Wednesday, July 16, 2014

Enam Belas Juli yang Belum Usai

Nyaris tak ada yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dengan syukur dan gembira, hari ini, saya sibuk membalas ucapan-ucapan selamat untuk memperingati hari kelahiran. Keluarga, kerabat, sahabat. Beberapa dari mereka mengingatkan usia. Dua puluh lima, seperempat abad, katanya. Saya bergurau "Bukannya dua belas?" Sebuah penyangkalan yang melahirkan balasan gurauan berbagai macam. Tahun lalu sastrawan Kurnia Usman mengirimkan sebuah novelnya sebagai kado ulang tahun persis di tanggal enam belas. Hari ini beliau kembali menelepon, mengucapkan selamat, dan mengabarkan kondisi kesehatannya yang sedang dalam masa pemulihan. Saya positif tak enak hati. Beliau masih menyempatkan diri menelepon.

Dalam bayangan saya hari ini akan sama, akan terlewati seperti biasa.

***

Telepon rumah meronta ingin dijawab setelah beberapa kali berdering. Kebetulan hari ini saya mengajukan izin tak ke kantor. Mama saya sedang sibuk mengobrol dengan beberapa tamu. Ucapan "halo" saya beberapa kali tak menghasilkan jawaban dari ujung lainnya. Ketika nada saya mulai meninggi, suara perempuan ragu-ragu terdengar.
"Saya Tini. Pembantu Bu Tine yang dulu. Mau ngasih tahu. Bu Tine meninggal."
Entah suaranya yang tak jelas, kuping saya yang tak menangkap, atau rasa tak percaya.
"Apa, mbak?" Saya memohon pengulangan, setengah berharap yang saya dengar sebelumnya tidak benar.
"Bu Tine meninggal tadi pagi jam delapan."
Tanpa sadar saya hanya bisa mengucap "Ah, Auh, Eh". Sesaat saya tak tahu apa yang mesti dilakukan. Nada bicara Mbak Tini buru-buru. Sebelum ia menutup telepon, saya minta berbagai informasi tentang persemayaman dan pemakaman Oma Tine.

***

Oma Tine. Begitu kami memanggilnya. Tak ada hubungan darah dengan keluarga. Tapi ia sahabat dekat kakek, ayah papa selama bertahun-tahun. Saking dekatnya,bertahun-tahun lalu ketika saya dan sepupu lainnya masih seusia SD, setiap dua puluh lima Desember kami sekeluarga besar berkunjung ke rumah Oma Tine. Bersilaturahim dengan ia sekeluarga yang merayakan Natal. Pohon Natal dan televisi ukuran besar, electone, permen selalu ada di ruang tamunya. Sembari disuguhkan makanan, para orang tua akan mengobrol, dan anak-anak akan berlarian ke sana kemari menjelajah rumah. Beberapa kali saya dan sepupu-sepupu yang seumuran mengagumi hiasan pohon natal. Mulai boneka santa flanel, kaos kaki besar, hingga bintang emas di ujung atas pohon. Oma Tine begitu mudah kami sukai karena selalu ramah dengan anak-anak.Seperti kebanyakan orang lain, ia masih salah memanggil "Bina atau Bila" kepada saya dan kakak. Setiap kali bersalaman ia akan mencium pipi-pipi mungil kami, orang-orang tua kami, juga pipi kakek dan uti seperti keluarganya sendiri. Tak sulit mengingat wajahnya yang selalu nampak awet muda itu. Maklum, ia perias profesional.

*** 

"Halo?" ujar saya dengan nada datar.
"Ya, halo. Betul dengan rumah Andi Handoko?" nada bicara wanita itu berbeda. Sangat lembut, sopan dengan sedikit aksen pengucapan khas Belanda.
Sebelum wanita itu sempat menjelaskan panjang lebar, saya sudah menduga. Selain dari nada bicaranya yang unik, sangat jarang seseorang menyebut nama papa diikuti nama kakek.
"Oma Tine, ya? Oma apa kabar?"
"Ini putrinya Andi, ya? Eh, masih ingat oma, ya?"
Setelah itu mengalir obrolan ringan. Tentang hidupnya yang berubah. Tentang ia yang sudah pindah ke sebuah kamar kos kecil dan hidup dengan mengajarkan Bahasa asing pada mahasiswa sesama penghuni kos. Tentang hidupnya yang mesti tinggal seorang diri. Di masa tuanya.

***

Berbeda dengan mama, saya lupa mengabarkan pada papa, orang yang semestinya berhak tahu lebih cepat tentang kabar duka itu. Saya tak sempat melihat ekspresi mama, namun saya tak menyangka. Mata papa merah dan berkaca-kaca. Seperti menahan air mata. Rupanya kedua orang tua saya punya cukup banyak kenangan khusus dengan Oma Tine. Satu per satu memori terurai dan dibeber ulang. Memori yang entah disimpan sendiri atau disampaikan terputar lagi. Oma Tine punya jasa besar menyatukan papa dan mama, rupanya.

***

Enam belas Juli belum usai. Ternyata ada yang harus saya renungkan. Selain syukur atas keberadaan, kesehatan, kehidupan; masih ada yang perlu diingat dan dipahami. Sudah seberapa dewasa saya untuk mampu menerima kepergian, kesakitan, kematian. Seberapa besar kemampuan untuk berdamai dengan memori, diri sendiri saat ini, dan keberanian menyambut apa yang akan terjadi. Sudah seberapa jauh memaknainya, terutama di peringatan hari kelahiran yang seringkali disibukkan gempita perayaan dan kegembiraan?

No comments:

Post a Comment