Sunday, September 3, 2017

Lantunan Cinta dari Belanda : Uit Utrecht met Liefde

Mendalami musik dari tiga konservatori yang berbeda, Felix Justin (piano), Satriya Krisna (Tenor), dan Marlina Deasy Hartanto (Soprano) bertemu dan menemukan keinginan yang sama untuk menggelar pertunjukan bersama ketika berada di Utrecht. Membawa musik dan cinta dari negeri Belanda, ketiganya mengunjungi Surabaya di 15 Agustus 2017 lalu untuk pertunjukan bertajuk "Uit Utrecht met Liefde" (From Utrecht with Love).

Malam itu Gedung pertunjukan Cak Durasim cukup penuh. Melihat bagaimana di saat bersamaan, publik Surabaya juga disuguhkan konser kolaborasi Worldship Orchestra, Amadeus Orchestra, dan Airlangga Orchestra di tempat berbeda, animo penonton dalam menanggapi cinta trio anak bangsa Felix, Deasy, dan Satriya terhitung sangat bagus.

Meski dimulai cukup larut daripada biasanya, namun konser tak begitu saja dimulai. Di bagian awal, para penampil dipandu Patrisna May Widuri menyapa hangat audiens dan memberikan sedikit pengantar terkait karier yang sedang mereka jalani, juga tentang beberapa karya yang akan mereka tampilkan.

Foto : Dokumentasi Amadeus


Tiga anak muda ini membawa banyak prestasi dari kemampuan bermusik mereka. Satriya, misalnya. Ia baru saja lolos sebagai peserta pertama yang mewakili Indonesia di sebuah kompetisi vokal bergengsi di Swiss. Ia sibuk mengunjungi berbagai negara untuk mengikuti bermacam ajang. Felix yang baru saja lulus dengan nilai sempurna untuk pendidikan master-nya membentuk trio musik kamar, dan aktif di Samsakta Duo dengan Satriya Krisna. Felix pun tak lelah mengikuti berbagai kompetisi. Sedangkan Deasy sedang mengupayakan pendidikan musik untuk balita yang ia kembangkan di Jakarta.

Di Uit Utrecht met Liefde, mereka bertiga sepakat untuk membawakan komposisi-komposisi yang jarang diperdengarkan di ruang-ruang konser di Indonesia. Jika membaca sekilas daftarnya, komposisi yang mereka mainkan sangat banyak dan padat. Termasuk salah satunya "Pictures at an Exhibition" milik Modest Mussorgsky yang sangat jarang dimainkan secara utuh karena panjang komposisinya.

Konser ini terasa ramah pada audiens karena hampir setiap kali komposisi akan dimainkan, penampil memberikan panduan tentang isi karya. Dibagi menjadi empat bagian, bagian pertama diisi dengan komposisi-komposisi pendek. Bermula dari Als Luise die Briefe milik Mozart, Deasy yang manis ketika berbicara langsung berubah menjadi penuh amarah dengan suara soprannya. Sesaat, Deasy menjadi seorang kekasih yang dikhianati kekasihnya. Sementara Felix rapi dan tenang dalam menyajikan komposisi mengiringi Deasy. Disusul dengan Du Meines Herzens Kronelein dan Das Rosenband baik Felix maupun Deasy menunjukkan stamina yang bagus. Akhir babak pertama ditutup dengan Romance milik Debussy.

Foto : Dokumentasi Amadeus


Babak kedua menjadi ruang bagi Felix untuk mengajak audiens menjelajah galeri lukisan. Karya ini didekasikan Mussorgsky untuk sahabatnya, Viktor Hartmann yang merupakan seorang seniman, arsitek, dan desainer. Melalui sepuluh sub-karya pendek ditambah dengan pengulangan dan variasi pola Promenade, pengalaman indera penglihatan ketika memandang berbagai jenis lukisan dipindahkan pada gema di ruang konser oleh Felix. Bermacam tema diperdengarkan. Derap-derap zaman romantik Rusia milik Mussorgky pun terasa melalui tema awal Promenade. Kesenangan berjalan mengitari galeri, hingga kesedihan seseorang dalam mengingat sahabatnya. Dalam Gnomus, digambarkan gnome yang mengendap hingga berlari cepat dengan kaki bengkoknya. Audiens dikembalikan sesaat ke variasi promenade sebelum ke kemisteriusan panjang dari kastil tua melalui Il Vecchio Castello. Dinamika dinaikkan kemudian dengan hentakan dari versi forte Promenade. Audiens kemudian disuguhkan langkah kecil dari kaki anak-anak melalui staccato dari Tuileries.

Bydlo langsung hadir mengejutkan dengan fortissimo hingga berujung pianissimo sebagai penggambaran deru kereta kuda. Suguhan kembali pada promenade yang kali ini bernuansa gelap. Sesaat kemudian audiens langsung dibawa ke Balet Nevylupivshikhsya Ptentsov yang lincah, dan menggambarkan kekacauan khas anak-anak. Secara tiba-tiba, audiens diboyong ke persahabatan dua orang yahudi miskin dan kaya, Samuel Goldenberg and Schmuyle, nuansa ketegangan yang dihadirkan bagai berkisah tentang jurang sosial yang memisahkan dua sahabat ini.

Dikembalikan ke variasi Promenade yang ceria dan grande, keributan di pasar Limoges le Marche menyusul. Melodi yang padat sesuai dengan riuhnya warna pada lukisan yang menggambarkannya. Catacombs menghadirkan suasana bawah tanah Paris yang kelam dan kadang menyimpan kepedihan. Nuansa perkabungan diperdengarkan melalui Promenade : Con Mortuis in Lingua Morta. Dinamika ditarik naik dengan not-not rapat dari Izahbuska Na Kur'ikh Nozhkakh yang berkisah tentang kejam dan gelapnya penyihir Baba Yaga yang menelan anak-anak. Ketegangan ketika memburu korban tergambarkan.

Komposisi panjang ini ditutup dengan Bogatyrskie Vorota yang mengingatkan pada dering lonceng, dan ketegapan prajurit. Ditutup dengan hentakan, Felix mendapat apresiasi positif untuk stamina dan keberaniannya menawarkan komposisi panjang ini pada audiens. Felix terdengar sangat rapi dan detail, namun audiens bisa mendapatkan kesan yang lebih dramatis dari tampilan ini.

Foto : Dokumentasi Amadeus



Babak ketiga menjadi milik Samsakta Duo, tenor dan piano oleh Satriya dan Felix. Membawakan Der Kuss karya Beethoven, nuansa lincah dihadirkan. Komposisi pendek ini berkisah tentang kisah seorang lelaki yang ingin mencium kekasihnya. Satriya tampil dengan lepas dan gerak tubuh yang ekspresif. Dinamika dari cerita pun tersampaikan. Tampilan ini berhasil menghadirkan senyum di antara audiens. 

Bertolak belakang dengan komposisi sebelumnya, membawakan karya Nachtstuck D.672 milik Schubert tentang kematian yang indah, dikisahkan, sang tokoh, seorang kakek tua memainkan harpa dan menyanyi hingga kemudian kematian menjemputnya. Dibuka dengan perlahan, sederhana dan tenang, nuansa minor pun seketika menyergap. Harmoni yang disajikan Satriya dan Felix pun terasa kelam, bijaksana, dan sangat menyentuh.

Ketegasan dan amarah hadir kemudian melalui Le Manoir de Rosemonde milik Henri Duparc. Yang kemudian dilanjutkan dengan ketenangan dan kelembutan dari Sanglots from Banalites karya Poulenc yang terasa indah sekaligus muram. Felix dan Satriya kemudian menyajikan I Heard You Singing karya Eric Coates dengan sangat cantik. Mereka berhasil menyampaikan nuansa romantis dan elegan yang menyentuh. Spring Waters Rachmaninov yang menggambarkan tentang antusiasme menyambut datangnya musim semi menjadi penutup untuk babak ketiga. Felix dan Satriya terasa matang dan padu dalam berduet.

Foto : Dokumentasi Amadeus


Seakan mengantarkan audiens sebelum usai, di bagian terakhir, Felix, Satriya, dan Deasy bergantian menyajikan trio dan duo. Pada In der Nacht milik Schumann, ketiga penampil hadir. Enggan membiarkan berlalu dengan biasa, Deasy dan Satriya bermain-main dengan ekspresi dan gerak tubuh serupa opera sebagai pemanja visual.

Deasy dan Felix kemudian membawakan Che Fieromomento dari opera OrfeoedEuridice karya Christoph W. Gluck menghadirkan emosi yang berbeda. Deh Vieni dari opera Le nozze di Figaro menjadi suguhan berikutnya. Deasy tampak mulai bermain dengan gerak tubuhnya. Menggantikan Deasy, Satriya dan Felix hadir dengan komposisi Kuda, kuda vi udalilis dari opera Eugene Onegin karya Tchaikovsky. Satriya seakan hadir dengan menantang audiens dengan pertanyaan. Deasy dan Felix kembali dengan Ah non credea dari opera La Sonambula milik Bellini. Komposisi ini menjadi ajang Deasy untuk menunjukkan teknik vokalnya melalui dinamisnya alur lagu. Ditutup dengan Amor ti vieta dari opera Fedora milik Giordano, Satriya dan Felix memberikan sebuah akhir yang mengesankan. Meski bersahutan, keduanya kompak dari segi timing dan harmoni sehingga komposisi tersampaikan dengan sangat mengalir dan melahirkan tepuk tangan meriah.


Foto : Dokumentasi Amadeus


Ikatan musikal yang lebih kuat antara Satriya dan Felix membuat bagian duo menjadi lebih solid daripada trio. Penampilan yang nyaman dan lepas selalu bekerja untuk menyampaikan pesan, membangun suasana, dan estetika musikal. 

Satriya, Felix, dan Deasy sepakat membawa musik kali ini bukan hanya sebagai pertunjukan yang melahirkan tepuk tangan, namun juga untuk memberi inspirasi baru pada audiens untuk membawa kecintaan dan kemampuan bermusiknya pada dunia, serta memperdengarkan wawasan musik baru pada publik pencinta musik Indonesia.  

Foto : Dokumentasi Amadeus

No comments:

Post a Comment