Friday, September 11, 2015

Sebuah Pertanyaan : Tentang Taman Baca Kampung Pemulung

"Memang program mbak ini akan berapa lama? Berapa bulan? Setahun? Dua tahun?"
Seorang teman pernah menanyakan hal itu di suatu sore. Saya tak tahu mesti menjawab apa. Ketika melihat ekspresi saya, ia mengatakan bahwa ia khawatir program ini akan menjadi boomerang untuk adik-adik : memberi harapan palsu mendukung pendidikan mereka untuk kemudian meninggalkannya. Saya berterimakasih padanya. Ia mengatakan hal yang selama ini saya takutkan.
Tapi kemudian itu menjadi pertanyaan yang berputar di kepala. Berapa lama saya dan teman-teman volunteer akan terus mendampingi perkembangan adik-adik Taman Baca Kampung Pemulung Kalisari Damen Surabaya ? Mendampingi 40 orang anak setiap Jumat bukan hal yang mudah untuk kami. Kami sering multitasking : memberikan soal matematika pada satu anak, menjelaskan cara menjawab soal pada yang lain, memberi kosa kata baru Bahasa Inggris pada yang lebih dewasa, menemani membaca buku cerita pada yang balita. Seluruhnya dilakukan nyaris dalam satu waktu. Belum lagi melerai yang berkelahi, menghimbau untuk merawat buku dan alat tulis dengan baik, menenangkan yang menangis dan yang selalu minta perhatian. 
Mudah? Tidak.

Hari ini termasuk Jumat yang spesial. Setiap salah satu donatur memutuskan untuk menyalurkan zakatnya pada kami, adik-adik mendapatkan beberapa potong roti di samping susu kotak yang rutin kami bagikan setiap Jumat. Di akhir pertemuan, tanpa dikomando, mereka sudah berbaris, siap menerima susu dan roti. Seringkali saling dorong, berebut ingin dapat lebih dulu. Begitu adik-adik sudah seluruhnya mendapat bagian, makanan dan susu yang berlebih kami bagikan ke warga sekitar musholla. Kami menyebutnya "roadshow" : membagi-bagikan makanan pada warga, menyapa, sekaligus menghimbau jika anak atau cucunya boleh bergabung untuk belajar dan membaca/meminjam buku di musholla setiap Jumat secara gratis. Rutenya pun bergantian, jalan sebelah kanan atau kiri musholla. Kami akan berjalan beramai-ramai sembari mengamati bagaimana kondisi tempat tinggal dan keluarga adik-adik.
Saya perlu berterimakasih banyak pada teman-teman volunteer yang luar biasa. Saya selalu terharu membaca ungkapan kangen kalian pada adik-adik ketika berhalangan hadir. Saya kerap merasa bersalah ketika meminta bantuan kalian untuk membeli alat tulis untuk adik-adik, padahal lelah kalian belum kering sehabis pulang kuliah atau kantor. Saya tahu beberapa dari kalian kerap membelah hiruk-pikuk lalu lintas dari ujung Surabaya hanya demi menghabiskan sore bersama adik-adik. Saya juga tahu beberapa dari kalian mesti susah payah menembus izin orang tua. Saya bisa merasakan ketulusan kalian, dan keinginan untuk selalu kembali. Bukan karena hal-hal lain, namun demi adik-adik. Terima kasih.
Beberapa dari kalian yang terhalang waktu dan jarak karena kesibukan, saya ingin mengabarkan beberapa berita. Tentang Hakiki yang begitu gemar membuat keributan, hari ini ia begitu tenang dan tekun belajar perkalian. Meski sudah bukan di usia semestinya untuk menghapal tabel perkalian, tapi usahanya membuat saya bahagia luar biasa. Nung yang baru saja khitan minggu lalu, sudah kembali bermain seperti biasa. Amel yang jangkung dan dewasa, sudah mulai bisa membantu kita untuk mengajari adik-adik yang lebih kecil. Trio 'rusuh' Nopal, Reja dan Ali sudah jauh lebih tertib dan tenang. Mereka lebih sering membaca buku, menggambar atau meminta dibacakan cerita. Meski masih suka membuat khawatir karena berlarian mengikuti mobil dan motor kita ketika pulang. Adit dan Rizki masih sering ribut, tapi setidaknya tak sampai saling meninju perut seperti sebelumnya. Yenni yang pernah menangis karena kangen ayahnya, kini berkembang cepat menghapal kosa kata Bahasa Inggris. Biyan yang sebelumnya kita sempat khawatirkan, minggu lalu membuat saya haru. Ia dengan antusias menceritakan tentang roti dan susu yang ia makan bersama adiknya, Sehan. Mudah-mudahan tak ada lagi adik-adik yang memakan singkong bakar dengan kulitnya. Hari ini banyak dari mereka yang melihat pertama kali buku pop-up dengan antusias. Membolak-balik dan memainkan halamannya. Banyak berita lain yang tak tertangkap mata, kiranya. Tapi semuanya berkembang lebih baik. Cukup jauh dari ketika pertama kali kita memulai. Karena itu, terima kasih karena telah turut merasa memiliki taman baca ini. Saya tahu beberapa dari kalian akan tak setuju dengan adanya tulisan ini, karena ada kekhawatiran adanya kesan 'menjual kesedihan'. Bukan. Ini bentuk berbagi kebahagiaan dan rasa syukur. 
smile emoticon
Terlalu banyak harapan yang kami inginkan dari program ini. Meski dimulai dari hal-hal kecil, namun mudah-mudahan akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan, literasi dan kesehatan adik-adik. Seandainya hanya sedikit bermanfaat pun tak apa. Kami akan terus mencoba yang terbaik.
Jika ditanya, "Sampai kapan?" 
Biarkan kami menjawab dengan langkah kami yang selalu ingin kembali.


-Nabila Budayana-

2 comments: