Friday, December 16, 2016

Jurnal Pesiar Lembar Ketiga

Save the best for last. 

Kalimat itu juga berlaku di atas kapal. Sembari berlayar kembali ke Singapura, kami sehari penuh di atas kapal, kesempatan terakhir untuk menikmati fasilitasnya. Di hari kelima, kami sekilas mampr di beberapa lokasi di Singapura sebelum kembali terbang ke kota masing-masing.

***

Pagi hari, kami tidak langsung beranjak sarapan. Saya menemani Bu Ade menjajal jogging track yang mengelilingi deck 12 Tapi saya tak jogging, justru ambil gambar sana-sini. Dugaan saya bahwa di pagi hari angin di deck yang terbuka akan kencang, ternyata tak terbukti. Langit keabuan yang agak mendung masih malu-malu menampilkan matahari. Lantai deck masih agak basah sisa hujan kemarin. Namun itu tak menyurutkan semangat karena sudah ramai orang berolahraga, rupanya. Pemandangan dari atas ke lautan memang menenangkan. Ketika Bu Ade sibuk berlari, saya tanpa sengaja bertemu Mak Gondut, Mbak Dame, dan Mbak Atid yang tampaknya sudah memilih jalan kaki di putaran kesekian. Karena langit sedang bagus, saya ambil beberapa gambar mereka.

Saya sekadar sok ikutan lapar, meski tak ikut berolahraga. Jadi kami putuskan untuk sama-sama menuju ruang makan. Karena ingin berganti suasana dari Windjammer, kami memilih Rhapsody in Blue Dining Room di deck 3. Berbeda dengan Windjammer yang bisa langsung masuk ke dalam, kali ini kami mesti mengantre sejenak. Ditanya berapa orang, dan dicarikan meja, kami akhirnya dapat meja sendiri di salah satu sudut. Karena terbiasa makan di deck 4, kami belum melihat bagaimana interior di deck 3. Ternyata, di sini lah pojok grande-nya. Di tengah ruangan, kami bisa melihat dua tangga besar, di mana kapten memberikan sambutan. Menu makan pagi di sini spesial. Berkonsep ala carte, saya memesan fillet salmon yang dipotong tipis dan rasanya jagoan!

ruang makan


Di hari terakhir, kami mencoba mini golf di sports area. Meski tak bisa golf, saya iseng coba saja. Berhasil memasukkan bola sekali, sisanya lebih banyak lelah karena sibuk kejar bola. Selain mini golf juga ada lapangan basket juga fasilitas rock climbing. Fasilitas itu tak dibuka setiap saat. Ada jam tertentu yang diberlakukan, juga bergantung kondisi cuaca. Jika dinding panjat basah karena hujan, kegiatan ini tak bisa dilaksanakan. Meski begitu, antrean tetap mengular. Peminatnya berbagai usia. 

sebagian sports area


Big A, Little A, dan Bu Ade memanfaatkan diskon setengah harga token Arcade, dan menukarkan hadiah. Masih ada senggang waktu sebelum makan siang, saya memilih kembali ke perpustakaan. Kali ini perpus sepi sekali. Saya coba sudut baru untuk baca. Di ujung ruang dengan pandangan langsung ke Royal Promenade. Siapa saja yang berkunjung ke perpustakaan? Di perpustakaan biasanya saya melihat dua orang lansia, atau satu-dua orang paruh baya yang memilih membaca buku. Kapal tampaknya menyajikan sebanyak mungkin fasilitas untuk mencegah penumpang "mati gaya". Sudoku dan soal trivia tentang kapal pesiar disediakan setiap pukul sembilan pagi. Beberapa orang datang mengambil dan mengerjakan soal.





Saya kembali ke Windjammer untuk makan siang. Sengaja datang di awal waktu ternyata keputusan tepat. Saya dapat meja dekat jendela. Oh ya, selama perjalanan kami saya tak pernah melihat kapal menerjang ombak yang cukup membuat guncangan, bahkan di malam hari sekalipun. Kapal tetap tenang membelah selat. Di tengah mengudap makanan, ternyata Mbak Dame datang dan bergabung. Kami mengobrol cukup banyak. Kami masih setengah menghabiskan cookies dan cake ketika Mbak Atid dan Mak Gondut bergabung. Wah, obrolan semakin mengalir, dan nuansa Batak itu yang saya kangeni. Sebagai satu-satunya bukan Batak di antara mereka, saya jadi banyak tahu hal baru, dan bagaimana keluarga Batak mengenal satu sama lain. Kami mengobrol tentang apa saja. Dunia film di balik layar dengan Mbak Atid, karier dosen Teolog dan aktivitas akting Mak Gondut, pekerjaan Mbak Dame, dan lain sebagainya.

Ada show jazz kecil di Royal Promenade, kami berempat pun pindah lokasi menuju Cafe Promenade. Mak Gondut belum puas untuk ngemil cookies, rupanya. Kebetulan kami mendapat kursi yang menjorok ke jalan, sehingga bisa melihat hilir mudik aktivitas di Royal Promenade. Serombongan bapak-bapak India yang asik mengobrol di meja sebelah, seorang bapak sepuh yang duduk sendirian, pelayan toko yang sibuk memasarkan parfum, ibu yang sibuk berfoto dengan pohon natal, anak-anak yang asik mengudap pizza. Area ini memang selalu ramai.

keramaian Royal Promenade

Masih ada waktu sampai makan malam, saya meluangkan waktu sejenak ke perpustakaan, melanjutkan membaca. Karena 25 November ini bertepatan dengan perayaan Thanks Giving, beberapa crew kapal juga mengadakan kegiatan story telling dalam dua bahasa, Mandarin dan Inggris. Di perpustakaan juga disediakan community board. Siapapun bisa membuat acara kumpul-kumpul dan mengajak penumpang lainnya. Tinggal menuliskan tema, lokasi, dan waktu acara. Siapa pun yang membaca dan tertarik, bisa hadir. Karena ini hari terakhir kami di atas kapal, ada beberapa hal yang mesti diselesaikan. Misalnya, pembayaran seluruh transaksi di atas kapal untuk pengguna pembayaran tunai, mengambil paspor sesuai jadwal, dan mampir ke photo kiosk. Yang terakhir tak wajib, sebenarnya. Tapi di hari terakhir, foto-foto kami yang selama ini diabadikan oleh fotografer kapal dipajang dan dijual di sana. 

Di makan malam terakhir, makan malam agak berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kami kembali ke Top Hat and Tails. Xiaolong dan Pak Gede melayani kami dengan sama baiknya. Bahkan, Xiaolong membuatkan beberapa hiasan kepala dari sapu tangan untuk beberapa perempuan di grup indo. Waiter mengingatkan bahwa akan ada parade spesial sebagai tanda perpisahan dari tim dapur dan restoran. Ternyata nyaris seluruh waiter memberhentikan kegiatan mereka sejenak, dan masuk ke dalam dapur. Ketika keluar, puluhan waiters dari berbagai negara berbaris dan melambai-lambaikan sapu tangan dan berkeliling di ruang makan. Tampaknya itu juga terjadi di dua decks lainnya. Kemudian di tangga tengah deck 3, waiters dan chefs mempertunjukan beberapa kebolehan, seperti menyanyi dan menari. Sekejap, orang-orang beranjak dari mejanya dan merangsek ke bagian tengah restoran untuk menyaksikan aksi itu. Dilayani selama empat malam berturut-turut membuat kebanyakan penumpang merasa memiliki keterikatan dengan para waiters. Banyak dari mereka yang mengajak berfoto dan memberikan tip. 



Malam terakhir di kapal, kami sudah harus mengemas barang, karena paling lambat pukul sepuluh malam koper sudah harus diletakkan di depan pintu kamar. Betul saja, begitu kembali, di atas tempat tidur sudah ada tag bagasi dan berbagai selebaran pemberitahuan. Berberes sebentar, masih ada waktu sebelum larut. Geng Batak kebetulan bertemu dan nonton farewell broadway performance di Savoy Theatre. Karena pertunjukan terakhir, temanya pun lebih ceria. Komposisi-komposisi lawas semacam karya David Foster banyak diperdengarkan. Karena ingin karaoke, geng Batak justru ngumpul di kamar Mak Gondut dan membahas candaan Batak.

Esok paginya, Windjammer buka lebih awal karena ini pagi terakhir kami di kapal. Jika saya biasanya menikmati matahari terbit di balkon kamar, kali ini akhirnya menyaksikan matahari perlahan tampak dari jendela ruang makan bersama geng Batak. Kebetulan kapal belum tiba di Marina Bay Cruise Centre, jadi kami masih bisa melihat permukaan air yang perlahan mengombak dibelah kapal, matahari yang setahap demi setahap muncul, sambil ngobrol dan sarapan pagi. Mendekati pelabuhan, hilir mudik kapal juga jadi pemandangan menarik. 



Masih ada setengah hari menuju waktu kembali terbang ke kota masing-masing, kami menjelajah sebagian kecil Singapura. Icip-icip berbagai rasa cookies di Cookies Museum, belajar menyajikan teh ala China di Tea Chapter, mampir ke Tin Tin Shop, dan makan siang berpernik pahlawan super di Super Heroes Cafe. 







Jika kata Mary Roach, nothing much new happens di atas kapal pesiar, cruise trip bagi saya justru memberikan pengalaman serba baru yang menyenangkan, juga menenangkan. 




  
Baca juga Jurnal Pesiar Lembar Pertama dan Jurnal Pesiar Lembar Kedua.



No comments:

Post a Comment