Sunday, December 2, 2012

"Ruang Putih 2 Desember 2012"

Ruang Putih, kolom Jawa Pos tiap Minggu itu selalu membawa insight bagi saya. Selain karena memaparkan hal-hal yang dibedah secara mendalam, juga menyadarkan saya bahwa selalu ada cara pandang dan sikap yang berbeda dalam memandang hidup. Seperti kali ini, Hari Minggu tanggal 2 Desember 2012. Pengisi kolom Ruang Putih kali ini adalah Sitok Srengenge, A.S Laksana serta Muhidin M. Dahlan (Gus Muh). Siapa yang tak kenal dengan mereka, bukan?
Di sini saya tak akan mengetik ulang apa yang mereka tuliskan, namun sekadar ingin 'menyarikan' apa yang beliau-beliau tulis dan pandangan subjektif saya akan tulisan-tulisan mereka yang luar biasa itu.

Saya rasa ketiga esai itu memiliki satu benang merah yang sama. Tentang dunia penulisan dalam masyarakat. Seperti Sitok Srengenge yang bercerita tentang 'kurang adanya tempat' seorang penulis di tengah masyarakat negeri kita ini. Diawali dengan beliau saat melakukan pengisian formulir data pribadi untuk pengurusan e-KTP. Yang membuat beliau (mungkin) terkejut dan sedikit kecewa adalah tak adanya opsi 'Penulis' pada kolom profesi yang harus dipilih. Justru, opsi 'Paranormal' nampak pada kolom tersebut. Hal itu lantas memberikan pertanyaan pada kepala beliau. Sesungguhnya, di manakah posisi penulis dan sejauh apa profesi ini diterima dalam masyarakat kita. 

Saya mungkin belum dapat disebut sebagai penulis. Hanya gadis kecil yang punya mimpi untuk dapat terus menulis. Namun, sejauh ini pun saya setuju dengan Pak Sitok. Penulis yang bekerja untuk keabadian kata Pram, penulis yang menjaga kemanusiaan dan berkembangnya imajinasi kata Bli Putu Fajar Arcana, belum mampu diterima sepenuhnya oleh masyarakat, meski berperan besar dalam mencatat dinamika kehidupan. Saya ingin kutipkan salah satu kalimat dari Pak Sitok :

"Yang terpenting dari menulis bukanlah bagaimana menyampaikan, melainkan apa yang disampaikan. ... Sebagaimana aktivitas lain, terutama yang bersifat sosial, selalu ada masa ketika yang menjadi tujuan utama adalah persembahan, bukan pengakuan."

Saya menyikapi paragraf ini sebagai konfirmasi. Bahwa menulis bukan sepenuhnya eksistensi, meski memang tak mampu sepenuhnya lepas dari itu. Namun, penulis juga senantiasa merekam realitas dan mengolahnya dalam kepala hingga terlahir kembali menjadi sebuah karya yang layak disajikan pada pembaca, lepas dari bagaimana interpretasi pembaca menangkapnya. Penulis yang awalnya (mungkin) bekerja untuk diri sendiri dan eksistensi akan menemukan kepuasan akan karyanya, kemudian akan tergerak untuk berbuat lebih banyak. Mempersembahkan apa yang mereka miliki untuk kemanusiaan.
Kemudian pun Pak Sitok mengutip kalimat Virginia Woolf tentang bagaimana tahap seseorang yang berprofesi sebagai penulis :

"Penulis pada akhirnya adalah profesi yang juga bisa dan layak dilakoni semata-mata sebagai upaya mendapatkan penghasilan."

Entah berapa banyak manusia yang menyetujui hal ini sebagai kebenaran. Namun, tentu lebih banyak yang berpendapat sebaliknya. Seorang teman pernah memberikan tanggapannya kepada saya : "Menjadi penulis? Apa kamu bisa mengalahkan kultur (mungkin maksudnya cara pandang mayoritas masyarakat kita)?" Masih begitu banyak orang yang menganggap penulis bukanlah suatu pekerjaan (menghasilkan uang dan mengangkat gengsi), dan akan begitu banyak kepala yang memandang sebelah mata untuk profesi tersebut. Ia ingin mengingatkan kembali kepada saya tentang realitas. Saya sangat hargai hal itu. Namun, di saat yang sama, timbul pertanyaan baru dalam benak saya, di mana impian harus diletakkan dan diyakini? Hal ini bukan berarti saya menyalahkan keadaan dan anti dengan seseorang yang juga tetap berprofesi lain, namun tetap menghidupkan impiannya sebagai seorang penulis. Sama sekali TIDAK. Saya justru kagum dengan mereka. Mereka tetap berhasil di kedua bidang dengan baik, di mana letak kesalahannya? Sama halnya dengan seorang full time writer yang berani membuat keputusan besar untuk menulis secara penuh.
Hingga saat ini, saya harus mengakui, saya terus mencari. Di mana kehidupan akan meletakkan saya. Di salah satunya, atau di keduanya? Di kedua opsi yang sama-sama baik tersebut.

Kembali, mengapa banyak masyarakat yang belum mampu menerima penulis sebagai profesi? Berikut Pak Sitok kembali mengatakan berdasarkan esai Barthes :

"Bagi orang yang berprofesi lain, kerja mereka terkesan sebagai "kerja semu", dan dengan begitu liburan mereka pun liburan semu. Kaum pemuja kepastian (kerja tetap, pendapatan tetap) bisa memandang totalitas seorang penulis sebagai "keberanian garda depan", hanya mungkin dilakukan oleh "orang-orang yang tidak biasa".

Maka, berbahagialah seharusnya anda yang termasuk "orang-orang yang tidak biasa", karena anda telah berani memilih untuk berbeda.

Dan beliau menutup esai "Sang Penulis" nya dengan kalimat yang sangat bijak dan sangat saya hargai :

"Penulis yang baik, tepatnya yang bertanggung jawab, mestinya orang yang konsekuen dengan pilihannya, menyadari responsibilitas masyarakatnya, berani mendada risikonya sampai ke tahap yang paling pahit, dan tidak menimpakan risiko itu kepada pihak lain."

Membaca kutipan tersebut, saya tergerak ingin mengulang : "Selalu ada pertimbangan di setiap pilihan, bahkan sekadar dalam 'teh atau kopi', maka hargailah!"
Sekali lagi, ini sama sekali bukanlah pembelaan, namun saya hanya sekadar ingin menatap segala sesuatu dengan luas dan berimbang. Saya pun masih sungguh-sungguh jauh dari segala idealisme-idealisme yang telah tersebutkan di atas. Oleh karena itu, saya ingin belajar dan terus mencari jawaban. Salah satunya dengan terbuka dan menghargai segala pilihan.

A.S Laksana membahas masalah yang begitu sering ditemukan dalam masyarakat. Tentang karya sastra yang sering dianggap rumit dan susah dicerna. Tentang sastra yang dianggap egois karena 'asyik dengan dunianya sendiri'. A.S Laksana menjawab dan menyikapi dengan cara yang sangat keren : 

"Kepadanya, dan kepada siapa saja yang mengeluhkan karya sastra, saya mengatakan bahwa kadang-kadang perlu juga kita membaca yang ruwet-ruwet, misalnya filsafat atau pemikiran-pemikiran yang membuat jidat kita berkerut. Itu agar kita tidak terbuai oleh kenyamanan membaca majalah anak-anak atau selebaran atau menggemari sinetron belaka."
 
"Gagasan-gagasan yang paling inovatif sering lahir ketika manusia dihadapkan pada kesulitan. Tanpa kesulitan orang akan merasa nyaman-nyaman saja, menggendutkan perutnya dan memperkecil volume otaknya."

Saya rasa saya tak perlu banyak membahas banyak dari paragraf itu. Beliau sudah banyak menjawab. Belum lagi ditambah dengan :

"Tanpa kesulitan, kita tidak tahu apa yang kita inginkan. Tanpa tahu apa yang kita inginkan, kita tidak akan bergerak kemana-mana."

Saya pun memandang, tak ada salahnya mengungkapkan sesuatu dengan jalan yang berbeda. Bukankah perbedaan dan keunikan itu yang membuat menyenangkan? Diksi adalah bagian dari keindahan berbahasa. Bukankah mulia seseorang yang memutuskan bekerja untuk berbagi keindahan? Keindahan akan menyentuh banyak hati, bahkan menggerakkan hati untuk lebih peka menatap segala sesuatu. 

Sedang Gus Muh memilih mengajak pembaca untuk mengabadikan dinamika perkotaan dengan Almanak Kota. Bukan melulu pada yellow pages dan brosur. Agar sesuatu dapat dinikmati dan dibaca ulang dengan cara yang lebih menyenangkan. Bahkan mungkin dengan keindahan dari bahasa. Agar kemudian (lagi-lagi) dapat menyentuh banyak kepala untuk belajar dan membuka hati.

Ruang Putih bercerita banyak hari ini. Terutama untuk saya sendiri. Untuk mulai sedikit demi sedikit memperbaiki isi kepala sendiri, kemudian menata sikap dan hati. Anda?    
   

No comments:

Post a Comment