Sunday, September 6, 2015

Dari Bunyi ke Kata : Workshop Menulis Peristiwa Musik oleh Erie Setiawan

"Tuhan mengkodratkan orang jelas sedikit, yang tidak jelas lebih banyak."

Tajam, dalam, menohok. Meski kritiknya dalam dunia musik sering mengena, seorang musikolog, Erie Setiawan nyatanya mampu menampilkan dirinya dalam suasana santai. Dari Bunyi ke Kata. Sebuah workshop yang diselenggarakan oleh Pertemuan Musik Surabaya di penghujung Agutsus 2015 ini dibagi ke dalam dua bagian. Hari pertama, 30 Agustus 2015 untuk workshop penulisan peristiwa musik secara umum, hari kedua, 31 Agustus 2015 dikhususkan bagi peserta workshop yang telah mengirimkan tulisan.

Belum pernah terpikirkan dalam kepala saya bahwa 'ruang belajar' ini ada. Saya kira bidang ini masih begitu terbatas dan hanya sederet manusia yang menekuninya di Indonesia. Tanpa perlu berpikir panjang, saya memutuskan untuk mendaftar. Selama ini Erie Setiawan saya ketahui sebagai sosok di balik penerbitan buku-buku musik Art Music Today. Penerbit ini telah cukup banyak melahirkan berbagai tulisan tentang musik dari berbagai pakar. Di antaranya Slamet Abdul Sjukur dan Vincent McDermott.

Ketika saya hadir di waktu yang ditentukan, workshop ini cenderung sepi. Rupanya peserta banyak yang belum hadir. Jadi saya memutuskan untuk berkeliling mengintip punggung-punggung buku di perpustakaan C20 saja. Setelah puas membolak-balik beberapa halaman koleksi Kundera, Pamuk, dan koleksi-koleksi lain yang membuat iri, saya segera beranjak menuju ruang bagian belakang perpustakaan, lokasi workshop diadakan.

Di depan peserta sudah disambut oleh berbagai CD dan buku-buku produksi Art Music Today, juga beberapa modul dari Pertemuan Musik Surabaya yang dijual dengan harga sangat murah. Cukup lama saya 'tertahan' di meja itu, sampai saya kira lebih baik menunggu di dalam lokasi saja. Secara penataan, tak ada yang 'spesial' dari workshop ini. Hanya tikar yang digelar nyaris menutupi seluruh ruangan baru C20 library dan sebuah LCD yang sudah siap menampilkan slide. Tapi justru itu menjadi menyenangkan. Workshop ini jadi membumi dan tak terkesan formal. Pembelajar dan pemberi materi duduk sama tinggi, peserta bisa duduk santai dan menerima materi tanpa tuntutan formalitas apa-apa. Selayaknya satu ruang diskusi yang tak perlu sekat apa pun.

Hanya perlu menunggu beberapa saat yang saya isi dengan membaca sekilas modul, sampai akhirnya peserta terkumpul dan Erie Setiawan siap membagikan materi. Peserta yang hadir cukup banyak untuk acara ini. Lebih dari dua puluh orang menyimak dalam beberapa jam. Lalu apa yang dilakukan Erie Setiawan dalam mengubah dari bunyi ke kata?

Bagi Erie, kita selalu membutuhkan sesuatu yang bisa direkam untuk menjadi bahan refleksi orang lain, termasuk musik. Meski musik tanpa kata-kata sudah berbicara, namun tetap ada tugas untuk mengubah bunyi ke fakta. Tulisan menjelaskan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh bunyi. Dalam praktisnya, Michael Tenzer, seorang composer dan music educator Amerika yang memiliki keterikatan kuat dengan Gamelan, membagi musik di seluruh dunia menjadi 20 jenis. Bahkan penggambaran jenis musik dari Tenzer pun hanyalah sebatas permukaan dari betapa luasnya wilayah musik yang ada di dunia. Sedangkan kita, hanya mendengar musik yang begitu terbatas dalam keseharian. 

Sejak kapan bunyi dikonversi ke kata? Sejarahnya, sejak abad ke-18, seorang komposer zaman Barok, Charles Avison (1709-1770) menuliskan esai kritik musik yang diawali dari pergulatan pemikirannya, kemudian diikuti dengan reportase peristiwa musiknya. Di zaman tersebut, lebih banyak yang membicarakan tentang musik vokal. Pembahasan tentang musik instrumental baru dimulai 500 tahun kemudian. Di abad ke-19, Ernst Theodor Amadeus Hoffman dan Robert Schumann mendalami dunia kritik musik. Dari beberapa contoh tokoh-tokoh yang disebutkan, ruang profesi kritikus banyak diisi oleh pemusik. Eduard Hanslick, seorang kritikus musik dari Jerman di abad ke-19 memberikan pencerahan tentang hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan kritik musik melalui "On Musical Beauty". Seperti hal-hal lainnya di dunia, perdebatan tentang subjektifitas kritik musik juga yang membuat Wagner dan Brahms berbeda pandangan. Wagner berpendapat bahwa musik mesti diekspresikan secara kontekstual, memiliki muatan cerita di dalamnya. Sementara Brahms berada di sisi sebaliknya, bahwa musik adalah sebentuk ekspresi yang mengalir apa adanya.

Paris Hector Berlioz di abad yang sama, melambung dengan karya-karyanya untuk jurnal musik. Hingga di abad 20 kritik musik berkembang dengan pesat, terutama dengan lahirnya teknologi internet yang memungkinkan siapa saja untuk menulis. Kenyataan tersebut mesti dihadapi dengan sikap selektif. Kita harus memilih informasi yang kredibel dan tepat. Meski begitu, terdapat sisi ironi yang lain. Kritik musik di Indonesia semakin ditinggalkan, semakin banyak yang tidak peduli. Walaupun jurnalisme musik semakin berkembang, namun kebanyakan condong pada musik populer yang mainstream. Beberapa nama yang aktif menjadi reviewer dan katalog musik antara lain Denny Sakrie, Bens Leo dan Adib Hidayat. Namun beberapa nama konsisten untuk memilih 'jalur' yang berbeda : Slamet Abdul Sjukur, Suka Hardjana, Remy Silado, Harry Roesli yang menampilkan musik dengan sisi intelektual. Di luar negeri kritik musik lebih hidup salah satunya ditunjukkan dengan adanya Liner Note, sebuah review panjang dari kritikus yang dicantumkan dalam CD musik.

Lantas, seberapa pentingkah tulisan tentang musik? "Tidak penting bagi yang tidak mengerti tentang musik." Begitulah Erie Setiawan mengutip ucapan Slamet Abdul Sjukur. Tidak semua orang butuh, namun bersifat penting bagi yang mengerti tentang musik. Musik adalah budaya. Jika bicara tentang budaya, kita harus meninggalkan jejak-jejak untuk refleksi diri. Itu menunjukkan betapa pentingnya tulisan tentang musik.

Dalam musik, terdapat beberapa bidang yang dapat dipelajari lebih dalam : 
- Musikologi
- Performing Studies
- Cultural Studies of Music
- Interdiciplinary Studies Concentration in Music

Secara praktis, sebab-sebab mengapa musik harus dituliskan antara lain : 
- Memberi informasi kronologis peristiwa musik
- Media Promosi
- Media untuk berdialog dengan publik
- Meningkatkan pengetahuan dan apresiasi musik
- Pemberitahuan media massa
- Kepentingan studi atau forum
- Menemukan pandangan atau teori baru tentang musik
- Sebagai tugas kuliah, penelitian, penerbitan
- Panduan untuk menjelaskan teknik dan seluk-beluk permainan musik

Tulisan-tulisan tentang musik mewujud dalam berbagai bentuk : 
- Reportase. Jelas dibutuhkan kelengkapan elemen 5W+1H pada tulisan jenis ini.
- Resensi. Mengupas berbagai karya, seperti buku, rekaman musik, jurnal musik
- Esai. Bersifat reflektif dan informatif. 
- Kritik Musik. Dalam wujudnya, ia lebih spesifik daripada esai. Dalam membuat kritik, bijaklah dalam menuliskan. Kritik yang perlu, jangan mengada-ada. Dapatkan pengalaman empiris dari pertunjukan musik sebelum melakukan pembahasan. Lakukan juga wawancara, referensi atau komparasi yang pas. Temukan angle yang tepat agar tajam. Meski begitu kritik juga harus bersifat apresiatif, agar tak menjadi boomerang. Biarkan kritik musik menjadi opini publik dengan membiarkan pembaca yang menilai fakta
- Analisa Musik
- Buku atau Hasil Penelitian Musik
   

"Apa yang kita tulis hari ini tidak harus selalu bermanfaat hari ini." 

Erie Setiawan juga mengutarakan opininya tentang adanya genre dalam musik. Genre baginya adalah hasil fanatisme. Yang perlu digarisbawahi, menjadi seorang penulis sebaiknya bersikap netral. Mengingat begitu luasnya dunia musik untuk dituliskan. Boleh merasa suka atau tidak suka terhadap suatu jenis musik, namun jangan sampai anti. Kemudian timbul pertanyaan siapa saja yang bisa menuliskan musik? Apa harus selalu seorang pemusik? Erie menjawab diplomatis. Bahwa penulis peristiwa musik harus mampu memainkan alat musik. Cukup menjadi pencinta musik dan mengalami langsung pengalaman empirisnya dalam menikmati musik. Musikologi empiris merupakan pengalaman mendengar musik yang bisa disadari sebagai pengetahuan. Dalam menulis musik, tidak harus selalu terpatok pada apa yang terlihat (pertunjukan), namun juga apa yang tak disaksikan oleh audiens. Misalnya persiapan backstage, proses latihan, dan sebagainya. Sedangkan Musikologi adalah wawasan musikal yang telah ada sejak 130 tahun yang lalu. Dalam bidang ini, sudah ada pendidikan tingkat sarjana hingga doktoral. 

Dalam menghadiri pertunjukan music concert di mana kita tak mengerti komposisi apa saja yang akan dimainkan, Erie menyarankan penulis untuk datang dengan bekal. Setidaknya mempelajari tentang latar belakang sejarah komposer terlebih dahulu. Namun bukan berarti hal tersebut akan menyempitkan interpretasi kita ketika menikmati pertunjukan. Mencoba berbagai perspektif yang berbeda untuk menuliskan berbagai jenis musik tentu juga akan menarik. Misalnya mengkritik pertunjukan music concert dari sudut pandang musik rock.


"Seniman bisa muncul karena ada yang menuliskannya."

Serupa dengan jenis penulisan yang lain, dalam menuliskan peristiwa musik, kita mesti cermat menentukan angle. Sebagai pertimbangan, mesti diketahui sasaran pembaca yang kita tuju. Dengan begitu, kita bisa menyesuaikan judul, gaya bahasa, penyampaian, dan faktor-faktor lain yang menunjang agar tulisan kita mampu diterima dengan baik oleh pembaca. Misalnya ketika penulis akan mengirimkan karya tulis ke media. Media begitu menitikberatkan penilaian pada opini yang otentik. Bagaimana cara mendapatkannya? Tulis dulu apa yang ada di dalam kepala, setelah itu lakukan kroscek tentang referensi. Yang terpenting adalah jujur dengan pengetahuan yang kita miliki. 

Dalam menekuni karir menulis peristiwa musiknya selama dua belas tahun belakangan, Erie memulainya dengan belajar secara otodidak. Dalam perjalanannya, tentu tak begitu saja dijalani dengan mudah. Meski memiliki latar belakang pendidikan formal musik, namun dalam karirnya, Erie Setiawan mengalami kesusahan di lima tahun pertama. Namun ia terus konsisten untuk menulis dan belajar dari kesalahan. Konsistensi begitu penting mengambil peran dalam bidang penulisan. 

Salah satu hal yang terpenting dari sebuah karya adalah ide, juga tulisan. Gaya penyampaian yang tidak bertele-tele, pandai mengatur napas pembaca, menemukan komposisi yang tepat agar tak terlalu sederhana maupun berlebihan adalah beberapa hal yang mesti diperhatikan. Jika sudah baik, barulah tulisan tersebut menemukan fungsinya. 

Dalam menghasilkan tulisan yang baik, tentu tak bisa ditinggalkan bahan-bahan referensi untuk memperkaya ide. Bidang ini masih belum banyak digeluti di Indonesia. Oleh karenanya Erie memilih untuk mengakses referensi dari luar negeri. Seperti membeli buku impor, mengakses e-book, jurnal musik, dan lain sebagainya. Kamus musik pun diwajibkan Erie untuk menemukan arti dari istilah-istilah yang digunakan. Informasi yang bagus berasal dari sumber yang bagus pula. Pada intinya, sebuah tulisan harus berhasil membuat pembaca paham. Dalam menggunakan referensi, banyak yang harus diperhatikan. Misalnya bahwa tidak semua karya tulis terbitan lama tidak up to date, karena cukup banyak yang masih relevan. Perhatikan siapa yang menulis dan menerbitkan karya yang akan kita jadikan bahan referensi. Lakukan juga pemilihan sub-bab buku yang kita butuhkan, catat inti dari tulisan, buat review-nya, dan diskusikan. Sebuah rangkuman yang baik adalah rangkuman hasil refleksi diri kita sendiri, bukan hasil kutipan. Demi meluaskan pandangannya, Erie Setiawan tak hanya mengakses referensi-referensi musik, ia melahap referensi dari bidang lain pula. Baginya, terkadang orang membutuhkan informasi di luar 'wilayah'nya. Hal tersebut menjadikan tulisan-tulisannya luas dan beragam. Misalnya ia kerap mendapat inspirasi tentang prosa dari karya-karya Linus Suryadi dan belajar tentang logika dan metaforik dari Emha Ainun Nadjib.

Komposisi subjektifitas penulis dalam tulisan peristiwa musik begitu penting. Namun berapa porsi yang baik? Subjektifitas hanya diperkenankan maksimal kurang lebih 60 persen dari keseluruhan tulisan yang berimbang. Meski interpretasi boleh beragam, namun selalu ada batasan hal-hal 'pakem' yang tidak boleh menghasilkan interpretasi beragam di kepala pembaca. Karena itu ketika penulis mengalami pengalaman menonton langsung pertunjukan, dengarkan dan tonton secara mendalam. Deep listening, deep seeing. Bagaimana ekspresi performer, faktor bunyi, dan begitu banyak hal lain yang mesti diperhatikan dengan saksama. Kejelian dalam mengambil sudut pandang pun sangat menentukan hasil tulisan. Bedakan musik mana yang baik dibahas konteksnya, mana musik yang mesti dibahas secara teks. Erie memisalkan dengan pertunjukan musik yang dilakukan oleh teman-teman penyandang disabilitas, penampilan penyanyi dangdut yang erotis, atau grup Merah Bercerita yang membawa pesan sosial tertentu. Tentu saja akan lebih menarik membahasnya dari sisi sosial, secara konteks. 

Dalam mengamati sebuah pertunjukan, penulis perlu tahu tentang adanya Komunikasi Struktural dan Komunikasi Emosional yang dilakukan oleh penampil. Komunikasi Struktural adalah komunikasi antara pemusik dengan karyanya, sedangkan Komunikasi Emosional merupakan komunikasi antara penampil dengan penonton. Bagi Erie, musisi belum istimewa jika masih memberi kerumitan pada penonton. Secanggih apa pun ia ketika memainkan musik, ketika berhadapan dengan penonton ia harus 'membumi' memperhatikan penonton. Berbeda dengan pertunjukan musik, jika ingin meliput workshop musik setidaknya pelajari teknis instrumen terlebih dahulu. 

Sebaik-baiknya seorang penulis selalu akan ada tanggapan negatif. Oleh karena itu Erie mengingatkan bahwa dalam menulis kita mesti siap untuk menghadapi risiko dibenci, dianggap sok tahu, berkurang teman, dan sebagainya. Namun dengan konsistensi dan tak berhenti, lama kelamaan khalayak akan mampu menerima kehadiran karya kita. 

Menanggapi pertanyaan tentang iklim penulisan musik di Surabaya, Erie menjawab bahwa Surabaya hanya belum memiliki saatnya. Sungguh tak adil jika membandingkan kota ini dengan kota lainnya, di mana pertunjukan musik jauh lebih sering diselenggarakan. Indikator kualitas tidak selalu ditentukan dengan banyaknya event yang diselenggarakan. 

"Serius menulis musik ada peluang, yang tidak serius juga ada peluang : peluang kehancuran."

Materi hari pertama begitu menggugah, membawa peserta workshop ke hari kedua. Kali ini suasana cenderung 'agak menegangkan' karena karya masing-masing peserta dikupas dan dikomentari oleh Mas Erie Setiawan. Berbeda dengan hari pertama yang lebih bersifat teori, hari kedua justru sangat praktis. Kami bebas melontarkan pertanyaan maupun sesuatu yang ingin didiskusikan bersama. Dari tulisan-tulisan kami, Mas Erie memberikan cukup banyak masukan terkait hal-hal yang mesti diperhatikan. 

Dalam memulai tulisan, judul memiliki peranan yang begitu penting sebagai kalimat pertama yang mengindikasikan isi dan yang menentukan apakah pembaca akan tertarik untuk membaca lebih lanjut. Erie mengingatkan untuk tak membuat judul yang multitafsir. Apabila judul kurang jelas, tidak ada salahnya menambahkan sub judul. Sub judul berguna untuk memberi kelenturan dalam tulisan. Selain itu, usahakan judul dalam bentuk kalimat aktif. Judul menjadi sebegitu penting karena redaktur media akan membaca judul dan paragraf pertama. Dalam isi pun, boleh diselipkan sub judul untuk memberi napas pada pembaca.

Variabel yang tepat sangat menentukan ke mana arah tulisan akan terwujud. Mengutamakan informasi pada pembaca tentu menjadi hal yang utama. Menulislah langsung pada intinya. Kalimat pertama yang 'menembak' membuat pembaca berpikir dan berimajinasi. Sementara kalimat penutup yang optimis atau metaforik maupun reflektif akan lebih menarik. Demi kenyamanan pembaca, usahakan tak lebih dari 10 baris dalam setiap paragraf. 

Dalam menulis esai musik dibutuhkan kecermatan yang tinggi dimulai dengan menemukan inspirasi, mewujudkan ide dan menemukan konklusi. Kecermatan pun mesti merasuk hingga hal terkecil : typo. Manusiawi, zero typo adalah hal yang susah, namun tetap mesti diusahakan. Dalam menggunakan istilah, utamakan untuk menggunakan istilah yang baku dalam musik. Tentu saja merujuk pada kamus musik. Istilah-istilah tersebut mesti disertai dengan penjelasan.

Menulis adalah masalah melatih 'otot', benar adanya. Erie Setiawan menyarankan penulis untuk terus meningkatkan produktifitas. Perlahan dimulai dengan reportase musik, menjadi esai musik, kritik musik, bahkan menjadi buku. Tentunya dengan tetap menyajikan informasi-informasi yang istimewa untuk pembaca. Sebisa mungkin, jangan mengulang informasi. Berikan yang segar dan baru. Bukan hanya informasi, namun juga diperlukan imajinasi untuk menarik perhatian pembaca. Penggunaan terlalu banyak metafora tidak disarankan demi menghindari kaburnya informasi. Maksimal hanya sebanyak 20 hingga 30 persen dari keseluruhan tulisan. Metafora hanya berperan sebagai jembatan untuk menjelaskan informasi.

Penetapan jenis tulisan apa yang akan ditulis sangat penting dilakukan agar tahu apa yang akan disampaikan. Esai musik populer biasanya diperuntukkan untuk media dengan pembaca yang tidak spesifik. Dalam menuliskannya diperlukan siasat pembahasan yang fleksibel. Sedangkan esai ilmiah populer ditujukan untuk media massa dengan pembaca yang lebih spesifik. Reportase bersifat lebih sederhana, mudah dimengerti dan menceritakan pada pembaca tanpa tendensi apa-apa. Perbandingan reportase dan esai adalah reportase tak memerlukan solusi apa-apa, sedangkan esai memerlukan pendekatan studi kasus (case study). 

"Yang penting punya gaya menulis yang kita nikmati, dan patut untuk diperjuangkan. Jangan sampai berhenti di rata-rata. Harus berada di garda depan."

Yang diharapkan Erie dari forum ini adalah agar masing-masing peserta mampu bermanfaat bagi diri sendiri dan komunitas. Diharapkan untuk belajar terus menerus, melatih kemampuan diri dan menambah pergaulan. 

"Maju terus, berikan informasi musik yang cerdas kepada masyarakat."

Workshop persembahan Pertemuan Musik Surabaya ini begitu menyegarkan. Menginspirasi, mencerahkan, terutama memberi harapan untuk perkembangan musik melalui budaya merekamnya melalui tulisan.  
  

No comments:

Post a Comment