Saturday, February 6, 2016

Kaus Bergaris dan Jeans Belel

Keluar.

Itu kata terakhir dari Ayah yang selamanya tertancap di ingatan. Selama ini aku terus mencoba lari. Lari dari susupan rasa-rasa bersalah, penyesalan, dan takdir waktu yang tak bisa diulang. 

***

Jam-jam kepulangan Ayah dari luar kota selalu membuat suasana rumah gempita. Seakan semua orang bersiap menerima kejutannya masing-masing. Ibu dan kakak-kakakku kelamaan merasa ini hanya sebuah permainan, karena Ayah paling sering membawakan kejutan untukku. Jam tangan dengan pengaturan alarm, agar aku selalu tepat waktu melakukan shalat, sampai mukenah ukuran anak yang kumiliki seperti koleksi, berganti-ganti setiap kali. Itu belum termasuk sampul kitab berbagai warna. Bagi Ayah, semua harapan perempuan sholehah ada di diriku. Bagiku, kejutan dan hadiah selalu menyenangkan. Tak peduli apa pun bentuknya.

***

Beranjak dewasa, aku meminta pindah dari sekolah swasta religius ke sekolah negeri dengan kemajemukan. Begitu banyak pertanyaanku tentang bagaimana dunia di luar sana. Tentang siapa Tuhan di kepala orang lain, tentang bagaimana rasanya memiliki teman sebangku dengan kepercayaan yang berbeda. Namun itu sama halnya dengan menentang awan gelap untuk menurunkan hujan. Ayah menolak habis-habisan. Katanya, aku sudah mencederai hati Ayah, parah. Mengecewakan, menghancurkan impian. tak tahu berterimakasih, dan berbagai macam ungkapan lainnya. Aku tak ingat lagi. 

***   

Kaus bergaris dan jeans belel dengan lubang di bagian lutut yang terpajang di etalase toko itu diam-diam tak bisa kuhilangkan dari kepala. Mulai ada bayangan tentang diriku sendiri jika memakainya. Tubuhku pun segera merespon dengan mulai menghitung isi tabungan. Kemudian ada amarah yang membuatku bergetar. Keinginan ini tentu akan mengecewakan Ayah lagi. Juga ada pertanyaan, manusia macam apa diriku. Semakin lama semakin menjauh dari gadis kecil yang Ayah harapkan. Bahkan, aku mulai meragukan siapa diriku sendiri.   

***   

Diriku tampak benar-benar berbeda dengan kaus bergaris dan jeans belel. Ini malam ketika Ayah sedang tak ada di rumah. Ia lembur hingga menjelang tengah malam, katanya. Kakak dan ibu sedang menginap di luar kota, mengunjungi saudara yang sedang terserang stroke akut. Tanpa Ayah di rumah, aku tiba-tiba ingin mencoba. Tak apa. Sekali ini saja. Lagipula aku tak berbohong apa-apa. Dan Ayah tak perlu tahu, sampai membebani dirinya sendiri. Sisanya, aku akan menjadi gadis impian Ayah lagi. Apa artinya beberapa jam saja. Sekadar mencoba. Malam itu, dengan kaus bergaris dan jeans belel, aku berjalan ke luar rumah dan melupakan sesaat tentang gadis impian Ayah. Mencari jawaban dan menemukan diriku yang benar-benar berbeda. 

***

Tidak ada satu pun yang tahu tentang kaus bergaris dan jeans belel. Ia terlalu menggoda untuk hanya digunakan sekali. Hanya dengan keduanya, aku menemukan dunia yang selama ini cuma tersimpan penuh tanya di dalam kepala. Apa rasanya, dan bagaimana menyikapinya. Sesekali aku kenakan kembali kaus bergaris dan jeans belel itu tanpa pengetahuan siapa-siapa. Entah untuk keluar berjalan-jalan, atau sekadar berkaca di cermin jika tak memungkinkan. Namun selalu kuwajibkan diriku sendiri untuk kembali menjadi gadis impian Ayah. Cita-cita Ayah, keinginan Ayah.

*** 

Tidak ada tupai yang tak pernah terjatuh. Dengan kaus bergaris dan jeans belel yang sama, aku berbincang dengan beberapa teman di sebuah cafe. Tentu teman-temanku ini sama sekali tak masuk dalam perhitungan Ayah. Di luar dugaan, aku alpa bahwa itu jalur pulang kantor dan tempat Ayah biasa meeting dengan klien. Aku serasa dipukul langsung di bagian wajah. Aku begitu ingin menukar saat itu dengan apa saja. Apa saja, asal momen itu tak pernah terjadi.

***  

Bertahun-tahun setelah Ayah memintaku keluar dari rumah, Ibu dan kakak mencariku mati-matian ke mana saja. Sementara aku sudah memilih tempat yang jauh, di luar pulau tempat kami tinggal. Hidup seorang diri dengan mulai dari belas kasihan teman. Tak ada pelukan paling hangat namun begitu terasa asing ketika aku bertemu Ibu dan Kakak untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ketakutan kami bertahun-tahun tentang perpisahan yang selamanya, dipupuskan melalui air mata, haru yang meluap tak terkira. Aku bahkan tak berani bertanya di mana Ayah ketika itu. Namun kepekaan Ibu tak pernah berkurang. Ia menggenggam tanganku dengan tangis yang sebisa-bisanya ia tahan. "Ayahmu ikhlas tentangmu.."

***    


Ayah memang tak perlu tahu tentang kaus bergaris dan jeans belel yang tak pernah kusentuh lagi.

Ia memang tak perlu tahu. Aku hidup sesuai dengan cara yang dipilihkannya untukku setelah keluar dari rumah. 

Ia memang juga tak perlu tahu. Seberapa besar penyesalan dan kata maaf yang begitu ingin kuhamburkan padanya. 

Aku hanya datang dan tertegun tentang ketakberadaannya.  
Ayah alpa mengajarkanku memaafkan diri sendiri.
Ayah lupa mengajarkanku merelakan keterlambatan. 

Bertahun-tahun kemudian, bahkan entah sampai kapan, aku masih bertanya-tanya, apa arti merelakan sesungguhnya?




*Kisah fiksi ditulis untuk #NulisBarengAlumni @KampusFiksi 

8 comments:

  1. "Bertahun-tahun kemudian, bahkan entah sampai kapan, aku masih bertanya-tanya, apa arti merelakan sesungguhnya?"

    :"))))))

    ReplyDelete
  2. Wuih... asik. Jadi, apa arti merelakan sesungguhnya?

    ReplyDelete
  3. Mba Nab, tulisanmu selalu berhasil membuatku melongo. Dan bilang: "Daebak!"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih ya, Uti. *kemudian merasa embuh* :'D

      Delete