencari. Laki-laki kebanyakan mendapat area luar rumah, karena dinilai lebih awas menghadapi terjangan nyamuk atau lebah. Perempuan hanya sesekali mencari di ruang kerja atau kamar sembari menyiapkan makan malam di dapur. Ini terasa menyenangkan karena pembahasan tentang harta warisan terlupakan sejenak dan punggung yang saling bermusuhan menjadi saling bersentuhan. Eyang? Duduk tenang dalam diam dengan deritan kursi goyang tuanya. 

***  

Satu-dua kali, agenda mencari babi masih semenyenangkan permainan paintball. Barisan kepala apatis memilih menertawai pernyataan Eyang dan berhenti mencari di beberapa jam pertama. Katanya, buat apa memercayai ingatan dan imajinasi tua yang belum tentu benarnya. Personel pasukan pencari babi mulai diancam keruntuhan. Tapi beruntunglah masih ada kepala-kepala naif yang terus bekerja. Kata mereka, durhaka adalah salah satu hal paling menakutkan di dunia. Meski seandainya Eyang berbohong, tidak boleh terlontar kata berhenti. Mereka terus membohongi diri, melawan pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi menimbulkan keraguan, meski sesungguhnya dalam hati terbisik demikian. Tersisa deretan realistis. Setelah mencari beberapa kali dan merasa tak menemukan tanda apa-apa, mereka melakukan negosiasi dengan Eyang. Mencoba bertanya, di mana ia melihat babi itu sebelumnya. Karena Eyang hanya tersenyum tanpa memberi jawaban, pemimpin tertua di antara tim realistis memberi kebijakan batas waktu. Beberapa sudut dan tipe pencarian, jika tak berhasil, rundingan dilakukan ulang dan berhenti. Dengan aturan, misi bisa dilanjutkan kembali sewaktu-waktu jika ada titik terang baru. Eyang hanya sesekali beranjak dari kursi rodanya dan melihat bagaimana keturunannya bertingkah.

***
Eyang semakin banyak mengeluh belakangan. Ia bilang tak ada gunanya memiliki banyak anak-cucu. Membantunya menemukan seekor babi saja mereka tak sanggup. Makan malam bersama yang sejatinya menjadi ruang hangat untuk berbagi kisah, kini tak berbekas apa-apa. Berganti menjadi rapat pencarian babi. Masing-masing kepala berebut mengeluarkan pendapat. Mulai anak-anak hingga paruh baya. Sudah lama ini menjadi tradisi. Kebebasan berpendapat dikedepankan. Namun harus siap ditertawakan, dihujat, didebat, bahkan beberapa dewasa nyaris saling pukul karena beda pendapat. Merasa paling benar, dan menganggap yang lain nista. Namun diam-diam ada jiwa-jiwa yang goyah. Kepala realistis pun mulai ragu dengan dirinya, beberapa berpindah menjadi apatis. Beberapa dari tim naif, mulai bertanya-tanya dan memilih menjadi realistis. Apatis tertarik menjajal posisi naif demi mencari muka. Semua berlindung pada satu alasan yang sama : ingin menemukan babi dan membahagiakan Eyang.  

***

Eyang terus menerus minta babi diketemukan. Jika tak ada yang sanggup, ia bahkan mengancam akan meminta bantuan polisi saja. Konyol, tapi Eyang tak pernah bercanda. Tim pencari babi semakin kalut. Beragam usul mulai bermunculan. Mulai memindahkan Eyang dari rumah, hingga memanggil bantuan orang lain. Makin banyak pertemuan, makin lebar jurang perpecahan. Pencarian pada akhirnya hanya sebatas perdebatan di ruang tengah yang tak pernah menghasilkan titik tengah apa-apa. 

***

Tanah itu belum kering benar setelah disiram hujan. Seorang laki-laki tua dibantu pria muda, anaknya sendiri, tampak berpeluh menyelesaikan pekerjaan. Mereka menggali dan menimbun tanah. 

"Carikan batu, Nak," sang ayah berucap dengan napas satu-dua, lelah yang belum hilang.
Sang anak kembali beberapa jam kemudian dengan sebuah batu besar di tangannya, "Uang kita cuma cukup untuk yang ini, Pak." 

"Ya sudah, mari dipasang."

Mereka lanjut bekerja, mengabaikan hari yang semakin disongsong gelap. Beberapa menit kemudian, mereka duduk menghadap hasil kerja sepanjang sore ini dari beranda. 

Pemakaman Eyang di halaman rumah tak dihadiri seorang pun dari keturunannya. 

"Cuma ini bakti terakhir Bapak untuk juragan," sang Ayah menghela napas kesedihan. 

***

Tak pernah ada babi di rumah ini. Itu pesan terakhir Eyang pada pesuruh rumah. Baginya, betapa konyol perempuan tua ini. Di akhir hidupnya, ia membuat dirinya sendiri dalam kesepian dan kesia-siaan. 

***   





Kisah fiksi, ditulis untuk #NulisBarengAlumni @Kampusfiksi



6 comments: