Thursday, September 14, 2017

Lantun dan Denting : Resital Klarinet dan Piano

Kembali mengenali dan tampil di tanah sendiri menjadi tantangan bagi pianis muda, Danang Dirhamsyah. Mahasiswa musik di Jerman yang sedang menyelesaikan pendidikan master-nya ini kembali tampil di negeri sendiri setelah lima tahun. Membawa rekannya asal Lithuania, Ugne Varanauskaite (Klarinet), bersama Pertemuan Musik mereka menyapa publik Surabaya melalui Resital Klarinet dan Piano di 28 Agustus 2017 lalu. Selain mengadakan pertunjukan, mereka juga memberikan masterclass untuk piano dan klarinet di kampus UNESA tanggal 29 Agustus 2017.

Tampil dengan kostum senada, Dagna dan Ugne membuka pertunjukan dengan Camille Saint-Saens -Sonata Clarinet op. 167. Menghadirkan empat movement, Danang dan Ugne berkolaborasi. Pada Allegretto, movement pertama, dihadirkan nuansa legato yang tenang. Masih ada keseruan dinamika yang bisa dikerjakan dengan lebih baik oleh Danang dan Ugne. Di movement kedua, Allegro animato komposisi mulai menuntut dengan kerapatan not yang rancak. Kemampuan Ugne diuji dalam hal kerapian frase. Lento di movement ketiga membawa audiens dalam nuansa kelam dan minor. Di Molto Allegro, dinamika pun dinaikkan di bagian menjelang akhir dengan banyak running notes yang menuntut kekompakan antar pemain. Repertoar ini ditutup dengan kembali ke ketenangan serupa di awal. Danang dan Ugne bisa memberikan chemistry dan pesan yang lebih baik di awal pertunjukan, agar komposisi ini tersampaikan secara dramatis.

Audiens diajak mundur seratus tahun dari komposisi sebelumnya di kesempatan kedua. Danang menghadirkan Piano Sonata A flat major op. 110 milik Beethoven. Komposisi ini merupakan rangkaian tiga sonata piano karya Beethoven yang terinspirasi kisah tragedi Yunani kuno. Menurut Danang yang memberikan pengantar sebelum komposisi ini dimainkan, karya ini memiliki keunikan dengan penitikberatan komposisi di bagian akhir. Dibuka dengan ketenangan dengan kerapatan not, thrill yang dihasilkan Danang rapi. Dinamika yang dibawakannya pun cukup tersampaikan. Komposisi panjang ini memberikan beban pada pemain untuk melawan kemonotonan. Danang melewatinya dengan cukup baik.

Foto : Dokumentasi Pertemuan Musik


Setelah jeda, Ugne mengambil alih panggung dengan memainkan Three Pieces untuk Klarinet tunggal milik Stravinsky. Karya ini menunjukkan posibilitas bunyi yang dapat dihasilkan dari klarinet, dengan menunjukkan nuansa hangat maupun dingin dari lantunan sebuah klarinet. Movement pertama dibuka dengan kelembutan yang bercerita. Tak panjang, movement kedua sangat berbeda. Not yang rapat sering hadir dengan lincah, menceritakan tentang kucing dan burung yang bermain bersama. Di bagian akhir, Ugne mengganti klarinetnya untuk mencapai not-not tinggi. Bagian akhir yang bertempo cepat dan terkesan rumit ini menjadi klimaks dari komposisi. Ugne ditantang untuk menjaga konsistensi staminanya agar karya ini terdengar lebih rapi.  

Tetap membawa semangat Indonesia di antara karyanya, Danang dan Ugne juga menyajikan Derau Hening karya Gema Swaratyagita. Karya kontemporer ini diciptakan Gema karena terinspirasi oleh sebuah kota kecil di Jerman, Lubeck. Karya yang diciptakan khusus untuk duet piano dan klarinet, Danang dan Ugne ini mencoba menggambarkan keheningan dengan riuh perkotaan yang menyelip. Pada komposisi ini, Danang dan Ugne seakan membawa mood penonton kembali. Banyak yang berbeda dari karya ini. Dinamika yang naik turun dengan nuansa kelam yang ganjil, klarinet yang dimainkan tanpa melodi, sehingga seakan menggambarkan desau angin yang berembus. Ugne juga kerap memukul pelan tubuh klarinet sebagai bentuk suara baru. Komposisi ini menghadirkan kisah melalui bunyi yang ditampilkan. Meski terinspirasi dari kota di Eropa, namun terasa ada nuansa Indonesia dari pemilihan melodi serupa pelog yang dibawakan Danang. Sepi yang melelahkan bukan hanya tergambar dari bunyi yang dihasilkan alat musik, namun juga hela napas dari para pemain yang menutup komposisi ini.

Pada Ballade op.10 milik Brahms, Danang tampil dengan lebih lepas pada komposisi ini. Karya ini terinspirasi oleh sebuah puisi Jerman yang membawa kisah sebuah perbincangan antara ibu dan anaknya. Sang ibu menanyakan mengapa pisau milik sang anak berlumuran cairan merah. Konflik memuncak ketika sang ibu tahu bahwa itu bukanlah darah hasil buruan, namun darah dari sang ayah sendiri. Karakter masing-masing fase adegan dipindahkan Brahms pada tiga buah tema di No.1 D Minor. Tentang sang ibu, anak, dan nuansa dramatis dari dialog mereka. Sedangkan pada No.2 D Mayor ditampilkan dengan lebih tenang. Hentakan pertama seakan sudah berkisah tentang ketegasan. Perlahan dinamika dibawa naik, dengan nuansa gelap yang menegangkan. Danang membawa audiens pada sebuah bisikan dan rahasia. Frase-frase Danang terdengar rapi, sehingga nuansa dan pesan tersampaikan.

Dance prelude untuk klarinet dan piano Lutoslawski. Komposisi yang menjadi karya berbau musik tradisional Polandia terakhir dari sang komposer ini menarik. Begitu dimulai, audiens langsung disambut dengan pilihan-pilihan melodi khas Polandia yang bertempo cepat. Tak lama, movement kedua menyajikan nuansa kontemporer yang kelam dan misterius. Beralih ke movement ketiga Allegro giocoso, audiens dibawa pada tempo yang cepat. Kekompakan dan kemampuan teknis personal dari masing-masing instrumen sangat dibutuhkan. Andante menjadi movement berikutnya. Seakan mengendap dengan not yang jarang dan tenang, sang penari memperlambat geraknya. Allegro Molto menjadi penutup yang rapat dan cepat. Komposisi ini mengharapkan artikulasi yang jelas untuk menyampaikan kalimat-kalimatnya dengan jernih.

Duet muda ini membawa kesegaran pada publik Surabaya karena tak banyak hadir duet piano dan klarinet dalam panggung-panggung pertunjukan. Danang dan Ugne memberi sebuah tampilan yang jujur dan menunjukkan semangat berkembang yang tinggi.


  

No comments:

Post a Comment