Thursday, November 9, 2017

Jalan Panjang dalam Ragam : Jejak Langkah 60 Tahun Pertemuan Musik

Perjalanan panjang komunitas yang menjadi salah satu jejak sejarah musik di Indonesia, Pertemuan Musik (PM), mencapai enam puluh tahun. Melalui pasang-surut dan berbagai tantangan, organisasi ini bertahan dengan spirit yang masih serupa sejak didirikan 1957 lalu.


 "Kudjadikan Rakjatku Tjinta Musik"

dokumentasi : butawarna design


Gedung Balai Pemuda Surabaya menjadi saksi perjalanan usia Pertemuan Musik Surabaya (yang kemudian bertransformasi menjadi Pertemuan Musik). Di perayaan 60 tahunnya, Senin, 30 Oktober 2017 lalu, PM memutuskan untuk mengadakan perayaan di lokasi sama dengan acara pertama yang diselenggarakan 60 tahun lalu oleh para pendirinya. Mencapai usia panjang, Pertemuan Musik yang didirikan oleh Slamet Abdul Sjukur, T. Lan Ing, dan Roeba'i Katjasungkana telah mencapai banyak hal, dan telah melewati berbagai badai ujian. Sayangnya, semua pendiri tak sempat turut dalam perayaan 60 tahun ini karena telah berpulang. Generasi muda yang membawa tongkat estafet dari PM melanjutkan kibar bendera cinta musik tersebut.


Press Conference 60 Tahun Pertemuan Musik

Enam puluh tahun menebar virus cinta musik, Pertemuan Musik juga berniat mengabadikan jejak perjalanan tersebut, sejak awal berdirinya di September 1957 hingga 2016. Di kesempatan perayaan 60 tahun lalu, dummy dari buku "Kudjadikan Rakjatku Tjinta Musik" disosialisasikan pada awak media. Buku tersebut disusun oleh Nabila Budayana, Pramita Dikariani Rosalina, dan Gema Swaratyagita. Pengerjaannya akan terus dipungkaskan dan disempurnakan di tahun 2018. Dipandu Ulin Rostiti, selain buku, Fransiska Ratri mengungkap sekilas sejarah PM, Joko Gombloh berbagi tentang penampilannya malam itu bersama Sono Seni Ensemble, dan Diecky K. Indrapraja yang memaparkan program rangkaian acara Jejak Langkah 60 Tahun Pertemuan Musik. 



Bincang Musik
Rangkaian acara yang bertajuk "Jejak Langkah 60 tahun Pertemuan Musik" ini mencoba membawa ciri khas dari PM yang kerap menjadikan musik bukan hanya sebagai sebuah pertunjukan yang dinikmati, namun juga sebagai bahan diskusi mendalam. Diawali dengan Bincang Musik "Menyambung Mata Rantai Musik Melalui Komunitas", PM menghadirkan ruang diskusi yang diisi oleh Setiawati Winarto (Anggota Pertemuan Musik, pimpinan Sekolah Musik Melodia), Joko S. Gombloh (penulis, pengajar, pemusik), Joko Porong (pemusik), Gema Swaratyagita yang digantikan oleh Nabila Budayana (penulis buku 60 tahun Pertemuan Musik), dan dimoderatori oleh Diecky K. Indrapraja (komponis, pendidik, peneliti musik).

Dalam pembahasannya, Diecky sempat menyinggung tentang bagaimana jejak langkah PM di awal berdirinya pada Setiawati sebagai putri dari Sorento, pendiri Sekolah Musik Melodia yang sejarah lahirnya terinspirasi oleh Pertemuan Musik Surabaya di masa 1980-an. Beralih pada Nabila, Dicky juga melempar pertanyaan tentang kesan eksklusif sebuah komunitas musik yang sempat melekat pada PM. Menurut Nabila, banyak pihak yang mengakui label tersebut, bahkan Slamet Abdul Sjukur sendiri. Di masa awal berdirinya di tahun 1957, Pertemuan Musik banyak mengangkat musik klasik barat sebagai tema acara. Di masa ketika rakyat lebih akrab dengan musik Karawitan, sangat wajar jika PM terkesan sebagai sebuah kelompok yang eksklusif. Namun dalam perkembangannya ketika PM mulai dikelola oleh Gema Swaratyagita dan kawan-kawan mudanya, PM mulai membuka diri pada segala jenis musik, misalnya dengan mendatangkan pemusik-pemusik muda beraliran folk song atau musik klasik India.

Dokumentasi : Adrea Kristatiani


Joko Gombloh dan Joko Porong sempat memberikan pendapat yang menarik tentang eksistensi sebuah komunitas musik. Bagi Joko Porong, komunitas musik dewasa ini banyak yang tak tampak, bahkan cepat muncul dan cepat hilang. Porong menggarisbawahi tentang pentingnya sinergi antar komunitas musik dan sistem publikasi yang perlu diperbaiki. Sedangkan Joko Gombloh memberikan komentar terkait ciri sebuah komunitas musik yang sehat. Menurutnya, komunitas harus berbasis sosial dan ideologis. Basis sosial berarti berkembang secara cair, tidak formal, serta anggota yang dapat saling beriringan (hirarki keanggotaan hanya sebagai sarana formalitas untuk membagi tugas). Sedangkan basis ideologis harus tertancap kuat karena berfungsi untuk menjaga kontinuitas, konsistensi, dan spirit dari sebuah komunitas. Joko Gombloh mencontohkan komunitas tempatnya bergiat, Bukan Musik Biasa (BMB). Basis sosial BMB ditempa dengan sangat kuat selama bertahun-tahun dengan merangkul segala kalangan, dan menghargai kebhinekaan musik apa pun. Ia juga tak segan memberi pandangannya tentang Pertemuan Musik. Konsep PM yang dilegalkan secara hukum sejak awal berdirinya cukup membuat Gombloh terkejut. Baginya, legalisasi dikhawatirkan akan memudarkan basis ideologis dan basis sosial, karena legalisasi akan menciptakan sebuah kepentingan baru yang mampu mengikis dua unsur basis komunitas itu. Namun pada akhirnya, sebuah komunitas dilegalkan atau tidak bukan menjadi masalah asalkan tetap disokong oleh dua basis tersebut. Ia pun mengingat bagaimana karakter Slamet Abdul Sjukur (SAS) sebagai pendiri PM. SAS dikenal sangat idealis dan kritis menyikapi sesuatu, bahkan untuk sebuah ideologi organisasi. Termasuk sikap kritis SAS ketika berada dalam sebuah komunitas dengan basis ideologis yang terkikis, SAS akan bertindak dengan meninggalkannya. Sehingga, Joko Gombloh meyakini bahwa SAS memiliki pertimbangan dan arah tersendiri dengan basis ideologis kuat pada Pertemuan Musik.

Menariknya, sesi ini dihadiri oleh beberapa komunitas musik lain yang bergerak di Surabaya dan sekitarnya. Rentang diskusi pun semakin meluas. Salah satu komunitas misalnya, menanyakan apa hubungan antara radio dengan musik, mengingat saat ini banyak musisi yang kehilangan koneksi dengan radio sebagai penyiar musik-musik mereka. Bagi Joko Gombloh, radio dan musik tentu punya ikatan yang sangat kuat, karena yang paling esensial dari musik adalah bunyi. Menjawab pertanyaan tersebut, Gombloh menilai bahwa radio sangat rentan pada karakter mediumnya. Segmen pasar sangat menentukan, yang kemudian akan berdampak pada kapital. Ini merujuk pada kemonotonan jenis musik yang disiarkan radio. Siaran radio tidak akan didengar, jika tidak ditujukan pada segmen pasar yang sesuai. Namun lepas dari hal tersebut, perlu juga menabrak pakem-pakem yang pernah ada. Sebuah stasiun radio bahkan pernah berhasil mendapatkan segmen pendengar tersendiri karena menyiarkan lagu-lagu yang tak diputar di radio lain. 

Menutup akhir perbincangan, sebagai salah satu tokoh dalam Pertemuan Musik saat ini, Setiawati mengutarakan tentang bagaimana dirinya mendapatkan wawasan-wawasan baru tentang berbagai jenis musik, dan harapannya tentang keberlanjutan perjalanan PM dalam memasyarakatkan musik. Hal itu sejalan dengan yang diutarakan Joko Gombloh, bahwa yang terpenting dari bermusik adalah kejujuran, tanpa batasan, sehingga menghasilkan khasanah musik yang lebih luas. Dalam sebuah komunitas juga diperlukan sebuah iklim yang sinergis dengan komunitas lain. Di kesempatan itu, Nabila mengajak pada komunitas-komunitas musik yang hadir untuk saling mendukung satu sama lain. Di atas penilaian baik-buruknya sebuah komunitas, yang terpenting di zaman ini adalah kerjasama. Komunitas musik diharapkan bisa terus membuka diri dan cair, ungkap Joko Porong. 

Melewati usia yang tak sebentar, membuat PM ingin merefleksikan jejaknya pada spirit dan gerakan cinta musik yang masih terus diusung. Dalam perjalanannya, begitu banyak rekan-rekan yang mengiringi dan mendukung semangat Pertemuan Musik tersebut. Setiawati Winarto memimpin kegiatan potong tumpeng dan diberikan pada sahabat-sahabat PM seperti sonologis asal Belanda, Piet Hein, Joko Porong, Joko Gombloh, Diecky K Indrapraja, Andrew (Butawarna Design), juga Pramita Rosa dan Nabila Budaya sebagai penyusun buku 60 tahun PM. 


Konser Musik 
"Pertemuan Musik bagai sebuah pohon besar yang terus menaungi dan memberi manfaat.", Ulin Rostiti memberikan kalimat pembuka dan memandu acara malam itu. Mewakili Gema Swaratyagita, Samuel Respati memberikan sambutan selamat datang pada audiens. Sebagai wakil direktur Pertemuan Musik, Samuel mengenang tentang bagaimana perkenalannya dengan Slamet Abdul Sjukur dan Gema Swaratyagita yang kemudian berujung pada bergabungnya Samuel di Pertemuan Musik. SAS dengan karakternya yang unik menjadi kenangan tersendiri bagi Samuel. Sosok SAS yang begitu lekat dengan PM juga disinggung oleh Piet Hein, yang turut memberikan sambutan sebagai sahabat dekat SAS. Ia menilai betapa spirit SAS masih hidup dalam tubuh PM hingga saat ini. Perhelatan musik malam itu menghadirkan I Wayan Dhamma (Surabaya), SOOS Violin Quartet (Surabaya), dan Sono Seni Ensemble (Solo). Pilihan tampilan ini menarik, karena masing-masing menyajikan jenis musik yang berbeda. PM ingin menunjukkan keterbukaannya pada berbagai ragam genre musik. Pertunjukan musik dibuka dengan menyuguhkan penampilan dari String Orchestra of Surabaya Violin Quartet di bawah pimpinan Shienny Kurniawati. Audiens disambut dengan nuansa barok yang kental dari movement pertama Grave, di Concero for 4 Violins no.3 in A Major milik Telemann. Dinamika gesekan violin Shienny bersama Michael Adi Tjandra, Angelia Soegito, dan Celine Liviani Tandiono terus diajak naik hingga movement akhir, Spirituoso. Komposisi itu kemudian mengantar audiens pada nuansa yang berbeda di komposisi kedua, The Return for 4 Violin Quartet.



SOOS Violin Quartet
Dokumentasi : Adrea Kristatiani


I Wayan Dhamma, seorang pemain flute asal Surabaya ini tak sendiri. Ia membawa enam orang lainnya, Tri Retno, Ayoga Indhon, Adhyla Mahardika, Dirgo Roslukita, Radhitya Mukti, dan Achmad Nabila untuk menyajikan komposisi kontemporer ciptaannya. Polah, yang membawa nuansa bermain dengan musik. Perkusi, trombone, tenor saxophone, flute, demung, dan vocal menjadi ajang ekspresi Dhamma dalam menyajikan musik yang lincah dan penuh kejutan. Dhamma bermain banyak dengan dinamika yang ekstrim. Bukan hanya memadukan nuansa tradisional dengan rythm yang rapi, Dhamma juga memadukan nuansa RnB, Rap, bahkan tambahan elemen Beat Box. Terkesan jenaka dan teatrikal, Dhamma menyajikan sebuah sajian pertunjukan yang dinamis dan eksploratif. 

Dokumentasi : Adrea Kristatiani


Delapan personel Sono Seni Ensemble (SSE) mendapat giliran untuk meramaikan puncak acara. Telah mengisi berbagai ajang musik internasional, momen kehadiran SSE bertepatan dengan album baru mereka yang baru saja rilis, Kroncong Wrong. Gondrong Gunarto, Joko S. Gombloh, Zoel Mistortoyfi, Adham Lanu Buana, Dwi Harjanto, John Jacobs, Ginevra House, dan Yeni Arama membawakan lima komposisi yang menghadirkan suasana berbeda pada audiens. Violin, ukulele, gitar akustik, bass, trompet, dan vocal sinden mewujudkan keroncong fusion, dengan gabungan Jazz bahkan Bossanova. Ragam padu yang sebagian besar bagi audiens hal baru sangat menghibur. Terdengar rumit namun harmonis. Masing-masing pemain mengerti benar porsinya, merasa nyaman dengan komposisi mereka bawakan, dan dewasa bermain, sehingga membentuk sebuah keutuhan yang menyenangkan. SSE memberikan ruang baru pada audiens dalam menikmati musik. Komposisi-komposisi yang dibawakan pun hasil karya dari masing-masing personel dengan unsur dominan yang berbeda dari masing-masing komposisi. Komposisi terakhir karya John Jacobs, misalnya. Menarik dengan menggabungkan keroncong bahkan dengan Ave Maria.


Dokumentasi : Samuel Respati


Bincang Konser 
Jalinan persahabatan yang kuat antara Slamet Abdul Sjukur dan I Wayan Sadra semasa hidup, menjadikan Sono Seni Ensemble, sebuah grup musik bentukan I Wayan Sadra, gembira dapat menjadi salah satu penampil di peryaan 60 tahun Pertemuan Musik. Setelah tampil sebagai puncak acara di perayaan 60 tahun PM, Joko S. Gombloh, Gondrong Gunarto, John Jacobs, dan Zoel Mistortoyfi hadir kembali ke hadapan audiens dipandu oleh Diecky K. Indrapraja.

John Jacobs, pria asal Inggris, penggagas SSE, dan pemain trompet ini memberikan kilas balik perjalanan grup tersebut. SSE sebagai sebuah grup juga mengalami pasang-surut. Pasca berpulangnya I Wayan Sadra, SSE sempat berhenti aktif selama lima tahun, hingga kedatangan John dari York, Inggris dengan mengayuh sepeda selama 22 bulan membawa energi SSE kembali hingga saat ini. Di tahun 1998, John berdialog dengan Wayan Sadra. Perbincngannya kali itu membahas tentang Jazz dan Bossanova. Ketika muncul ide untuk memadukan keroncong dengan dua genre tersebut, John bahkan sempat khawatir dengan hasilnya. Namun, justru hal tersebut dibuktikan hingga saat ini dengan terus berkembangnya musik Sono Seni Ensemble dibarengi berbagai eksplorasi. Bahkan bagi John, SSE banyak memainkan detail-detail dari keroncong yang tak dapat ia temukan pada kelompok musik keroncong sendiri.

dokumentasi : Adrea Kristatiani


Gondrong Gunarto berpendapat bahwa musik SSE merupakan pensenyawaan berbagai emosi. Contohnya, SSE bahkan mengemas lagu yang sedih dengan tampilan harmoni yang jenaka. SSE pun mengaku banyak terinspirasi dari gending Jawa. Bukan hanya Jawa, Zoel Mistortoyfi juga menciptakan salah satu komposisi yang terinspirasi oleh gending Madura. Bagi Joko Gombloh, SSE ingin membumikan musik mereka. Menampilkan Keroncong yang berbeda, namun tetap bisa dinikmati oleh masyarakat Indonesia di berbagai daerah. Menanggapi tentang apakah musik SSE mendapat anggapan sebagai musik yang susah dinikmati, Joko Gombloh angkat bicara. Baginya, salah satu kendala ada pada media konvensional yang belum berpihak pada musik keroncong yang mereka bawakan. Padahal, media efektif untuk membangun apresiasi pada masyarakat.

Perbicangan semakin menarik, dengan ditutup oleh tanggapan dari Musafir Isfanhari, pegiat Keroncong dan musisi senior di Surabaya yang hadir malam itu sebagai audiens. Terbiasa mendengar keroncong "konvensional', Isfanhari menilai bahwa dirinya menikmati musik yang dibawakan SSE, dengan memberi perumpamaan "Seperti makan gudeg dan pizza secara bersamaan (sebagai perumpamaan musik lokal dan barat yang dipadukan)." bagi Isfanhari, setiap kali akan menikmati musik, konsep-konsep musik di dada harus ditepikan, agar dirinya lebih terbuka dan menikmati  ragam bunyi baru.



Pengisi acara dan personel PM.
Dokumentasi : Adrea Kristatiani



Enam puluh tahun masih terlalu singkat untuk mampu mewujudkan sebuah cita-cita besar menjadikan masyarakat mencintai musik secara mendalam. Namun enam puluh tahun juga menjelma waktu yang panjang sebagai jejak perjuangan ideologi tentang bagaimana penyikapan manusia terhadap bunyi, terhadap budaya, dan terhadap kemanusiaan. Selamat ulang tahun, Pertemuan Musik!


No comments:

Post a Comment