Wednesday, July 31, 2013

Sebatang Lilin Kurus


“Good fiction creates its own reality.”Nora Roberts


Apa yang ada di pikiran Edgar Allan Poe ketika ia menulis "The Narrative of Arthur Gordon Pym of Nantucket", kisah tentang tiga manusia yang mampu selamat dari karamnya kapal yang mereka tumpangi, kemudian mereka dihampiri rasa lapar dan haus yang akhirnya membuat mereka melakukan 'tindakan gila'. Seorang dari mereka bernama Richard Parker harus rela untuk dimakan oleh sesamanya. Di tahun 1884, empat puluh enam tahun setelah karya itu terbit, terjadilah kisah nyata yang nyaris serupa dengan Edgar Allan Poe tulis. Sebuah kapal karam dan membuat tiga manusia, kapten kapal bernama Tom Dudley dan dua pelaut yang selamat, mencoba membunuh seorang pelayan kabin, orang keempat, demi mengenyahkan rasa lapar. Dan orang yang tak beruntung tersebut pun adalah seorang awak kabin berusia tujuh belas tahun bernama Richard Parker, persis seperti nama yang Edgar Allan Poe ciptakan. Seakan ingin meneruskan sejarah nama Richard Parker, Yann Martel, penulis Life of Pi pun mengabadikannya menjadi nama karakter harimau untuk kisahnya (yang lagi-lagi berhubungan dengan survivor kapal karam).


Saya tak tahu apa yang Poe rasakan. Namun mungkin kawan saya ini sedikit banyak merasakan apa yang Edgar Allan Poe rasakan.

Mendekati deadline, saya iseng menanyakan seorang teman penulis tentang tulisan yang ia akan kirimkan sebagai bahan project bersama kami. Tak biasanya ia terlupa akan tenggat. Ketika saya menanyainya mengapa, ia menjawab karena "masih shock". Saya yang keheranan menanyainya apa yang membuatnya shock. Ia bertutur bahwa ia sedang menulis tentang sebuah kisah dengan inspirasi dari kisah percintaan seorang kawannya. Namun karena ini fiksi, ia memutuskan untuk membuat akhir kisah yang berbeda (sad ending, berlawanan dengan kenyataan yang sesungguhnya). Siapa yang akan menyangka, jika setelahnya, justru kenyataan lah yang mengikuti kisah fiksi. Pasangan yang menjadi model cerita rekan saya tersebut malah justru benar-benar tertimpa musibah yang meski tidak sama persis dengan yang ditulis, namun mengubah akhir kisah nyata itu menjadi sad ending. Teman saya kehilangan kata-kata bagaimana kisah yang ditulisnya (nyaris) menjadi nyata.


Meski itu cerita dengan dampak terbesar yang sejauh ini saya dengar, sebelumnya beberapa teman juga mengatakan hal yang nyaris serupa.

Seorang teman penulis yang sedang membentuk karakter seorang pria idaman, akhirnya ia menemukan nama yang sama di dunia nyata. Ia bercerita dengan heboh kepada kami, partner menulisnya. Memang, kami seringkali bercanda untuk 'menghancurkan' karakter yang ia bentuk itu (saat itu kami menulis secara estafet). Sayang, beberapa waktu kemudian ia bercerita bahwa hubungannya tak lama dengan sang pria. Tak sama seperti kisah yang ia tulis, di mana tokoh wanita mendapat hidup bahagia dengan sang pria.

Yang lebih ekstrim, seorang teman yang lain sudah mewanti-wanti agar jangan 'macam-macam' menulis dengan POV 1 ('aku', 'saya', dsb) karena ia sedang mengalami sendiri apa yang ia tuliskan. Secara personal, saya belum pernah merasakannya, dan saya harap agar jangan pernah terjadi. Seindah apapun itu, atau seburuk apapun itu. 

Fiksi memang tak pernah benar-benar lepas dari kenyataan. Semua fiksi mengambil dasar kehidupan nyata, meski akhirnya imajinasi penulis akan menjadikannya berbeda dan memiliki dunianya sendiri untuk hidup dan berkembang. Namun jika ternyata itu terjadi di dunia nyata, tak ada yang sanggup menjawab bagaimana bisa. Menjadi penentu untuk kisah fiksi sangat berbeda saat dipaksa menjadi Penentu dalam kehidupan sebenarnya. Sebatang lilin yang kurus tentu tak memiliki kapasitas yang sama besar dengan matahari untuk memberi cahaya. 

Menjadikan fiksi yang nyata, sungguh sangat berbeda dengan menjadikan kenyataan serupa fiksi.


“That's what fiction is about, isn't it, the selective transforming of reality? The twisting of it to bring out its essence?” - Yann Martel

No comments:

Post a Comment