Sunday, January 15, 2012

Aku Maunya Kamu, Titik!


“Aku Maunya Kamu, Titik!” – aku sering mengucapkan itu dulu
Aku gunakan kalimat itu saat merengek pada ayah untuk barang yang kuinginkan, saat meyakinkan pasangan akan betapa inginnya aku bersamanya, juga saat meminta sahabat menemaniku belanja
Namun tampaknya tak kuasa lagi kuucapkan setelah kejadian-kejadian ini menimpa hidupku


Tiga tahun lalu, ayah pergi untuk selama-lamanya menghadap Sang Pemilik Kehidupan
Kulihat ia berjajar bersama ratusan lainnya muncul di pantulan layar elektrokardiogram ruang ICU tempat ayah dirawat sembari tertawa kuasa untuk apa yang akan ia dapat
Hidup ayah pun berhenti saat itu


Sebulan lalu, pasanganku meninggalkanku
Kuyakin ini lagi-lagi perbuatannya
Ia hadir kembali dalam pesan singkat yang kuterima
“Kurasa hubungan ini sudah tak dapat kita pertahankan lagi, cukup disini”
Malam itu praktis meruntuhkan hati ini bak kaca yang berkeping
Kami, usai


Kemarin meninggalkan jejak sedih yang masih membekas jelas di hari ini
Sahabat setia dan terbaikku, pergi
Hanya sesaat setelah dirinya menenggak obat laknat yang memberi efek kepuasan semu itu
Dan ia lagi-lagi dalang dibalik ini semua
Kutahu itu saat kulihat ia ada di beberapa bagian tangan sahabatku


Ya, kau menang atasku
Aku tak suka dan kecewa
Titik-titik yang membentuk garis di elektrokardiogram, titik yang mengakhiri ungkapan mengecewakan di akhir pesan, serta titik-titik bekas hujaman jarum di kulit

Titik berkata padaku ia adalah akhir

Titik berkata padaku ia tak dapat ditawar

Titik berkata padaku ia adalah kesedihan

Dan aku benci titik
Itulah mengapa kau tak menemukan titik di sini



Lantas, apa yang dikatakan sebuah titik kepadamu?





No comments:

Post a Comment