Monday, January 16, 2012

Jadilah Milikku, Mau?


Tanpa perlu berpayah mengingat, aku dapat dengan mudah membayangkan bagaimana tempat itu. Bau, jauh dari keteraturan dan berkawan lekat dengan kumuh. Aku dan emak berjalan di atas bukit "buatan" ini bukan hanya sesekali, namun tiap hari. Menenggelamkan kaki pada gunungan berbagai rupa sampah dan menanam harapan pada setiap pungutan untuk membantu kami mendapat rupiah. Tentu saja ingatan tersebut susah dilupa. Karena hari ini pun jiwa dan ragaku masih mengalaminya.

Kami tak pernah mengerti apa makna bahagia bagi mereka di luar sana.

Namun bagi kami bahagia adalah saat masih dapat membawa pulang karung penuh kaleng dan botol bekas.

Bahagia adalah saat emak berkata girang bahwa ia tak sengaja menemukan boneka kumal untuk adik di gunung sampah.

Bahagia adalah menghitung beberapa lembar rupiah dari hasil menjual bawaan yang sedari pagi kami kumpulkan.

Meski bahagia kami tak berarti sampah, aku sering berangan apa arti bahagia bagi wajah-wajah di dalam mobil mewah, di gedung-gedung tinggi bahkan di layar tivi.


Aku ingin tahu dan mencicipi.
Bahagia itu, jadilah milikku, mau?

1 comment:

  1. Akhirnya, setelah blog walking, cuman ini yang melamar selain manusia, hewan, dan benda. ^^
    nice FF anyway ;)

    ReplyDelete